Archive for the ‘Tersiar’ Category

Problem visualisasi Nabi Muhammad SAW yang sarat prasangka negatif-peyoratif di media Denmark, Jyllands-Posten, dan sejumlah media Barat secara bersamaan, sesungguhnya bukan saja efek lanjutan dari prasangka orientalisme klasik. Kalau dibaca secara cermat, prasangka Barat terhadap Islam sesungguhnya merupakan genealogi pola pikir (style of thought) yang diwarisi kajian para orientalis yang kurang objektif. Lanjut Baca »

Iklan

Geliat kepemimpinan pemuda makin menggema dalam perpolitikan hari ini. Tak saja sebagai ekses dari pengaruh Obama dengan gaung “perubahan” dalam konteks global, tetapi lebih dari itu merupakan tuntutan internal yang lahir dari proses berkesinambungan selama reformasi berlangsung di Indonesia. Kebutuhan untuk menyediakan ruang yang lebar bagi tokoh muda lebih disebabkan mendesaknya siklus kepemimpinan nasional. Lanjut Baca »

Zacky Khairul Umam

  • Penulis, tinggal di Jakarta Karena beberapa kali letupan kekerasan di Nusantara terjadi atas nama Islam, saat ini kita perlu menelaah kembali jati diri gerakan Islam. Khususnya gerakan Islam radikal yang merongrong tubuh masyarakat. Apakah benar mereka mewakili kebangkitan Islam?

    Kekhawatiran beberapa pakar mengenai “globalisasi Timur Tengah” dewasa ini patut diperhatikan, yakni transmisi ideologi radikal yang menyelimuti aksi keberagamaan dan menjadi tren yang menjamur. Dalam pengertian gerakan ini, segala sesuatu yang terkait dengan perjuangan membela kebebasan, hak asasi manusia, dan demokrasi tidak mendapat tempat dalam Islam dan mesti ditentang, karena lebih merupakan wakil kekafiran Barat.

    Mondialisasi Islamisme
    Terlepas dari perlawanan terhadap hegemon Amerika, Revolusi Islam Iran tahun 1979 merupakan penggalan sejarah besar yang menggairahkan kembali semangat kebangkitan Islam. Kudeta Mekkah oleh kelompok radikal yang terjadi beberapa tahun sebelum revolusi hanya salah satu akar yang ikut mempengaruhi. Pasca-1979, terjadi pembakuan yang dipaksakan untuk memaknai Islam sebagai ideologi tandingan dan kekuatan politik alternatif.

    Tak hanya di dunia Arab, efek penyebaran Islamisme model ini merebak hingga ke Indonesia. Mulai 1980-an, gairah Islamisme menyemai bibit-bibit yang menyerupai jejaring sel-sel hidup mikroskopik, dan kemudian membentuk organisme yang lebih besar dewasa ini. Dimulai dengan slogan “lautan jilbab” hingga “syariat Islam”, “khilafah”, dan seterusnya. Di sisi lain, gerbong pembaruan Islam menempati ruang yang semakin diminati. Setelah reformasi, seolah kutub-kutub kelompok Islam terbuka lebar dan memberikan kesempatan yang sama besarnya bagi setiap orang dan kelompok.

    Kini, tak lagi terhitung bibit itu yang tumbuh subur. Jaringan radikalisme Timur Tengah tentu saja masih berpengaruh. Dalam beragam bentuknya, mulai digemborkan kebangkitan Islam baru. Tapi masih berangan menikmati buah yang manis, sementara mereka tidak memiliki akar-akar yang kukuh: tradisi Islam. Kenapa? Hal ini perlu digali secara genealogis dalam khazanah keislaman.

    Al-Shahwa dan tajdîd
    Referensi kebangkitan Islam dewasa ini merujuk pada pengertian al-shahwa al-Islamiyya (revivalisme Islam) di dunia Arab. Dalam khazanah peradaban Islam, terma al-shahwa sendiri adalah relatif baru dan merupakan bentuk obyek yang pasif yang terjadi setelah dipengaruhi. Merekalah yang banyak menyebut diri sebagai “atas nama Islam” dan amat vokal, dan kemudian banyak disorot dunia Barat sebagai representasi hingga menjadi bahan dari tesis “benturan antarperadaban”.

    Filsuf muslim Maroko, Mohammed Abed Al-Jabiri, menyelisik lebih kritis bahwa pemahaman dalam Islam tak pernah mengenal kata al-shahwa (kebangkitan), karena ia cenderung merupakan serapan asing. Yang ada dalam kamus Islam adalah terminologi tajdîd (pembaruan). Tajdîd memiliki dimensi evaluatif terhadap tradisi (masa lalu) sekaligus berusaha untuk menemui yang lain (masa depan), di dalam ego realitas (saat ini). Tajdîd itulah subyek aktif yang harus dikembangkan, karena ia aktivitas yang mempengaruhi. Al-shahwa bagaimanapun tidak mempunyai dimensi pemikiran (shahwa fikriyya), karena sering berbuntut kejumudan, sementara yang tepat adalah pembaruan pemikiran (tajdîd al-fikr). Maka makna kebangkitan sejatinya mesti diletakkan dalam konteks pembaruan ini (lih. Al-Jabiri, Wijha Nazhar, 1994).

    Tajdîd mengacu pada hadis Nabi, “Setiap pengujung seratus tahun, sesungguhnya Allah mengutus pembaharu dalam persoalan agama kepada umatnya.” Dan memang benar bahwa Islam tak memisahkan urusan agama dan dunia, tapi reformasi keagamaan harus dikaitkan sekaligus dengan yang bersifat duniawi. Pembaruan keagamaan dalam waktu bersamaan juga sebuah upaya sekularisasi, sofistikasi urusan dunia. Hukum sejarah tentang perubahan zaman dan waktu menjadi dasar bagi pembaruan itu. Yang pasti, tujuan utamanya adalah kemaslahatan publik.

    Karenanya, Al-Jabiri mengkritik sebagian penafsiran klasik terhadap tajdîd sebagai kasr al-bid’a atau deformasi hal yang heretik. Bidah dalam Islam tidak selamanya berkonotasi buruk, melainkan harus dilihat pula yang baik. Kebangkitan revivalistik yang berupaya menyerang ke-bidah-an tanpa mengenali dulu faktor tradisi, dengan demikian, bersifat ahistoris. Tajdîd merupakan kerja aktif yang baik untuk îjâd al-hulûl al-‘amaliyya limâ yathruhuhu ‘alaynâ ‘ashranâ min qadhâyâ lam ya’rifhâ mâdhînâ, yakni menemukan solusi-solusi praktis untuk menjawab kekinian yang tidak ditemui pada zaman klasik.

    Inspirasi al-Nahda
    Gema kebangkitan model revivalisme suatu saat akan menemui titik jenuh, disebabkan oleh ketercerabutan tradisi sekaligus ketidakpekaan terhadap situasi kebudayaan. Yang perlu dikembangkan dalam cakrawala gerakan Islam adalah mencari inspirasi tajdîd yang melahirkan al-nahda al-islamiyya (renaisans Islam). Dunia Arab pernah berhasil menjejak kebangkitan era al-Nahda pada 1798-1939 yang melahirkan bianglala pemikiran, setelah lama tertidur (Albert Hourani, 1962), tapi kemudian mulai terperosok kembali dalam kesengitan politik hingga muncul semangat kebangkitan revivalistik.

    Agar gerakan Islam tak mandek dan bahkan tersungkur, ia tidak perlu diarahkan ke ketakberadaban yang menghalalkan kekerasan dan vigilantisme yang barbar. Sebaliknya, ia perlu dibawa ke jalan pendidikan, emansipasi, pembebasan, dan pencerahan. Ia juga perlu diarahkan dari ‘ashr takfîr (era pengkafiran) menuju ‘ashr al-tafkîr (era pemikiran). Syahdan, setelah tertidur sangat lama, Ashabul Kahfi tidak hanya “bangkit” (shahwa) untuk mengikuti jalan hidup, tapi pertama kali mereka membutuhkan pembaruan (tajdîd) akal mereka, sehingga bisa melihat kehidupan baru yang lebih sejati. Inikah kisah Quranik yang tidak diperhatikan?

    http://www.korantempo.com/korantempo/cetak/2008/09/25/Opini/krn.20080925.143419.id.html

  • Dakwah Sayap Kanan
    Oleh: Zacky Khairul Umam

    Banyak orang mengutuk kekerasan 1 Juni di Monas, Jakarta. Atas nama apa pun, kekerasan dilarang. Apalagi atas nama agama dan Tuhan yang disembah. Demikian halnya, doktrin amar makruf nahi munkar (memerintah yang baik dan melarang yang buruk) tidak serta-merta digunakan sebagai kilah untuk berbuat sesuatu yang merusak dan merugikan orang lain. Kekerasan yang dianggap sebagai “iman paling kuat” (dan “iman yang lemah” itu adalah diam) salah kaprah sejak dari niat dan pemikirannya. Apa pun dalihnya, kekerasan merupakan tindakan kriminal.

    Namun, ada polemik yang beredar di masyarakat. Kemudian ada sebagian orang atau pihak yang tidak prihatin dengan korban kekerasan, justru malah berpaling secara simpatik kepada pelaku kekerasan. Ternyata isu Ahmadiyah, yang dibawa dalam aksi damai Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) itu, yang menyulut sumbu “emosi keberagamaan”. Para pelaku kekerasan menyebutnya sebagai “provokasi”, sementara mereka sendiri hendak merebut massa umat Islam yang tidak sama keyakinannya dengan Ahmadiyah. Lalu tindakan kekerasan yang dilakukan untuk membela akidah Islam dianggap benar. Pertanyaannya, apakah benar sesuatu yang bertujuan baik tapi dilaksanakan dengan tindakan yang tidak baik?

    Nah, para pelaku kekerasan itu juga mendapat dukungan yang melimpah dari beberapa tokoh, partai politik, dan lembaga keagamaan. Belakangan, pentolan Front Pembela Islam (FPI), yang sedang menjalani proses hukum, dikunjungi dan dibela oleh banyak tokoh keagamaan dan politik nasional. Di sisi lain, simpati terus membubung bersamaan dengan maraknya “demo tandingan” anti-Ahmadiyah hingga beleid pemerintah, yakni surat keputusan bersama (SKB), keluar sebagai barter dengan kelompok kekerasan. Munarman secara heroik menyerahkan diri setelah SKB keluar, seolah-olah dia kartu truf atas sikap pemerintah itu, yang sebelumnya hilang entah ke mana.

    Rentetan peristiwa tersebut memberi ruang yang cukup luas bagi kelompok radikal yang sebetulnya secuil jumlahnya. Hanya, mereka bersuara sangat vokal dan pintar untuk menggugah emosi keagamaan. Kendati mereka tetap menjalani proses hukum, kehadirannya cukup terasa di hati umat Islam yang, terutama, anti terhadap ajaran-ajaran Ahmadiyah. Di sela-sela simpati atas mereka, datanglah para tokoh politik dan keagamaan yang memanfaatkan isu ini sebagai umpan untuk meraih dukungan suara di masa mendatang. Untuk meraih massa, tokoh-tokoh yang memberi dukungan dan bantuan advokasi hukum itu tidak seratus persen demi membela akidah agamanya. Bagi pihak ini, yang ada adalah kepentingan untuk memulai mencari celah baru dalam merebut massa. Pihak tersebut berupaya mendulang emas dan mencuri kesempatan di atas tindak kekerasan yang sebetulnya cacat niatnya dan inkonsitusional.

    Politik dakwah
    Jika diperhatikan, dakwah yang menjadi tren belakangan ini dibungkus dengan penyederhanaan masalah agama. Untuk menjadi penganut agama yang baik, umat yang patuh tidak membutuhkan kesadaran yang tinggi dan penalaran yang berliku-liku. Cukup dengan praktis melaksanakan ritual, membela agama, sekaligus menggunakan simbol-simbol berbau agama, otomatis akan dianggap saleh. Termasuk, misalnya, memilih partai yang berafiliasi dengan simbol keagamaan. Dakwah semacam ini terus menguat dengan munculnya pemeriahan yang berbunga-bunga atas “syariahisasi”.

    Bangunan dakwah mereka didirikan dengan upaya meraih massa. Penyederhanaan terjadi dalam praktek keagamaan, yaitu meraih surga dan menghindari neraka, sekaligus tetap bahagia di dunia dan akhirat. Karena itu, metode yang berkembang ialah jauh dari intelektualisasi yang membutuhkan nalar dan jam terbang pemahaman yang tinggi. Aktor-aktor intelektual dakwah semacam ini bergerak dengan mengerucutkan permasalahan dan doktrin-doktrin agama menjadi nilai yang sangat praktis dilakukan, memberikan manfaat, dan menyebarkan efek plasebo yang menyuntikkan imajinasi kebenaran dan kejahatan dalam diri mereka. Secara sederhana mereka, misalnya, menyuntikkan pemahaman “membela agama dan menolak kejahatan”–baca: membela Islam dan mengutuk kekafiran–untuk digunakan sebagai pemantik bagi eksistensi kelompoknya. Di sini, Islam digunakan sebagai simbol dalam cara dakwah mereka. Padahal, siapa yang tahu Islam sebagai ajaran Tuhan berpihak kepada mereka? Mereka hanya berpikir bahwa mereka bagian dari “jihadis” dan tentara Tuhan, karena itu, wajar mendirikan gerakan paramiliter beserta susunan komando yang ada. Kekerasan bahkan bisa dibenarkan.

    Dalam pengaruh suntikan ini, massa digiring ke arah “kebenaran” dan pemihakan terhadap radikalisme dan fundamentalisme. Metode penyederhanaan dakwah merupakan cara yang ampuh untuk menggaet massa demi penyebarluasan ajaran-ajaran Islam praktis, menggugah simpati dan emosi, sekaligus bisa menggerakkan dorongan atau motif politik. Kini, penyederhanaan itu bahkan telah mencapai akar rumput persoalan, yakni berusaha meyakinkan masyarakat untuk membangun masyarakat yang bersih, ekonomi yang adil, sekaligus sejahtera. Karena itu, banyak tokoh dan lembaga yang memanfaatkan isu seputar kejadian Monas itu sebagai umpan yang baik untuk mendapatkan partisipan. Kapitalisasi dan politisasi rentan mengikat hal ini dan umat banyak yang tidak menyadarinya sebagai manuver dan manipulasi.

    Nah, pemerintah, yang setengah hati ingin bersikap moderat dengan keluarnya SKB, ternyata jatuh pada sikap yang medioker. Bagaimana? Bukannya mendapat berkah dukungan, pemerintah juga akan kebingungan menghadapi tuntutan konstitusional dan hasutan massa. Sementara kelompok Islam tertentu sedang membangun kekuatan massa melalui metode dakwah yang ampuh, pemerintah masih berpikir pada simpul ideologis Islam yang sebetulnya gagap untuk meraih simpatisan. Rakyat butuh kenyamanan, perlindungan, dan kesejahteraan, sekaligus ketegasan. Di sini, pemerintah (Yudhoyono-Kalla) kalah memetakan kekuatan. Kelompok Islam politik semakin besar. Fokus pemerintah memperbaiki kesejahteraan pun tak kunjung membaik. Jelas sudah bahwa ayat-ayat keyakinan lebih penting bagi pemerintah ketimbang ayat-ayat konstitusi.

    Zacky Khairul Umam
    Penulis, tinggal di Jakarta

    URL Source: http://www.korantempo.com/korantempo/2008/06/13/Opini/krn,20080613,51.id.ht
    http://www.unisosdem.org/article_detail.php?aid=10286&coid=1&caid=34&gid=2

    Gerakan simbolik itu bernama Fron Pembela Islam (FPI). Mereka mengaku suara Islam; meneggakan yang makruf dan mencegah yang munkar. Lahir dari ruang kekuasaan yang seharusnya mengayomi tetapi kerap kali menyerang: aparat negara. Mereka seolah dilindungi, padahal jelas-jelas nyata menjadi ayat penentang kebangsaan.

    Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan, senyampang dengan Peringatan Hari Pancasila 1 Juni, gagal memberikan petisi kepada pemerintah: “Bela kemajemukan!” Segerombolan massa dengan syahwat setan hadir membubarkan massa, memukuli beberapa aktivis, dan tidak tahu malu menenteng Tuhan dalam tangan mereka, serta menyuarakan takbir.

    Polisi datang telat, dengan dalih mengatasi demonstrasi menolak kenaikan BBM di Istana. Kalau pun tak telat, Polisi sudah ketahuan tajinya: bakal tak berani menindak FPI. Hukum kita ompong. Kewargaan diijak, dan kita sekali lagi menyaksikan vandalisme yang tak berdasar, bagi kemanusiaan kita dan traktat kewargaan kita, yang semestinya menjunjung kemajemukan dan keberadaban. Bukan kebiadaban, Saudara!