Genapkan Hajat Demokrasi

Artikel sederhana ini dimuat di Media Indonesia edisi Selasa, 9 Juni 2009

Rumus berpolitik tentu tidak matematis. Satu ditambah satu sama dengan dua, misalnya. Politik kerap bersifat spekulatif. Karena itu, misalnya lagi, satu ditambah satu bisa menghasilkan lima. Seni keserbamungkinan hadir di sini.

Itu terlihat dari pergerakan peta koalisi belakangan ini. Tidak ada persekutuan yang persis abadi. Yudhoyono-Kalla harus bisa: berpisah. Perhimpunan kepentingan dalam ruang kekuasaan benar adanya. Keputusan berani Kalla (atau Golkar) dipasangkan dengan Wiranto tentu mempunyai makna tersendiri, terpisah dari ada kekurangan dan kelebihannya. Ini berpaling dari dalil: jika Yudhoyono-Kalla berpasangan lagi, maka trayek pemerintahan akan berjalan mulus, program pembangunan tinggal diteruskan, dan keseimbangan eksekutif-legislatif bisa terjaga. Sebagai partai yang identik dengan partai pemerintah, kini Golkar pun harus membentuk induk semang yang baru; mampukah dia menjadi oposan seperti yang digariskan tegas oleh PDIP?

Nalar kuasa yang tidak linear memungkinkan gerak demokrasi menjadi dinamis. Koalisi pemerintah hari ini bisa jadi buyar di kemudian hari. Lawan politik sekarang mungkin saja menjadi mitra setia di masa mendatang. Selain variabel kepentingan, yang dibutuhkan bukan kesetiaan bersekutu antarpartai atau antarelite politisi, melainkan juga kalkulasi terkait modal politik di kemudian hari. Entah modal kapital ataupun modal yang lebih tradisional, yakni pewarisan trah kekuasaan dan syukur-syukur penurunan garis ideologis kepartaian. Kalau bisa.

Logika terbalik karena itu penting diperhatikan sebagai jalan demokrasi. Kemampuan untuk merubah wajah dan posisi yang berbeda dalam suatu masa pemerintahan patut ditabalkan. Partai apapun mesti bisa menjadi pendukung pemerintah hari ini, dan besok siap menjadi penentang sebagai oposisi. Meski tak mudah dengan sistem multipartai yang dianut, setidaknya terdapat kemampuan untuk mengelola sebuah pemerintahan yang efektif. Ada yang menjalankan, ada yang mengawasi. Sekarang mengawasi, besok menjalankan. Dan seterusnya. Lebih bagus lagi, jika yang digunakan sebagai arah berpolitik ialah mengukuhkan kesamaan misi dan program.

Daya politik yang bisa melompat seperti itu yang bisa meramaikan ruang publik menjadi seru sebagai wahana saling bertukar pikiran dan membuyarkan keajekan: sesuatu yang tampak mustahil karena kestabilan berarti proses berpolitik menjadi mati. Teorema “selagi setia gandeng, tak setia tak lagi bersekutu” menjadi wajar saja. Fenomena ini tak perlu ditakuti sebagai bentuk ketidakkonsistenan yang tak produktif. Sebaliknya, eksperimen menjalankan demokratisasi ada di situ. Tepatnya, demokrasi ala elite politik. Percaya saja bahwa proses itu, justru karena tak linear, sedang mematangkan dirinya menuju perbaikan yang lebih maksimal. Kalaupun ada kekurangan berhitung dalam melangkah, anggap saja sebagai percobaan demokrasi yang masih terus berlangsung dan belum berakhir.

Ini agar kehidupan berpolitik tak mengikuti cara berpikir ala lembaga survei yang bukan menyuguhkan data yang dipercaya, melainkan malah menentukan pola pikir masyarakat dengan tendensi hasil-hasil angka tertentu. Artinya, tidak semua gerak politik dinominalisasi secara pasti dan bersifat menentukan. Nalar keganjilan menjadi penting. Hasil kreasi politik mesti mendekati kualitas dan bukan melulu menggunakan parameter kuantitas. Kualitas politik ialah perihal bagaimana menggunakan rasionalitas dan kesetiaan pada khittah berpolitik untuk memajukan demokrasi. Sementara kuantitas politik selalu mengarah pada raupan suara yang bisa dikibuli amanahnya di suatu saat.

Berimbang

Hanya saja ada yang lebih sulit ketimbang mengganjilkan gerak politik yang tidak selalu ajek. Memang, perlu digarisbawahi, ganjil tak selamanya buruk. Yang lebih sulit daripada hal itu ialah mengembalikan kepraktisan berpolitik pada imajinasi bersama untuk tujuan yang lebih luhur dan berjangka panjang. Ini membersitkan sebuah imperatif untuk menggenapkan hajat demokrasi. Tepatnya, selalu menghadirkan keadaban dan kemanusiaan sebagai pangkal kebajikan dalam berpolitik.

Itu kenapa yang ganjil dalam berpolitik mesti digenapkan dengan membangun partisipasi masyarakat yang luas, masyarakat tidak terbengkalai lagi, program-program kesejahteraan ditingkatkan, pendidikan diprioritaskan, masalah kesehatan diperhatikan, dan standar kualitas kemanusiaan Indonesia dinaikkan ke martabat yang lebih manusiawi. Penambahan hal-hal tersebut terasa penting untuk mengimbuhi sesuatu yang luput dalam keasyikan membangun kepentingan, memperkuat koalisi perhimpunan, dan memperlebar sayap persekutuan politik. Kebajikan-kebajikan itu yang kerap terlupakan.

Pemilu memang penting. Pergantian periode pemerintahan memang perlu dilewati. Tapi kalau hanya berhenti di sini, arah berpolitik kita amat celaka. Terlebih jika kualitas penyelenggaraan pemilu yang menambah ruwet. Yang lebih penting dibandingkan hajatan demokrasi lima tahunan itu ialah mengisi titik-titik dari hari ke hari untuk perbaikan peradaban bangsa. Kepemimpinan politik berperan penting di sini. Titik-titik itu yang kita lihat sebagai sebuah garis lurus yang tak termungkiri. Dan jalan garis lurus itu tidak bisa ditelikung hanya dengan pemilihan dan pergantian pemimpin saja.

Jika satu, tiga, lima dan seterusnya ialah kedinamisan berpolitik. Maka bilangan itu mesti diisi dengan dua, empat, enam dan seterusnya supaya genap. Keganjilan dalam berpolitik wajar. Tetapi kalau sudah menghindari kegenapan politik untuk mewujudkan kebajikan semakin menyeruak, maka politik hari ini ialah politik manipulasi; politik yang gagal berhitung tentang masa depan.

Karena klaim politik yang netral, maka yang ganjil dan yang genap perlu digabungkan agar seimbang. Agar kehidupan demokrasi kita tidak timpang. Supaya demokrasi kita mempunyai jiwa dan raga sekaligus.

zacky khairul umam




    Tinggalkan Balasan

    Please log in using one of these methods to post your comment:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: