One Man Show: Capres Independen

 
Kolom KORAN JAKARTA 22 Februari 2009
 

Permohonan uji materil Fadjroel Rahman, Mariana Amiruddin, dan Bob Febrian terhadap UU No 42 tahun 2008 tentang pilpres dikabulkan. Mereka para capres independen itu bersukacita. Aktivis pro-demokrasi berbangga, karena hak-hak politik warga negara diakomodasi.

Pada pemilihan presiden Fadjroel atau salah satu dari capres independen itu lantas memenangkan pemilihan presiden. Lebih separoh dari pemilih terdaftar mencoblosnya. Angka golput rendah. Kepopuleran mereka berhasil mengatasi capres dari parpol-parpol besar, meskipun minim spanduk dan ontran-ontran politik yang tak perlu. Dielu-elukan sebagai pembawa harapan baru, Fajroel hadir seperti sihir politik Obama. Pemilih ikut senang, berpesta-ria hingga bersedia menggelar upacara pelantikan besar-besaran atas Presiden Era Perubahan itu. Inilah orde yang meruntuhkan kekuasaan golongan tua yang semestinya uzur: gerontokrasi.

Di hari pertama pemerintahan presiden terpilih itu, para pesaing politiknya mencemooh habis-habisan. Alkisah, semua anggota legislatif yang terpilih seratus persen berseberangan. Tak sekadar beroposisi, tetapi juga terus berintrik untuk menggoyangkan pemerintahan. Presiden sama sekali tak berkaki di parlemen. Nyaris nol sama sekali.

Pemerintahan Fajroel memang tidak tumbang. Namun dia digencet sana-sini, semua kebijakannya tak didukung legislatif. Ketimbang memperkuat posisi presiden, sama di hadapan legislatif, malah yang kuat justru sistem parlementer. Memang presiden tak bisa dijatuhkan parlemen, tetapi posisinya secara kelembagaan menjadi kecil. Tumpang tindih presidensialisme dan parlamenterisme masih belum mampu ditegaskan. Check and balances amat sulit terlaksana.

Pengandaian itu, tentu saja tak akan terwujud setidaknya untuk sementara. Pada 17 Februari kemarin, keinginan capres independen kandas. Mahkamah Konstitusi menganulirnya. Namun ada sebuah situasi yang sama dengan pengandaian di atas, yakni belum menguatnya presidensialisme. Sebab hanya sistem ini yang memungkinkan capres independen muncul. Berbeda dengan sistem parlementer yang meniscayakan munculnya kader binaan parpol secara karir. Dengan asumsi bahwa peran parpol lebih kuat dalam sistem parlementer daripada presidensial.

Kalau konstitusi dasar mengamanatkan presidensialisme, kini desain politik kita masih bingung dan menumbuknya dengan parlementerisme. Semangat capres independen sebetulnya bertali dengan amanat itu. Tapi, apa boleh buat, sekarang memang tak mampu untuk membuka jalur capres independen. Mestinya bisa dibaca pula bahwa kuatnya untuk mendukung capres independen seperti dalam preseden pilkada adalah bukti kecurigaan terhadap parpol yang masih canggung berbenah diri, kurang berpartisipasi proaktif, dan berpolitik gincu saja.

Barangkali itulah kenyataannya. Karena hanya waktu singkat menjelang pemilu tak layak dijadikan alasan menolak uji materi. Menutup kran hak-hak politik sungguh tak arif. Akan menjadi lain, jika lewat jalur parpol yang terselenggara dengan manajemen yang baik, partisipasi politik ditingkatkan, dan kinerjanya meningkat, hingga meninggalkan tata cara parpol yang masih melanggengkan tujuan berkuasa saja. Lalu, bangunan multipartai benar-benar efektif, hingga tiga atau lima partai saja.

Tapi, “jika” hanyalah pengandaian. Memperjuangkan capres independen ibarat seorang soliter yang hendak berlari dalam kerumunan massa yang berlawanan arah. Kadangkala, palu godam perubahan lahir dari pemberani yang awalnya bekerja sendiri: one man show. “Jika” kalau bukan perjuangan mati-matian, berarti tinggal menunggu waktu saja. Kini pilihannya: coblos atau golput! Anda berkuasa. Jacques Umam




    Tinggalkan Balasan

    Please log in using one of these methods to post your comment:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: