Well Down Sir

Koran Jakarta, 4 Januari 2008

Karena lelang lukisan belum sehancur harga saham

 

Dibandingkan dengan China, Indonesia masih lebih beruntung karena banyak memiliki kolektor sehingga membuat harga lukisan tetap stabil. Adapun Cina, karena  muncul tiba-tiba dan kemudian heboh, banyak orang kaya baru yang lalu bernafsu ingin membeli untuk investasi.

Biarpun kursi-kursi itu baru separoh terisi, lelang hari itu sudah dimulai. Juru lelang membuka penawaran untuk Prosperity seharga 7 juta rupiah. Seorang peserta mengangkat paddle, juru lelang menaikkan harga 500 ribu rupiah. Begitu seterusnya hingga ada peserta lain mengangkat paddle. Karena tak ada lagi penawarn, juru lelang mengetok palu, kanvas bergambar kucing dan balon-balon kecil itu terjual 8 jutaan rupiah.

Itu hari Minggu, 9 November silam, ketika Cempaka Fine Auction menggelar lelang lukisan di Mercantile Club, BCA, Jakarta. Para tamu yang berminat menjadi peserta harus menyerahkan jaminan kartu kredit atau KTP. Sebagai gantinya mereka akan mendapatkan paddle number, lembaran serat kaca bernomor. Mereka juga mendapatkan katalog lelang yang pada hari itu tersaji 158 gambar lot atau karya yang akan dilelang lengkap dengan judul, nama perupa, ukuran, jenis media, pewarna dan estimasi  rentang harga lukisan.

Tampak beberapa lukisan yang dilelang dipajang di ruang makan, koridor ruang lelang, dan dua ruangan kecil yang bermuara di ruang lelang. Tapi peserta lelang tak hanya hadir di ruang lelang. Cempaka Fine juga menyediakan phone bid, dengan operator 10 orang yang bertindak sebagai mata dan telinga dari phone bidder. Mereka mengangkat paddle, bila peserta di seberang telepon menaikkan penawaran. Persis pialang saham di lantai bursa.

Memasuki lot 80, Smack Down karya Alit Sembodo dijadikan pembuka denga harga 80 juta rupiah. “It’s a reasonable price,” kata juru lelang ketika tidak ada lagi kenaikan harga setelah mencapai angka 320 juta rupiah. Peserta lelang  bergeming. “Last chance 320 millions for good piece from Alit,” kata juru lelang sembari mengangkat palu sejajar kepalanya, menahannya cukup lama untuk menggoda peserta lelang agar mengangkat paddle. Keheningan pecah ketika suara ketukan palu disambut oleh tepuk tangan peserta lelang.

Belum Parah

Memasuki sesi kedua, lelang juga tak banyak kejutan. Lot 139 yang ditunggu-tunggu; Dalai Lama karya Agus Suwage yang pada katalog rentang penawarannya ditulis 500-750 juta rupiah, dibuka dengan harga  440 juta rupiah. Seorang peserta langsung menyalak dengan harga 420 juta lalu beranjak ke 460 juta rupiah dan seterusnya. Suasana agak riuh. Pertarungan sengit terjadi antara bidder di ruangan dengan phone bidder. Sahutan penawaran mulai mereda ketika Dalai Lama mencapai harga  700 juta rupiah. Juru lelang mengetukkan palu.

Tapi pada beberapa lot palu juru lelang tidak terketok alias withdrawl, tak ada peminat atau harga tidak mengancik ke rentang penawaran. Lelang hari itu ditutup. Dari 158 lukisan yang dilelang,  58 lukisan tak laku. “Akhirnya resesi itu juga sampai ke sini kan?” kata seorang peserta yang mengikuti lelang di Mercantile Club itu.

Peserta tadi mungkin saja asal berkomentar, karena menurut Taufik Rahzen booming harga lukisan belum pecah, setidaknya belum pecah terlalu parah. Sukses lelang oleh Cempaka Fine adalah salah satu contohnya. “Kalau dalam lelang 70 persen lukisan terjual dan sisanya withdrawl maka lelang berlangsung sukses,” kata Taufik yang juga menekuni bisnis jual beli lukisan dan hadir pada lelang di Mercantile Club itu.

Seminggu seetelah lelang di Mercantile Club, lelang lukisan oleh Masterpiece Auction House juga berhasil menjual 101 lukisan dari 135 lukisan yang dilelang. Lelang itu dibuka dengan Sambung karya Dewa Ngakan Nyoman Suputra seharga 14 juta rupiah. Dalam hitungan detik, layar monitor menunjukkan angka 25 juta rupiah pada kolom hammer price. Paddle silih berganti terangkat diikuti tunjukan tangan sang juru lelang. Perebutan antara phone bid dan floor bid akhirnya berhenti di angka 28 juta rupiah. ”Well done Sir,” ujar auctioneer kepada pemenang lelang.

Sempat beberapa kali terjadi perebutan harga pada lelang yang dihadiri sekitar 400 orang itu. Sejumlah karya laku terjual hingga 3-4 kali lipat dari harga pembukaan. Antara lain  karya Dipo Andy berjudul Image # 7 (Beckham), yang  berangkat dari 90 juta rupiah dan diketuk palu pada 350 juta rupiah. Juga  karya J. Ariadhitya Pramuhendra seharga 12 juta rupiah terlelang pada 48 juta rupiah, dan Javas Interior karya Ugo Untoro. Bintang lelang siang itu adalah Agus Suwage dan I Nyoman Masriadi: Duhai Cermin Katakan Tak Ada Ganteng di Antara Kita dari Suwage laku 620 juta rupiah dan Masih Panas dari Masriadi terjual 500 juta rupiah.

Tapi harga lelang tertinggi dibukukan Landscape with Church karya almarhum Affandi yang menembus angka  800 juta rupiah. Lukisan Affandi yang lain berjudul Wanita Bijak yang ditawarkan  pada rentang 2,2-2,5 miliar rupiah tak mendapatkan respons peserta, bahkan pada pembukaan harga oleh juru lelang, 1,9 miliar rupiah. Artinya kata Taufik, “Kalau dibandingkan, kehancuran harga saham belakangan ini, belum terjadi pada harga lukisan.”

Kolekdol

Tak lalu tak ada isyarat. Kelesuan lelang lukisan menurut Amir Sidharta tak hanya bisa dilihat dari banyaknya lukisan yang tak laku dijual di balai lelang. Ada tanda lain yaitu harga sebuah lukisan yang semula naik, tiba-tiba menurun. “Kalau ada balai lelang yang menggembar-gemborkan 85-90 persen terjual, saya kira sudah tidak bisa lagi,” kata yang adalah juga kurator dan pemilik balai lelang Sidharta Auctionerr.

Pendapat Amir itu dibenarkan oleh Edwin Rahardjo, pemilik Edwin Gallery. Kata dia sejak resesi di Amerika Serikat menyeret perekonomian di dalam negeri, banyak orang yang mulai mengerem belanja lukisan. Mudah ditebak, harga lukisan pun ikut terkoreksi, meskipun sedikit. “Kalau dulu lukisan apa saja laku, tapi sekarang pembeli lebih memilih,” kata dia.

Hanya jika  dibandingkan dengan China, Indonesia masih lebih beruntung karena banyak memiliki kolektor sehingga membuat harga lukisan tetap stabil. Adapun Cina, karena  muncul tiba-tiba dan kemudian heboh, banyak orang kaya baru yang lalu bernafsu ingin membeli untuk investasi. Mereka celakanya tak benar-benar hendak mengoleksi lukisan melainkan hanya untuk keperluan investasi. “Karena untuk investasi, bila tiba-tiba harganya turun maka mereka juga ramai-ramai check out. Habis mereka,” kata Edwin.

Edwin menjuluki kolektor semacam itu sebagai “kolekdol” dikoleksi terus dijual alias didol dalam bahasa Jawa. Logika mereka sekadar mencari untung dan perilakunya mirip laki-laki plin-plan  yang memutuskan menikah, mengawini perempuan pada malam hari lalu berpikir menceraikannya pagi harinya. Maka kata Edwin, jangan heran jika harga-harga lukisan di sana belakangan juga mulai ambruk.  “Itu termasuk pelukis kita yang kemarin sempat menikmati harga bagus. Yang bohong-bohong sebentar lagi juga habis,” kata Edwin.

Masalahnya, siapa yang mau disalahkan? Balai lelangnya atau pemasok yang bermacam-macam,  kolektor, galeri, seniman, atau art dealer itu?

Inda Citraninda Noerhadi, pemilik galeri Cempaka 6 meyakini ada aktor-aktor intelektual yang bekerja mendongkrak harga lukisan kontemporer Indonesia di balai lelang luar negeri. “Ada jaringan yang selalu bermain di situ. Harga yang berlipat ganda dalam sekejap hanya semacam permainan saja. Karya-karya yang bisa miliaran rupiah itu sebetulnya gambling yang sangat mencelakakan,” kata Inda.

Mestinya menurut dosen arkeologi Universitas Indonesia ini, kualitas lukisan diletakkan oleh kurator. Seorang kurator, kata dia, bukan hanya mencermati karya melainkan mengikuti perkembangan setiap seniman yang bisa dinamis atau konsisten. Tapi yang terjadi kemudian, kurator  tidak hanya mengemas dan mengonsep pameran tapi juga ikut menjual. “Ini yang bahaya. Banyak kurator menjadi semacam humas atau marketing. Hanya sedikit yang murni kurator,” kata Inda.

Saham Habis

Andai saja para perupa juga mendapatkan untung dari praktik semacam itu, masalahnya mungkin lain. Misalnya karena balai lelang memperoleh lukisan langsung dari seniman. Namun kata Inda praktik spekulasi itu sering tak memberikan manfaat langsung bagi para perupa karena lukisan yang masuk ke balai lelang seringkali sudah dimiliki oleh galeri atau kolektor. Maka ketika lukisan itu dijual miliaran rupiah, pelukis tetap tidak bisa menikmati kecuali mungkin hanya namanya yang terangkat.

Dan tempat efektif untuk urusan goreng-menggoreng harga lukisan semacam itu adalah di balai lelang. Caranya dengan menguasai lukisan dari seorang perupa dalam jumlah besar sehingga terjadi kelangkaan semu. Misalnya 50 hingga 100 lukisan. Lukisan-lukisan tadi lantas dipasang di lelang dan  dibeli kembali dengan harga mahal. “Mereka kan hanya rugi di selisih harga, sisanya balik lagi lewat lukisan lain yang harganya jadi likuid,” terang Edwin.

Tak lalu bisnis lukisan benar-benar sepi peminat. Seorang direktur di perusahaan investasi yakin seratus persen bisnis  lukisan lebih aman daripada bermain saham. Dia berhitung profit dari lukisan tidak hanya bisa diraup dari penjualan kembali di balai lelang melainkan bisa juga ditempatkan sebagai aset perusahaan yang bilangan nilainya bisa merangkak naik, atau bahkan meroket. Apalagi investasi di lukisan juga menjanjikan keuntungan yang lumayan. Bahkan bila ingin mendapat keuntungan singkat, ongkos menggoreng harga lukisan jauh lebih murah dibandingkan biaya  menggoreng harga saham. Menurut dia nilai lukisan tak pernah melorot.

Mungkin itu sebabnya, pada saat mendapatkan keuntungan dari permainan saham, banyak pialang yang langsung mengalokasikan sebagian keuntungan untuk membeli lukisan. Apalagi harga lukisan memang tak pernah turun. “Lihat saja situasi bursa sekarang ini. Investasi ke saham bisa habis tapi lukisan tidak habis,” katanya. N Alfred Ginting/Rangga Prakoso/Teguh Nugroho/Ezra Sihite




    Tinggalkan Balasan

    Please log in using one of these methods to post your comment:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: