Aviliani: Sudah Tak Bisa Menyalahkan Orang Lain

avilianiBaru di usia 35 tahun Aviliani menyadari pentingnya memelihara kecantikan. Sebelum itu dia pemalu dan tak menata diri.

Buat apa jadi anggota legislatif kalau belum tentu bisa bermanfaat bagi banyak orang. Jabatan komisaris pun bagi Aviliani menjadi sarana mereguk ilmu untuk dibawa kembali ke kampus.

Belakangan ini dunia ekonomi Indonesia disemarakkan oleh sosok perempuan. Di kabinet saja ada dua perempuan pada pos ekonomi. Sementara di kalangan pengamat ekonomi dan perbankan, nama Aviliani paling sering disebut. Nama Avi, begitu dia biasa dipanggil, mulai berkibar sejak Institute for Development of Economics and Finance (Indef) semakin dianggap karena isinya ekonom kritis. Aviliani bergabung di lembaga itu sejak tahun 1995.

Avi memulai karirnya sebagai dosen ekonomi di Unika Atmajaya Jakarta, lalu pindah ke STIE Perbanas dan kemudian ke Universitas Paramadina. Kini Avi berkantor tepat di seberang kampusnya dulu di kawasan Semanggi, setelah menjabat komisaris independen BRI sejak 2005. Dosen semenarik Avi, tentu banyak mahasiswa yang jatuh hati. “Enggaklah. Mereka senang saja diajar dosen perempuan,” kata Avi tertawa.
Sewaktu kuliah dulu sudah banyak yang “mengejar” dia? “Enggak. Waktu kuliah saya gendut. Saya enggak menata diri. Baru di umur 35 tahun saya mulai memperhatikan penampilan.”

Sulit dipercaya, Aviliani yang kita kenal dulu merasa dirinya tak menarik. Pandangannya berubah ketika dia menyadari ternyata banyak teman yang mempercayai Avi tempat curahan hati. Topiknya tidak jauh dari perkara keluarga. “Perempuan atau lelaki suka membicarakan masalah keluarganya dengan saya. Dan itu menjadi masukan bagi saya, pada umumnya laki-laki suka begini, perempuan sukanya begitu. Jadi hikmah bagi diri saya sendiri” kata dia.

Sewaktu masa pemilihan presiden 2004 Avi memandu debat calon presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Megawati Soekarnoputri tentang ekonomi dan kesejahteraan sosial. Kemampuan berbicara di depan publik sebetulnya bukan bakat yang telah lama dikuasai Avi. Dulu dia susah sekali untuk bicara secara runut.

Sejak mulai aktif sebagai pengamat dan pendapatnya kerap dikutip media, banyak tawaran datang agar Avi tampil di televisi atau radio. “Tiba-tiba diminta ngomong di radio rutin, mau nggak mau harus belajar. Di Metro TV pernah jadi host, diajari cara ngomong, setelah tayang dievalusi. Jadi ada pembelajaran terus,” kata dia.

Daging Kambing

Toh perempuan yang akan berusia 48 tahun Juni nanti ini sangat menikmati pilihannya yang sekarang. Dia juga mulai lebih memperhatikan diri, mempercantik penampilan dan sebagainya itu—justru karena ingin belajar menghargai orang lain. “Bagaimana mau menghargai orang lain kalau kita nggak bisa menghargai diri sendiri,” kata dia.

Avi karena itu, jarang sekali bersantap dengan nasi. Meskipun sebagai orang Malang, Jawa Timur, Avi menyukai rujak cingur atau rawon, dia menyantapnya tanpa nasi tak juga lontong. Sarapannya cukup dengan roti atau oatmeal. Siang hari hanya menyantap sayur dengan ikan atau daging minus daging ayam. Aturan diet golongan darah membatasinya untuk hanya memakan menyantap daging kambing, betapa pun Avi sebetulnya tak menyukainya.

Selain alasan diet yang ditekuninya, Avi punya alasan lain mengapa tak menyantap nasi. Kata dia, ketergantungan terhadap beras yang membuat bangsa ini miskin karena tidak berani mengalihkan makanan. Masyarakat karena itu harus diajarkan fleksibel terhadap makanan. Ini alasan yang terdengar mengada-ada memang, di tengah usaha Avi berdiet dan setiap pagi rajin menimbang badan.
“Saya sering merasa bersalah kalau makan nasi. Aduh udah mahal-mahal ke dokter, gemuk lagi. Makannya murah obatnya mahal,” kata Avi tertawa.

Penyuka parfum Poison dari Christian Dior ini, siang itu di minggu pertama tahun baru mengenakan sepatu hitam dengan hak lima centimeter. Celana panjang berwarna senada. Giwang mutiara dan mainan kalungnya yang juga berwarna hitam, melengkapi penampilan perempuan berambut ala boycut itu. Di tangan kiri, arloji melingkari pergelangannya, sementara di kanan, gelang perak dengan permata-permata mungil.

Aviliani berkesimpulan perempuan lebih rentan dengan gejala penuaan seperti keriput dan juga penyakit seperti kanker. Selain berdiet, dia karena itu juga memilih metode alternatif seperti terapi akupuntur dan terapi memompa darah kotor. Untuk urusan kesehatan kulit dan tubuh dia memilih ke dokter kecantikan. Dia memelihara kebugaran dengan berenang. Total anggarannya 2 juta rupiah setiap bulan.

Tak hanya fisik, secara mental Avi pun selalu mengutamakan sikap nrimo, berpasrah diri. Sikap itu membantunya memasuki fase untuk meredam emosi. Pernah suatu kali mobilnya ditabrak. Biasanya orang lain cenderung untuk marah. Namun Avi justru berpikir lain. “Aduh apa saya yang belum beramal ya. Saya sudah tidak bisa menyalahkan orang lain, kalau ada apa-apa dibawa ke diri sendiri. Ada yang bilang saya itu sudah sufi, dalam arti sudah tidak pernah emosi lagi,” kata dia.

Dalam pencapaian hidup Avi mengaku juga tidak terlalu mengejar ambisi. Ambisi untuk meraih sesuatu, kata dia, lebih sering membuat manusia kecewa ketika dirundung gagal. Apa yang bisa dan sedang dikerjakan, baginya akan dikerjakan. Tidak pernah berpikir, misalnya harus “pokoknya” mencapai sesuatu, menjadi caleg atau harus menjadi menteri.

Opini Ekonomi

Berangkat dari sikap itu Avi menampik tawaran yang bagi banyak orang jelas menggiurkan, menjadi calon anggota DPR. Tawaran itu misalnya pernah datang dari Partai Golkar atau juga Partai Amanat Nasional. Beberapa rekannya di Indef memang aktif di PAN seperti Didik Rachbini dan Dradjad Wibowo yang masih berkursi di Senayan. “Apa iya posisi itu bisa bermanfaat bagi orang banyak? Sepertinya lebih banyak soal kepentingan. Enggak deh, saya mundur. Kalau seperti sekarang memberikan opini ekonomi lebih bisa berguna bagi orang banyak,” kata Avi.

Dengan posisinya sekarang, komisaris sebuah bank, dia merasa harus menjadi benteng. Apalagi untuk sebuah bank besar seperti BRI. Itulah yang membedakan posisinya dulu sebagai pengamat dengan yang sekarang. Dari sebagai tukang kritik, menjadi orang yang berusaha menyelesaikan masalah, melobi banyak orang dan belajar menjadi bijak. Avi membahasakannya sebagai keharusan turun lapangan, bukan sekadar menerima kertas di atas meja.

Pengalaman menjadi komisaris BUMN itu, kelak akan dibawanya ke kampus ketika dia kembali menjadi dosen, pekerjaan yang masih dicintainya. “Yang saya petik akan saya bagikan kepada mahasiswa. Berkarir sebagai dosen tanpa pengalaman di lapangan akan textbook banget. Sering kali implementasi berbeda dengan teori,” kata Avi yang kini hanya mengajar di Lembaga Administrasi Negara (LAN).

Selama wawancara berkali-kali Avi mengintip layar BlackBerry-nya. Peranti itu cukup membantu dia untuk merespon cepat pertanyaan yang datang dari wartawan. “Wartawan kan biasanya mau dijawab saat itu juga. Misalnya ada yang tanya kebijakan baru BI yang baru dikeluarkan. Jadi saya bisa lihat dulu lewat internet,” kata Avi yang biasa menerima panggilan dari wartawan hingga pukul 11 malam. Bisa sehari tanpa BlackBerry? “Owww… tidak,” dia tertawa. “Disebut kecanduan mungkin iya, tapi kalau Facebook saya tidak mau. Takut.”
Membangun Pengertian

Meski sangat bergantung pada internet, untuk Ismi, putrinya yang berusia delapan tahun, Avi bersikap tegas. Komputer hanya untuk bermain dan belajar bahasa. Akses internet hanya sesekali dia berikan. Itupun hanya untuk hal-hal tertentu, seperti Barbie belum saatnya. “Dari komputer saya, bukan punya dia sendiri. Kalau ada internet bisa buka apa saja, nanti nggak belajar. Teknologi itu bagus tapi keasyikan anak dengan teknologi bisa membahayakan,” kata Avi.

Avi termasuk ibu yang tidak sabar mengajari anaknya. “Mengajari anak kecil itu beda dengan mahasiswa, tidak gampang, harus menggunakan contoh dan diajak bermain dulu. Itu yang saya nggak bisa,” Avi tertawa. Karena itu dia lebih suka memanggil guru les untuk putrinya. Pernah ketika Avi sedang di luar kota, ternyata anaknya sudah bisa membuat surat. “Pas saya pulang ada surat dengan gambar hati,” kata Avi dengan ekspresi terharu. “Pernah juga dua hari saya tinggal, dia sudah bisa naik sepeda roda dua.”

Dengan kesibukannya, pernahkan Avi merasa kehilangan momen-momen ajaib anaknya? “Hidup adalah sebuah pilihan. Saya tidak bisa menjalani keduanya. Tapi kalau merasa bersalah berarti menyakiti diri sendiri,” kata Avi. Meski begitu, Avi tetap membangun pengertian pada anaknya bahwa hidup dan mencari uang tidak gampang. Untungnya Ismi mengerti kenapa Avis sering mengorbankan banyak waktu kebersamaan mereka. “Saya terharu juga misalnya kalau saya pulangnya lama, dia suka bilang ‘aku harus cek bunda takutnya kenapa-kenapa.’ Ini surprise, karena anak biasanya saat ditinggal orangtuanya akan lupa.” alfred ginting/ezra sihite

Bugar Bukan Soal Fesyen

“Karena aku tahu badanku nggak tinggi”

Berbentuk dengan lekuk tubuh. Ini anugrah jasmani yang dianugerahkan kepada para perempuan. Tapi jasmani tak akan tetap indah kala tak dirawat. Menjelang usia 50, baik perempuan maupun lelaki akan mengalami penurunan secara fisik. Tingkat penurunan ini berbeda, tergantung kesehatan dan kebugaran. Itulah yang disadari Aviliani sejak berusi 35 tahun.

Dengan segudang kesibukan, perempuan yang kini berusia 48 tahun itu rutin melakukan perawatan tubuh dan wajah. Setiap pagi, ibu komisaris ini menimbang berat badan untuk menjaga bobotnya tetap dalam keadaan ideal. Untuk kecantikan, Aviliani rutin melakukan facial dan lulur setiap bulannya. Kulitya yang putih bersih dan cerah membuktikan kedispilinan ibu beranak satu ini.

“Aku sukanya lulur sekar jagat, rasanya langsung bersih dan kesat tapi lembut,” kata Avi tentang lulur bali yang memang sering jadi most wanted para perempuan itu.

Lulur ini merupakan lulur tradisional Bali yang diramu dari berbagai bahan alami seperti campuran rempah-rempah dan bunga-bunga.

Dengan alasan menjaga bobot tubuh, Avi juga mengurangi konsumsi karbohidrat dan menambah konsumsi protein. Tak heran, karena memang di usia hampir setengah baya, kadar kolesterol harus dijaga. “Aku merasa bersalah kalau habis makan nasi, untuk perawatan dietnya sudah mahal,” tawa perempuan ini terdengar.

Aviliani mengakui sebenarnya dia tidak terlalu peduli pada fesyen. Untuk urusan baju saja dia lebih sering mempercayakan pilihan model pada temannya pemilik salon. “Karena aku tahu badanku nggak tinggi jadi nggak bisa ngikutin gaya-gaya fesyen. Aku juga nggak pintar memilih, jadi biasanya mempercayakan pada teman untuk memilih model, dijahitkan, aku tinggal bayar saja,” kata dia.

Selama ini Avi lebih senang menjahit baju. Karena biasanya bila membeli jadi umumnya terlalu longgar untuk tubuhnya yang kini lebih mungil. Seperti baju batik bercorak kembang berpadu wajik dengan warna coklat, hitam dan ungu yang dia kenakan Jumat siang itu. Berkaitan dengan batik yang sempat tren, menurut Avi, pasar dalam negeri harus terus didorong. Sebab daya serap pasar internasional terus melorot akibat krisis global.

“Tren batik awalnya menguntungkan perajin batik. Tapi dengan adanya batik impor dari Cina bisa berdampak tidak baik. Oleh karena itu harus ada usaha yang mewajibkan misalnya tiap mal menyediakan gerai yang benar-benar menjual produk dalam negeri. Seperti jaringan Otop di Thailand,” kata dia.

Dulu dia lebih suka berambut pendek. Sempat dia panjangkan di tahun 2005. Tapi terlalu banyak temannya yang protes. “Lama-lama risih juga. Setelah pendek pada memuji semua. Tapi memang aku lebih percaya diri dan merasa nyaman dengan rambut pendek,” kata Avi yang jarang berkumpul bersama perempuan lain.

Temannya kebanyakan lelaki, itupun rekan-rekannya di Indef. “Perempuan lebih banyak bergosip.” ezra sihite

Koran Jakarta 22 Februari 2009




    Tinggalkan Balasan

    Please log in using one of these methods to post your comment:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: