Perempuan dalam Perang dan Cinta

KORAN JAKARTA, 25 Januari 2009

n1472510749_30068956_9738Menari dan menulis novel. Yang satu dilakoninya sejak SD. Satunya lagi masih tersimpan sebagai impian.

Pekan terakhir tahun lalu, Dani baru kembali dari Solo. Bukan untuk urusan seminar atau penelitian tapi menari. Ya, menari bagi Dani sudah jadi kebutuhan untuk lepas dari tekanan pekerjaan. “Menari Bedaya Ceki, rasanya setelah itu rileks banget, jadi semangat,” kata Dani.

Ceritanya, Oktober lalu Dani menonton tari di Festival Salihara, Dani merasa ada kekuatan magis tarian itu yang menariknya. Juga menarik air matanya meluncur ke pipi. “Saya menangis terutama melihat Pangeran Sambernyawa,” kata dia.

Tari yang berasal dari abad ke-18 itu menceritakan daya juang srikandi pada pertempuran Pangeran Sambernyawa melawan Pangeran Mangkubumi. Dalam tari ini ada bedaya anglirmendhung, tujuh srikandi sebagai batak, gulu, dhada, apit ngarep, apit mburi, endel ajeg dan buncit yang tak tergambarkan ganas dan buas.

Adegan yang diolah dalam gerak tubuh bukan kelebatan pedang, menebar anak panah dan pertumpahan darah tapi gerak indah perempuan menjelajahi ruang tubuhnya. Bukan dengan kekerasan tapi gerak penuh kelembutan. Seperti juga seharusnya perjuangan kaum perempuan.

Di Solo, Dani bertemu dengan Sri Sumarah, penari Bedaya Ketawang, mantan kekasih Pakubuwono XII. Dani minta diajarkan menari Bedaya Ketawang. Sri Sumarah menolak. Alasannya, tari itu hanya boleh dilakukan oleh orang keraton. “Katanya sudah ada perjanjian sama Ratu Roro Kidul. Kalau sudah masalah Roro Kidul, kita nggak bisa maksa, harus berhenti sampai di situ,” kata dia.

Dipercaya Kanjeng Ratu Kidul turun untuk mengajarkan tarian ini kepada perempuan keraton. Tari ini dibawakan oleh sembilan perempuan yang menceritakan cinta Kanjeng Ratu Kidul kepada raja-raja Jawa. Gerak-gerik tangan, langkah kaki dan seluruh bagian tubuh penari melukiskan bujuk rayu Kanjeng Ratu Kidul pada sang panembahan.

Pangeran Sambernyawa membawakan sosok perempuan dalam kekuatannya sebagai pejuang. Bedaya Ketawang menunjukkan kekuatan perempuan dengan ayu dan rayu. Keduanya tentang sosok perempuan, dalam perang dan cinta.

Sewaktu kelas empat SD perempuan berdarah Jawa ini pernah belajar tari Jawa klasik. Sempat juga dia melatih kegemulaian tubuhnya pada seorang guru balet asal Prancis. Sosok ayah yang memperkenalkan tari pada Dani. “Biar tentara ayahku itu pinter nari Jawa. Katanya menari itu adalah jiwa.”

Tertawa dan Tertawa

Karena alasan itu Dani pernah tak diberi izin belajar modern dance. Padahal koreografinya yang enerjik lebih menarik bagi remaja. “Waktu ada acara perpisahan kakak kelas SMA di Balai Sarbini, aku ikut ngedance, orang rumah nggak ada yang tahu. Aku memang agak bandel,” Dani tertawa.

Tak hanya tari Jawa, saat ini Dani juga belajar tari Makarena. Dia sudah hafal gerakannya. “Setiap tarian itu erotis, bukan teknik yang paling penting tapi kalau tubuh sudah merasa nyaman dengan tari itu, bisa seperti trance,” kata Dani yang pernah belajar tentang tari pada Sardono W. Kusumo, salah satu master tari Jawa klasik.

“Filosofi tari Jawa itu kelembutan. Sekarang semuanya serba instan dan tak sabar pada hal-hal detail. Padahal dengan kesabaran, bisa memberikan kepekaan bagi panca indera,” kata Dani sambil memperagakan gerak tarian Jawa.

Untuk musik, dani suka jazz. Ketika mendengar jazz sering dia membayangkan suasana ladang gandum dan jagung di masa perbudakan di Amerika. Kegetiran hidup yang menghasilkan musik pembebas improvisasi sesuai hati. “Untuk konsumsi pribadi saja,” kata Dani ketika diminta menyanyi jazz. Dia tertawa. “Aku itu paling nggak bisa olahraga tapi hasil medical checkup-ku bagus, mungkin karena sering tertawa,” kata. Sekali lagi dia tertawa.

Menulis artikel sering. Menulis hasil penelitian, apalagi. Kini ada hasrat lain: Menulis novel. “Menurutku puncak prestasi seorang penulis bukan buku ilmiah, tapi novel,” kata Dani yang mengagumi Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari karena sangat antropologis dan penceritaan yang detail.

Sempat Dani berkontemplasi dan menyepi dari ritual pekerjaan untuk impian menulis novel itu, tapi belum menemukan juga cerita tentang pergulatan hidup perempuan. “Novel adalah media yang tepat untuk memahami dunia perempuan. Tulisan ilmiah terbatas dalam menyingkap sisi gelap, kegetiran, dan ketidakadilan terhadap perempuan,” kata penyiar Perspektif Baru di Radio 68H ini.

Hmmm lagi-lagi tentang pembebasan budaya patriarki. Adakah Dani akan menyelipkan kepingan kontemplasinya sebagai seorang orang tua tunggal? Entahlah.  Dani memang tidak pernah menutupi dirinya dan seorang laki-laki pernah memutus janji sehidup. Dia tak pernah risau menjalani hidup seperti saat ini. Orangtua lengkap atau tunggal menurut dia sama berharganya. “Anakku bangga dengan status ibunya yang single parent. Aku juga ingin terlihat apa adanya, dengan celah kekurangan,” kata dia.

Yang juga penting, anak-anaknya masih bisa merasakan sosok ayah sekalipun tidak lagi tinggal serumah. “Saya memang bukan istri yang baik tapi saya berusaha menjadi ibu yang terbaik buat anak-anak saya.” N ezra sihite

 

Profil

Jaleswari Pramodhawardani

Nama                                    : Jaleswari Pramodhawardani

Tempat/tanggal lahir            : Surabaya/ 11 Agustus 1964

Pendidikan                            : SD Hang Tuah 4

                                                SMP 20 Jakarta

                                                SMA 39 Jakarta

                                                FISIP Universitas Tujuh Belas Agustus

                                                S2 Kajian Wanita Universitas Indonesia

Karir                                      : Peneliti bidang Kemasyarakatan dan Budaya LIPI

                                                Aktivis  soal Perempuan

                                                Peneliti Indonesian Institute dan pendiri Local

                                                Government Studies ( LOGOS )

                                                Penyiar acara Perspektif Baru Radio 68H

Anak                                      : Ratu Diah Ayu Diaswari

                                               : Ratu Diah Ayu Gendis Wardhani

 

 

 




    Tinggalkan Balasan

    Please log in using one of these methods to post your comment:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: