Republik Petruk: Bukan Pentas Semusim

 

Koran Jakarta 

11 Januari 2009

 

Teater Koma terus bermain lewat teater, karena  hal  itu diyakini sebagai salah satu cara mengasah akal sehat, pekerti, dan hati nurani.

 petruk-dadi-ratuDidirikan pasangan suami istri Nano Riantiarno dan Ratna Riantiarno pada 1977, paguyuban seni pertujukan ini tanpa lelah memotret epos kehidupan manusia dan mengangkatnya ke atas panggung. Meski para pelaku seninya juga kerap ngos-ngosan di tengah alur jaman, teater ini tetap mampu bertahan.

 Bahwa dalam setiap pertunjukannya, pentas Teater Koma selalu dipadati pengunjung setia, itu memang tak bisa dipungkiri. Tapi kata Ratna Riantiarno, penonton yang penuh itu tak selalu identik dengan honor besar, apalagi jika honor itu harus menghidupi ongkos hidup selama setahun.

 “Orang lihat pertunjukan kami 15 hari, sukses. Penonton penuh disangkanya kita banyak duit. Padahal, selama tiga tahun berturut-turut kita hanya pentas sekali setahun. Apa iya sekali pentas itu bisa menghidupi satu tahun? Kan nggak mungkin,’’ kata Ratna.

 Ditemui dua hari menjelang tampil di Republik Petruk di Graha Bhakti Budaya, TIM, Ratna menuturkan para anggota teaternya sejak awal sadar, pertunjukan Teater Koma adalah proyek idealis. Sponsor boleh saja membiayai pementasan, tapi tak bisa ikut campur tangan.

 “Apa boleh buat, walau kita butuh duit tapi itu tidak bisa kita lakukan. Ada beberapa sposor memang mengerti hal itu tapi kadang tidak. Itu yang membuat kita tidak bisa maksimal menggaet sponsor.”

 Lalu uang yang diperoleh dari sponsor, dan dari penjualan tiket dikelola transparan termasuk untuk penggunaannya. Dan untuk honor, setiap pemain hanya menerima 3-4 juta rupiah sekali pentas. Tergantung senioritas. Selebihnya, setiap anggota mencari penghidupan di tempat kerja masing-masing.

  “Anggota kami itu ada yang sudah ikut sejak Teater Koma berdiri lebih dari 30 tahun. Jadi kondisi seperti ini sudah diketahui oleh mereka. Jadi kita itu tidak cari makan di Teater Koma,” kata Ratna.

 Dia bercerita, anggotanya ada yang berstatus mahasiswa, wartawan, hingga pegawai kantoran. Nano, suami Ratna, dulunya juga wartawan di beberapa media massa, termasuk majalah Tempo. Mereka semua berkumpul di Teater Koma, karena yang dicari adalah kepuasan batin. “Yang kita fasilitasi adalah tempat latihan, ada makan, ada minum. Untuk ongkos mereka biaya sendiri,” terang Ratna.

 Republik Petruk di TIM merupakan pementasan Teater Koma yang ke-114 selama kiprah mereka, baik di televisi maupun panggung. Rumah Kertas, Maaf.Maaf.Maaf., J.J, Kontes 1980, Trilogi OPERA KECOA (Bom Waktu, Opera Kecoa, Opera Julini), Opera Primadona, Sampek Engtay, Republik Bagong, Republik Togog, dan Banci Gugat.

 Sebagian besar dari  karya itu adalah kreasi Nano Rintiarno, suami Ratna, meskipun ada pula beberapa karya dramawan mancanegara yang diadaptasi. Antara lain  The Comedy of Error dan Romeo Juliet karya William Shakespeare, Woyzeck (Georg Buchner), The Three Penny Opera dan The Good Person of Shechzwan (Bertolt Brecht), Orang Kaya Baru-Kena Tipu-Doea Dara-Si Bakil-Tartuffe (Moliere), Women in Parliament (Aristophanes), Animal Farm (George Orwell), dan  What About Leonardo/Kenapa Leonardo? (Evald Flisar) yang dipentaskan tahun lalu.    

 Sebagai kelompok teater independen dan kerap mengkritisi situasi-kondisi sosial-politik di Tanah Air, Teater Koma pernah dilarang pentas serta pencekalan dari pihak berwenang, terutama di era Orde Baru. Namun, Nano dan kawan-kawan tak pernah jera, karena teater bukanlah pentas semusim yang bisa layu oleh kekuasaan.  Mereka yakin teater bisa menjadi salah satu jembatan menuju suatu keseimbangan batin, mengasah akal, dan jalan bagi terciptanya kebahagiaan yang manusiawi. N adiyanto/teguh nugroho.

  




    Tinggalkan Balasan

    Please log in using one of these methods to post your comment:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: