Sang Buddha di Buddha Bar

Awalnya di Paris, lalu ke Dubai, Beirut, London dan akhirnya ke Jakarta.

buddha-bar-cover-bisIni merupakan bar ke-10 yang dimiliki Raymon Visa, asal Prancis. Di Jakarta, hak waralaba Buddha Bar dipegang Renny Sutiyoso.

Memasuki Buddha Bar seolah memasuki vihara. Mungkin juga komplek Shaolin. Patung sang Buddha yang terpasang di bagian tengah bar, lukisan naga dan patung-patung kuno akan segera menyergap ketika baru melangkah ke dalamnya. Suasananya juga seolah mistis dengan alunan musik eksotik dan aroma hio atau dupa.

Benar inilah bar terbaru yang hadir di Jakarta, yang memadukan interior dan aksen Asia (China) dan eksterior kolonial. Elemen dekorasinya selain patung-patung itu, juga terasa kuat pada pilihan furnitur,  pajangan benda-benda antik, dan warna-warna pada dindingnya.  Lampunya temaran, menawarkan suasana mistis, mungkin juga romantis. Pelayannya mengenakan cheong sam, pakaian khas Cina yang berkerah.

Sebuah situs menyebut bar ini seolah bermaksud memanjakan seluruh panca indera para crème de la crème dari kaum elit Jakarta. “Desain ini merupakan standar internasional. Namun sedikit lebih terang daripada yang di Paris,” tutur Deny Nugraha, Manajer Sales dan Marketing Budha Bar Jakarta. 

Kebetulan atau tidak, gedung yang digunakan sebagai bar ini adalah bekas gedung Bataviasche Kuntskring yang kemudian menjadi  Batavia Cultural Center, pada zaman kolonial Belanda. Pasca kemerdekaan gedung ini menjadi Kantor Imigrasi. Dulu gedung itu terkenal dengan kaca-kaca patri warna-warninya, yang pada Buddha Bar lantas diganti dengan kaca gelap. Dibuka sejak November tahun lalu Buddha Bar berdiri di atas areal 3000 meter persegi.

Venue ini merupakan waralaba yang dimiliki Raymond Visan, warga Prancis. Menurut Deny, Visan menyukai segala hal yang berbau Asia. Dia membuka Buddha Bar yang pertama pada 1996 di Paris. Lalu merembet ke Dubai, Beirut, Kairo, London, dan seterusnya. Buddha Bar Jakarta adalah bar yang ke-10 di seluruh dunia, dan pertama di Asia Tenggara.

“Clubbers”

Alasan dibukanya Buddha Bar di Jakarta, menurut Deny salah satunya karena alasan banyak kalangan berduit di Indonesia yang menyukai hal-hal berbau internasional dan konsumtif. Tak lalu karena itu Buddha Bar mengabaikan protes dari sebagian umat Buddha yang keberatan. Tapi kata Deny, Buddha Bar dirintis Visan bukan dengan maksud melecehkan agama tertentu, kecuali karena Visan memang betulbetul menyukai kultur Asia itu.

Dan sejak dibuka, bar ini kata dia tak pernah sepi. Setiap Senin hingga Rabu, rata-rata pengunjungnya mencapai 50 orang, dan di akhir pekan bisa hingga 600 orang. ”Jika tidak reservasi dulu, mungkin tidak akan kebagian tempat,” kata Henry Marheroso, Manajer Operasional Buddha Bar.

Berdiri pada bangunan dua lantai, Buddha Bar Jakarta memiliki dua ruang utama. Lounge yang berada di lantai bawah penuh dengan ornamen biksu, dan patung Buddha. Ruangan seluas 700 meter persegi ini, menyediakan empat ruang tamu istimewa:  2 VIP Room dan  2 VIP Garden. Selebihnya ada ruangan Dragon dan ruangan  Cigar (cerutu).

Yang menarik adalah  VIP Garden. Terletak di ruang terbuka, masih-masing di sisi kiri dan kanan Lounge itu, ruang ini dikelilingi  pepohonan. Cukup rimbun. Lampunya yang temaran. “Memang pepohonan itu dibiarkan tetap ada. Dan tidak bisa ditebang karena merupakan cagar budaya,” kata Deny.

Bagi pengunjung yang doyan mengisap cerutu Cigar Room yang berkapasitas 10 orang, mungkin bisa menjadi pilihan. Atau kalau mau rapat tapi tak mau diganggu, ada Dragon Room yang kata Deny menjamin ruangan itu kedap suara. Tidak akan berisik.

Di Lounge ini terdapat bar dan DJ area. Barnya terletak di dekat pintu masuk. Setiap Sabtu ruangan ini kata Deny  penuh dengan  para clubbers, julukan bagi mereka yang suka berpesta di club-club malam. Dari meja DJ itu pula, alunan musik tradisional khas Buddha Bar biasa diputar. Kadang diselingi lagu-lagu internasional.

Cagar Budaya

Jika di lantai satu terdapat bar dan Lounge, di lantai dua konsepnya adalah restoran. Dengan luas 600 meter persegi tempat ini mampu menampung sebanyak 120 orang. “Memang luas area restoran lebih kecil dibanding dengan Lounge,” kata Hennry.

Di ruangan inilah pengunjung akan benar-benar merasakan feel Buddha Bar: patung Buddha itu dan suasan magis. Berwarna emas cerah dan dengan tinggi dua meter, patung sang Buddha seolah mengawasi semua orang.

Oh…ya ada ada satu meja bundar yang dikelilingi enam kursi. Lalu di atasnya adalah langit-langit berbentuk kubah, membentuk seperti cerobong asap. Seperti lorong panjang ke atas. Di sisi kiri ada semacam dapur besar. “Itu sushi station,” kata Deny.

Di belakang di dindingnya terpampang satu lukisan besar gambar naga. Warnanya merah terang. Yang dipercaya sebagai warna milik dewi-dewi. Lampion berwarna merah menggantung hampir di setiap sudut ruangan. Anda juga bisa mencoba menyantap makanan di balkon, menikmati makan malam di bawah sinar rembulan, itu jika tak sedang turun hujan dan langit memang terang.

Menurut Deny, target pengunjung Buddha Bar adalah kalangan atas yang berduit dan para  kespatriat. Masakannya sebagian besar  menu Asia, oriental itu. Dari Jepang, China, dan Thailand. Sebagian menu ala Barat. Harganya, bisa hingga 1 juta rupiah.

Henry bercerita seluruh ruangan Buddha Bar tidak ada yang direnovasi. Semua masih persis dengan desain gedung lama, kecuali kaca patri yang sudah ilang itu. Sebagai cagar budaya, kata Hery, gedung ini dilindungi. “Bahkan tidak boleh satu paku pun di tempel ke dinding. Karena ini bagian dari perjanjian dengan Pemprov DKI Jakarta,” ujar Henry.

Mengapa cagar budaya lalu bisa menjadi bar? Itu yang tak akan bisa dijawab Deny dan Henry. Publik hanya tahu, pemegang hak waralaba Buddha Bar Jakarta adalah Renny Sutiyoso, putri Sutiyoso, mantan penguasa DKI Jakarta. adiyanto/kristian ginting (pernah dimuat di Koran Jakarta edisi Minggu)


  1. 1 Kesempurnaan Menjelang Pagi: Buddha Bar « Aksara dan cakrawala

    […] Older » […]




Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: