Masyarakat yang Ramah

by zku

« Il n’y a pas de raison de discuter d’une conquête islamique ici »

(Denys Lombard, Le Carrefour Javanais, 1990)

 

shalom_taylorRamah atau marah? Yang terakhir paling sering disorot sebagai kegagalan agama, yang misi sesungguhnya tak lain kecuali pemberadaban manusia. Marah tidak identik dengan ketegasan berpegang pada prinsip, juga mustahil betul berkelindan dengan keimanan. Itu benar-benar sikap yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ketiga, cetakan 2005, halaman 715, disebut sebagai “sangat tidak senang, berang, dan gusar.”

Lumrahnya, agama membolehkan marah, asalkan punya alasan yang baik, misalnya karena teraniaya, melihat penderitaan merajalela, merebaknnya korupsi, rezim kampus yang sangat tidak bersih, kurang peduli dan setengah hati, atau marah karena kegiatan mahasiswa dibatasi. Ini jenis marah yang mendukung penuh pada maksud-maksud untuk memeriahkan kehidupan manusia sebagai khalifah Allah di muka bumi ini.

Bahwa agama memang sudah menulis tentang “amarah kejahatan” yang diambil dari bahasa Arab, banyak orang yang mengetahui hal tersebut. Namun, sedikit orang yang sadar bahwa jenis nafsu ini adalah terkait dengan sifat egois, serakah, dan sombong. Di antara yang mengenali itu pun, secuil lagi yang menghayati bahwa sifat tersebut perlu dikendalikan, bukan diumbar.

Celakanya, paling banyak malah mengumbar marah, karena egois dirinya paling benar; serakah dengan hitungan pahala yang mengargokan tarif setiap bentuk pukulan dan tendangan serta ucapan sumpah serapah kepada objek yang dianggap melenceng; dan sombong karena dia atau mereka merasa menjadi satu-satunya yang hebat. Ya, kini ancaman sudah tak laten lagi, ia persis berada di depan mata kita: sebuah ketidaksantunan dalam melihat perbedaan. Jangankan berbeda agama, ragam penafsiran dalam seagama pun sering disikapi dengan tidak sepantasnya.

Marah, emosi, penuh dengan kebencian ialah pangkal kegagalan misionarisme alias dakwah agama. Manakah yang dinamakan kearifan? Bagaimana dengan teladan yang apik? Mengapa mesti dengan mendialogkan wacana? Itu jelas tersurat dalam Quran, dan lalu kenapa harus membuangnya jauh-jauh? Ketiga prasyarat dakwah-yang tak lain ialah upaya untuk mengajak pada kebaikan sesama manusia dan tanpa paksaan-kurang diamalkan. Padahal, formula tersebut amat bermanfaat bagi strategi dan komunikasi bagaimana mengelola keberagaman: “sang liyan”. Kearifan, teladan, dan diskursus sudah diajarkan sebagai nilai-nilai keutamaan.

Ketaksabaran untuk selalu menyamakan keyakinan yang paling privasi dalam diri manusia malah menyimpan benih-benih “fasisme sosial” yang bisa menjadi bahaya. Gejala yang menuduh, menghakimi, dan menggunakan kekerasan demi meyakini sesuatu yang masih bisa diperbincangkan dengan baik, justru untuk tujuan yang tersulit diwujudkan berupa “umat yang satu”, memudahkan peluapan emosi tapi rapuh sendi-sendi kearifannya. Ia tak memiliki lagi senyawa kecerdasan sosial-dan inilah “sunnatullah” itu-untuk mengerti dan menekuni penghayatan terhadap fenomena kemajemukan. Bahasa agama ialah bahasa dialogis, bukan bahasa pertengkaran. Karena itu, tidak mengharamkan sesuatu yang beda, asalkan bersetia pada nilai-nilai kebaikan bersama.

Fungsi “ta’aruf” yang kini hanya bermakna sempit bagi sebagian orang-orang saleh sebagai sarana menuju pelaminan, telah dijauhkan dari hakikatnya, yakni upaya bersama yang saling berinteraksi untuk mengenal dan menenggang beda di antara sesama manusia. Cara pandang terkini ada yang menyebutnya dengan multikulturalisme. Ini bukan barang asing yang aneh dan terpinggirkan dalam Islam. Kemajemukan sangat dijunjung tinggi, dan paham mengenainya juga tidak diharamkan. Yang mengharamkannya karena mereka malas berpikir dengan bersusah payah, yang dalam istilah agama disebut dengan “ijtihad”, untuk menemukan solusi praktis. Karena berpikir itu menyempurnakan iman.

“Manusia pada dasarnya makhluk beradab,” kata Ibn Khaldun, jenius Maghribi yang mengerti betul dengan sunnatullah. Lalu, apa yang menghalangi sopan santun untuk berbagi kemajemukan? Ia memiliki kemampuan untuk menyesuaikan dengan situasi dan kondisi keberbedaan. Setiap manusia memiliki kesintasan untuk bisa menghargai sesuatu yang tampak asing, baru, dan bertolak belakang dengan dirinya. Lalu muncul penyesuaian yang sepadan, atau malah melebur, atau membentuk kreasi baru. Daya manusia berada dalam kediriannya yang dihadapkan dengan orang lain, dan lalu belajar. Melakukan aktivitas pembacaan manusiawi atas lingkungannya, bukan untuk menghancurkan, tetapi untuk membangun hidup yang tulen.

Ini bukan retorika sofisme Bung! Yang mengkritik dan mengaitkannya dengan aktivitas omong kosong, sebetulnya sedang iri dan tidak mempunyai partikel-partikel kenetralan yang canggih dengan proyek besar: hidup dalam kemajemukan, dan lalu mengembalikannya ke pemikiran keagamaan yang canggung. Apalagi, disadari atau tidak, ini negeri Indonesia yang tiada bandingannya di dunia ini. Persis proyek yang membutuhkan waktu dan tenaga mahabesar yang oleh almarhum Fuad Hassan disebut dengan “dunia kekitaan”.  

Perlu disyukuri, fitnah dan tuduhan yang kerap menghubungkan multikulturalisme dan semesta kearifan lainnya dengan proyek peradaban Barat, apalagi sebagai antek asing, tidak usah dihiraukan. Biarkanlah pikiran konspiratif itu berkembang, toh mereka sendiri yang habis energinya, dan justru kita-dalam pengertian keagamaan mereka-akan memiliki pahala berlipat ganda. Tapi, yang pasti, kesetiaan untuk terus mengembangkannya tidak sekadar dengan gembar-gembor fantasi, sekadar slogan pamflet, dan hanya mengumbar jargon “multikulturalisme butik”, yakni bahwa kemajemukan yang hanya dipajang saja bagaikan etalase warna-warni, tapi hampa pemaknaan. Yang kita inginkan bukan itu.

Ada yang bilang, “kalau tidak marah menegakkan agama, berarti tak taat.” Apa kondisi dan prasayaratnya? Bukan berarti beragama harus marah. Juga bahwa tidak marah berarti lemah dan tidak berprinsip. Dengan masalah iman-tak-beriman saja masih sulit untuk diterima, apalagi kalau sudah bersinggungan dengan ateisme dan sebagainya. Penting memahami bahwa keragaman terwujud sebagai berkah, bukan laknat. Kalau tidak berbeda, buat apa manusia berada. Nah, Islam yang muncul di kota-kota lahir dan bertumbuh kembang dari rahim yang mengajarkan kemanunggalan, dan karena itu, mestinya belajar dengan rajin, mengaji kembali, kepada Islam yang berkembang sebelumnya; bahkan jauh sebelumnya.

Islam di Indonesia tidak cenderung berkembang dengan bedil, senjata, pemaksaan dan upaya untuk menegakkan penghancuran sosial-budaya. Waktu yang panjang terbentang sejak hampir semilenium lalu di bumi Nusantara menabalkan agama yang damai, bukan keras. Mudah, bukan sulit. Toleran, tidak bengis. Ini warisan agung yang lahir dari kebudayaan kita sendiri, bukan mengimpornya dari gurun pasir di sana. Islam, dan juga agama yang lain, hadir untuk suatu keramahan bagi manusia, bukan sumber konflik. Perbedaan membutuhkan titik temu, dan bukan titik tengkar. Yang menelikung agama tak lain tak bukan ialah para pembajak otoritas kekuasaan. Maka gali pengalaman dan perjalanan masa lalu, seperti ditegaskan sejarawan Prancis di muka, “tiada alasan secuil pun untuk membicarakan penaklukan Islam di sini.” Di Indonesia, bukan di surga berantah sana! Shalom. JURNAL KREATIF PENDAR PENA, Komunitas FIB UI 




    Tinggalkan Balasan

    Please log in using one of these methods to post your comment:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: