Nasib Seni Rupa, Kini

Halaman 5 edisi Minggu

4 Januari 2009

Sorot

 

Tulisan  4

 

Pengekoran akan membunuh karya seni. Juga membunuh kebebasan wacana.

 

Pameran mestinya menjadi semacam pesta budaya yang memperlihatkan karya-karya terbaik. Lalu masyarakat tak hanya mengerti mengapa harga lukisan mahal, tapi juga estetika seninya.

 

Ketika harga lukisan yang tak masuk akal tengah menjadi gossip di penghujung 90-an, Erica Hestu Wahyuni membuat kejutan: lukisannya laku hingga ratusan juta rupiah. Perupa dari Yogyakarta itu dielu-elukan oleh pasar seni rupa. Goresan tanganya di atas kanvas yang naïf bercorak goresan tangan kanak-kanak yang buta perspektif dan proporsi laku di mana-mana. Belakangan pasar menunjukkan watak aslinya: tak punya loyalitas.

 Erica yang pernah memelihara gajah – hewan yang kerap menjadi inspirasi lukisannya— di rumahnya di Pondok Indah, Jakarta, ikut terempas. Namanya kini jarang terdengar. Sempat pada 2004 dia mengadakan pameran, oleh-oleh goresan tangannya selama mengecap tinggal di Rusia dan Cina. Namun hingga saat ini belum ada tanda-tanda pengakuan kembali pasar pada karya Erica.

 Apa yang dialami Erica menunjukkan seni rupa kontemporer tetaplah ajang investasi spekulatif. Pembuat karya yang masih hidup misalnya, merespons permintaan yang membuncah dengan melemparkan sampah dalam jumlah banyak. Ketika masa keemasan si perupa meredup bahkan tenggelam maka selesai pulalah permainan harga untuk karya perupa yang bersangkutan. “Kalau semua kolektor sudah memiliki lukisan dari perupa tersebut maka permintaan pasar akan berkurang dan bisa saja lukisan tersebut sudah tidak laku lagi,” kata Taufik Rahzen, budayawan yang juga menjadi kolektor lukisan.

 Itulah yang oleh Taufik disebut siklus dua tahunan. Selama periode dua tahun itu banyak orang memburu karya seniman tertentu. Sesudahnya “selesai.” Jika mengikuti alur teori ini, maka masa keemasan I Nyoman Masriadi mestinya nama dia sudah meredup atau setidaknya sedang menuju ke sana, ke keredupan itu. Nyatanya yang terjadi tak seperti itu. Mungkin  belum terjadi.

 Selama dua tahun terakhir Masriadi dikenal sebagai nama yang paling melesat di jagad seni komtemporer Indonesia. Pada 2006 pada sebuah lelang, lukisan Masriadi ditawarkan 1.088 dolar AS dan tak ada yang membeli. Sekarang, dari deretan lukisan kontemporer termahal yang terlelang di luar negeri  95 persen adalah karya dari pelukis yang tinggal di Bantul, Yogyakarta itu.

 Mencermati perjalanan kesenirupaan Masriadi memang menarik. Sepanjang karirnya, dia belum pernah menggelar pameran tunggal, tak juga pameran tunggal di Galeri Nasional, Jakarta. Sebaliknya seolah ingin melupakan kelaziman itu, Masriadi malah berpameran tunggal di luar negeri. Tepatnya di Singapore Art Museum, Agustus hingga November 2008. Judul pamerannya “Black is My Last Weapon.”

 Bukan tanpa alasan Masriadi memilih berpameran di Singapura. Ke negeri itulah tepatnya ke Gajah Gallery Masriadi menyerahkan semua hasil karyanya dua tahun terakhir. Galeri milik Jasdeep Sandhu itulah yang lalu menentukan harga dan mengatur penjualan karya Masriadi, yang usia karir seni rupanya masih 10 tahunan.

 Dalam karyanya  Masriadi memang cenderung figuratif. Temanya mengolok-olok diri sendiri dan lingkungannya yang hegemonik. Dia juga  menolak terseret arus besar abstrak ekspresionisme yang menghanyutkan seniman Bali. Sebaliknya dia mengolah acuan visual dari budaya massa seperti komik dan permainan komputer, yang merupakan hobinya. Sesekali ditambahkan pula kritik dan parodi, meskipun harus diakui selera humornya agak sulit dicerna.

 Dalam The Man With The Short Sword, Masriadi melukiskan figur laki-laki hanya bercelana dalam dengan otot-otot menonjol sambil memegang pedang kecil. Bentuk tubuhnya sangat ideal, seperti huruf V dengan bagian pundak yang lebar. Ironi dan parodi akan terlintas ketika melihat celana dalam yang dipakainya, ukuran alat vitalnya tidak sebanding dengan tubuhnya. Dan Masriadi selalu menggambarkan manusia dalam sosok hitam legam. Bila dibandingkan dengan kampanye “kulit putih” di iklan televisi, bisa terbaca lukisannya adalah ironi kapitalisme, meskipun kapitalisme itu pulalah yang menyeret harga karya Masriadi melambung tak terbendung.

 Wacana Pasar

Dari segi wacana, menurut perupa Heri Dono Indonesia sebetulnya belum mencapai keemasan dibandingkan dengan China dan India. Di dua negara itu, para kuratornya juga memberikan sumbangan pemikiran baru untuk seni rupa kontemporer di luar, umpamanya menjawab dominasi seni kontemporer Amerika-Eropa. Indonesia, menurut jebolan Institut Seni Indonesia di Yogyakarta itu, mengalami masa emas ketika muncul gerakan seni rupa baru pada 70-an dengan pelopornya antara lain Jim Supangkat, FX Harsono, Hardi, Nyoman Nuarta, dan sebagainya. Gerakan itu memang tak berumur panjang, dan memang tak harus tapi  mampu membawa gelombang yang memberi wacana seni rupa selanjutnya.

 Di negara lain pun begitu. Contohnya gerakan Anti-Estetik Dadaisme di Eropa. Pada Cities on the Move yang dilakukan kurator Hou Hanru (China) dan Hans Ulrich-Obrist (Swiss) yang mempertanyakan eksistensi museum, utamanya di Eropa dan Amerika. Hanru dan Obrist mempersoalkan peran museum yang tidak memberikan peluang  memamerkan dan mengoleksi karya-karya seniman baru yang berkualitas dari belahan dunia lain. Meski hanya dua tahun, gerakan itu mendongkrak eksistensi seni kontemporer di Cina, India, Thailand, Korea, Jepang, dan seterusnya.

 Lelang seni di Indonesia, dalam andaian Dono, tak hanya pameran luar biasa dan membuka pasar saja, tetapi juga meningkatkan “wacana pasar” sekaligus “pasar wacana”. Pameran menjadi semacam pesta budaya yang memperlihatkan karya-karya terbaik seperti Afandi, Raden Saleh, dan lainnya. Masyarakat bisa mengerti tingginya harga lukisan dan estetika seninya. Dengan letak geografis yang dekat dengan Malaysia, Singapura, dan Thailand, aktivitas pasar seni Indonesia diharapkan mampu menembus kawasan itu. Dengan mengutip pesohor seni pop Amerika, Andi Warhol, Dono yakin seniman bisa terkenal setiap kelebatan lima menit.

 Terlepas dari ide gerakan,  perupa Agus Suwage menilai seniman saat ini memang bisa menuangkan ide secara bebas, tak ada hambatan untuk berwacana. Dilihat dari aspek ekonomi, kehidupan perupa saat ini juga lebih sejahtera tinimbang  pendahulu mereka. Namun Agus tidak yakin harga yang melangit sebagai jaminan akan keberlangsungan kualitas. “Banyak teman-teman yang mulai lupa diri, berorientasi pada materi semata,” kata Agus.

 Anti-Logika

Ugo Untoro punya kekhawatiran lain. Dia justru melihat banyak seniman membatasi ruang kreatifnya pada gaya yang disukai pasar, yang paling banyak malah mengikuti realisme model Cina. “Seniman-seniman yang masih kuliah, banyak mengikuti gaya ini. Pengekoran seperti ini, akan membunuh karya seni. Juga membunuh kebebasan wacana,” kata Ugo yang sudah berpameran di Swiss, Italia dan New York.

 Dilihat dari konteks seni rupa internasional, eksplorasi para seniman muda sebetulnya lebih dinamis, hangat,  energik, dan memiliki kebaruan, ketimbang stagnasi dan “kejumudan” gaya para seniman senior yang cuek dengan kecenderungan, trend itu. Trend akan membentuk pasar dan memengaruhi harga suatu karya. Kolektor-kolektor baru pun bermunculan dan lebih memilih dan mengoleksi karya-karya seni rupa yang dinamis juga.

 Namun Ugo menabalkan diri bahwa kekuatan seniman terletak pada kesinambungan kreativitasnya. Ketika seorang seniman berhenti berkreasi dan tidak tertarik untuk bereksperimentasi, hal ini harus dipertanyakan. Ugo menyebut kreativitas yang tak kenal mati itu sebagai “seni petualangan”. Ia berusaha masuk ke wilayah yang belum banyak dirambah orang, terra incognita. Upaya bertualang ini mengukur sejauh mana kekuatan seniman berdaya guna dan menghasilkan suasana baru.

 Daya juang pelukis kontemporer Indonesia karena itu bisa dibilang lembek bila dibandingkan dengan apa yang pernah diraih Affandi. Pada masa jayanya Affandi sudah biasa berpameran tunggal di Italia atau Prancis. Karya-karyanya menjadi wacana di Eropa. Sementara di abad yang serba berkemudahan ini belum ada perupa yang bisa menyamai apa yang pernah diraih Affandi.

 Faktanya saat ini belum ada perupa nasional yang menembus tempat bergengsi pengakuan karya rupa internasional, umpamanya  masuk dalam koleksi Museum of Modern Art (MOMA), di  New York. Entang Wiharso dan Heri Dono – yang diakui dalam deretan 100 pelukis terbaik dunia itu—  memang sedang meretas jalan ke sana, tapi perjalanan mereka masih teramat panjang. Setidaknya mereka sedang berusaha membuktikan, bahwa penghargaan tidak selalu berasal dari pasar yang seringkali malah berkesan anti-logika. N Jacques Umam/Agus Triono/Rangga Prakoso

 

 

 




    Tinggalkan Balasan

    Please log in using one of these methods to post your comment:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: