Hendarmin Susilo, Bisnis, dan Musik Tradisional

KORAN JAKARTA, 25 Januari 2009


gesang1Pengusaha rekaman lagu-lagu  daerah, keroncong dan perjuangan ini, rela menjual CD rekaman lagu-lagunya seharga 5 ribu rupiah, hanya agar orang-orang mau mendengarkan lagu-lagu khas Indonesia.

Bisnis musik adalah sebuah taruhan. Kreativitas penting terus dipacu. Apalagi, musik tradisional khas Indonesia. Keroncong, misalnya. Tak banyak yang berani untuk mengambil risiko menekuni industri musik jenis ini. Dari yang berani itu, Hendarmin Susilo, salah satunya. Dia mengikuti arus perkembangan musik yang cepat itu, agar musik tradisional tak perlu dimuseumkan. Pengusaha Tionghoa ini tak hanya hobi mendengarkan musik tradisional.DiIa bahkan seorang pemacu pertumbuhan industri musik jenis ini. Kegemarannya atas musik tak menyurutkan langkahnya untuk ikut memajukan budaya tradisional.

Melalui PT Gema Nada Pertiwi (GNP), kini usahanya sukses mencipta lagu tradisional yang kreatif. Keroncong dicampur dengan jazz, bossa nova, atau salsa. Musik tradisional yang berubah. Bukan jadul lagi,  namun tak kehilangan rasa pada karakteristiknya. Terakhir dia diketahui sudah membuat DVD karaoke Gesang. Ezra Sihite dan Rizky Amelia dari Koran Jakarta mewawancarai lelaki kelahiran Jakarta 3 Desember 1945 itu, di sela-sela penghargaan The Immortals, Rolling Stones, akhir tahun lalu. Berikut petikannya.

Mengapa dari dulu produksinya lagu keroncong, bukan lagu-lagu lain?

Karena… kebetulan saya suka musik. Segala musik saya suka. Tapi keroncong menurut saya istimewa.  Dari saya masih sekolah tuh. Ceritanya dulu ada Sarinah, 1966. Itu satu-satunya tempat yang menjual long play. Itu  Tetap Segar, satu-satunya perusahaan rekaman keroncong yang bagus. Dari kota saya naik sepeda, saya tahu, mereka sebulan sekali mengeluarkan album baru. Setiap bulan saya ke situ untuk membeli plat keroncong. Setelah itu tak ada lagi. Kebetulan saya mulai masuk ke dunia rekaman. Jadi saya kembangkan saya punya idealisme, cita-cita. Saya liat keroncong dan lagu rakyat kurang sekali. Saya sebagai warga Indonesia terpanggil, mesti melakukan sesuatu di bidang saya. Kalau dibandingkan dengan lagu pop, keuntungannya jangan diomong. Yang penting perusahaan bisa berjalan saya bisa berkarya, bisa kembangkan sesuatu. Cukup.

Lantas perusahaan Anda hidup dari mana?

Di samping itu kan kita juga ada lagu nostalgia. Kita kerja sama dengan perusahaan lain, kita edarkan lagu itu. Terus juga  anak saya sudah bantu. Dia anak muda bikin lagu-lagu yang lebih komersil. Saya sering bercanda begini, anak yang cari duit, bapak yang buang duit gitu.

Apa bedanya keroncong yang bagus dan yang tidak?

Kalau lagu sih relatif. Tapi pertama kita harus cari pemusik keroncong yangg bagus. Kedua penyanyi keroncong yang baus. Penyanyi keroncong banyak tapi yang bagus bisa dihitung. Apalagi yang bisa diterima oleh banyak orang. Ketiga, waktu kita masuk studio rekaman kita garap yang serius. Jadi bukan asal jadi. Kalau perlu kita ulang sampai bagus. Yang terakhir adalah mixing. Itu tahap terakhir yg paling penting dalam proses rekaman. Bagaimana membuat suara itu jadi semuanya bagus dan enak di kuping. Setelah itu masih ada lagi, sampul.  Bagaimana sampulnya bagus dan memberi informasi yang bagus supaya yang mendengar mengerti. Misalnya seperti ini, dari dulu saya pakai suatu lagu saya tanya penciptanya, lagu ini dikaryakan tahun berapa, lalu saya tulis lagu ini dikaryakan tahun beberapa. Jadi pendengar tahu judulnya, tahu penciptanya dan kapan lagu itu dibuat. Bahkan ada di album tertentu saya ceritakan juga sejarahnya. Tujuannya supaya bisa memperkenalkan keroncong  lebih luas, lebih anak muda.

Masih didominasi penyanyi keroncong lama atau baru?

Masih lama, antara lain, mas Mus Mulyadi, Tuti, Sundari Sukoco, Toto Salmon. Tapi saya sudah coba anak-anak muda.  Kasih kesempatan mereka untuk tampil. Mudah-mudahan mereka sukses dengan regenarasi. Anak-anak muda kadang belum duterima masyarakat tapi pelan-pelan mereka pasti bisa, karena kita perlu regenerasi. Kalau keroncong yang tua-tua terus lama-lama nanti habis. Satu hal lagi yang saya perhatikan, keroncong kurang maju   karena lagunya dari dulu itu-itu terus. Belakangan 5-10 tahun ini saya buat keroncong  saya tetapkan  70 persen lagu baru, ciptaan baru, yang lainnya lagu lama yang orang sudah tahu, saya kasih kesempatan bagi pencipta keroncong yang belum sempat lagunya ditampilkan supaya bisa tampil. Jadi ini menjadi suatu usaha supaya keroncong hidup terus. Kalau lagunya itu-itu terus, gak maju-maju  keroncong. Bolak balik Di Bawah Sinar Bulan Purnama dan Haryati. Bosen kan? Lagu baru itu ternyata bisa diterima juga. Kesempatannya lumayan positif, tapi bila dibandingkan dengan lagu-lagu pop ya masih jauh.

Bagaimana dengan soal publikasi?

Sekarang Anda lihat, jangankan lagu keroncong, lagu pop saja susah dipromosikan. Di stasiun televisi mana ada dapat tempat, kalau dulu ada Selecta Pop, sekarang mana ada tempat untuk lagu-lagu khusus, kecuali acara live. Pernah ada acara di TVRI setiap hari senin, Gebyar Keroncong, tapi belakangan berhenti lagi karena kekurangan dana. Kalau untuk mempromosikan keroncong memang berat, tetapi kita coba. Kebetulan  bisa dikatakan saya sudah dikenal oleh penggemar keroncong, sehingga mereka terinspirasi, lalu mengirim SMS, tanya saya. Sehingga saya bikin fans club, saya galang mereka. Melalui inilah saya jadi direct kasi informasi kepada mereka supaya  tahu. Karena  kalau ke toko, keroncong kadang-kadang gak laku. Taruh ada barang, orang cari  gak ada. Sekarang mulai ada suatu gejala, sudah mendapat perhatian, ternyata penggemar keroncong masih banyak.

Gejalanya darimana?

Pengemar mulai coba-coba mencari inovasi, dan toko pun ada permintaan mulai terus menyediakan. Mereka mulai usaha keroncong juga. Bukan saya sombong, kalau gak ada persaingan gak maju. Kalau saya sendirian, lama-lama takabur, gak maju. Contohnya pom bensin, SPBU, itu kan gak ada saingan, tempatnya jelek, pelayanan jelek, nipu, giliran ada yang lain masuk, semuanya jadi bagus, karena ada persaingan. Keroncong pun sama, kami tadinya single fighter tapi kalau ada persaingan keroncong jadi semakin semarak. Jadi saya harapkan ada.

Gema Nada Pertiwi sudah berjalan berapa lama?

Kira-kira sekitar 20 tahun lebih. Dan yang konsisten, ya tahun 80-an. Saya kenal pak Gesang tahun 80, waktu mau rekam lagu Bengawan Solo, saya sengaja ke Solo mencari beliau, saya bayar, mulai dari situ saya kenal dia.

Itu rekaman pertama lagu Begawan Solo?

Bukan saya. Sebelumnya sudah ada. Lagu tersebut diciptakan tahun 40-an. Saya ketemua pak Gesang orangnya low profile, baik, enak. Saya tawari rekaman. Tahun 1982 saya buat rekaman pertama beliau, album pertama. Tahun 1988 rekaman lagi, lalu 1998, terus  2002. Total   ada empat album.

Jumlah anggota fans club sudah berapa?

Sekitar 5.000. Sekarang mengalami perkembangan terus, meningkat. Sistemnya kita melalui SMS. Sekali  kirim, mereka feed back, surat mereka masukkan ke file,  kita balas.  Saya ada departemen khusus yang khusus ngurus itu. Penting, dukungan mereka juga penting.

Kebanyakan orang tua atau muda?

Campur, tapi kebanyakan masih orang tua. Empat puluh tahun ke atas sekitar 70 persen. Sisanya campur. Ada anak kecil juga. Karena kita juga dengan anak-anak. Saya juga prihatin kerena lagu anak-anak sekarang banyak sekali yang tidak untuk dinyanyikan oleh mereka. Jadi saya bikin lagu taman kanak-kanak sudah dua album, dengan Kak Nunu, tahu kan? Sekarang sedang garap album ke-3. Sambutannya lumayan bagus.

Ada kegiatan-kegiatan rutin dari fans club?

Sementara belum, tapi ada rencana begitu, bikin acara-acara rutin, misalnya gathering.

Tahun ini kita ulang tahun perusahaan tanggal 22 Juni, sudah 38 tahun, tahun ini saya akan undang lima  fans. Saya undang khusus untuk datang. Tahun depan mudah-mudahan bisa lebih banyak

Yang paling berat di bisnis Anda, apa?

Dagang pasti ada  untung rugi. Tapi yang paling berat bagi perusahaan rekaman adalah bajakan. Bukan hanya bajakan fisik, yang kita lihat diemper-emperan. Bajakan itu dari internet, komputer, mp3. Mereka-mereka itu jadi gak beli, kita keluarkan, mereka tinggal copy. Tapi belum ada tindakan apa-apa, akhirnya mau gak mau memengaruhi bisnis rekaman ini. Teman-teman juga sudah malas, karena kalau diukur dari kacamata orang-orang dagang, usaha (rekaman) ini sebetulnya sudah tidak menjanjikan, kurang menjanjikan.

Dan Anda jalan terus?

Jalan terus karena idealisme itu. Selama saya masih (hidup), saya rasa. Saya ingat lagu Pak Gesang. Isi lagunya sebelum aku mati. “Sekali ku hidup sekali kumati/aku dibesarkan di bumi pertiwi/akan kutinggalkan karya abadi selama hidupku sebelum aku mati.” Kata-kata ini  luar biasa, jadi kalau kita gak tahu dikira Pak Gesang berfirasat mau mati jadi dia buat lagu sebelum aku mati. Ternyata tidak, di situ dia mengungkapkan cita-citanya. Dia mau tinggalkan karya abadi sebelum mati. Saya anut amanat beliau, saya mau buat sesuatu selama hidup saya, apa yang bisa saya tinggalkan untuk kancah musik Indonesia.

Lagu itu yang jadi titik balik Anda?

Tidak juga. Turning point memang dari awal. Kenapa nama perusahaan saya Gema Nada Pertiwi. Itu sudah mengungkapkan. Nadanya pertiwi kita gemakan. Nama ini diberikan oleh Idris Sardi. Pada waktu saya ambil  perusahaan ini,  saya bersama Idris Sardi. Saya tanya dia apa namanya. Dia kan orang puitis danhebat, bisa nggak bantu kasih nama perusahaan, dia tahu saya punya idealisme. Lalu dia kasih beberapa nama antara lain  Gema Nada Pertiwi ini. Inilah yang menjadi motto perusahaan dan pedoman yang harus kita kerjakan. Mudah-mudahan saya masih bisa berkaya terus dan mudah-mudahan karya saya bisa diterima

Anda mewakili Gesang menemerima penghargaan The Immortals dari Rolling Stones Indonesia. Apa arti penghargaan itu?

Beliau sebetulnya saya harapkan datang sendiri, tapi karena beliau sudah tua, susah jalannya, di Solo lagi, mau gak mau saya wakili. Saya sangat berterima kasih, apalagi majalah Rolling Stone yang buat. Ini majalah anak muda, kok bisa kasih lagu keroncong, yang orang tua itu. Ini berarti masyarakat sekarang sudah mulai lebih terbuka tidak hanya pada hal yang komersil tetapi juga nilainya itu diberikan penghargaan. Dulu kan ada award-award hanya berdasarkan penjualan terbanyak, komersil, bagus gak bagus ga tahu, yang penting penjualan terbanyak

Arti keroncong sendiri bagi Anda?

Banyak orang  bilang keroncong berasal dari Portugis. Itu salah. Kalau dibilang alat musiknya dari pelaut Portugis itu benar, ukulele. Pada waktu itu Portugis masuk ke Indonesia, melaut membawa ukulele. Tapi kemudian oleh bumi putra kita dikembangkan. Dan anehnya, musik ini tidak ada di negara manapun. Di mana-mana tidak ada, termasuk di Portugis sendiri tidak ada, hanya ada di Indonesia. Yang aneh lagi tidak ada satupun alat musik asli Indonesia. Coba bayangkan ukulele, biola, flute, bass, contra bass, cak cup, gitar semua alat barat. Tapi kita punya nenek moyang pemusik zaman dulu bisa begitu hebat. Musik ini menjadi musik Indonesia tapi memakai alat musik luar negeri, kan luar biasa ini.  Maka pak Gesang bilang, ini asli musik Indonesia. Kita gak boleh biarkan, biarpun sudah mati harus kita hidupkan, karena hanya ini yang bisa kita banggakan. Teknologi, gak bisa, perdagangan gak bisa, pariwisata Indonesia banyak yang bagus, tapi di luar negeri juga tak kalah bagus. Indonesia kalau saya katakan seperti perawan desa yang cantik tapi gak pernah dihias,  jadi akhirya jelek.

Tinggal kebudayaan?

Kebudayaan itu mesti kita pertahankan. Itu keuntungan kita. Kalau dari pluralisme ini penting. Karena kebudayaan begitu banyak ragam setiap propinsi lain-lain pakaian, perhiasan, lain bahasa, adat istiadat, lagu pun begitu lain-lain. Itu luar biasa. Karena itu, satu yang bisa kita pertahankan. Kebetulan saya di bidang sini, saya coba usahakan supaya orang tahu. Dan orang bule banyak yang datang ke Indonesia belajar gamelan. Waktu 10 tahun lalu saya ke Singapura saya terperangah, di suatu tempat main gamelan, saya masuk ternyata anak-anak dan remaja Singapura, orang-orang China.  Anak muda di sini,  mana mau main gamelan.

Produk saya juga sama, judulnya saya pakai bahasa Inggris. Ternyata produk saya sebagian besar di  beli oleh turis-turis.

Gema Nada Pertiwi juga memproduksi lagu-lagu daerah?

Ya lagu-lagu daerah, dari Bali, gamelan, gambang kromong, kroncong, terus sampai ke Tapanuli. Semua kita bikin. Kalau bisa sampai 33 propinsi. Sampai saat ini baru 13 propinsi. Masih jauh. Itu salah satu obsesi.

Berapa cd keroncong dijual?

Harga yang biasa saya jual 45 ribu rupiah. Tapi sekarang untuk bisa lebih menjangkau saya turunkan harga menjadi 25 ribu rupih dengan  mutu yang tetap saya jaga. Bukan sembarangan. Bahkan sekarang saya bikin untuk harga 10 ribu rupiah  untuk VCD.

Tidak rugi?

Untungnya tipis sekali. VCD karena bajakan kan 5 ribu rupiah.  Kalau saya jual 5 ribu rupiah, gak mungkin. Modal saya sudah enam ribu rupiah. Bayar pajak PPN segala macam. Agen dapat 3 ribu rupiah, saya hanya dapat 2 ribu rupiah.

Punya cara mengalahkan pembajak?

Bukan mengalahkan, gak mungkin mengalahkan. Supaya mereka yang ingin dengar, ingin lihat yang gak mampu gak  beli bajakan. Karena selisihnya 5 ribu rupiah, malu dong beli bajakan. Supaya mereka beli yang asli. Itu tujuannya.  Itu saja

Katanya peminat keroncong menegah ke bawah? 

Tidak juga. Banyak bapak-bapak juga tingkat atas juga suka. Kalau lihat Gebyar Keroncong,  coba lihat yang datang itu, cuma sekarang acaranya sudah gak ada.

Ada rencana kolaborasi bersama artis-artis pop misalnya?

Belum. Tapi saya sedang menggarap satu album yang agak istimewa. Keroncong saya buat dalam beat latin. Keroncong asli tapi  dengan beat salsa,bossa nova, jazz. Yang menggarapnya mungkin Anda kenal Yan Rusli, yang membuat musik untuk Broery Pesolima.

Penyanyi keroncongnya siapa?

Tuti, Mus , Toto Salmon, Iin Indriani, dan yang lain-lain.

Wah terobosan baru dong.

Kira-kira seperti itu. Tujuannya supaya keroncong menjangkau ke lapisan yang lebih luas. Karena kalau mendengar keroncong yang dulu, mugkin jadi malas. Wah ini salsa, dia mulai suka keroncong. Mudah-mudahan kelak suka keroncong aslinya. Kalau sudah begitu tujuan saya tercapai. Ini eksperimen.

 

 


  1. 1 Imlek dan Penghargaan untuk Gesang « Aksara dan cakrawala

    […] Older » […]




Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: