Testimoni George W Bush

KORAN JAKARTA, 25 Januari 2009 

1430_12_010502_bush_wavingTak banyak yang tahu, lima menjelang hari pelantikan Barrack Obama sebagai Presiden Amerika Serikat,  George W. Bush yang saat itu masih menjabat presiden berpidato panjang lebar soal kesuksesan dan tantangan yang dihadapi pemerintahannya. Andai saja boleh, Bush masih ingin menjadi presiden.

Dalam pidato perpisahannya, mantan Presiden Amerika Serikat (AS) George W Bush mengingat-ingat kembali tragedi serangan 11 September 2001 di World Trade Center  dan gedung Pentagon. Peristiwa inilah yang kemudian dominan memengaruhi setiap kebijakan yang dikeluarkan Bush selama tujuh tahun belakangan.

Dari kejadian yang menewaskan hampir 3.000 orang itu, terciptalah sebuah departemen baru di Amerika, yaitu Departemen Keamanan Dalam Negeri. Kemampuan militer dan dinas-dinas intelijen pun dikembangkan untuk mencegah dan memberangus ancaman teroris. Pada intinya, Bush mengingatkan bahwa  Amerika belum aman dan terlepas dari ancaman teror.

Setelah tujuh tahun berlalu, menurutnya, sebagian besar rakyat Amerika mampu pulih dan kembali ke kondisi sebelum 9/11. “Tapi saya tidak pernah bisa. Setiap pagi, saya menerima laporan ancaman terhadap negara kita. Saya berjanji akan melakukan apapun sekuat tenaga untuk menjaga keselamatan kita semua,” kata Bush.

Menurut Bush  selama tujuh tahun sejak insiden 9/11, tidak ada lagi serangan teroris yang terjadi di dalam negeri AS. Namun, dia memperingatkan bahwa ancaman serangan teroris terburuk masih menghantui. “Musuh-musuh kita sabar dan memiliki tekad ingin menyerang kembali,” ujar Bush.

Dalam pesan terakhir yang disampaikan pada 15 Januari lalu itu, Bush membeberkan “pencapaian” yang dibuat selama memerintah yaitu perang di Afghanistan melawan kelompok Al-Qaeda dan Taliban, serta menggulingkan kediktatoran di Irak yang ketika itu dipimpin Saddam Hussein. “Saya selalu mengikuti apa kata hati nurani dan melakukan apa yang saya kira benar. Anda mungkin tidak selalu setuju dengan keputusan sulit yang saya ambil, tetapi saya benar-benar harus menentukan pilihan sulit,” ujarnya.

Bush mengaku, dirinya tidak terlepas dari kesalahan-kesalahan selama delapan tahun berkuasa. Andai  diberi kesempatan lagi (menjadi presiden), Bush berharap bisa merubah semua: Dua perang Afghanistan dan Irak yang belum selesai, dan krisis keuangan terburuk sejak 1930.

Tapi Bush mencoba menghibur rakyat Amerika yang sangat terpukul akibat krisis, terutama kelompok kelas pekerja dan menengah. “Kita akan memulihkan perekonomian ke jalur pertumbuhan. Kita akan tunjukkan kepada dunia, sekali lagi, bagaimana sistem pasar bebas AS bekerja,” tandasnya.

Dinasti Bush

Meski pun banyak yang sepakat bahwa Bush layak mendapat cap sebagai  “Presiden Terburuk Sepanjang Sejarah”, tak lalu Dinasti Bush akan benar-benar tenggelam. Jeb Bush,  saudaranya, sudah mengincar kursi Senat mewakili negara bagian Florida.

Memang kemungkinan Bush kembali lagi ke Gedung Putih bukan sesuatu yang realistis, tetapi tidak tertutup kemungkinan,  Bush  membantu Partai Republik bangkit kembali pada 2010 atau 2012.  Bush berpegang pada kata-kata mutiara yang pernah ditulis oleh Presiden Thomas Jefferson yang berbunyi, “Saya lebih menyukai mimpi-mimpi masa depan daripada pencapaian sejarah masa lalu.”  Optimisme seperti ini pula yang masih dipegang Bush.

Terlepas dari sederet kesalahan-kesalahan Bush, namun berkat Bush pula, sejarah baru tercipta di Amerika. Seorang Afro-Amerika, Barack Obama, menjadi pemimpin tertinggi di Negeri Abang Sam. Perang Irak dan resesi ekonomi menjadi modal utama Obama dalam mengusung slogan perubahan.

Ingar bingar perayaan pelantikan Obama langsung tenggelam dengan setumpuk beban tugas yang harus dipikul Obama. Tidak menunggu lama, Obama langsung bertindak di awal kepemimpinannya. Benar saja, dengan tanda tangan Obama di surat keputusan eksekutifnya, seluruh kebijakan “perang melawan teror” Bush pun berakhir.

Sebelum Presiden Obama bisa mulai melakukan sesuatu, dia harus terlebih dahulu disibukkan memperbaiki semua yang diwariskan Bush. Memulihkan apa yang telah dirusak oleh Bush selama delapan tahun belakangan merupakan tugas pelik. Penandatanganan surat keputusan eksekutif menutup penjara di Guantanamo, Kuba merupakan salah satu contoh kongkret.

Perintah Obama menutup Guantanamo merupakan langkah penting demi mewujudkan janji-janji yang pernah diutarakan selama kampanye. Namun, tidak mudah untuk bisa menutup dan memindahkan 245 tersangka teroris yang ditahan di Guantanamo tanpa dakwaan.

Citra AS di mata dunia tercoreng berkat penjara Guantanamo, penjara yang dibangun Bush pada awal 2002. Hukum serta norma internasional diterabas dan tidak digubris oleh pemerintahan Bush. Obama menyebut fasilitas ini sebagai noktah dalam catatan sejarah AS.

Dua opsi yang paling masuk akal supaya segera menutup penjara ini adalah mencari negara-negara yang bersedia menampung para tahanan atau mengadili tersangka di pengadilan federal AS. Sudah disadari, tidak gampang menemukan negara yang bersedia menampung tersangka teroris. Terlebih lagi, perdebatan sengit bakal terjadi di Washington jika membawa tahanan ke wilayah AS, terutama protes dari negara bagian yang dijadikan lokasi penahanan.

Jadi tidak heran jika sebagian kalangan meragukan keberhasilan penutupan Guantanamo secepat yang ditargetkan pemerintahan Obama. berbagai sumber/tsu/

 

 

 




    Tinggalkan Balasan

    Please log in using one of these methods to post your comment:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: