Imlek dan Penghargaan untuk Gesang

KORAN JAKARTA, 25 Januari 2009

gougouHendarmin Susilo memang Tionghoa tulen. Di setiap lantai di kantornya yang berlantai lima, ornamen-ornamen China terasa seolah mengepung. Ada patung-patung dewa; pembawa rezeki, kesuksesan,  panjang umur dan sebagainya. Di lantai lima, ada sebuah ruangan berbentuk persegi lima, berukuran sekitar 2 meter persegi. Hiasannya berwarna merah. Ada gambar dewi-dewi keberuntungan. “Jangan lama-lama ya, Mbak. Saya sudah ditunggu,” kata Hendarmin.

Terlahir dengan nama Su Xian Ming, Hendarmin adalah keturunan pertama warga Tionghoa di Jakarta. Kedua orang tuanya asli dari Tiongkok. Agamanya Tao yang kemudian juga diyakini Hendarmin dan istrinya.  Tapi anak-anaknya dibebaskan memilih keyakinan sesuai dengan hati mereka.

Hal yang sama dilakukan Hendarmin dalam  pekerjaan. Kalaupun kini dua anaknya juga menekuni industri rekaman seperti dirinya, kata Hendarmin itu bukan karena desakannya.

 “Saya nggak mau memaksakan keyakinan saya pada anak-anak,” kata Hendarmin. 

Bagi Hendarmin, Imlek tahun ini akan sama dengan Imlek di tahun-tahun sebelumnya: berkumpul dengan keluarga besar. Karena orang tua dan kakak sulung sudah tidak ada, Hendarmin sebagai anak kedua dari tiga bersaudara menjadi gantinya. Keluarga besar biasanya berkumpul di rumahnya. Pagi hari mereka akan pergi ke Klenteng, pulang dan menyantap kue China, kue yang terbuat dari ketan dan gula Jawa lalu digoreng dengan  tepung dan telor. Soal bagi-bagi angpaoo, Hendarmin mengaku akan menyumbangkan uang untuk sebuah Klenteng di Jalan  Rodham, tak jauh dari Ancol. “Biarlah, mereka yang membagikan.”

Jumat siang lalu, Hendarmin lalu keluar terburu-buru dari kantornya. Dia harus ke Mangga Dua Square. Kehadirannya telah ditunggu-tunggu oleh anak-anak peserta lomba menyanyi lagu-lagu Mandarin. Pria berpenampilan necis itu didaulat menjadi juri. “Saya duluan ya, Mbak,” katanya sebelum  berlalu.

Tak tampak kelelahan pada wajah pria berumur 67 tahun ini. Sebaliknya kelihatan bugar. Wajahnya segar. Kata dia rahasianya, naik-turun tangga di kantornya. “Ini saja olahraganya.”

Di dunia rekaman, nama Hendarmin sudah tak asing lagi. Pria yang menguasai tiga bahasa asing itu sudah banyak mendapat penghargaan dari dalam dan luar negeri. Pada ajang Anugrah Musik Indonesia 2008, dia dianugerahi penghargaan untuk kategori Album Koleksi Abadi Taman Kanak Kanak volume 2. Dari ajang  yang sama pula, Hendarmin membawa pulang piala emas AMI untuk kategori keroncong terbaik oleh Sundari Soekotjo (2002) dan album tradisional terbaik 1998 oleh Toto Salmon.

Soal album khusus untuk Imlek,  Hendarmin sudah membuatnya hingga dua album. Pada perayaan Imlek 2007, dia menggandeng dua orang penyanyi lagu Mandarin, Harry dan Iin. Mereka menyanyikan lagu-lagu yang umum diperdengarkan saat Imlek seperti Gong Xie Gong Xie. Ada juga lagu ciptaan Hendarmin berbahasa Mandarin, yang diadaptasi dari lagu Rasa Sayange, lagu  yang pernah diklaim oleh Malaysia.

Tahun lalu, Hendarmin mengajak Mus Mulyadi dan Sundari Soekotjo untuk menyumbangkan suaranya pada album Imlek. Tidak dalam bahasa Mandarin, melainkan dengan bahasa Indonesia dan Inggris. Mus Mulyadi menyanyikan versi Inggris, Sundari versi Indonesia. “Selama ini hanya Malaysia saja yang punya produk seperti ini,” kata Hendarmin. 

Tapi untuk tahun ini, Hendarmin tidak memproduksi album Imlek. “Kita terkena imbas krisis global, Mbak. Lalu kemarin konsentrasi mengerjakan album 75 tahun Pak Gesang,” jelas Hendarmin yang mengenakan kaos lengan panjang putih berkerah. N rizqy amelia




    Tinggalkan Balasan

    Please log in using one of these methods to post your comment:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: