Jaleswari Pramodhawardani; Mempelai Ilmu

 

KORAN JAKARTA, 25 Januari 2009

 

n1472510749_30213090_92Ketika perempuan selalu terseret sebagai korban bagaimana membuat kekuasaan untuk tak “berkelamin” laki-laki? Dani menuturkan perjuangan feminis di Indonesia akan salah besar jika tidak mengikutsertakan laki-laki.

Hujan akhir tahun. “Aku paling suka bau tanah saat hujan pertama kali turun, mengingatkanku masa kecil di Surabaya,” kata Jaleswari Pramodhawardani menatap ke arah pintu dan jendela kaca yang dirambati tetesan air hujan. Mengembun.

Sebelas tahun Dani, panggilan Jaleswari, menghabiskan masa kecilnya di Kota Pahlawan. Aroma tanah itu mengantar dia ke suasana rumah masa kecilnya yang jalannya tak beraspal. Rumah kecil di kompleks TNI Angkatan Laut. Ayahnya seorang marinir, terakhir berpangkat kolonel. “Sejak kecil sampai SMA, hidupku tak pernah lepas dari tangsi militer. Tak hanya ayah, kerabatku banyak tentara,” kata Dani.

Pantas saja namanya mengingatkan pada semboyan TNI AL Jalesveva Jayamahe. Di laut kita berjaya. Kata wari dari ishwari yang artinya putri. Pramodhawardani adalah pendiri Borobudur. Sekalipun ayahnya tentara, Dani dan saudara-saudaranya lebih takut kepada ibu mereka. “Ayah lebih sering bercerita tentang pengalamannya menjadi dosen sejarah sebelum menjadi seorang prajurit,” kata Dani.

Latar belakang keluarga prajurit memengaruhi Dani untuk meneliti soal bisnis militer. RUU TNI yang diundangkan DPR tahun 2004 pada pasal 76 larangan militer berbisnis. Tapi belum ada aturan yang mendukung pengalihan bisnis militer yang menggurita. Padahal pengaturan bisnis TNI ditargetkan selesai tahun ini. Itupun kalau tidak terganggu oleh pemilu yang akan menyita perhatian pemerintah. “Bisnis TNI penyimpangan dari area kompetensi mereka,” kata Dani.

Dari soal bisnis, Dani juga merambah soal militerisme yang lebih subtil. Soal perempuan dan militer, untuk tesis S3-nya. Saat pendekatan militer di Aceh dan Timor-timur, perempuan sering dijadikan obyek, sebagai simbol kekuasaan dan kemenangan. Di Serbia saat perang dengan Bosnia, yang dirusak dulu adalah perempuannya. “Taklukkan perempuannya dulu baru taklukkan tentaranya,” kata Dani.

Menjadi peneliti telah diangankan Dani sejak kuliah. Ceritanya, tahun 1986, Dani ikut Temu Karya Ilmiah yang digelar Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Tema penelitiannya, pemandangan yang saban hari dia lihat di perjalanan dari rumahnya di Cibubur ke kampus FISIP Universitas Tujuh Belas Agustus (Untag) di Jl Cik Ditiro, Jakarta Pusat. Remaja penjaja koran di lampu merah. “Sebenarnya mereka tanggung jawab negara. Sering saya lihat mereka lari diuber-uber polisi. Itulah wajah kemiskinan kota,” kata Dani.

Dani meraih juara. Saat itu dia tahu akan menjadi peneliti. Lulus kuliah, Dani karena itu hanya melamar ke LIPI. Sempat berpikir untuk melamar juga ke media massa sebagai alternatif kedua. “Awalnya gajiku sebagai asisten peneliti sekitar 60 ribu rupiah. Namun inilah duniaku, dan aku menikmatinya.”

Serba Terhimpit

Kini ibunda Widi dan Gendis ini menjadi peneliti madya di LIPI untuk wilayah kajian kemasyarakatan dan kebudayaan. Dia pernah meneliti soal kaum lesbian untuk tesis pascasarjananya. “Banyak yang meneliti soal homoseksual dari sudut pandang heteroseksual, tapi saya justru meneliti bagaimana homoseksual memandang heteroseksual,” kata perempuan bersuara lembut ini. “Sebelum meneliti saya harus membuang persepsi homofobia karena rasa empati saja tak cukup. Ini complicated.”

Dani yang menganggap dirinya sebagai feminis sedang getol mengkaji isu-isu perempuan. Baru saja dia mengajukan proposal penelitian tentang perlindungan terhadap buruh migran perempuan. “Buruh migran perempuan tidak ada yang tidak ditindas. Sudah buruh, perempuan pula,” kata dia.

Persoalan buruh migran belum jadi isu yang populer bagi pemerintah. Padahal setiap pekan ada saja dari mereka dideportasi dari Malaysia. Mereka pahlawan devisa tapi hanya perlakuan sebagai objek penderita yang mereka terima. Saat harus terlunta-lunta di negara orang, tidak ada respon yang cepat dan tegas dari pemerintah. Pemerintah tak berani menarik mereka kalau menderita di luar negeri. “Berbeda dengan Filipina, posisi tawar buruh mereka tinggi. Indonesia tidak punya daya tawar,” kata Dani.

Ketika perempuan selalu terseret sebagai korban bagaimana membuat kekuasaan untuk tak “berkelamin” laki-laki? Dani menuturkan perjuangan feminis di Indonesia akan salah besar jika tidak mengikutsertakan laki-laki. Tapi untuk membangun dunia yang beradab membutuhkan peran perempuan. “Aku tidak pernah benci laki-laki dan sebagian besar temanku itu cowok,” kata Dani yang tak setuju bila forum perempuan terlalu sering bicara soal dukacita dan penderitaan.

Jadi perempuan serba terhimpit. Selain obyek sasaran kekuasaan, juga dijajah bujuk rayu kapitalisme dengan citra kecantikan semu. Cantik adalah seperti yang dikatakan dan terlihat di iklan. Banyak perempuan yang memilih melawan itu dengan tidak berdandan. “Tapi aku merasa diriku bebas, tidak terkooptasi dengan nilai itu. Perempuan bebas adalah yang sadar dengan pilihan-pilihannya termasuk berdandan, ke salon, manicure dan pedicure,” kata Dani.

Bagi Dani bersih itu menyenangkan dan tampil “menyenangkan” bagi dia bukan untuk orang lain. Kalau orang suka, itu hanya dampak samping. “Anak-anakku justru senang dengan penampilanku yang rapi, mereka bilang aku ibu gaul,” kata penyuka parfum Estee Lauder Knowing dan BLV dari Bvlgari ini tertawa.

Meskipun suka ke salon, Dani tidak ingin kebutuhan itu merepotkan dirinya. Perkara berteman dia juga tidak suka memaksakan diri. Temannya banyak tapi berleha-leha bersama mereka adalah kemewahan bagi Dani. Tidak suka clubbing? “Pernah. Tapi aku tak begitu suka suasana berisik,” kata Dani.

Ada tiga cara Dani bersenang-senang, “Ke salon, ke toko buku, dan nonton film,” kata dia.” Dua cara yang lain, menyeruput kopi dan ngemil coklat.

Di akhir pekan, Dani memilih menghabiskan waktu bersama kedua putrinya, sesekali jalan ke luar Jakarta. Dani tak ingin  suatu saat nanti, ketika dia meminta anak-anaknya untuk menemaninya, mereka akan bilang “Kemana saja mama selama ini?” N alfred ginting/ezra sihite

 

 

 

 

 


  1. 1 Perempuan dalam Perang dan Cinta « Aksara dan cakrawala

    […] untuk urusan seminar atau penelitian tapi menari. Ya, menari bagi Dani sudah jadi kebutuhan untuk lepas dari tekanan pekerjaan. “Menari Bedaya Ceki, rasanya setelah itu rileks banget, jadi semangat,” kata […]




Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: