Mengenal Kematian Bayi Karena Angin

KORAN JAKARTA, 25 Januari 2009

baby_eat_melon11Jika bayi belum berusia setahun, sebaiknya hindarkan tidur tengkurap dalam waktu lama.

Kipas angin disebut-sebut sebagai salah satu untuk menghindarkan bayi dari kematian mendadak atau SIDS. Tapi para ahli sepakat masih butuh penelitian lebih lanjut soal itu.

Elly terus menangis. Suaranya mulai serak. Yanto suaminya, tak mampu menenangkannya. “Kasihan anak itu, baru setahun,” kata Elly. Yang disebut anak itu oleh Elly tak lain adalah Rio, anak semata wayangnya yang baru berusia 11 bulan. Bayi itu ditemukan Elly sudah tak bernafas, menjelang tengah malam. “Padahal dia tidak sakit,” kata ibu muda, yang tinggal di Lenteng Agung, Jakarta, minggu lalu.

Rio mati mendadak? Bisa jadi. Di dunia kesehatan, kematian semacam itu disebut sebagai sudden infant death syndrome atau SIDS alias gejala kematian secara tiba-tiba pada bayi berusia di bawah satu tahun yang tidak dapat dijelaskan. Dalam beberapa kasus, SIDS tidak memberikan gejala atau masalah yang berhubungan dengan kesehatan bayi sehingga orang tua tidak langsung meminta pertolongan medis saat sindrom itu menyerang.

Di Amerika Serikat, sindrom ini disebut sebagai pembunuh nomor wahid tapi apa penyebab SIDS, para ahli hingga kini juga masih tidak satu kata. Center for Disease Control and Prevention misalnya, menyatakan penyebab datangnya SIDS adalah gangguan pernapasan pada bayi ketika tidur. Dokter Debra E Weese-Mayer, profesor dan direktur Pediatric of Respiratory Medicine di Rush University Medical Center, Chicago menjelaskan bahwa mutasi gen diindikasikan sebagai penyebab SIDS.

Kesimpulan itu dia dapatkan setelah dirinya meneliti 92 bayi, baik yang terkena SIDS maupun yang tidak. Hasilnya ditemukan mutasi gen bernama 5-HTT yang berhubungan dengan proses pengaturan serotoonin, zat kimia yang berfungsi dalam pernapasan dan denyut jantung. Syaraf bayi yang biasanya berfungsi untuk membangunkan bayi dan membantu pernapasan mereka saat kekurangan oksigen— terganggu oleh mutasi gen itu.

Akibatnya bayi sulit terbangun dan berkemungkinan meninggal dunia akibat kekurangan pasokan oksigen. Weese-Mayer juga menyatakan bahwa aspek etnis menentukan SIDS pada bayi. Penelitiannya membuktikan, bayi yang berkulit hitam lebih berisiko mengalami mutasi gen dibandingkan bayi yag berkulit putih.

Kerusakan Otak
Lalu kelompok ilmuwan dari National Institute of Child Health and Human Development, bagian dari National Institutes of Health di Bethesda, Maryland, menemukan penyebab lain terkait sindrom itu. Setelah meneliti 31 mayat bayi yang meninggal akibat SIDS dan 10 bayi lainnya yang tidak mengalaminya pada 2006, ditemukan fakta bahwa kelainan biologis bayi dalam otak ternyata juga menyebabkan SIDS.

Berdasarkan temuan mereka, bayi yang mengalami SIDS umumnya mengalami kerusakan kemampuan otak dalam menggunakan seretonin dan nurotansmiter yang memainkan peran penting dalam mengatur sistem pernapasan dan denyut jantung pada bayi. Itu bisa melemahkan kemampuan otak bayi untuk mengatur seluruh sistem tubuh mereka, termasuk juga pernapasan ketika tidur. Sinyal dari otak yang seharusnya membangunkan bayi dan membantu pernapasan mereka saat kekurangan oksigen tidak berfungsi. Mereka akan sulit bangun tidur dan suplai oksigen berkurang hingga lemas.

Penelitian itu diperkuat oleh hasil penelitian European Mollecular Biology Laboratory in Monterotondo, Italy and Colleague, yang juga menyebut melemahnya kandungan seretonin dalam otak bertanggung jawab terjadinya SIDS. Hanya saja, kesimpulan tersebut diambil melalui tikus percobaan yang mempunyai gejala hampir sama dengan kematian akibat sindrom kematian pada bayi.

Studi yang diumumkan oleh Journal of the American Medical Association (2008), National Institutes of Health Maryland itu juga menjelaskan risiko SIDS akan meningkat jika faktor kekurangan biologis otak bayi dipacu oleh pengaruh lingkungan. Antara lain seperti terbiasa tidur tengkurap, alas tidur dan selimut yang terlalu lembut pada masa rawan perkembangan awal kehidupan bayi, dan perputaran udara dalam kamar bayi yang tidak lancar. Yang harus diingat kata mereka, kondisi leher bayi masih belum maksimal sehingga sulit untuk memutar kepala secara leluasa untuk memperoleh udara ketika bernapas.

Sirkulasi Penyejuk
Untuk mengurangi risiko SIDS, salah satu cara yang disarankan adalah menggunakan kipas angin. Penelitian para ilmuwan dari Divisi Penelitian Kaiser Permanente, California, Amerika dalam Archieves of Pediatric and Adolescent Medicine, Oktober tahun lalu mengungkap hal tersebut. Penelitian yang didanai oleh Institut Kesehatan Amerika itu dilakukan dengan mewawancarai ibu-ibu dari 185 bayi yang meninggal akibat SIDS dan 312 bayi sehat. Mereka menemukan kenyataan bahwa jendela yang dibuka dalam kamar bayi juga mengurangi risiko SIDS sebesar 36 persen ketimbang dengan bayi yang tidur dalam keadaan kamar tertutup, meskipun hubungannya tidak terlalu berarti.

Para ilmuwan itu akan tetapi tidak mengetahui persis mengapa kipas angin bisa menurunkan risiko SIDS. Penulis senior dari Divisi Penelitian Reproduksi dan Epidemiologi Bayi, juga dari lembaga di California itu, Dr De-Kun Li menegaskan bahwa sirkulasi udara karena alat penyejuk itu bisa mencegah penghirupan karbondioksida yang berulang dalam pernapasan bayi. Maka, berdasarkan catatan dari penelitian itu, penurunan risiko SIDS berkisar hingga 72 persen daripada bayi yang tidur tanpa kipas angin.

Kendati penemuan penting ini sangat menjanjikan, Carl Hunt, konsultan pada Institut SIDS Amerika menyangsikan hubungan antara penggunaan kipas angin dan penurunan risiko kematian bayi mendadak itu. Menurutnya, hasil penelitian itu masih sebatas perkiraan saja. Hubungan yang mereka simpulkan tidak terlalu berarti. Ia berdalih, barangkali pengguna kipas angin tersebut mempunyai risiko SIDS yang amat rendah.

Namun dokter Fern Hauck dari Universitas Virginia yang juga peneliti SIDS dan anggota American Academic of Pediatric SIDS Task force, meyakini harus dilakukan penelitian lebih lanjut soal penggunaan kipas angina itu. Menurut Hauck, para orang tua setidaknya bisa tahu dan mengambil pedoman tentang pentingnya sirkulasi udara dalam kamar bayi mereka. Selain itu, orang tua juga perlu memperhatikan faktor lain yang bisa mengurangi sindrom membahayakan bagi bayi.

Dokter Risamala Dewi, spesialis anak RSIA Bunda Jakarta, mengiyakan penelitian itu, meskipun dengan catatan harus ada verifikasi metodenya untuk memperoleh keabsahan. Namun menurut Prof Rulina Suradi, kosultan Neonatologi dan Laktasi Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI, penyebab SIDS belum diketahui benar dan masih rahasia ilmiah yang belum terbongkar. Kata dia SIDS sangat sulit dideteksi, sehingga hanya pencegahan yang mungkin sebelum sindrom mematikan itu betul-betul terjadi.

Namun keduanya sepakat, kasus SIDS di Indonesia masih jarang. Kalaupun ada, pengetahuan masyarakat tentang SIDS pun masih amat minim. Banyak yang mengaggap kematian mendadak pada bayi diterima sebagai takdir yang tidak termungkiri. Itu berbeda dengan kesadaran dan pengetahuan masyarakat Amerika yang waspada dengan gejala sindrom itu. N jacques umam / agus triyono




    Tinggalkan Balasan

    Please log in using one of these methods to post your comment:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: