Sakit yang Jadi Fesyen

women_tattoo_removalKaum hawa semakin menggilai tato. Tapi semakin banyak pula orang yang mendatangi klinik laser untuk menghapus tato mereka. Seni rajah tubuh makin diminati sebagai perayaan terhadap seni yang sebenarnya.

Tidak hanya para lelaki, kaum hawa juga semakin gandrung pada tato. Sebagian orang menganggap tato mendongkrak kualitas penampilan dan mempercantik tubuh. Sebagian lagi menganggapnya sebagai pernyataan atas sikap pemberontakan, minimal menunjukkan diri mereka sebagai manusia yang hidup di luar ‘kotak’ kenormalan. Dulu, tato hanya didominasi kaum Adam. Belakangan para perempuan juga tak malu-malu bertato.

Di Indonesia minat kaum hawa terhadap tato bisa dilihat dari banyaknya selebritas perempuan yang tak ragu-ragu mengaku bertato. Tamara Geraldine punya delapan tato di tubuhnya. Melanie Soebono, Rency Milano, Thessa Kaunang, Cathy Sharon, Poppy Sofia, model Fahrani juga menggandrungi tato. Karenina kerap terlihat melenggang di atas catwalk dengan tato kalajengking di punggungnya.

Ketika itu, tahun 90an awal, belum banyak perempuan jujur bertato. Kata tattoo artist Dwi Anggono Putra, kaum perempuan sekarang bahkan semakin berani tampil dengan tato. Dari segi motif atau gambar, pilihan mereka pun semakin ramai. “Sekarang perempuan lebih berani memilih motif yang ekstrim, bisa tribal atau wilayah yang ditato banyak seperti seluruh tangan,” kata Dwi yang biasa dipanggil Duff.

Soal warna, baik hitam polos atau full color sama-sama diminati. Bagian tubuh yang difavoritkan masih di seputar pinggul bagian belakang. Lokasi ini dianggap paling seksi untuk wanita, terutama bila mereka mengenakan pakaian yang cukup mini atau terbuka. Selain itu tumit, tengkuk, dan paha juga jadi sasaran lokasi tato. “Perempuan sepertinya makin berani menato di bagian tubuh yang lebih terbuka, tidak cuma pada bagian dada,” tambah Duff. Untuk tren tato, menurut Duff, tahun ini cenderung pada motif-motif realis yang diolah dalam gorehan tiga dimensi, grafis, atau ilustratif.

“Tahun kemarin motif oriental,” kata Agus Budiono atau Age dari Brisik Tattoo Studio. Motif-motif oriental bisa berupa naga, macan, lambang-lambang spiritual dan ilustrasi yang mewakili Asia seperti aksara Tibet atau Mongol. Pekan kedua Januari lalu Duff dan Age berpartisipasi dalam Singapore Tattoo Show. Pada gelaran itu Age mengikuti kontes tato, ujiannya merajah penuh punggung dan kaki seorang perempuan.

“Belum menang memang, tapi ikut di convention itu suatu kebanggaan,” kata Age. Dari Mesir ke Mentawai Tato adalah kebudayaan tua yang beresonansi dengan perkembangan zaman. Dikenal sejak 3000 tahun SM di Mesir, kata Tato berasal dari bahasa Tahiti yang berarti menandakan sesuatu.

Tato bisa jadi menjadi simbol identitas seseorang, simbol status sosial, keberanian, keberuntungan, kecantikan dan kedewasaan. Pada suku-suku berkebudayaan tua, tato menjadi semacam inisiasi bagi pria atau wanita yang telah memasuki masa dewasa atau melewati akil balik. Beberapa suku di Indonesia diketahui juga lekat dengan budaya tato seperti suku Mentawai di Sumatera Berat, Dayak di Kalimantan dan Sumba di Nusa Tenggara Timur. Di ketiga suku itu perlahan tato semakin punah.

Umumnya generasi yang lebih muda kurang bisa menerima motif tato tradisional yang diturunkan dari nenek moyang mereka. “Tato mulai ditinggalkan sejak agama masuk, malah orang Belanda yang mempelajari seni tato Indonesia,” kata Doni Munir dari Indonesian Tattoo Foundation (ITF). Seperti tren, sudah pasti tato juga mengalami pergeseran selera.Di tahun 1980-an, tato bergambar kartun seperti Mickey Mouse atau Donald Duck sempat menjadi tren.

Lalu masuk ke dekade berikutnya, tato yang disukai bermotif bunga, kupu-kupu, bintang jatuh, unicorn, malaikat, peri, dragonfly dan motif-motif yang mungil. Tren menato akan tetapi tak lepas dari figur-figur selebritas yang tampil dengan ekspresi estetik satu ini. Para pelanggan tato studio tak jarang yang minta dibuatkan tato seperti selebritas Hollywood.

Untuk perempuan, sering meminta tato seperti Nicole Richie yang menoreh bentuk rosario di kakinya. Tato huruf Ibrani ala Victoria Beckham di bagian tengkuk juga diminati. Kalau laki-laki, patronnya pada Anthony Kiedis, vokalis grup Red Hot Chilli Papers atau David Beckham.

Menyesal

Yang lalu sering menjadi perkara, tato bukanlah kosmetik yang bisa dihapus sekenanya. Ia komitmen seumur hidup. Ditoreh di tubuh dan hanya tubuh yang bisa menghapusnya, lewat kematian. Memang sudah ada metode menghilangkan tato. Namun membuat tato dengan kesadaran bahwa bisa dihapus bila berubah pikiran adalah kekonyolan yang sulit dimaafkan. “Jangan berpikiran toh bisa dibuang, laser kan biayanya mahal,” kata Doni Munir. Doni mengaku untuk mengukirkan satu tato di lengan kirinya, dia sampai menimbang-nimbang hampir sepuluh tahun. “Setelah ditato saya muntah,” kenang Doni.

Tapi rasa sakit dan trauma itu berangsur hilang setelah melihat keindahan motif tato di lengannya. Pada sebuah riset yang dilakukan oleh situs kesehatan WebMD dengan Texas Tech University tahun 2006, perempuan lebih banyak yang membuang tato dibanding pria. Dari 196 responden yang datang ke klinik untuk menghapus tato, 130 di antaranya adalah perempuan.

Popularitas tato mulai meroket pada tahun 90-an. Di Amerika, menurut Jurnal Akademi Dermatologi Amerika, pada tahun 2003, 24 persen warga Amerika berusia 18-50 tahun memiliki tato. “Justru ada kecenderungan yang tak bertato aneh,” kata Chris Keaton, tattoo artist dan presiden museum tato Baltimore. Kuantitas pemilik tato meningkat lagi setelah tiga tahun penelitian itu, sekitar 48 persen warga Amerika pernah ditato. Membuat tato bukan tanpa syarat.

Di studio tato, ada formulir yang harus diisi mengenai kondisi kesehatan. Jika tak jujur, tanggung sendiri akibatnya. Usia minimal memiliki tato adalah 18 tahun. Kalau usia maksimal, tak dibatasi. Di Jakarta, perempuan penerima tato umumnya sudah menikah dan punya anak. Age bercerita pernah menato perempuan berusia 54 tahun. Ternyata umur yang lebih setengah baya tak menyurutkan keinginan mengecap tato. “Waktu itu mintanya ditato dipaha, alasannya untuk menutup bekas luka,” kata Age.

Baken, pria penyuka tato menggambarkan rasa ditato seperti geli-geli sakit. Baken memiliki tato di bahu kiri bermotif realis sementara di bahu kanannya, oriental. Punggungnya juga ditutupi gambar grafis bermotif tiga dimensi yang belum rampung. Tinggal 20 persen lagi. “Dilanjutkan sampai mentalnya Baken siap,” kata Duff. Baken menyatakan tak pernah kapok untuk ditato lagi. “Banyak yang muji: ‘Man tato lo keren banget’,” kata pria bertubuh subur itu. Ongkos membuat tato sangat bervariasi. Namanya saja pekerjaan seni. Tidak hanya bergantung luas kulit yang akan ditoreh, juga motif dan tingkat kerumitannya.

Di studio Duff dan Age di jalan Suprapto, Jakarta Pusat, ongkos minimal 300-400 ribu rupiah. Untuk yang sangat rumit dan besar bisa sampai belasan juta rupiah. alfred ginting/ezra sihite




    Tinggalkan Balasan

    Please log in using one of these methods to post your comment:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: