Pantomim yang Berbicara

Pantomim boleh dikatakan merupakan dasar permainan teater, yang mengolah kelenturan tubuh dan kepiawaian ekspresi, mimik.

 mime-bizot-007

Di tengah kerontang kegiatan pantomim di Tanah Air, Philippe Bizot, lelaki Prancis itu menggelar pertunjukkan seni gerak tubuh itu di Salihara. Minim kata. Juga miskin apresiasi.

Seorang lelaki berkepala kotak kardus berdiri sendiri di panggung. Walau mirip robot dengan kepala kotaknya, sekuntum bunga di tangannya membuatnya tampil lebih manusiawi. Ya, lelaki kepala kardus itu menunggu kekasihnya ditemani musik lembut. Yang ditunggu muncul, seorang perempuan bertubuh semampai tapi juga berkepala kotak dari kardus. 

Mereka berpelukan. Kepala kotak kardus dengan kepala kotak kardus itu makin mendekat, mendekat, dan akhirnya berciuman. Caranya? Sungut kepala kardus si lelaki, menelusup masuk dalam dua lubang bulat di kepala kardus si perempuan. Lampu panggung gelap dan adegan berganti.

Saat lampu kembali menyala, lelaki kepala kotak kardus itu sudah ada di sana. Hanya saja kali ini tanpa kepala kotak. Berdiri santai menikmati panggungnya dia lalu melangkah pelan. Menuju barisan terdepan bangku penonton dan sebuah ciuman lembut mendarat di kening penonton. Awal petunjukan yang manis. Lampu panggung kembali padam dan adegan pun kembali berganti.

Lelaki itu adalah Philippe Bizot maestro pantomim asal Perancis yang kali ini tampil di Salihara, Rabu (11/3) melakonkan You and Me. Sebuah kisah cinta lintas budaya antara Sarah dan Lois . Sebelum tampil di Salihara, duet pantomim dengan lakon yang sama ini sudah ditampilkan di Pakistan dan Bolivia. Di Indonesia, Bizot menggandeng Putri Ayudya sebagai lawan mainnya. Tentu dengan tema yang di modifikasi di sana-sini. 

Sebuah taman dengan kursi panjangnya, Louis –lelaki kepala kotak kardus itu- sedang berkencan dengan Sarah. Mereka sedang merencanakan kencan yang lebih serius. Di apartemen Sarah. Lalu cerita mengalir mirip sebuah shooting film yang bisa diulang-ulang. 

Sarah di apartemen berdandan gelisah. Menyiapkan makan malam, lagu romantis, anggur, dan lilin. Sepasang kursi dan sebuah meja imajiner. Pintu diketuk. Lois datang. Melihat-lihat apartemen Sarah, lalu duduk membuka anggur yang langsung diminumnya. Hidangan disandingkan, cuek saja Lois mulai makan. Cut!! Sarah masygul dengan kencannya. Fuuhh!!! Sarah meniup lilin dan panggung menghitam. 

Adegan kembali di ulang dari saat Sarah berdandan gelisah. Menyiapkan makan malam, lagu romantis, anggur, dan lilin. Pintu diketuk. Louis datang. Kali ini tangannya menggenggam sekuntum bunga cantik. Berkeliling mengagumi apartemen Sarah dan dipersilahkan duduk. Membuka anggur, mengisi gelas menawarkan pada Sarah, lalu makan malam berdua. Indah? Tidak juga. Kaki Lois yang bergerak-gerak di kolong meja menggoda Sarah membuatnya sebal. Fuuhh!! Lilin ditiup Sarah. 

Begitu terus diulang. Dalam setiap adegan ulangnya, bunga yang dibawa Louis makin mengembang, seikat lalu sekeranjang penuh. Komunikasi yang terpatah-patah di awal perkenalan menjadi tipikal cinta dengan perbedaan budaya. Untunglah Lois dan Sarah bisa melewatinya. Mereka menikah. Cerita usai? Tentu tidak. Justru masalah sesungguhnya baru saja dimulai. 

Pengagum Marceau

Bizot bukanlah seniman anak bawang. Dia menekuni pantomim sejak dini yakni saat berumur delapan tahun. Bizot kecil dengan penuh kekaguman menyaksikan pertunjukan Marcel Marceau, seniman pantomim top Prancis yang juga pernah tampil di Jakarta.. Secara otodidak dia kemudian belajar dan mengasah bakat pantomim serta memberanikan diri tampil di kafe-kafe teater di Bordeaux dan Paris. Kerja kerasnya membuahkan hasil. Tahun 1974, saat umurnya 20 tahun di Paris, Bizot mendapat penghargaan internasional pertamanya atas bakat dan kerja kerasnya. 

Sejak saat itu Bizot yakin pantomim adalah pilihan hidupnya. Sejak 1997 dia mulai menjelajah dunia. Dari Karachi di Pakistan hingga Berlin. Di Puerto Mont, Chile tahun 2003, Bizot menyabet hadia pertama Festival Dunia Teater. Tak hanya tampil di panggung, juga aktif mendirikan sekolah pantomin. Di Jerman, Venezuela, Chile, sampai Pakistan. Bahkan di Amuki Bolivia Agustus 2007, Bizot mendirikan kelompok pantomim untuk anak-anak, tuna daksa, dan juga kaum papa. 

Bizot mengikuti jejak idolanya, Marcel Marceau yang juga membuka sekolah pantomim. Marceau bahkan pernah menawarkan beasiswa bagi seniman-seniman Indonesia yang ingin belajar. Namun, tak satu pun yang berminat. Seni pantomim di Indonesia nyaris membisu. Padahal, pantomim boleh dikatakan merupakan dasar permainan teater, yang mengolah kelenturan tubuh dan kepiawaian ekspresi, mimik. Bahkan, aktor sekelas Robin Williams pun awalnya menekuni pantomim. 

Memang ada seorang Didi Petet yang masih menekuni seni ini, walau pun telah disenyawakan dengan teater. Namun, Didi pun telah lama absen menggelar show. Begitu pula Septian Dwi Cahyo. Sena Utoyo malah vakum sama sekali lantaran telah almarhum. Satu-satunya seniman pantomim yang tersisa dan konsekuen hanyalah Jemek Supardi , meski sepi publikasi.

Kembali ke soal Bizot, seniman Prancis ini sungguh jenaka dengan gerak dan bahasa nonverbalnya. Imajinasinya juga liar mengundang senyum, bahkan tawa terbahak. Sayang, dalam pentasnya di Salihara kali ini, ke maestro-an Bizot tak terlihat. Tampil memikat di awal acara, Bizot seperti kehabisan tenaga di tengah dan akhir cerita. Tema tentang perkawinan budaya tak tergarap maksimal. Bahkan tampak bolong di sana-sini. Khususnya tentang bayi Sarah. Usai Lois dan Sarah menikah di gereja, mereka memutuskan bulan madu. 

Sayangnya, terlalu ribet dengan koper besar-besarnya, akhinya membuat Lois tertinggal pesawat –lengkap dengan latar suara bandara yang bising-. Bizot memukau di adegan ini, empat tas besarnya diboyong dengan sekali angkut. Satu digigit dimulutnya, satu masing-masing di tangan kanan dan kiri, dan Lois berjalan tersaruk-saruk meninggalkan bandara. Dalam adegan ini Bizot sukses mengajak penonton yang memenuhi teater box Salihara untuk bersedih. Bertambah-tambah sedihnya ketika Sarah pulang dari bulan madu menggendong bayi. Anak Lois-kah? Tampaknya bukan, karena bayi itu berkulit hitam legam dan Lois jelas-jelas bule. Hidungnya mirip saya? Lois bertanya pada Sarah dengan bahasa gerak sambil menggendong sang bayi. Sarah menggeleng. Mata? Sarah menggeleng lagi. Kaki? Sedikit, jawab Sarah mengacungkan jari kelingking yang bertaut dengan ibu jarinya. 

Walau adegan ini oleh Bizot dielaborasi maksimal dan merupakan simpul penting dalam bangunan cerita –Sarah selingkuh- bayi ini kemudian menghilang sama sekali dalam cerita selanjutnya. Cerita kemudian didominasi oleh perkara domestik rumah tangga mereka “Apakah karena beda budaya, jadi capek banget komunikasinya sih,” teriak Sarah dari dapur. Oups!! Pantomim koq berbicara? “Ini memang bukan pantomim murni, modifikasi karena saya menyelipkan beberapa dialog, ” ujar Bizot yang ditemui usai pertunjukan. Memang kalimat yang diucapkan bukan kali pertama. Sebelumnya, Lois saat menerima telepon juga berucap “Halo,” yang kemudian bercas-cis-cus dalam bahasa ibunya. “Tapi pantomin adalah seni gerak, itu esensinya” tambahnya. 

Lalu ending dibuat sederhana. Ditipu selingkuhannya Sarah kembali pada Lois dan mereka hidup berbahagia. Pesan apa yang ingin disampaikan Bizot dalam pentasnya ini? Nihil. Ini hiburan bung, penonton yang cuma puluhan itu bertepuk tangan dan itu cukup. (teguh nugroho/adiyanto)

Koran Jakarta 15 Maret 2009

 




    Tinggalkan Balasan

    Please log in using one of these methods to post your comment:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: