Pleidoi Sang Iblis (Cak Nun)

 

Koran Jakarta 4 Januari 2008

Pertunjukan drama Teater Dinasti  yang pertama setelah vakum sekitar 20 tahun.

 

Oleh Rizky Amelia

Akulah yang dulu memimpin para malaikat dan semua makhluk lainnya bertamasya ke alam semesta raya selama 200 juta tahun.

 joker-evil-ba07878Tembang lirih yang dilantunkan seorang perempuan dan anak-anak mengalun di antara bunyi derap langkah penonton yang memasuki gedung pertunjukan. Suara itu berasal dari piranti perekam. Saat lampu sorot mengarah ke sebelah kanan panggung, seorang wanita berjilbab dan enam bocah cilik tampak mendendangkan lagu sembari berjalan menuju panggung. Tiba di atas di panggung, mereka berhenti bernyanyi. Mereka bercakap-cakap tentang seni pertunjukan teater. Ada seorang bocah yang menanyakan mengapa di atas panggung teater orang bertingkah aneh dan berbicara sendiri? Si wanita mencoba menerangkan tentang seni teater kepada si bocah. Perbicangan ringan itulah, yang  menjadi penghantar  pementasan Tikungan Iblis, lakon teater karya budayawan Emha Ainun Najib, yang tampil di TIM 29-30 Desember silam.

 Tidur panjang selama hampir 20 tahun,  Tikungan Iblis bisa dibilang menjadi momentum kebangkitan Teater Dinasti. Semacam ajang reuni dari para anggotanya, mungkin. Bermula dari sebuah komunitas kreatif di Jogjakarta, dalam setiap pementasan kelompok teater ini selalu mengusung sisi moral budaya bahkan politik. Tikungan Iblis termasuk salah satunya.

 Pementasan ini berangkat dari tesis Emha Ainun Nadjib dan Sabrang Mowo Damar Panuluh atau lebih dikenal dengan Noe Letto, tentang iblis. Ide ini kemudian didiskusikan bersama anggota Teater Dinasti lainnya selama hampir sebulan. Oleh Cak Nun, panggilan akrab Emha lantas dikemas menjadi tulisan, dan kemudian dihadirkan dalam bentuk drama Tikungan Iblis.

 Ini pertunjukan drama yang mengangkat tiga lakon utama: Iblis, Garuda, dan Manusia Indonesia. Iblis, yang sesungguhnya adalah malaikat dengan peran antagonis di muka bumi pada pentas di TIM itu menggugat manusia, makhluk yang selalu mengambinghitamkan iblis atas segala keburukan yang menimpa dirinya. “Kami memberi iblis kesempatan untuk pledoi. Mempertanyakan mengapa ia selalu dipersalahkan,” ujar Noe yang sudah terlibat dalam Teater Dinasti sejak berumur lima tahun.

 Burung Garuda yang sekadar menjadi lambang negara Indonesia,  melalui proses yang panjang pada lakon ini telah berubah menjadi burung emprit, burung kecil pemakan biji padi. Perubahan garuda menjadi emprit merupakan simbolisasi kelunturan dan kemunduran (degradasi) semangat kebangsaan. Garuda tak seperkasa dahulu kala. Tak lagi disegani bangsa lain, justru berada di bawah kontrol negara adikuasa. Garuda gagah nan perkasa menciut jadi emprit. Kecil, tak berdaya. “Begitulah kira-kira potret bangsa kita saat ini,” ujar Toto Rahardjo, salah satu tim sutradara.

 Malaikat Antagonis

“Manusia Indonesia sekarang sudah jadi tapel!” tandas Toto. Yang dimaksud Tapel oleh Toto adalah manusia yang hanya memunyai raga. Manusia yang enggan berpikir, dan hanya mengandalkan insting belaka. “Ibaratnya, kalau manusia itu handphone, maka Manusia Indonesia hanya tinggal casing-nya saja!” kata Toto.

 Ketiga subjek itu, Iblis, Garuda dan Manusia Indonesia saling berkolerasi merefleksikan keadaan sosial, politik, dan spiritual masyarakat kini. Manusia yang telah mengalami kemunduran baik dalam pemikiran maupun prilaku kemudian berimbas pada kemerosotan mental bangsa sehingga dipandang sebelah mata oleh negara tetangga. Lalu ketika semua itu terjadi, manusia kembali melimpahkan kesalahan dan keburukan itu pada iblis.

 Bermula pada pembicaraan antara seorang petinggi kampung dengan para bawahannya mengenai kemungkinan batalnya rencana pementasan teater. Enam lelaki yang masing-masing mengenakan beskap-pakaian tradisional Jawa berupa jas yang ekornya melengkung ke atas- berwarna-warni. Adegan pembuka ini agak membosankan dan para pemain berperan dengan kaku. Loncatan alur jauh ke masa lalu, peristiwa kelahiran iblis itu— memperberat cerita awal. Belum lagi, adegan dialog enam orang yang memusingkan itu dan animasi yang mengilustrasikan kelahiran iblis.

 Lalu seorang manusia plontos terbungkus kain meronta-ronta di atas undakan balok kayu. Ketika bungkus kain itu tak lagi mengekang pergerakan tubuhnya, Smarabhumi sang iblis itu telah lahir. Gelap, si iblis menghilang. Dia digantikan oleh dua orang berambut gondrong. Itulah adegan perkelahian dua putra kembar Adam, Khabil dan Qabil yang berujung pada kematian Qabil: Ketamakan, rasa ingin menguasai hingga membunuh sudah ada sejak penghuni pertama bumi ini.

 Tiga tokoh baru mucul saat mendapati Qabil terbaring tak bernyawa. Mereka memakai pakaian berjubah cerah (putih, merah, dan jingga). Sebuah sublimasi para malaikat: Maula Hajarala, Maula Hasarapala, dan Maula Jabarala. Entah siapa menjadi perwujudan malaikat apa? Mungkin hanya satu yang bisa diidentifikasi. Sosok berbaju jingga bisa jadi adalah Israfil, malaikat di hari pembalasan, peniup sangkakala, pertanda akhir zaman. Ia digambarkan sebagai Maula bersenjatakan terompet emas besar.

 Malaikat yang di-casting baik bertemu dengan malaikat antagonis alias iblis. Dia tidak bertanduk, tak juga bergigi taring, seperti gambaran manusia tentang iblis. Sebaliknya wajah iblis malah tidak menyeramkan dengan tingkah yang tidak terduga. Kadang penuh amarah, namun tak jarang penuh canda tawa apalagi ketika “melayani” ceramah para malaikat. Di pementasan ini, iblis digambarkan sebagai golongan malaikat. Buktinya pakaian yang ia kenakan serupa dengan para malaikat. Hanya warnanya saja yang abu-abu dan ada gemerincing bel yang melingkari tubuhnya.

 Di kalangan pesantren, iblis yang malaikat itu dikenal sebagai malaikat Azazil. Dalam hikayatnya, Azazil adalah penghulu para malaikat. Doanya selalu dikabulkan oleh Tuhan. Hidupnya penuh dengan kebaktian kepada sang Khalik.  Para malaikat banyak yang datang kepada Azazil untuk berbagai keperluan. Minta didoakan, atau sekadar untuk berdiskusi.

 Kapak Zonder A

Karena merupakan penghulu malaikat, Azazil alias iblis selalu bisa mematahkan segala argumen yang dilontarkan para malaikat. Seperti pada kasus kematian Qabil. Malaikat mengatakan sebab kematian Qabil adalah Iblis yang merasuki Qabil untuk membunuh saudara sedarah dan sekandungnya. Dituduh seperti itu, iblis berkilah tentu. “Aku hanya memberikan wacana logika. Tak pernah aku memaksa manusia untuk berbuat demikian,” ujar Smarabhumi yang diperankan oleh Joko Kamto.

 Lalu lihatlah Iblis juga dapat dengan mudah memengaruhi manusia bumi khususnya Indonesia. Manusia yang oleh Toto disebut sebagai tapel itu, yang dengan mudah berpihak ke iblis hanya karena  iming-iming makanan dan sebagainya. Demikian itulah yang terjadi di Indonesia. Dijanjikan sesuatu yang mewah hingga rela menjual martabat bangsa. Burung garuda bertransformasi menjadi burung emprit karena ulah para manusia tapel.

 Prawito, petinggi kampung diberi tahu oleh keempat orang muridnya bahwa  masyarakat telah menjadi pengikut iblis. Prawidi, salah seorang murid Prawito sempat dirasuki iblis. Prawito hanya menganggap apa yang diutarakan muridnya sebagai klenik. “Jangan percaya klenik!” imbau Prawito. Namun, diam-diam Prawito justru melakoni klenik dengan percaya kekuatan gaib pada sebilah keris.

 Suatu ketika, Prawito mendapat titipan keris dari orang penting di negeri Garuda, sebuah keris sakti mandraguna yang bisa mendatangkan kemakmuran dan kekayaan. Itulah Keris Dapur. Ini sebetulnya hanya plesetan untuk menyebut DPR, jika huruf A dan U pada kata “dapur” dihilangkan. Prawito menyebut hal itu dengan lirih “Huruf A dan U-nya dihilangkan! DPR!”

 Prawito juga menjelaskan keris terakhir yang dinamakan Keris Kapak, plesetan untuk menyindir Komisi Pemberantasan Korupsi alias KPK. “Keris ini suka tebar pesona sehingga pamornya kini sedang naik,” jelas Prawito. “Keris Kapak zonder (bahasa Belanda yang berarti tanpa) A!” lanjut Prawito

 Elemen lelucon lainnya yang juga ditampilka adalah kehadiran video yang berisi parodi iklan layanan pesan singkat atau SMS premium yang belakangan marak ditayangkan  televisi.  Misalnya iklan sms premium dari seorang para normal mengenai korelasi weton dengan jenis pekerjaan. Juga iklan sms premium mesra milik Jullia Perez yang diparodikan oleh lelaki tua yang berdandan bak perempuan, mengumbar kata-kata mesra dengan suara yang endesah. Pada beberapa adegan terakhir, iblis diceritakan mendapat banyak kesempatan untuk bermonolog. Smarnabhumi bernarasi tentang banyak hal, seperti kisah kehadirannya di bumi.

 “Aku Smarabhumi. Akulah yang dulu memimpin para malaikat dan semua makhluk lainnya bertamasya ke alam semesta raya selama 200 juta tahun. Hingga pada suatu saat aku persilahkan mereka pulang ke surga. Karena aku memutuskan untuk menetap di bumi. Akulah penemu indahnya bumi. Bumilah  titik di alam semesta yang paling menggairahkan hidup. Aku kagum kepada nikmatnya pergantian siang dan malam!” cerita Iblis sembari melayangkan cambukan ke arah para manusia tapel.

 Lalu Iblis melakukan pembelaan terhadap semua tudingan yang ditujukan kepadanya. Bahwa dia menjadi kambing hitam atas segala penyimpangan yang dilakukan manusia.

 “Tanah bumi menghampar. Lautnya menggeram terus menerus dengan gelombangnya. Hutannya yang sangat misteri dan semak-semak kreativitas. Sungainya berliku-liku bagai keruwetan ombak manusia, kecengengan hati manusia. Tapi kucintai mereka, kudekap bagai kekasihku sendiri. Kupacu gairah mereka.”

 Tikungan iblis menjadi semacam media penyadaran sosial tentang apa yang terjadi di bumi Indonesia: Mengapa iblis selalu dipersalahkan atas segala masalah di negeri ini? Mengapa tidak diri kita sendiri atau mungkin Tuhan? Padahal Iblis, yang oleh manusia dicap sumber keburukan dan kejahatan, pada akhirnya tetap bersujud menghamba pada Sang Pencipta. Memohon ampun karena telah memberikan kesempatan pada manusia untuk memanfaat dirinya.

 “Hamba mohon ampun, ya Allah!” kata iblis bersujud. Jubah  abu-abu yang dikenakan iblis lalu berubah menjadi putih. N

 




    Tinggalkan Balasan

    Please log in using one of these methods to post your comment:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: