Porno: Menyidang Susila Lagi

KORAN JAKARTA, 28 Januari 2009

Sidang ketiga susila Teater Gandrik yang tak banyak penonton.

poster-sidang-susila“Zaman Suharto dulu orang sibuk mengumpulkan harta, jaman Susilo orang sibuk menegakkan Susila. Jaman Suharto tak kebagian harta, jaman Susilo saya dijerat Undang-undang Susila.”

Susila Parna penjual mainan anak-anak itu terus menari. Dadanya yang “lebih” terlihat bergoyang-goyang. Di tingkah suara musik yang meriah, perempuan itu terus menari sambil membuka baju. Dia tak sadar ada beberapa orang yang memerhatikannya, mengendap-ngendap hendak menangkapnya karena tarian Susila dianggap melanggar aturan.

Lalu dua petugas menjaring Susila, yang lain mengawasi keadaaan sekeliling. Perempuan itu tak berkutik Jaring-jaring tali membuatnya tak bisa bergerak meskipun Susila terlihat mencoba meronta. Oleh aparat itu Susila lalu dimasukkan ke sel tahanan. Dia persalahkan dan  dituduh mempertontonkan bagian tubuh yang sensual, dadanya yang “lebih” itu. Padahal dia membuka baju karena kepanasan saat menari. 

Dalam persidangan Suslia diperlakukan sebagai pesakitan menjijikkan, dianggap lebih berbahaya dari psikopat. Di dalam tahanan, dia diisolasi karena ditakutkan akan menyebarkan virus  pornografi dan pornoaksi. Bahkan petugas yang menjaganya dipenjara juga berbekal semprotan anti septic guna menghindari tertular virus mengerikan. 

Dalam interogasi Susila ditanya aparat dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak dimengertinya. “Kamu jualan barang-barang porno ya? Barang-barang apa saja yang kamu jual? VCD porno? Majalah porno? Tabloid porno? Kalender porno?” gertak kepala petugas keamanan.  Di akhir gertakannya, aparat yang diperankan Djaduk Ferianto itu berbisik, “Bisa pesan majalah Playboy nggak?”  

“Pak saya itu nggak pernah jual yang kayak gituan, saya itu cuma penjual mainan anak-anak,” jawab Susila.

“Mainan? Mainan seks apa saja yang kamu jual?” 

“Yang saya jual itu mainan anak-anak,” terang Susila.

“Bajigur! Penjual anak-anak? Berapa usia anak-anak yang kamu jual itu?”

Dalam persidangan yang khusus digelar untuk mengadili  Susila, dakwaan jaksa juga tak kalah ngawur. Mainan anak-anak seperti balon, boneka balon ditafsirkan sebagai benda-benda yang penuh dengan asosiasi sensualitas. Misalnya, dua balon yang diletakan pada dada akan membuat orang berpikir bahwa itu adalah payudara perempuan.

Tentu saja Susila dan juga pembelanya, menolak semua argumentasi jaksa. Menurut Susila sebuah balon di mata anak-anak adalah sebuah mainan yang menyenangkan.  “Di otak orang dewasa yang ngeres seperti bu jaksa ini, balon adalah sensasi-sensasi seksualitas,” kata Susila. 

Belakangan Susila mendapatkankan banyak  simpati dan menjadi simbol perlawanan. Dia menjadi pahlawan karena berani menentang Undang-undang Susila, yang baru disahkan.  Atas bujukan Mira,  Susila lalu kabur dari dari penjara. Seluruh pasukan kemananan dikerahkan mencarinya, dan Susila tertangkap tapi dalam keadaan mati.

Sepi Penonton

Sidang Susila terhadap Susila itu, selama tiga sejak 15 Januari lalu digelar di gedung teater Salihara, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Teater Gandrik berada di belakangnya. Ini merupakan Sidang Susila ketiga dari kelompok teater asal Yogyakarta itu, setelah tahun lalu mereka mementaskan lakon yang sama di Taman Ismail Marzuki, Jakarta dan Concert Hall Budaya, Yogyakarta.

Kala itu lakon Sidang Susila merupakan respons terhadap perdebatan RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi yang pembahasannya nyangkut di parlemen. Kondisi dan situasi bila RUU itu disahkan dan diberlakukan itulah yang mencoba dibayangkan oleh Ayu Utami dan Agus Noor saat menulis naskah Sidang Susila. Polemik di masyarakat tentang RUU itu menjadi momen yang pas bagi Sidang Susila, sehingga pertunjukan di TIM kala itu disesaki penonton. Bahkan banyak diantara penonton yang  rela membayar tiket lesehan karena kehabisan tempat duduk.

Dalam pentas ulang di Salihara pekan lalu, Sidang Susila sayangnya tak sanggup mengulang keberhasilan di TIM. Gedung teater Salihara yang berkapasitas 400 tempat duduk hanya terisi setengahnya. Tiket seharga 100 ribu rupiah dan 50 ribu rupiah seolah  tak habis terjual. “Tempat ini kan belum dikenal orang, jadi wajar saja penonton sepi. Di TIM sampai turah-turah penonton”  ujar Butet Kertaredjasa sutradara yang sekaligus berperan sebagai pembela Susila, beralasan.

Tapi Gandrik tetaplah Gandrik yang selalu tancap gas bahkan sejak menit-menit awal. Dengan gaya sampakan, panggung menjadi arena pemain untuk mengelaborasi peran mereka. Penonton seolah tak diberi jedah untuk bernafas karena langsung terpingkal atau meringis miris. Sampakan adalah paradigma teater yang mencairkan pertunjukan dan melepaskan dari kaidah-kaidah teater yang ketat. Lewat cara ini aktor bisa lebih luwes mengolah perannya. Misalnya dengan berkomunikasi dengan penonton atau mengeksplorasi properti dipanggung.

 Lihat saja ketika Susila yang diperankan oleh Susilo Nugroho mengeksplorasi akting di depan sebuah toilet penjara:  dia memaksimalkan toilet sebagai lawan main, sambil duduk termenung di atasnya, berdiri, tiduran atau obral kentut.

 Sama dengan setiap pemunculan Gandrik yang lain, pada Sidang Susila di Salihara, Gandrik tetap energik dengan gerak tubuh, dan dialog-dialog yang dikemas dalam guyonan parikena –menyindir secara halus tanpa menimbulkan kemarahan yang disindir. 

Dengarlah keluhan Susila di penjara. “Zaman Suharto dulu orang sibuk mengumpulkan harta, zaman Susilo orang sibuk menegakkan Susila. Zaman Suharto tak kebagian harta, zaman Susilo saya dijerat Undang-undang Susila.”

Diakhir kisah, Susila yang tak bisa dihadapkan ke persidangan karena telanjur mati, digantikan dengan  sebuah toilet yang diusung ke hadapan hakim untuk diadili. Vonis dijatuhkan dan Undang-undang Susila sukses ditegakkan.

“Dia adalah penjahat moral pertama yang berhasil kita tangkap dengan undang-undang susila ini” kata jaksa yang diperankan Whani Darmawan.

Tampil Sesuai Pesanan

“Pemain tak boleh tertawa, yang boleh tertawa hanya penonton karena mereka bayar dan pemain dibayar.”

Tumbuh bekembang dalam  tradisi Jawa yang kental, Teater Gandrik sepanjang lebih dari seperempat abad perjalanannya memilih kesenian rakyat sebagai basis karya. Lakon-lakon yang disuguhkan merupakan potret realitas keseharian dengan model penyampaian  guyon maton  parikena— menyindir dengan kata-kata yang bermakna ganda. Memaki tanpa tinju atau menertawakan diri sendiri untuk mentertawakan orang lain –biasanya penguasa.

Pengaruh teater rakyat dalam Gandrik inilah yang kadang terlihat aneh dan tak lazim. Penonton seringkali mendapati kejutan-kejutan kecil diluar pakem karena misalnya, di tengah adegan yang serius tiba-tiba pemain berbelok pada kenyataan panggung. Pada Sidang Susila di Salihara, itu juga yang terjadi.

Tokoh hakim yang diperankan oleh Heru Kesawa Murti tak bisa menahan tawa, ketika Susila yang disidang nyeletuk, “Pemain tak boleh tertawa, yang boleh tertawa hanya penonton karena mereka bayar dan pemain dibayar.” Tentu saja, bermain teater dengan pakem semacam itu membuat pemain mempunyai ruang luas berimprovisasi.

Didirikan  di Yogyakarta, 12 September 1983 oleh Heru Kesawa Murti, Susilo Nugroho, alm Saptaria Handayaningtyas dan Jujuk Prabowo, Gandrik awalnya hanya hendak mengikuti festival kesenian rakyat yang diselenggarakan oleh Departemen Penerangan.  Butet Kertaredjasa, Djaduk Ferianto dan Whani Darmawan bergabung dengan Gandrik dua tahun kemudian.

Selain Sidang Susila,  Teater Gandrik juga telah menghasilkan belasan lakon. Antara lain Pasar Seret (1985), Pensiunan, Sinden (1986), Dhemit, Kera-kera, Flu, Isyu (1987) Orde Tabung, Juru Kunci (1988) Upeti, Juragan Abiyoso (1989), Tangis (1990) Proyek, Buruk Muka Cermin Dijual (1992), Brigade Maling (1999) Mas Tom (2002) dan Departemen Borok (2003). Dua diantaranya, pernah dipentaskan di luar negeri:  Brigade Maling di Monash University, Australia, Dhemit dan Orde Tabung dipentaskan di Singapura.

Soal Sidang Susila di Salihara,  Butet mengaku Gandrik diundang oleh pengelola gedung. Menurutnya isu tentang undang-undang pornografi yang diusung dalam Sidang Susila masih tetap relevan untuk terus ditampikan. “Kita akan terus hangatkan isu ini agar tak hilang dan kebetulan pengelola Salihara mengundang kita,” kata  Butet.

Persiapannya kata dia, hanya  dua minggu. “Cerita masih sama, cuma klapretan-nya beda. Bebas saja. Makanya latihan dua minggu beres,” kata Butet. teguh nugroho/adiyanto




    Tinggalkan Balasan

    Please log in using one of these methods to post your comment:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: