Senjakalaning Musik Blasteran

KORAN JAKARTA, 25 JANUARI 2009

 

Dari mana memang mau kemana

Tinggi rumput berama-rama

Bulan mana di tahun mana

Kita bertemu bersama-sama..

0607_kendangSepintas lirik itu mirip bait sebuah pantun. Tak sepenuhnya salah memang, tapi lirik itu merupakan penggalan sebuah lagu berjudul Cente Manis. Cente adalah tumbuhan berumbi mirip talas, rasanya manis. Sebuah gambang, kongayan, kromong, kendang, dan kecrek mengiringi lagu yang dibawakan oleh sang biduan dengan penuh perasaan.

Tak hanya menyanyi. Dua orang cokek –penari – berjoget seirama dengan lagu. Maju mundur mengikuti irama gambang kromong yang dibawakan oleh kelompok kesenian Irama Betawi asal Tangerang, Banten. Usai lagu Cente Manis itu, kelompok ini melanjutkan tampilannya dengan lagu legendaris, Jali-jali Ujung Menteng.

Mereka itulah yang tampil di acara pembukaaan Pameran Warisan Budaya Tionghoa Peranakan 15 Januari silam di Bentara Budaya, Jakarta. Bukan tanpa alasan jika panitia menampilkan gambang kromong sebagai pembuka acara. Salah satunya karena gambang kromong dianggap mewakili potret riil akulturasi budaya Tionghoa peranakan dengan pribumi. Setidaknya itu terlihat dari  alat musik yang dimainkan.

Gambang yang terbuat dari bilah kayu yang dijajar merupakan alat musik khas pribumi. Alat musik ini mudah ditemui pada gamelan Jawa atau bahkan  Sunda. Sedangkan  kongayan asli China. Alat musik ini mirip rebab dengan dua dawai. Cara memainkannya dengan menggesek senarnya. Dua instrumen ini bercampur membentuk harmoninya sendiri.

Agus Sumirat alias Ong Cin Siang adalah orang di belakang nama Irama Betawi. Lelaki gondrong bertato itulah yang menggagas berdirinya orkes gambang kromong ini. Di keluarganya gambang kromong bukanlah barang asing. Bahkan, sejak umur 12 tahun Agus mengaku hapal luar kepala syair lagu Cente Manis seperti yang dibawakan anak buahnya di Bentara Budaya itu. “Dari dulu, ayah, kakek dan semua keluarga saya memang menyukai gambang kromong,” ujar Agus.

Tak heran ia selalu menyambangi setiap pertunjukan gambang kromong di wilayah Tangerang  dan sekitarnya. Bermula dari sekadar menonton, lama kelamaan Agus ikut berlatih menjadi pemain gambang kromong. “Dimulai dari tukang angkat-angkat salon (pengeras suara) keluar masuk kampung,” tuturnya.

Dari sana ia mulai belajar memainkan alat musik, mulai kecrek, gong, gambang, sampai kongayan yang terbilang rumit itu. Dalam gambang kromong, adalah alat musi kongayan jadi instrumen terpenting. Alat inilah yang mengatur tempo dan irama secara keseluruhan.

Tahun 2000 merupakan titik balik Agus, saat salah seorang temannya berniat melego alat musik gambang kromong miliknya. Sebuah gambang, kromong, kongayan, gong, seruling, dan beberapa peralatan lainnya ditawarkan pada Agus seharga 5 juta rupiah. Agus tak menyiakan kesempatan itu. Alat musik itu dibelinya. Untuk urusan personil yang memainkan alat musiknya, Agus tak kebingungan. Rekan-rekannya memang penggemar gambang kromong, dan rata-rata bisa memainkan alat musik. Sampai saat inipun asal mendengar Irama Betawi bermain, tanpa di undang teman-temannya biasa datang.

Kalah Populer

Menurut Agus  menggeluti kesenian tradisional seperti gambang kromong tak bisa dijadikan untuk tulang punggung ekonomi keluarganya. Dalam sebulan permintaaan manggung paling hanya dua atau tiga kali. “Kalah populer dengan organ tunggal” ujarnya sedih.  Untuk menyiasati, biasanya kelompok ini berkompromi dengan pasar.  Organ atau gitar menjadi alat musik tambahan. Cita rasanya memang berubah. Belakangan kelompok-kelompok gambang kromong tak lagi hanya menyanyikan lagu-lagu khas seperti Cente Manis, Kadehel, Onde-onde, atau Stambul Lama. Tapi juga menyanyikan lagu keroncong, dangdut, sampai pop.

Untuk sekali manggung, di Bentara Budaya misalnya,  dari jam 5 sore sampai dengan jam 10 malam, Irama Betawi mengantongi  honor 5 juta rupiah. Uang sebesar itu menurut Agus, belum termasuk ongkos transport dari Tangerang. “Sisanya di bagi untuk yang tampil.” 

Walau begitu Agus mengaku, untuk urusan tarif pihaknya sangat fleksibel. Tergantung jauh lokasi dan durasi. Untuk pertunjukan selama dua jam Irama Betawi  rata-rata bisa menyanyikan 15 buah lagu tanpa jeda. “Tapi tergantung permintaaan yang mengundang, kita hanya mengikuti.”

Selain tampil di Bentara Budaya, Irama Betawi pernah juga menjajal Balai Kartini, Metropolis, dan beberapa tempat lain di Jakarta untuk unjuk kebolehan. Bahkan orkes ini juga pernah mengiringi kelompok musik Boi Akih, band asal Belanda saat tur di Indonesia dan tampil di Vihara Bo San Bio. N teguh nugroho/adiyanto

 




    Tinggalkan Balasan

    Please log in using one of these methods to post your comment:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: