Tas Hitam dan Puing Kegagalan CIA

 

Koran Jakarta 

11 Januari 2009

Sorot

Badan Intelejen Amerika itu hanya memberikan laporan yang menebak-nebak.

 Seperti yang termaktub dalam buku saya, CIA tak hanya sukses belaka, tetapi juga mengalami kegagalan selama masa kekuasaannya-Tim Weiner.

 Selasa malam 18 November 2008, Otto Malik bergegas ke Pondok Indah Mall, Jakarta Selatan dari rumahnya di kawasan Menteng Jakarta Pusat. Bukan hendak berbelanja pakaian atau makanan, melainkan berniat membeli buku Membongkar Kegagalan CIA karya Tim Weiner, di gerai Gramedia, lantai 2 pusat belanja itu. Informasi yang dia dapat dari Yayat, teman dari anaknya, buku itu menyebut-nyebut nama sang ayah, Adam Malik, sebagai agen CIA. “Kami tidak kebakaran jenggot dalam menanggapi tulisan buku Tim Weiner yang menyatakan ayah kami almarhum H. Adam Malik adalah orangnya CIA,” kata Otto.

 Sekitar seminggu setelah Otto ke Pondok Indah, Membongkar Kegagalan CIA menjadi kontroversi, menimbulkan polemik bahkan hingga kini. Sumber kontroversi adalah pengakuan McAvoy, mantan perwira CIA, yang tercantum pada halaman 330 buku Weiner,  “Saya merekrut dan mengontrol Adam Malik. Dia adalah pejabat Indonesia tertinggi yang pernah kami rekrut.”  “Buku itu menimbulkan salah tafsir bagi pembaca awam. Mereka bisa menarik kesimpulan yang salah terhadap maksud awal penulisnya; CIA penuh kebohongan dan kegagalan,” kata  Otto.

Otto bisa jadi benar tapi buku yang mengaitkan Adam Malik dengan CIA, tak hanya buku Weiner. Beberapa bulan sebelum Membongkar Kegagalan CIA terbit September 2008,  Cold War Shadow yang ditulis oleh  Baskara T Wardaya juga menyebutkan CIA memiliki hubungan dengan Adam Malik.  Baskara memang tak menyebutkan secara  langsung hubungan Adam Malik dengan badan intelejen Amerika itu melainkan hanya menganilisis  berdasarkan sejumlah temuan, di mana  Adam Malik aktif di dalamnya.

Bermula dari Presiden John F Kennedy (1961-1963) yang memerintahkan Jaksa Agung Robert Kennedy bekunjung ke Indonesia untuk membujuk Sukarno agar bersedia duduk di meja perundingan untuk membahas pembebasan Irian Barat (Papua) dengan Belanda. Lewat  utusannya Ellisworth Bunker, pemerintah Kennedy kemudian mempertemukan perwakilan Belanda dengan Menlu Soebandrio, Adam Malik (kala itu menjabat Dubes RI untuk Uni Soviet) dan Jenderal Hidayat,  31 Juli 1962 di Washington. Antara lain karena perundingan itulah, bendera Merah Putih berkibar di Irian Barat pada 1 Januari 1963 berdampingan dengan bendera PBB.

 Pejabat Publik

Namun sebelum terjadi perundingan Indonesia-Belanda, Adam Malik diketahui mengadakan pertemuan dengan Bunker dan bersepakat menyingkirkan Belanda dari Irian Barat. Sebagai imbalan, Washington meminta Adam Malik untuk mencegah agar Indonesia tak menjadi negara komunis, sebuah kondisi yang ditakutkan oleh Amerika pada masa perang dingin. Adam Malik setuju tapi Murba, partainya tak mengetahui hal itu. Hingga di sini, Baskara tak menjelaskan apakah setelah masa perebutan Irian Barat itu, hubungan Adam Malik dengan CIA terus berlanjut  atau tidak.

 Kepada Rusdi Mathari dari Koran Jakarta yang menghubunginya lewat telepon Jumat silam, Baskara yang menetap di Yogyakarta mengaku tak menemukan dokumen soal itu. “Tapi dalam konteks Adam Malik dan CIA, harus dipahami bahwa dia adalah public official yang mewakili kepentingan negara merebut Irian Barat. Bukan Adam Malik sebagai pribadi,” kata Baskara.

Buku lain yang juga mengaitkan Adam Malik dengan kegiatan inetelejen adalah Dalih Pembunuhan Massal yang ditulis oleh John Roosa. Buku yang terbit 2006 itu menyatakan, Adam Malik pernah mengadakan serangkaian pertemuan rahasia dengan Duta Besar Amerika untuk Indonesia, Marshall Green.  Sebanyak 14 alat komunikasi  walkie-talkie yang ada di kedutaan untuk komunikasi darurat diserahkan kepada Suharto. Ini cara untuk melempangkan jalan penumpasan PKI dan cara bagi CIA untuk memonitor apa yang dikerjakan.

Suharto dan Komite Aksi Pengganyangan (Kap)-Gestapu di mana Adam Malik duduk sebagai wakil, disebut layak mendapat bantuan Amerika. Tak lupa pihak militer juga diberikan bantuan obat-obatan 500 ribu dolar AS agar tidak dicurigai dan diupayakan untuk dijual kembali. Sementara Adam Malik diberi 50 juta rupiah atau 10 ribu dolar, untuk membiayai gerakan Kap-Gestapu itu, persis seperti yang diungkap belakangan oleh Weiner.

Ketika itu yakin bahwa CIA sedang bersiasat menentangnya, terutama sejak kedatangan Green sebagai duta besar pada  Juli 1965. Sebelum di Indonesia, Green adalah Duta Besar Amerika untuk Korea Selatan 1962 ketika Jenderal Park Chung Hee melancarkan kup terhadap pemerintahan sipil Chang Myon dan menggantikannya dengan pemerintahan junta militer. Kaum loyalis Sukarno di kalangan militer sudah menduga kemungkinan kup dan melawan jenderal-jenderal AD sayap kanan. CIA memandang hal ini sebagai “potret yang ganjil.”

 Cukupkah karena itu, Adam Malik lalu disebut sebagai agen CIA, seperti diungkap oleh Weiner? Ramzy Tadjuddin, bekas Ketua Persatuan Mahasiswa Indonesia di Amerika Serikat atau Permias (1968-1973) menganggap, siapapun yang pernah bertemu dengan CIA adalah agennya: bisa memberikan informasi apapun yang dibutuhkan CIA.

 Menurutnya, jika benar Adam Malik agen CIA, posisi tepatnya masuk dalam pengertian “agen” sebagai fellow traveller, rekan seperjalanan. Artinya, agen tersebut memunyai kesamaan tujuan, visi, dan misi. Dalam konteks ini menurut Ramzy, Suharto juga bisa dikatakan sebagai agen CIA, karena Suharto juga memiliki tujuan yang sama dengan CIA dalam menghancurkan PKI.

Pendapat Ramzy juga dibenarkan oleh anggota Presidium Permias 1990, Andreas Dewatmoko. Kata dia buku Weiner tak sepenuhnya bohong. “Ada kemungkinan bahwa itu benar,” kata Andreas.

 Menunggang Ombak

Keraguan justru datang dari sejarawan Asvi Warman Adam. McAvoy orang yang diwawancara sesudah puluhan tahun G 30 S terjadi,  mendapatkan kesempatan kedua. Puluhan tahun lalu dia berperan biasa saja tapi saat diwawancarai dia mengaku hebat. Karena kesempatan kedua itulah, kemungkinan McAvoy membesar-besarkan peran dirinya yang berhasil dalam merekrut orang. Sejarah lisan semacam itu, menurut Asvi perlu diwaspadai. “Tidak berarti Adam Malik itu CIA, karena ia berperan sebagai orang penting yang cerdik,” kata Asvi.

Weiner pada halaman tentang Indonesia dan Adam Malik itu, sayangnya justru seolah menjelaskan keberhasilan CIA merekrut agen-agen di Indonesia, lalu menumpas PKI, dan menggulingkan Presiden Soekarno. Padahal secara  keseluruhan, buku Weiner sebetulnya dimaksudkan untuk membongkar keringkihan CIA dan operasinya, termasuk di Indonesia. “Kualitas CIA tak sebesar namanya yang sering identik dengan konspirasi peristiwa-peristiwa penting,” kata Weiner.

Tak ada juga pengakuan, meskipun peristiwa berdarah itu  sudah lewat dari 40 tahun. Dalam buku Weiner, para pejabat penting CIA seperti Green hanya mengaku, “Kami tidak menciptakan ombak-ombak itu. Kami hanya menunggangi ombak-ombak itu ke pantai.”

Pengakuan Green tadi adalah jawabannya saat diperiksa oleh  Senator J William Fulbright dari Arkansas yang mengetuai Komite Hubungan Luar Negeri Senat. Fulbright memeriksa Green perihal kemungkinan keterlibatan CIA dan Amerika  dalam upaya kap itu. Meskipun Fulbright tegas menelisik, “Jadi Anda tidak tahu apakah CIA terlibat atau tidak,” Green tetap menjawab, “Tidak, Pak.”

 Audrey R Kahin dan George McT Kahin, yang meneliti era kebijakan luar negeri Amerika atas Indonesia pada masa 1953-1961 menyebutkan, kebijakan luar negeri Amerika terhadap Indonesia sangat dipengaruhi oleh “kepercayaan yang amat besar yang mereka berikan kepada laporan CIA yang sering kali tendensius dan tidak jarang mengandung banyak kesalahan.” Orang-orang seperti Presiden Dwight Eisenhower Menlu John Foster Dulles, dan Diresktur CIA Allen W Dulles hanya dan lebih percaya kepada informasi dan penafsiran CIA, tinimbang  warta-warta yang secara umum lebih benar dan lebih bisa dipercaya dari duta besar dan staf mereka di Jakarta, termasuk dari aase mliter mereka.

 Weiner menyebut semua operasi CIA semacam itu sebagai “tas hitam”, sebuah  operasi rahasia, klandestin, dan tersembunyi di berbagai belahan dunia. Dan di banyak negara itu pula, “tas hitam” CIA yang klandestin itu dijalankan tanpa meminta pertimbangan dari Kedubes Amerika atau bahkan dari Gedung Putih.  Presiden George W Bush yang sebentar lagi harus angkat k2505-tim-weiner1aki dari Gedung Putih pernah mengatakan, CIA hanya memberikan laporan yang menebak-nebak, termasuk laporan tentang adanya senjata pembunuh massal di Irak, yang kemudian tidak terbukti tapi telanjur memakan jutaan nyawa manusia.

 Di Indonesia, “tas hitam” yang disebut Weiner itu kini menjadi kontroversi, karena nama Adam Malik, mantan wakil presiden, duta besar, dan pahlawan disebut-sebut di dalamnya. “Jika dituntut, saya yakin Tim Weiner akan membela diri ‘baca dong judulnya, yang saya tulis bahwa orang CIA yang bohong, saya kan membongkar kebohongan CIA’ kemudian dia akan bilang ‘Anda salah baca’,” kata Otto. N jacques umam/agus triyono/ezra sihite/ kristian ginting/rangga prakoso

 

 

 

 

 

 




    Tinggalkan Balasan

    Please log in using one of these methods to post your comment:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: