Menembus Sekat, Melintas Batas

KORAN JAKARTA, 25 Januari 2009

good-luck-fu-chinese-calligraphySebuah meja rias dari kayu jati dengan ukiran rumit teronggok begitu saja di sebuah sudut Bentara Budaya Jakarta. Seorang pengunjung tampak terkesima mengamati meja yang diperkirakan berusia lebih dari setengah abad itu.”Yang seperti ini nenek saya dulu juga punya,’’ ucapnya sambil menyentuh salah satu sisi meja.

Pengunjung yang keturunan Tionghoa itu memang sengaja datang untuk menyaksikan

Pameran Warisan Budaya Tionghoa Peranakan, yang digagas Bentara Budaya Jakarta dan Komunitas Lintas Budaya Indonesia ini berlangsung sepuluh hari, 15 hingga 25 Januari.

Pameran didesain senyaman mungkin agar pengunjung yang datang seolah-olah merasa sedang berkunjung pada sebuah keluarga Tionghoa. Kurang lebih 300 artefak perabotan dan asesoris rumah tangga Tionghoa  yang berasal dari Jakarta dan sekitarnya dari kurun waktu 1850 sampai dengan 1960.  Dalam pameran itu, pernak-pernik rumah tangga ditata semirip mungkin dengan kondisi aslinya. Aroma dupa dan bunga melati memenuhi seluruh ruangan. Tak ketinggalan pengunjung juga disuguhi dengan lagu-lagu Tionghoa.

Memasuki ruang utama pameran, di samping kiri dan kanan terpasang pintu angin. Pada rumah Tionghoa peranakan, pintu-pintu angin itu biasanya digunakan sebagai pembatas agar pandangan dari luar terhalang. Terbuat dari kayu jati pintu angin itu awalnya adalah bagian dari bangunan Candranaya . Ini  sebuah bangunan bersejarah kini merana di jalan Gajah Mada Jakarta, terjepit di antara tembok jangkung aparteman bertingkat 32.

Dalam tradisi Tionghoa, rumah tak cuma tempat tinggal para penghuninya yang masih hidup, tapi juga para leluhur. Tak heran, jika  berkunjung ke rumah orang Tionghoa di ruang tamu akan disambut dengan meja altar lengkap dengan foto-foto leluhur, lilin yang menyala, bokor dupa, dan buah-buahan untuk sesaji. Adabnya, sebelum duduk dan berbincang dengan tuan rumah, Anda harus memberi salam takzim terlebih dahulu di depan altar.

Dibanding dengan ruang tamu yang sederhana, ruang keluarga biasanya akan menunjukan “siapa” si empunya rumah. Untuk kalangan berada, biasanya sebuah sofa bergaya Eropa, piano, piringan hitam, dan sebuah gramaphone menjadi penghias ruang keluarga. Ini seolah menunjukkan si pemilik rumah bersentuhan dengan budaya yang lebih modern. Tak ketinggalan sebuah meja Mahyong, dipan candu berukir, dan sebuah meja silet untuk pemanis ruangan. Di atas meja inilah biasa disediakan rokok, makanan kecil, dan kacang-kacangan untuk para pemain judi.

Beranjak ke kamar tidur, ada ranjang Banji besar dengan kanopi penyangga kelambu. Ranjang banji adalah tempat tidur besar dari kayu  yang masing-masing berkaki dan bertiang delapan. Lengkap dengan dipan pendek sebagai tatakan kaki.  Model ukiran yang lazim biasanya berbentuk terusan yang berselang-seling dengan keranjang bunga, kelelawar, buku, papan catur, gulungan lukisan, kecapi, atau kepala naga. Yang lebih sederhana biasanya ukiran itu tanpa sisipan. Ranjang seperti ini masih banyak ditemui di daerah Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sumatra.

Tak hanya ranjang dari kayu jati saja yang dipamerkan. Sebuah ranjang besi yang sangat digemari kaum Tionghoa peranakan di awal abad ke-20 juga ada. Lengkap dengan pispot dan bokornya di bawah ranjang. Selain kamar tidur, ruang kerja  juga dipamerkan di sini. Begitu pula dengan peralatan di ruang makan. Berkunjung ke pameran ini, kita seolah diajak berkelana ke masa silam menguak kehidupan masyarakat Tionghoa peranakan. Eksotis.

Pembukaan pamerannya juga meriah. Ada gambang kromong dan kuliner khas Tionghoa. Musik gambang kromong dipilih karena mencerminkan semangat pembauran.

Irama Betawi, kelompok orkes gambang kromong sengaja didatangkan dari  Tangerang . “Yang ingin kita tampilkan adalah akulturasi. Dan gambang kromong adalah contoh yang paling pas tentang akulturasi budaya Tionghoa peranakan dan budaya pribumi” kata Musa Jonatan, kurator Bentara Budaya Jakarta.

Musa menceritakan, akulturasi antara budaya tionghoa dengan budaya pribumi sebenarnya sudah berlangsung sejak berabad-abad silam. Tapi dalam pameran ini, pihaknya memang membatasi rentang waktunya. “Tujuannya sederhana, dalam rentang itu dimungkinkan pengunjung masih punya ingatan tentang masa itu,” terang Musa.

Selain beberapa alat musik dalam gambang kromong yang khas Tionghoa seperti kongayan –sejenis rebab dengan dua dawai, lirik-lirik lagu dalam gambang kromong dimasa lalu mencerminkan pembauran antara musik Betawi dan masyarakat China pada zaman Belanda. Lihat saja judul lagu seperti Pobin –pembukaan- Matujin, Pobin Bankihwa, Gula Ganting, atau Lopan Ce Cu Teng.

Selain Irama Betawi, penampil yang lain adalah  Anthony. S dan band dari Bandung. Band ini bisa dibilang berbeda dibanding band kebanyakan. Mereka mengombinasikan alat musik Indonesia dan instrumen tradisional China.  Mereka menyebutnya Mandarina. Mandarin dan Indonesia.  Sejak tahun 1992 kelompok musik ini telah merilis tiga buah album yang berjudul Fu, Lu dan Shou. Dalam pameran itu pengunjung dapat menyaksikan pemutaran film bercerita tentang Tionghoa peranakan seperti film Ca Bau Kan, May, Anak Naga Beranak Naga, dan Babi Buta yang Ingin Terbang. n teguh nugroho/adiyanto

 




    Tinggalkan Balasan

    Please log in using one of these methods to post your comment:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: