Macetnya Jalur Busway

KORAN JAKARTA, 25 Januari 2009

dxl0glwb72Menjelang maghrib di depan pasar Kramatjati sebuah bus warna abu-abu merk Hino berbahan bakar gas tak beringsut. Terjepit tak bergerak. Di depan bus itu, sebuah Kopaja 57 berhenti karena angkot didepannya juga berhenti. Ngetem.

Sementara di lajur paling kiri –sesekali turun ke bahu jalan- ular-ularan sepeda motor mengepung tanpa ampun. Jalan raya Bogor itu hanya ada dua lajur setiap arahnya. Menjadi lebih sempit karena sebuah halte busway berdiri tepat ditengah-tengah kesemerawutan itu. Belum lagi pedagang kaki yang meluber dan rakus memakan bahu jalan ditambah jalanan yang menyumbat mirip botol di depan Ramayana. Ruwet.

Di dalam bus tak berbeda dengan keadaan diluar. Penumpang penuh, tempat duduk semua terisi dan sisanya berdiri hingga tak menyisakan ruang kosong untuk berpijak. Tubuh-tubuh berdiri itu berdempetan. Siku bertemu siku. Pengap, walau pengatur suhu sepertinya sudah disetel maksimal. Bus kota?

Bukan. Itu busway yang terjebak macet di depan pasar  Kramatjati, Jakarta Timur. Tak sekali itu, bus itu tak berdaya. Hampir setiap hari, jalannya terseok-seok. Apalagi di jam sibuk seperti pagi atau menjelang petang saat bubaran kerja.

Sejak kali pertama diluncurkan 15 Januari 2005 silam, busway digadang-gadang bisa menjadi solusi untuk mengurai kemacetan di Jakarta yang disesaki mobil pribadi. Teorinya sederhana. Pengendara mobil pribadi akan beralih menggunakan busway sebagai alat transportasi karena kenyamanan dan keefesiennya.

Sayang, harapan itu jauh panggang dari api. Alih-alih menjadi pilihan lain karena kenyamanannya, kualitas pelayanan busway makin hari justru makin mengecewakan. Waktu tempuh yang makin lama –dibeberapa tempat lajur khusus busway lazim diserobot-, waktu tunggu yang makin  molor, hingga hal-hal teknis seperti pemeliharaan bus, halte yang kotor, hingga bus terbakar.

Tak hanya itu, koridor-koridor busway yang sudah selesai tapi tak digunakan seringkali menjadi penyebab kecelakaan. Dari data Ditlantas Polda Metro Jaya, selama kurun waktu 2007, terjadi 82 kasus kecelakaan yang berhubungan dengan separator busway dengan  96 orang menjadi korban. Dari angka tersebut, 9 orang meninggal dunia, 41 luka berat dan 46 mengalami luka ringan dengan total kerugian ditaksir mencapai Rp59 juta. Korbannya kebanyakan pengendara sepeda motor. 

June RP Tambunan, Direktur Tekhnik PT Jakarta Mega Trans –operator koridor IV dan VI- menuding merosotnya kualitas pelayanan busway disebabkan pengelola busway yang hanya memperhitungkan aspek untung rugi daripada memberikan pelayanan dan kenyamanan pada masyarakat.  “Pengelola selalu mengirit-irit biaya pelayanan dengan menekan anggaran perkilometer yang harus dibayar kepada operator,” kata Tambunan. Karena berhemat pada gilirannya pengguna jasa buswaylah yang dikorbankan. Dia juga menceritakan tak ada lagi kebanggaan dari keberadaan busway karena kondisi angkutan masal ini nyaris mirip dengan kondisi angkutan umum lainnya.

Hal lain yang disoal Tambunan adalah perhatian pemerintah daerah selaku pembuat kebijakan. Di jaman Sutiyoso menjadi gubernur DKI sangat tegas dalam mengambil sikap untuk tetap menjalankan proyek ini meski banyak ditentang. “Dalam kasus warga Pondok Indah dia cepat mengambil keputusan untuk tetap melanjutkan proyek.” Sementara dijaman gubernur Fauzi Bowo hal itu tidak nampak.

Menurut M. Tauchid, Kadis Perhubungan DKI, pembangunan koridor-koridor busway didasarkan kajian yang panjang. Begitu juga dengan pembangunan koridor 7 dan 8. Meski mendapat penolakan dari warga namun pembangunan tetap dilanjutkan. “Ya, itu kan sudah melalui kajian yang panjang dari pihak konsultcan,” kata Tauchid. Menyoal belum beroperasinya beberapa koridor, Tauchid menyebut karena kesepakatan antara pihak pengelola Transjakarta dengan operator sebagai penyedia armada, belum tercapai.

“Saya kecewa sekali. Sayang pencapaian yang sudah didapat selama ini, ” kata mantan Gubenur DKI, Sutiyoso saat ditemui di Sutiyoso Center di bilangan Cikini, Jakarta. Dia menyayangkan soal tersendatnya pengoperasian koridor-koridor yang telah direncanakan. Maklum, dari 15 koridor yang direncanakan baru 7 koridor yang beroperasi. Sutiyoso mengaku heran dengan penyelesaiannya  yang belarut-larut. “Saya sudah memulai, harusnya hal itu dilanjutkan,” tambah Sutiyoso.

Wakil Gubernur DKI  tak menampik sinyalemen menurunnya pelayanan busway setelah 5 tahun beroperasi, Wakil Gubernur DKI Prijanto mengakui bahwa masih banyak yang harus dibenahi untuk meningkatkan pelayananan.  Gagal? “Saya tak mengatakan demikan. Memang masih banyak yang harus dibenahi” ujar Prijanto.

Jangan membandingkan, Transmilenio di Bogota dan Transjakarta, kata Prijanto. “Kita jelas jauh berbeda. Disana jalann saja lebih lebar. Mengenai naik Transjakarta saya rasa tidak mungkin. Karena tingginya jadwal kegiatan saya,” kata Prijanto berlalu saat dibandingkan dengan  Walikota Bogota yang menggunakan Transmilenio sebagai sarana transportasinya. teguh nugroho/kristian ginting/selo cahyo

 




    Tinggalkan Balasan

    Please log in using one of these methods to post your comment:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: