Mata Rantai Penjual ABG

 

KORAN JAKARTA, 25 Januari 2009

Pengantar:

abgSepanjang tahun lalu, Polresta Bogor tiga kali mengungkap jaringan perdagangan perempuan. Pertama pada April 2008 dengan otak pelaku Fany (Muhammad Fauzan) dan Boy (Evania Ervan Putri), masing-masing sudah divonis 7 tahun penjara. Kedua terjadi pada Juli 2008, yang melibatkan Daniel. Orang ini diringkus polisi berkat laporan orang tua dari salah seorang perempuan yang disekap Daniel di sebuah ruko di jalan Mangga Besar II Jakarta. Ketika digerebek, polisi mendapati ada 40 perempuan lain yang disekap Daniel di dalam ruko. Ketiga, meringkus jaringan Ambon. Inilah cerita polisi dan para tersangka seputar penangkapan jaringan Ambon oleh tim serse Polresta Bogor yang terjadi Desember lalu. 


“Jhon kayaknya ada yang ngikutin elo deh.

Duduk menemani Cho memandangi lima remaja ABG, pikiran Jhoni sudah melambung kepada uang 20 juta rupiah. Setidaknya dia akan mendapat bagian lumayan besar dari nilai 20 juta rupiah itu.

Bogor 10 Desember 2008. Menjelang maghrib hujan deras yang siang tadi mengguyur Kota Bogor, hanya menyisakan gerimis. Dari jendela lobi Hotel Pangrango 2, Bogor, rintiknya terlihat menetes satu satu, seolah berayun dibentur angin. Senja ini memang cukup dingin, juga di lobi hotel itu yang pada sore itu tak banyak didatangi tamu.

Di salah satu sudut lobi, mata Cho tak berhenti menatap kelima perempuan yang kini duduk di hadapannya, berhimpitan di sofa. Dari wajah dan cara berpakaiannya, usia kelima perempuan itu tak lebih dari 18 tahun, satu-dua orang malah terlihat masih berusia 15 tahun. Sesekali dari remaja itu juga memandang Cho, tapi selebihnya mereka asyik sendiri. Cekikikan. Manakala Cho bertanya siapa nama mereka, satu per satu menjawab “Bunga,” “Kembang,” “Gadis,” “Suci,” dan “Fitri.” Mereka menjulurkan tangan sambil mencoba tersenyum kepada Cho, laki-laki setengah baya yang mengaku sebagai pengusaha dari Jakarta itu.

Duduk di sebelah Cho adalah Jhoni. Laki-laki berusia 20 tahunan itulah yang membawa kelima ABG tadi ke depan Cho. Kata Jhoni, Cho sudah memesannya sejak beberapa hari yang lalu sebelum 10 Desember 2008, saat hujan gerimis di Hotel Pangrango itu. Syarat yang diminta Cho cukup ketat: ABG berusia belasan tahun, kulit putih bersih, tinggi 155-160 cm, dan berat 45 kg.  Toh  Jhoni sanggup memenuhi apa yang diminta oleh Cho tapi juga dengan sebuah permintaan soal harga.  “Empat juta seorang bos,” kata Jhoni.  Cho bilang tak ada masalah.

Sudah hampir dua jam, mereka duduk di lobi. Duduk menemani Cho memandangi lima remaja ABG, pikiran Jhoni sudah melambung kepada uang 20 juta rupiah. Setidaknya dia akan mendapat bagian lumayan besar dari nilai 20 juta rupiah itu.  Saat Cho memutuskan untuk beranjak dari lobi hotel, Jhoni karena itu buru-buru mengiyakan. Malam ini malam  keberuntungan. Di parkir hotel, Cho menyerahkan tunai uang 20 juta rupiah kepada Jhoni. Mulut Jhoni menyeringai, tangannya sibuk menghitung lembaran uang yang baru saja diterimanya. Meskipun seharusnya ditransfer, Jhoni tetap menerima uang kontan pembayaran dari Cho.

“Jhoni, kamu kami tangkap ya. Kami ini polisi,” suara Cho tiba-tiba menyibak keheningan.

“Ah bohong,” balas Jhoni sambil tetap menghitung uang. Matanya mencoba menatap Cho, lelaki berkulit putih dan berpakaian necis itu.

Di lobi, Heri, sopir pribadi Cho mendatangi kelima ABG. Mereka diajak ke parkiran dan masuk ke Avanza. Cho dan Jhoni sudah ada di dalam mobil itu. “Ayo kita makan dulu,” kata Heri. Mobil Avanza mulai bergerak meninggalkan lobi Hotel Pangrango. Jarum jam belum tiba pada angka 9.

Di tengah jalan, Heri kembali bersuara. “Adik-adik, kami ini polisi, kalian mau kami bawa ke Polresta Bogor.” “Bohong,” kata kelima remaja itu, nyaris serempak. Saat Avanza benar-benar memasuki gerbang Polresta Bogor, barulah kelima ABG dan juga Jhoni terlihat serius. “Kok beneran sih?” tanya Jhoni.

“Kan sudah dibilang kalau kami ini polisi,” balas Cho. Jhoni tergagap, juga lima remaja ABG itu.

Jhoni belakangan tahu, Cho yang menghubunginya dan memesan lima ABG kepadanya itu adalah nama samaran dari Chaeruddin, anggota reserse Polresta Bogor. Seusai dibuatkan berita acara pemeriksaan, Jhoni dimasukkan ke dalam tahanan. Dia menangis malam itu. Cita-citanya bekerja di kantoran kini menjadi tertutup, karena ancaman hukuman yang bisa dikenakan kepadanya bahkan hingga 15 tahun penjara.  “Padahal saya sekarang sedang menunggu panggilan (kerja),” kata Jhoni yang bernama asli Oki Maulana.

Pengejaran di Slipi

Slipi, Jakarta, 11 Desember 2008. Pukul 9 pagi hari ini mestinya Jhoni harus mentransfer uang 20 juta rupiah ke rekening milik bosnya yang berjuluk Ambon. Tapi Jhoni mengirimkan pesan kepada si bos, ATM yang dia gunakan sedang rusak. Sebagai gantinya Jhoni berjanji akan menyetor langsung di Gedung BCA, di depan Mal Slipi Jaya. Mereka sepakat bertemu, tapi kali ini Jhoni tak akan datang sendiri melainkan ditemani lima orang reserse dari Polresta Bogor, teman-teman Chaerudin. Pemimpin mereka AKP Irwansyah, Kepala Satuan Reserse Kriminal Polresta Bogor.

Rombongan dari Bogor itu, tiba di Mal Slipi sekitar pukul 1 siang. Ponsel Jhoni terus berdering, dia berkomunikasi dengan Rudi, orang suruhan bos Ambon yang hari itu sedang menunggunya untuk menerima 20 juta rupiah. Di parkiran Jhoni “dilepaskan” tapi dia harus menuju jalanan di depan Mal Slipi seolah-olah baru turun dari angkutan kota, lalu setelah itu harus menyebrang lewat jembatan penyebrangan menuju Gedung BCA yang terletak di sisi timur Mal Slipi.  Saat hendak naik ke jembatan, ponsel Jhoni berdering

Tiga reserse langsung mengambil posisi.  Satu orang membayangi di belakang Jhoni, dari jarak 10 meter. Lewat ponsel,  Jhoni terus dihubungi Rudi yang belakangan diketahui bersama Anna. Setiba di ujung jembatan, Jhoni diperintah Rudi agar masuk ke Gedung BCA, lalu disuruh keluar lagi. “Jhon kayaknya ada yang ngikutin elo deh,” kata Rudi.

Jhoni menengok, “Mana?”

“Sebenarnya elo sama siapa sih?”

“Sendirian kok.”

Rudi dan Anna awalnya terlihat berada di samping Gedung BCA. Tapi Rudi kemudian meminta Jhoni pindah tempat, sekitar 1 kilometer  dari Slipi Jaya ke arah Grogol. Mereka berdua mengendari sepeda motor.  Di tempat yang ditentukan, Rudi dan Anna berpisah: Anna tetap di sisi timur jalan, Rudi memilih menyebrang untuk mengamati. Lokasi yang dipilih Rudi itu terletak di Jalan Brigjen Katamso yang terbagi dua jalur: ke Tanah  Abang dan Kebon Jeruk. Di sisi jalan ini, cukup banyak jalan kecil atau gang dari pemukiman.

Sesaat terlihat Jhoni yang berjalan kaki melewati trotoar sedang menuju tempat itu. Di sepanjang trotoar yang dilalui Jhoni, mata Rudi menelisik tajam. “Bener deh kayaknya ada yang ngikuti,” kata Rudi, kembali menelepon Jhoni. Jhoni sekali lagi menoleh ke belakang. Reserse yang membayanginya memang tepat berada di belakanganya, hanya berjarak 5 meter. Mungkin kurang.

Saat Rudi berkonsentrasi mengawasi Jhoni dan orang yang mengikutinya, reserse lain berdiri tak jauh dari Rudi. Irwansyah juga. Rudi yang telanjur yakin, Jhoni memang dibuntuti akhirnya memutuskan pergi. Dia lari. Sepeda motornya dibiarkan. Di seberang Anna juga angkat kaki. Tapi keputusan Rudi untuk lari bisa dibilang terlambat, karena Irwansyah bersama polisi yang sejak tadi berdiri di dekat Rudi  seketika juga menghambur mengejarnya. Celakanya Rudi tak menguasai medan sehingga dia memutuskan untuk bersembunyi di semak-semak, yang tak cukup menyembunyikan seluruh badannya. Punggungnya masih cukup terlihat.

“Angkat tangan dan balik badan,” bentak Irwansyah sambil menodongkan pistol colt ke punggung Rudi.  Laki-laki yang dibentak pura-pura tak mendengar hingga sebuah tendangan menjungkirkanya. Itulah Rudi yang kini terlihat dengan wajah putih telor.

Di seberang jalan yang lain, polisi yang mengejar Anna kehilangan jejak. Petugas itu lalu menghubungi Irwansyah yang kini sudah bersama Rudi. Oleh Irwansyah Rudi diminta   menghubungi Anna dan memberitahukan keadaan sudah aman, dan dia akan segera menjemputnya. Anna memberitahu Rudi tempat persembunyian. “Aku di sebuah rumah, di jalan Andong Raya, Kota Bambu Selatan,” balas Anna.

Tapi mencari Anna di rumah yang dimaksud juga tak mudah. Ketika polisi datang ke rumah itu, perempuan pemilik rumah malah memberitahu di rumahnya tidak ada perempuan yang bersembunyi. Itu memang sesuai dengan dari Anna kepada ibu tadi, agar kalau ada polisi yang mencarinya, si ibu mengatakan Anna tidak bersembunyi di rumahnya.  Polisi hampir terkecoh memang, tapi anak si ibu yang masih SMP tak tahu “rahasia” antara ibunya dengan Anna. “Ada kok Ma…,” katanya menyahuti perkataan sang ibu kepada polisi.

Irwansyah dan beberapa anak buahnya langsung masuk ke dalam rumah. Di ruang tengah, dia  mendapati Anna sedang tidur-tiduran. “Ada apa Pak?” tanya Anna mencoba bersikap apa adanya. Dia tak sadar, Irwansyah mengamati butir-butir keringat yang jatuh dari keningnya.  “Kok berkeringat?” tanya Irwansyah.

Ambon, Chika, Rika dan Nizar

Anna tidak menjawab melainkan terus bangun dan duduk. Kepalanya tertunduk. Tangannya diborgol. Di pinggri Jalan Raya Brigjen Katamso, Anna, Rudi  juga Jhoni dicecar pertanyaan soal keberadaan Chika.  “Mana yang namanya Chika?” tanya Irwansyah.

Rudi dan Anna mengaku tidak tahu siapa Chika, kecuali hanya mengenal Ambon, seseorang yang kini mendekam di Lapas Tangerang, menjalani hukuman karena kasus narkoba. Lalu keluarlah pengakuan dari Jhoni:  Ambon itu sebetulnya nama samaran, nama aslinya Chika. Satu orang dengan dua nama.

Berdasarkan keterangan dari Jhoni, Rudi dan Anna itulah, polisi lantas bergerak ke Lapas Tangerang. Dari sipir penjara, diperoleh keterangan, Ambon mendekam di sel Blok D. Penggeledahan dilakukan di sel itu: Sebuah ponsel ditemukan di lubang kamar mandi. Ambon mengelak, kata dia ponsel itu bukan miliknya. Polisi yang sudah mengantongi nomor Ambon yang diberikan oleh Anna, mencoba mengontak ponsel yang dipungkiri Ambon. Berdering.  Ambon tetap menolak tapi polisi tak ambil pusing.

Dari pengakuan Jumhari, kepala penjara di Lapas Tangerang  yang ikut mendampingi polisi dalam penggeledahan sel Ambon, diperoleh keterangan, dalam setiap percakapan dengan ponsel itu, Ambon sering mengaku sebagai Chika, Rika, dan Nizar. Jumhari juga bercerita Ambon memiliki kemampuan bersuara ganda:  perempuan dan lelaki.  Ambon kini tak bisa mengelak apalagi  Jumhari juga menyatakan kesediaannya menjadi saksi di pengadilan.

Jumhari bercerita, dia kesal karena Ambon selalu memanfaatkan Anna, yang ternyata adalah pacar Jumhari—  sebagai jaringan kriminal yang memperdagangkan perempuan untuk kepentingan seks komersial. Rombongan polisi itu, lalu kembali ke Bogor. Hari sudah menjelang pagi, ketika Rudi (nama aslinya Andriansyah), Anna (Deri Arianie), dan Jhoni dimasukkan ke sel tahanan Polresta Bogot.

“Saya menyesal,” kata Jhoni. Dini hari itu, gerimis tak turun di halaman Mapolresta Bogor Bogor. Hanya embun. N jacques umam/rangga prakoso

 

Perawan Seharga 4 Juta

Maaf, kami tak memilih anak-anak muda tapi hanya om-om berduit.

Ini pengakuan  Rita (bukan nama sebenarnya), salah seorang dari lima perempuan yang ikut ditangkap polisi di Hotel Pangrango 2, Bogor, 10 Desember silam. Kata dia, kali pertama berhubungan seks ketika dia duduk Kelas 11 SMU. Bukan dengan sang kekasih, melainkan dengan seorang pengusaha asal Jakarta. Keperawanannya dieli 4 juta rupiah. Itu setahun yang lalu.  “Maaf,” kata Rita,  “Kalau anak muda mah tidak mau, nggak punya duit.”

Kini Rita bisa dengan fasih berbicara soal kondom. Setiap kali berhubungan badan, gadis yang usianya belum genap 20 tahun itu bercerita selalu meminta pelanggannya memakai kondom. Rita sendiri yang menyediakannya. Dia membelinya di minimarket sebelum check-in di hotel. “Bukannya mencegah terkena penyakit menular, tetapi karena takut hamil. Aib!” ujarnya.

Kalau (hamil) itu terjadi, sama artinya dengan bunuh diri. Akan menjadi gunjingan para tetangga dan bisa dipecat dari SMU. Bagi Rita, “menjual diri” bukan sebua profesi, karena dia tidak setiap hari melakukannya. “Hanya pada saat membutuhkan uang,” ungkapnya.

Rita mengaku sudah memiliki pacar, tapi sang pacar tak tahu “profesi” lain yang dilakoni Rita meskipun dengan pacarnya itu, Rita sering berhubungan badan.

Di Bogor, gadis SMU seperti Rita tidaklah sedikit. Mereka biasa di nongkrong di mal atau pusat belanja tertentu dan melakukan “transaksi” tanpa mencolok, tidak seperti penjaja seks profesional. Dandanan mereka sama saja dengan remaja ABG yang lain.  “Bukan barang murahan,” seolah begitulah yang ingin ditunjukkan mereka dengan wajah lugu berkelas pelajar.

Tak semua tentu saja. Kadang-kadang ada juga para gadis ABG itu yang sengaja mencuri perhatian kaum hidung belang. Matanya liar, berkeliling nakal. Tangannya menyiku dan menguncir rambut, sengaja untuk menonjolkan dadanya. Mungkin inilah yang disebut Rita sebagai “saat membutuhkan uang” itu. 

Gampang? Tunggu dulu. Tidak mudah untuk bisa mengaja mereka untuk langsung berkencan. Sebagian besar malah terjerat dengan orang-orang seperti Jhoni, Rudi, atau Anna itu. Konon mereka itulah, yang akan mencarikan “order”, memastikan keamanan, dan sebagainya. Pemesan tinggal menghubungi orang-orang seperti Jhoni  lalu bertemu di sebuah tempat. Kalau harga cocok dengan “barang” bisa tancap gas. Persis ketika Chaeruddin menyamar sebagai Cho kepada Jhoni, dan bertemu di Hotel Pangrango 2, Bogor itu.

Sejak jajaran Polresta Bogor menangkap jaringan penjual gadis ABG berturut-turut hingag tiga kaliu, gadis-gadis itu kini semakin berhati-hati menjajakan diri. Kebanyakan transaksi kini berlangsung melalui telepon. Tapi bila ada nomor baru yang mencoba menghubungi mereka, jangan harap akan ada balasan. Sebaliknya bisa-bisa mereka  akan berteriak, “Polisi.” Mungkin trauma dengan penangkapan lima remaja ABG di Hotel Pangrango itu, yang memang sengaja dijebak oleh polisi. N rangga prakoso

 

 




    Tinggalkan Balasan

    Please log in using one of these methods to post your comment:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: