Multikulturalisme Global Obama …

Barack Obama secara teoretis sedang menjungkirbalikkan kebijakan politik luar negeri George Walker Bush. Hubungan Amerika Serikat dengan dunia Muslim, khususnya, harus dilempangkan. Palu sejarahnya ada di Universitas Kairo, 4 Juni lalu, kala Obama harus memilih “jantung Timur Tengah” itu sebagai wahana menyampaikan niat dan ikhtiar baru menghilangkan ketidakpercayaan dan hubungan jelek. Sebagai teks, pidato itu amat penting ditilik untuk melandasi aksi politik globalnya. Seolah fasih meramu keharmonisan, Obama kerap mengutip teks Quran, Bibel, dan Taurat untuk menjustifikasi “perdamaian”, “kebersamaan”, dan “kemitraan” sebagai tugas kemanusiaan. Ia menekankan, hubungan yang dijalin dengan dunia Muslim bukan relasi kepatronan, melainkan sebagai mitra yang sama.

Selain juga menyatakan Islam amat erat dengan sejarah Amerika, yang lebih mengena secara psikologis ialah pengalaman pribadi Obama yang diselipkan di dalam teks itu. Keragaman identitas yang dimiliki Obama menjadi nilai tambah tersendiri. Pengalaman lintas Afro-Amerika dan kemudian pernah merasakan hidup toleran di Menteng, Jakarta, menyembulkan semangat kemajemukan yang dipegang teguh Obama. Tak heran jika pidato Obama itu menjadi semacam “teks multikulturalisme” dalam hubungan internasional.

Perbaikan krisis

Boleh dikatakan, Obama sedang meletakkan landasan filosofis politik luar negerinya. Ketimbang melanggengkan ramalan benturan antarperadaban yang dipraktekkan secara banal oleh Bush yang sering memberikan batas “kami” dan “selain-kami”, “poros kejahatan”, “perang Salib”, dan seterusnya, Obama ingin menjahit baju rombeng Amerika itu dengan diskursus politik yang segar dan mudah diterima. Sebagai entitas, dunia Muslim (bukan negara Islam) adalah subjek yang penting bagi Amerika untuk dieratkan kembali. Karena itu, kalau dipahami lebih subtil, Obama sedang memutar balik paradigma Huntingtonian mengenai teori benturan yang rancu itu.

Komitmen memperbaiki Irak dan kemudian mengembalikannya kepada rakyatnya, juga dengan Afganistan, mendukung solusi dua negara Palestina-Israel, berdialog dengan Iran untuk non-proliferasi nuklir, dan juga penutupan Guantanamo menjadi hal penting bagi Obama. Warisan krisis politik Bush benar-benar membuat Amerika hendak bertaubat di bawah Obama. Ia sadar bahwa jarak permusuhan hanya membikin dunia semakin ruwet dan menjatuhkan Amerika pada pilihan sulit. Khususnya Timur Tengah, ladang di mana Amerika memompa emas hitam, pilihan untuk berjabat tangan lebih terbuka di mata Obama.

Krisis itu tak saja lekat dengan persoalan politik dan ekonomi. Lebih dalam dari itu ialah malaise budaya ke-Amerika-an di dunia global. Pertanda utamanya tampak dari ketidakpercayaan masyarakat dunia Muslim pada globalisasi gaya Amerika yang bukan mencerahkan, justru memaksakan. Peristiwa 11 September yang dijadikan diktum Perang Melawan Terorisme untuk memburu ekstremis Muslim, tetapi justru lebih permisif untuk memaksakan demokratisasi gaya Amerika di Timur Tengah. Itu fatal, sebab tak menyelesaikan masalah, justru membuat banyak kalangan menuding agenda demokratisasi itu cacat berbarengan dengan ekspansi dan penyerangan.

Efek traumatik itu yang membuat kalangan Islamis amat nyinyir dengan pidato Obama di Kairo untuk memperbaiki keadaan. Obama, bagi mereka, sama saja sebagai “perpanjangan tangan” rezim sebelumnya. Ini tantangan yang berat bagi Obama yang sejak dini memang mengatakan bahwa pidato saja tak menyelesaikan masalah.

Khusus di kawasan Arab, tentu kemenangan Ahmadinejad meneruskan posisinya sebagai Presiden Iran yang mengalahkan kalangan reformis, perlu dicari strategi aksi yang baik. Selain itu, pragmatisme Amerika yang mempunyai akar kuat dengan Israel menjadi penghalang bagi solusi kemerdekaan Palestina. Terlebih Bibi Netanyahu dan Avigdor Lieberman mengarahkan Israel pada kebijakan ultrakonservatif yang anti-Palestina. Untuk membuktikan komitmen Obama, mengurai hubungan dengan Iran, dan juga mendamaikan Israel-Palestina amat dinantikan terobosan kebijakan berikutnya, meski rintangannya amat berat.

Kawasan non-Arab

Ke depan, membumikan multikulturalisme dalam politik global akan lebih gampang dilakukan Obama kepada dunia Muslim selain Arab. Selain konflik yang terus membara di kawasan Timur Tengah itu, perpecahan pun sulit untuk disatukan. Nyaris belum ada negara yang mampu menjadi pemimpin. Mesir sebetulnya relatif memiliki kekuatan, jika mampu membuat langkah seperti era Nasserisme dulu, dengan konteks kekinian. Iran, kendati dekat, ego peradaban Persia dan mayoritas Syiah amat sulit merangkul sentimen persatuan kawasan.

Karena itu, Amerika akan mempertimbangkan kemitraan yang bisa bergerak cepat dengan belahan dunia Muslim lainnya (non-Arab). Pertama, Turki. Negara yang memiliki hubungan diplomatik dengan Israel tersebut, selain dekat dengan Eropa, juga relatif strategis untuk alasan keamanan geopolitik (NATO) dan bisa menjadi “satelit” pengawasan atas kawasan Kurdistan, yakni Iran dan Irak. Kedua, Indonesia (dan Malaysia). Promosi demokratisasi dan moderatisme Islam di wilayah ini akan dijadikan model pengembangan timbal-balik. Ketiga, anak benua India, yakni Pakistan dan Bangladesh, yang juga memiliki jumlah populasi Muslim yang besar. Kawasan ini penting menjadi benteng anti-terorisme di Asia Tengah.

Proyek multikulturalisme Obama bisa berkembang cepat dari ketiga kawasan tersebut. Meskipun, kita mengharapkan, retorika Obama tak berhenti pada boutique multiculturalism yang pamer “perubahan” saja, melainkan benar-benar menjadi patahan sejarah baru bagi hubungan multilateral yang lebih baik. Satu hal lagi: kemitraan mutualisme penting direalisasikan, dengan membuang jauh-jauh impian Amerika sebagai patron. Dari situ, Amerika benar-benar beradaptasi dengan perubahan multipolar yang semakin sadar keadikuasaannya mulai mengendur. zacky khairul umam




    Tinggalkan Balasan

    Please log in using one of these methods to post your comment:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: