Erdogan vs Peres >< Turki dan Israel

Zacky Khairul Umam

Apakah Turki di bawah Erdoğan akan membikin hubungan diplomatik dan persahabatan dengan Israel semakin memburuk, dan ia membikin strategi untuk sama sekali tidak berpihak dengan Israel, dalam hal apa pun?

turkey-flagModerator: Debat ini menjadi semakin panas. Waktu diskusi ini sudah ditentukan. Kita sudah selesai.

Erdoğan: Semenit

Moderator: Bapak Perdana Menteri, baiklah, Anda tahu

israel_flagErdoğan: Satu menit, satu menit! Tidak ! Satu menit saja.

Moderator: OK, tetapi saya ingin Anda tidak berbicara lebih dari semenit.

Erdoğan: Pak Peres, Anda lebih sepuh ketimbang saya. Suara Anda sangat terbebani. Saya tahu Anda berbicara demikian karena sarat dengan rasa bersalah. Lidah saya tidak akan kelu seperti Anda. Tentang pembunuhan, Anda menyadarinya dengan sangat baik. Saya yakin betul Anda membunuh anak-anak di pantai-pantai. Dua bekas perdana menteri negara Anda telah banyak berkata penting kepada saya. Anda punya bekas perdana menteri yang bilang, “Ketika saya memasuki Palestina dengan tank-tank, saya amat mempersilakannya.” Saya dapat memberikan nama-nama mereka untuk Anda. Itu, mungkin, membuat Anda terheran-heran. Di samping, saya mengutuk yang bertepuk tangan dengan penganiayaan ini. Karena dengan membenarkan pembunuh-pembunuh yang menghilangkan nyawa anak-anak tak berdosa, yang membunuh secara bengis orang-orang itu (Palestina), saya yakin, juga suatu perbuatan jahat yang lain yang amat bertentangan dengan kemanusiaan. Lihatlah, kita tidak dapat mengabaikan kenyataan itu, di sini. Sekarang, saya banyak membikin catatan, tetapi saya tak memiliki banyak waktu untuk menjawab semuanya….

Mulanya ….

Di Davos, Swiss, Recep Tayyip Erdoğan, Perdana Menteri Turki, membikin geger dunia. Ia tiba-tiba dielu-elukan, “pahlawan”, “hebat”, “fenomenal”, dan sebagainya. Karena ia berani keluar mendadak dari perdebatan mengenai Gaza di Forum Ekonomi Dunia hari Kamis dan mengatakan ia tidak akan kembali ke pertemuan tahunan itu.

Meski tak dikasih kesempatan untuk berbicara sepajang moderator yang konon keturunan Yahudi itu, David Ignatius, ia keras menanggapi pembelaan panjang lebar oleh Presiden Israel Shimon Peres yang mengutuk roket Hamas. Erdoğan mengeluh dan menyela moderator, bahwa ia hanya diberi 12 menit untuk berbicara, sementara Peres hampir diberi kesemmpatan selama setengah jam.

Erdoğan kecewa bukan untuk rakyat Israel, tetapi diarahkan terhadap moderator. Ia juga sangat berkeberatan dengan tingkah laku Peres. Syahdan, ketika Erdoğan tiba setelah terbang langsung dari Swiss, sebanyak 5000 warga Turki menyambut kedatangannya dengan amat meriah: Erdoğan hebat!

Ada masalah dengan Peres? Ia malah mengatakan, “Percekcokan panas di depan umum antara saya dan PM Turki tidaklah bersifat pribadi dan hubungan antara kedua negara tidak akan berubah.” Peres menelpon Erdoğan dan mengatakan bahwa percekcokan panas di depan umum antara dia dan perdana menteri Turki tidak bersifat pribadi dan hubungan antara kedua negara tidak akan berubah. Peres menanggapinya sebagai semata-mata hanya saling mengemukakan pandangan.

Persahabatan

Tentang Israel dan Turki akan menjadi sorotan menarik. Tentu saja karena Turki, selama ini, bersahabat secara diplomatik dengan Israel. Antara Israel dan Turki memiliki kesepakatan dalam bidang ekonomi dan militer. Penduduk Yahudi di Turki mengatakan bahwa mereka tak memiliki masalah hidup berdekatan dengan Muslim Turki.

Viktor Cemal, seorang warga Yahudi di kota Antakya, bangga menunjukkan pusara kecil milik orang Yahudi di mana moyang mereka dikuburkan. Ini sebuah pemandangan menarik dan sebuah pagar baru yang mahal dan telah Antakya relah melakukannya. “Mereka memberikan yang terbaik untuk kami,” kata Cemal, seorang pegawai pemerintah di kota indah itu. “Orang di sini seperti kebanyakan dari kami—tidak ada masalah!”

Hubungan bersahaja antara Yahudi dan Muslim di Antakya mencerminkan sebuah jalinan tak biasa dan sebua jalinan “penting” dan “tak umum” di kawasan Timur Tengah, yakni sebuah ikatan erat antara Israel dan Turki. Bahkan untuk sebuah kesenangan Amerika Serikat dan kekecewaan dari tetangga mereka, yakni bangsa Arab, bahwa sebuah negara Yahudi kecil memiliki hubungan kemitraan dengan negara Muslim besar di sebuah kawasan yang masyhur dengan suasana tidak stabil itu.

Lebih dari 300.000 warga Israel berlibur di Turki setiap tahun, yang tentu saja menyokong industri pariwisata negara itu. kalau Israel terkena wabah kekeringan, Turki bersedia menyodorkan “bejana-bejananya” untuk menjual air ke negeri itu. Sedangkan militer Turki lebih memilih mengikat industri-industri persenjataan Israel untuk merombak tank-tank dan jet tempur milik mereka. Dan perlu diketahui bahwa pendukung terbesar Turki di Washington adalah berkat dari lobi Yahudi Amerika.

Persamaan

“Antara Turki dan Israel memiliki musuh dan kawan yang sama,” kata Barry Rubin, seorang analis Israel-Turki. Di antara keduanya terancam oleh rezim radikal, utamanya Iran, Suriah dan Irak. Keduanya juga memiliki sistem yang sama sebagai negara demokratis. Keduanyaberbarengan bersepakat tentang ancaman teorisme. Dan mereka juga sama-sama “sang liyan” (buku terakhir Edward Said amat bagus yang menyebut Israel sebagai sebuah negara di dunia Arab yang merasa ke-Eropa-an, padahal ia sendiri bukan Eropa, terutama penelisikannya dengan menggunakan analisis kritik khas post-kolonial) di kawasan Timur Tengah karena memang mereka sebetulnya bukan bagian dari negara-negara Arab dan untuk beberapa hal berbeda dari kawasan itu. Jadi, Israel dan Turki memiliki banyak kepentingan dan perhatian bersama.

Dalam hal percekcokan sengit yang terjadi di kawasan Timur Tengah, seperti lumrah terjadi, persahabatsn Turki-Israel dihadapkan pada cobaan untuk tetap tabah bersahabat hingga hari ini. Orang-orang Turki seluruhnya menentang perang di Irak yang melihat hubungan konspirasi Amerika-Israel justru untuk mengontrol kawasan dan minyak. Di Stanbul dan kota-kota Turki lainnnya, para demonstran membakar bendera Isreal yang memprotes baik perang di Ierak maupun traktat perjanjian Israel atas Palestina yang selalu diingkari.

Selebihnya, ketika kekuatan partai Islamis di Turki berkembang, mereka mengomel dan berani mempertanyakan: Akankah Turki berbalik dari Israel dan Barat dan kembali berpaling ke dunia Muslim? Pemimpin baru Turki sedikit menyenangkan perhatian-perhatian seperti itu ketika ia menyebut Perdana Menteri Ariel Sharon, tahun 2003 saat itu, sebagai seorang teroris.

Ketika beberapa faktor yang justru merenggangkan hubungan Turki dari Israel, ternyata banyak pihak yang berupaya untuk mendorong keduanya bersatu menguatkan kelindan. “Perasaanku bahwa ikatan dasarnya tak pernah terputus, bahkan dasar kerja samanya cenderung sebangun,” kata Morton Abramowitz, bekas duta besar Amerika di Turki. “Tetapi, saya kira, atmosfir telah berubah,” katanya kemudian.

Pasca-Andalusia, Pasca-Ottoman

Warisan pengalaman Yahudi-Muslim pada 1492 ketika Yahudi di Spanyol–akrab dipanggil Sefardik–melarikan diri dari peristiwa Inkuisisi (apakah mereka ingin masuk Kristen atau tidak?) dan menemukan tempat yang nyaman ketika mereka menjadi bagian dari Kekhalifahan Utsmani–akar Turki di masa sebelumnya. Sebagian besar dari 70 juta warga Turki adalah Muslim, tetapi republik Turki modern yang didirikan 1924 oleh Bapak Bangsa, Attaturk, merupakan sebuah negara sekuler dengan pemisahan tegas antara pemerintahan dan agama.

Pada 1949, Turki menjadi negara Muslim pertama yang mengakui negara baru: Israel. Hubungan anterkeduanya menjadi semakin erat ketika menghadapi musuh-musuh bersama, khususnya Suriah. Keduanya menyalahkan Suriah yang kerap mendukung kelompok-kelompok teroris. Di antaranya yang paling sering disorot ialah Hezbollah (kelompok Syiah militan di Lebanon) dan Hamas (faksi yang giat melawan agresi Israel di Palestina), yang dianggap paling bertanggung jawab atas serangan-serangan atas Israel, dan PKK (Partai Pekerja Kurdistan), sebuah kelompok gerilya yang yang berjuang untuk sebuah negara Kurdistan yang independen di sebelah tenggara Turki. Bangsa Kurdistan, sebagai catatan, sebuah bangsa yang menganggap dirinya eksklusif di irisan antara Turki, Suriah, dan sekitarnya yang meskipun minoritas mereka menempati wilayah strategis secara geopolitik dan juga menyimpan sumber-sumber minyak yang melimpah.

Pada 1998, perang meletus ketika Turki terancam oleh invasi Suriah yang dipimpin petinggi PKK Abdullah Ocalan, yang kemudian menghilang di Damaskus. Ocalan melarikan diri dari Turki, dan tertangkap di Kenya beberapa bulan kemudian dalam sebuah penggerebekan. Ocalan kemudian dihukum mati.

Di bawah kesepakatan pertahanan 1996, Turki dan Israel juga memiliki jalinan militer yang melembaga. Pilot-pilot tempur Israel yang dapat terbang menelusup secara rapi menyelenggarakan misi-misi pelatihan empat kali dalam setahun di Turki. Ketika Kongres Amerika menolak keras pembelian alutsista Turki di pertengahan 90-an karena miskinnya jejak penegakan HAM mereka, Israel malah setuju untuk membantu modernisasi militer Turki di bawah kontrak-kontrak tahunan yang amat menguntungkan. Bahkan kemudian antara Turki, Israel dan kekuatan militer Amerika secara berkala menyelanggarakan pelatihan di wilayah Mediterania.

Yahudi Amerika

Perdagangan sipil antara Israel dan Turki juga membumbung tinggi, dari hanya 90 juta dolar Amerika lebih dari satu dekade lampau dan pada 2001 mencapai 1.3 milyar dolar Amerika. “Itulah sebuah sinergi, perjanjian perdagangan yang menguntungkan,” kata Rubin, Direktur Pusat Hubungan Internasional dan Penelitian Global yang berbasis di Israel. “Turki memiliki air, garmen, dan barang-barang manufaktur, sedangkan Israel berteknologi tinggi dan hal penting lainnya.”

Persahabatan Turki-Israel kuat dan disokong oleh Yahudi Amerika, yang memiliki sebuah imbangan berat di Washington ketika Turki menghadapi Armenia dan Yunani sebagai musuh bebuyutan. Yunani dan Turki masih bertengkar terkait Pulau Siprus yang dulu amat terkenal dengan sejarah Yunani itu. sementara Armenia masih menuntut sebuah apologi dari Turki mengenai kematian lebih dari sejuta warga Kristen Armenia pada 1915 selama senjakala kekuasaan Utsmani (yang karena hal ini, pemenang Nobel Sastra asli Turki dengan karyanya “Benim Adim Kirmizi”, Orhan Pamuk, banyak dicibir dan dinilai tidak “nasionalis” lantasan sering jujur dengan sejarah pahit bangsanya sendiri).

Pada 2000, kelompok-kelompok Yahudi Amerika mengikat Turki dan sukses melobi parlemen negeri syeh Jalaluddin Rumi itu untuk membatalkan sebuah resolusi yang memperingati pembunuhan keji bangsa Armenia. Tetapi, hubungan-hubungan yang terlihat mesra lalu semakin tarasa masam pada akhir musim semi 2003 silam ketika perdana menteri Turki menyebut aksi-aksi Israel melawan Palestina sebagai “genosida”. Meskipun, dia secara cepat meminta maaf untuk ketidaksepahaman tersebut dan kemudian berkata, “Kami membubuhkan suatu kepentingan besar bagi hubungan kami dengan Israel.”

Erdoğan

Israel dan Yahudi Amerika menunggu iklim baru dari partai yang berkuasa sejak 2003, di bawah Erdoğan, dan akan menunggu kesepakatan saling bermanfaat di antara mereka. Erdoğan menuding Sharon yang menciptakan sebuah “cuaca di mana terorisme subur bermekaran.” Kendati hubungan Turki-Israel bukanlah berakhir saat musim gugur diselenggarakannya pemilu dan Erdoğan, yang kemudian menjadi PM sebulan berikutnya, malah secuil berucap perihal Israel sejak kata-kata kontroversialnya.

Warga Israel berbesar hati ketika PM Turki ad interim terbang ke Israel untuk mendiskusikan Irak dengan pemimpin-pemimpin Arab, yang lalu on air di radio mengumumkan rasa bela sungkawanya atas pemboman bunuh diri yang terjadi di wilaya Israel, yang dilakukan oleh orang-orang Hamas. Negara-negara di kawasan Timur Tengah pun, hingga kini, tidak suka jika pemerintah Turki di bawah pemimpinnya siapa pun berbalik mendukung Israel dan Amerika Serikat.

“Pertanyaan sebagaimana mereka lihat ialah seputar: tentang kepada siapa mereka bergantung, kepada siapa mereka bersekutu, dan siapa yang mereka lihat sebagai sebuah ancaman,” kata Rubin. “Ini bukanlah seperti negara Arab yang menawarkan sesuatu yang dahsyat. Tetapi, kelihatannya, Arab saudi tidaklah memberi mereka bantuan milyaran dolar Amerika.”

Identitas Eropa di Timur Tengah

Seperti Israel, Turki melihat dirinya sebagai lebih dari bagian Eropa daripada Timur tengah. Uni Eropa hingga hari ini masih mempertimbangkan permintaan Turki untuk masuk, secara luas karena jejak HAM-nya, misalnya tragedi genosida atas bangsa Armenia dulu. Tetapi orang-orang Turki jug punya catatan bahwa ketika insiden-insiden anti-Semitik terjadi di Perancis dan negara-negara Uni Eropa lainnya (tragedi Dreyfus, seorang tentara berdarah Yahudi yang dihukum hampir tanpa diadili dan dibela serta dibiarkan, di pinggir Prancis menjelang abad ke-20; Hannah Arendt punya analisis amat kuat dalam bukunya The Origin of Totalitarianism yang sudah klasik itu), Turki hampir tidak mendukung dan berbuat demikian.

Koeksistensi: Yahudi di Turki

“Beberapa tahun lampau masih melilit beberapa masalah, walaupun sekarang sudah berakhir—saat inilah hidup bebas itu,” kata Cemal, seorang Yahudi yang mempekerjakan banyak orang Muslim di sebuah perusahaan tekstil di Turki. Turki kehilangan banyak warga Yahudinya saat banyak dari mereka berpindah ke negara baru, Israel, pada 1948. Sekarang, kelompok paling besar—sekitar 25 ribu—terdapat di Istanbul, ibu kota Turki. Di Antakya, sebuah kora berpenduduk 140 ribu di sebelah Timur pantai Mediterania, komunitas Yahudi menyusut hingga hanya berjumlah 70 orang saja.

Terlihat lebih baik di sebelah Barat, yakni Antioch, kota yang memiliki sebuah sinagog kecil, yang masuk melalui courtyard harum dengan bau jeruk dan bunga lemon. Hanya seorang rabbi yang kemudian meninggal pada umur 87, dalam liburan-liburan besar, pemimpin-pemimpin agama datang dari istanbul, 800 mil jaraknya, hanya untuk mendatangi Antioch yang eksotik.

Melalui “sisa iman Yahudi” itu, Cemal dan orang-orang Yahudi lainnya menceburkan diri bersosialisasi dengan Muslim. Mereka menghadiri setiap ulang tahun teman-teman meraka, juga ikut dalam penguburan ketika saudara mereka yang Muslim meninggal, bahkan saat pesta keagamaan juga turut hadir. Cemal ikut riang bergembira; teman-teman Muslimnya jarang menyebutkan konflik Israel-Palestina.

Ketika Gaza sedang merintih sekarang, entah apa yang diceritakan Cemal dan bagaimana ia harus menjawab? Dan saat Erdoğan berselisih dengan Peres, Cemal mau memilih mendukung kewargaannya atau ke-Yahudi-annya? Atau ia sadar bahwa menjadi Yahudi tak mesti setia dengan Zionisme, seperti banyak rabi di Amerika tak bersepakat dengan israel? Dan apakah ia sadar bahwa meskipun Erdoğan bersitegang dengan Peres, tetapi hubungan antara kedua negara itu akan tetap setia dan satu misi, seperti diklaim Peres? Wallahu a’lam bi al-shawab. voa/turks.us


  1. aripmuttaqien

    ini artikel dimuat dimana zack?

  2. zacky khairul umam

    tulisan iseng… menggubah saja.

  3. Nice writing Bung Zack. Tak kopi dulu, nanti baru komeng-nya dipanjangin ya ? Sorry…Rush nih.




Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: