Kekalahan Pertama Barry: BlackBerry

KORAN JAKARTA, 18 Januari 2009

barack_obama_01_011Obama akan menjadi Presiden Amerika Serikat pertama yang menggunakan komputer di ruang kerja. Tapi dia akan kalah mempertahankan BlackBerry.

Kalau saja Senator John McCain mengerti Bahasa Indonesia, pada malam final penghitungan suara November lalu Obama tidak mungkin mengirimnya pesan seperti: “Skak! Ksn d lu, Sen.! :)”

Satu digenggam, satu harus dilepas. Satu hari lagi Barrack Obama akan menggenggam jabatan presiden, tapi Blackberry harus dilepas dari genggamannya. Menjadi presiden di negeri yang katanya paling bebas sedunia tidak membuat Obama bebas menyematkan BlackBerry di pinggangnya seperti bertahun-tahun sudah. 

Obama sempat meradang. Tapi dia mulai pasrah mempertahankan alat, yang kata dia, menghubungkan dunia luar dengan dirinya yang akan hidup seperti kepompong. Obama, seperti juga George Bush, karena alasan keamanan dan perlindungan hukum diminta untuk tidak mengirimkan surel selama masa jabatannya. BlackBerry memang andal dalam enkripsi atau sekuriti data, tapi tetap saja surel presiden menjadi incaran hacker atau digunakan untuk merugikan dia.

“Saya tidak tahu apakah akan menang,” kata dia dalam wawancara dengan CNBC dan New York Times pekan lalu. “Tapi saya masih memperjuangkannya.”

Di Amerika berlaku Presidential Records Act yang menyatakan semua korespondensi presiden dan wakil presiden dianggap sebagai rekaman dinas. Kedua pejabat itu bisa dipaksa untuk mengungkap ke publik setiap pesan yang dia kirim selama menjabat. Pesan surel presiden juga bisa menjadi objek subpoena, artinya dia bisa dipaksa oleh pengadilan untuk bersaksi mengenai pesan itu. “Mereka akan mengambil ini (BlackBerry) dari tangan saya. Ini harus diperhatikan, tidak hanya untuk Secret Service, tapi juga para pengacara,” kata Barry, panggilan masa kecil Obama.

November silam, Obama belum terlalu khawatir mengenai soal ini. “Saya dalam proses bernegosiasi dengan Secret Service, pengacara, dan staf … untuk mencari bagaimana saya bisa mendapat informasi di luar 10 atau 12 orang yang ada di sekitar kantor saya di Gedung Putih,” kata Obama dalam wawancara dengan ABC News.

Tapi waktu pelantikan semakin dekat dan usaha Obama sepertinya akan buntu. Tidak akan ada lagi terlihat citra Obama yang sedang memainkan jempol sembari serius membaca layar BlackBerry. Melalui alat itu Obama dapat berkomunikasi langsung dengan teman dan penasehat yang rajin mengirimi dia surel. Berkali-kali Obama mengatakan betapa berarti Blackberry baginya. Bahkan dia disebut mengidap crackberry, kecanduan pada Blackberry yang kira-kira setara dengan kecanduan pada pemakai heroin. Kekhasan BlackBerry adalah “menekan” masuknya data ke ponsel tanpa dikomando oleh pemakai. Informasi baru yang terus masuk akan menstimulasi otak, menyita perhatian, bahkan menjadi candu.

Obama punya semua kriteria umum tentang crackberry, seperti yang dilaporkan New York Times. Pertama, benda itu jarang jauh dari dia, sering terlihat tersemat di sabuk pinggangnya. Kedua, dia sempurna sebagai pengetik dengan jempol. Pesan-pesan yang dia kirimkan selalu teratur, tereja benar dan bebas dari simbol dan emoticon. Kalau saja Senator John McCain mengerti Bahasa Indonesia, pada malam final penghitungan suara November lalu Obama tidak mungkin mengirimnya pesan seperti: “Skak! Ksn d lu, Sen.! :)”

Ketiga, dia menggunakannya tak kenal waktu, terkadang mengirim pesan ke ajudannya jam 3 pagi. Keempat, penasehat harus merampas benda itu bila dia harus konsentrasi. Ketika dia duduk dengan tim penasehat dalam persiapan debat dengan McCain, keluar satu peraturan: Tidak ada BlackBerry. David Axelrod, kepala tim strategi kampanye, meminta semua orang meletakkan ponselnya di tengah meja. Obama yang rajin mengintip BlackBerry-nya, tidak terkecuali.

Kelima, dia selalu saja gegas mengetahui berita terbaru. Obama menerima daftar kliping yang panjang, penasehatnya ingin dia tetap membaca blog dan perkembangan berita sepanjang hari. Ajudannya mengatakan dia sepertinya mendengar tentang semua hal dalam waktu sekejap. Keenam, dia bahkan menonton pertandingan olahraga lewat alat itu. Pada masa kampanye, Obama yang harus mengalami perjalanan yang panjang, kerap mengirimkan pesan seperti “Sox!” ketika Chicago White Sox menang pertandingan.

Obama sepertinya ingin membuat kantor kepresidenan menjadi bagian dari gaya abad ke-21. Ajudannya mengatakan Obama meminta disediakan laptop di meja kerjanya di Oval Office. Dia akan menjadi presiden pertama Amerika yang melakukan itu.

Obama menjalankan kampanye berteknologi yang paling sempurna dalam sejarah. Timnya mengoperasikan media sosial seperti pesan teks, surel dan aplikasi iPhone. Obama tercitrakan sebagai presiden yang ramah teknologi. Dengan program iChat pada Apple Macbook-nya dia bisa berbicara sekaligus melihat ekspresi kedua putrinya ketika sedang ‘terlempar’ jauh dari rumah.

Obama tidak berpisah dengan akun surel pribadinya, alamatnya tidak berubah dalam beberapa tahun. Tapi teman-temannya mengatakan frekuensi dia berkorespondensi berkurang jauh. Sejak resmi menjadi kandidat presiden, Obama resmi pula dihinggapi protokoler.

Satu setengah tahun silam, para Demokrat dan pengamat yang mengkhawatirkan prospek Obama menghadapi Hillary Clinton, masih bisa menghubungi dia secara langsung. Tapi Obama telah mengganti nomor ponselnya, jadi surel adalah jalan yang paling mungkin untuk berkomunikasi langsung dengan dia. “BlackBerry-nya terus-menerus diserbu email,” kata Axelrod. “Orang begitu perhatian memberi saran –tapi banyak di antaranya berbenturan.”

Obama jarang meminta memo dan catatan pertemuan dikirim ke rumah atau kamar hotelnya. Semua itu, menurut ajudannya cukup dikirim ke BlackBerry untuk dia kaji. Jika dokumennya terlalu panjang, dia akan membaca atau meresponnya dari komputer jinjing, terkadang memasukkan perubahan suntingan dalam huruf merah. Pada kampanye puncak, ketika kelelahan di titik tertinggi dan beban kerja meningkat, ajudan mengatakan Obama menghabiskan waktu lebih banyak untuk membaca daripada merespon pesan.

Diana Owen, kepala program Studi Amerika di Georgetown University, mengatakan bila Obama bertahan, semakin besar risiko surelnya disadap. “Mereka bisa saja punya cara paling jitu untuk memproteksi surel dan korespondensi digitalnya, tapi semua hal bisa di-hack,” kata Owen yang mempelajari bagaimana presiden berkomunikasi di era internet. “Harusnya dalam pekerjaan presiden ada orang lain yang mewakili dia mengirim surel.”

Transparansi
Tiga hari sebelum pelantikan jabatan pertamanya, George Bush mengirim pesan kepada 42 teman dan kerabatnya tentang situasinya yang sulit menghadapi Presidential Records Act. “Karena saya tidak mau pembicaraan pribadi saya dilihat dan bisa dibuka untuk umum, satu-satunya cara mengatasinya adalah dengan tidak berkorespondensi di dunia maya,” tulis Bush dari alamat surel lamanya G94B@aol.com. “Saya sedih. Saya menikmati berbicara dengan Anda semua.”

Bush mengalah. Banyak orang Texas menganggap kesalahan awal Bush adalah terlalu mendengarkan orang keamanan yang memaksa dia untuk tidak lagi memakai surel pada 2001. Hasilnya, teman-teman lamanya tidak lagi punya cara untuk menembus presiden yang membawa negeri itu ke bukit horor.

Surel memang tidak akan menyelamatkan Bush dari bencana. Tapi bencana bisa dicegah bila Bush mendengar pesan dari, katakanlah, Brent Scowcroft, penasehat Bush senior, yang mengatakan sangat menentang agresi ke Irak. Scowcroft tidak akan membuat Bush marah karena muncul di Wall Street Journal, bila saja dia bisa berbicara langsung. Upaya Scowcroft untuk bertemu Bush secara pribadi dihadang oleh pengawal Gedung Putih.

Isolasi adalah bahaya utama dari pekerjaan presiden, kata George Reedy, bekas pengawal Lyndon B Johnson dalam buku The Twilight of the Presidency. Surel adalah jalan paling efisien bagi eksekutif karena memberi peluang untuk mengakses dunia luar dalam pengertiannya sendiri.

Ada anggapan alasan mengurangi rekaman presidensial di Amerika sejak 40 tahun lalu adalah karena kecenderungan pelanggaran hukum yang dilakukan presiden. Inilah inti soalnya. Bukan kerahasiaan. Bukan keamanan. Bukan privasi.

Pelajaran utama dari kasus Watergate dulu adalah “jangan mencatat apapun.” Jika itu tidak terbukti, maka Anda di atas hukum. Watergate awalnya seperti peristiwa pencurian biasa di kantor Demokrat, Washington DC pada Juni 1972. Insiden yang terjadi saat kampanye pemilihan presiden itu ternyata dilakukan oleh anggota kelompok pendukung Richard Nixon. Namun pelaku konspirasi tingkat tinggi itu semuanya melakukan aksi tutup mulut.

Pada April 1974, Nixon tunduk kepada tekanan publik dan menerbitkan sebagian catatan pembicaraannya yang direkam sehubungan dengan Watergate. Tiga bulan kemudian Mahkamah Agung memerintahkan Nixon agar menyerahkan semua kaset rekaman pembicaraannya mengenai skandal itu. Pada 9 Agustus Nixon mencatat sejarah karena menjadi satu-satunya presiden Amerika yang mengundurkan diri dari jabatannya.

Bila seorang presiden bisa dipaksa pengadilan untuk mengungkap korespondensi surelnya, akan menjadi peluru untuk tegaknya transparansi. Teknologi komputer dan internet menciptakan jalur audit yang mudah dilacak tentang apa yang pernah dilakukan seseorang. Entah itu dia penulis blog ataupun seorang presiden Amerika Serikat. Di abad internet ini membuat presiden jauh dari ‘jangkauan’ akan semakin sulit secara teknis.

Isolasi
“Anda memberitahu hal-hal tentang administrasi saya yang tidak pernah saya dengar,” kata Dwight Eisenhower merespons pertanyaan dalam konferensi pers.

Eisenhower menunjukkan bagaimana seorang presiden menjadi begitu terisolasi dengan kenyataan. Jangankan kenyataan yang jauh, seputar kantornya sendiri pun dia bisa buta. Seorang presiden perlu mendengar beragam opini. Tidak hanya dari penasehat, pakar, dan survei, tapi juga dari teman-temannya.

Obama pernah mengatakan berhubungan lewat surel sebagai cara melarikan diri dari jerat kekuasaan dan tetap menjalin kontak dengan pemilihnya. “Saya harus mencari setiap kesempatan untuk tujuan itu –cara yang tidak tercatat, cara yang tidak terawasi, cara dimana, orang tidak hanya memuji atau berdiri hormat ketika Anda masuk ke ruangan, cara untuk tetap membumi,” kata Obama.

“Betapa pentingnya bagi dia untuk mendapat informasi yang tersaring dari sumber sebanyak mungkin, saya bisa membayangkan dia akan kehilangan kebebasan itu,” kata Linda Douglas, penasehat senior yang mengiringi Obama semasa kampanye.

Obama cukup terganggu dengan protokoler yang mulai menghinggapinya ketika menjalani masa kampanye. “Salah satu yang akan saya kerjakan adalah bagaimana menembus isolasi –balon yang hadir di sekitar presiden,” kata Obama.

Idola Obama, Abraham Lincoln menyebut ini sebagai “bak opini publik”. Lincoln berkorespondensi dengan orang biasa, dan membukan pintu Gedung Putih bagi siapa saja yang ingin datang. Bak ini menjadi kunci sukses kepemimpinan Lincoln. Pada masanya, Franklin Roosevelt menyetir sendiri mobilnya ke kawasan pinggiran Georgia, bertemu orang dan mendengarkan keluhan mereka. Pendekatan Lincoln dan Roosevelt tak mungkin lagi diterapkan. Dunia sudah terlalu luas. Dan teknologi menyediakan jalan untuk keluar dari kepungan rantai komando dan membantu pemimpin mengetahui – atau setidaknya yang paling mendekati- kenyataan.

Lantas bagaimana dengan presiden Indonesia? Bila Pak Susilo kecanduan BlackBerry dan sering mengirim pesan jam 3 pagi, maka akan semakin dia terlihat dengan pelupuk mata yang berkantung dan agak menghitam. alfred ginting




    Tinggalkan Balasan

    Please log in using one of these methods to post your comment:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: