Menarik Benang Delapan Ujung

Koran jakarta, 4 Januari 2008

Tidak bisa nama besar datang dengan sendirinya

 

Perkembangan seni rupa nasional tidak disertai dengan pesatnya wacana maupun kritik seni rupa. Ketika karya ada lukisan yang terjual super mahal misalnya tidak timbul wacana yang membahas karya itu.

Adalah Jeihan Sukmantoro yang mengajarkan agar publik tidak terkejut  mengetahui harga lukisan. Itu terjadi 1985. Dalam sebuah pamerannya bersama S Sudjojono, Jeihan mematok harga 5.000 hingga 50.000 dolar AS. Harga satu dolar AS pada masa itu sekitar 1.000 rupiah. Jeihan dianggap kurang waras mengingat lukisan termahal dari maestro sekelas Affandi harganya tak semahal itu, hanya 2.000 dolar AS. Tapi Jeihan tidak salah. Lukisannya laku.Usai pameran dia mengantungi tak kurang 500 juta rupiah.

Unjuk harga dari Jeihan itulah yang lantas dikenal sebagai cikal bakal booming harga lukisan komtemporer di Tanah Air. Puncaknya terjadi sekitar tiga tahun kemudian, menyusul dikeluarkannya beleid pendirian bank oleh Menteri Keuangan JB Sumarlin, pada Oktober 1988 atau Pakto 88. Lewat kebijakan ini, setiap orang yang memiliki 10 miliar rupiah sudah bisa mendirikan bank. Lalu pada sebuah lelang di Mercantile Club, beberapa bulan setelah Pakto 88, karya Jeihan sekali lagi terjual mahal, 180 ribu dolar AS.

Profesi pelukis menemukan harganya sejak itu. Setidaknya kalau tak bisa menjadi pelukis terkenal, masih bisa  menjadi pelukis pesanan setelah gedung-gedung perkantoran terutama kantor bank yang banyak bermunculan seperti jamur di musim hujan itu, mulai mencari lukisan untuk dekorasi interior. Galeri dan rumah seni tumbuh subur. Pameran lukisan menjadi kegiatan jamak yang pembukaannya menjadi salah satu agenda pejabat maupun nyonya pejabat. Kolektor lukisan bermunculan. Dari yang murni mengapresiasi, sampai yang hanya ingin meraup keuntungan, karena karya seni terus menerus dicitrakan sebagai objek investasi.

Masa itu bertahan lama hingga hampir 10 tahun hingga terjadi krismon pada 1988. Harga dolar terhadap rupiah menjadi tak logis: 15 ribu rupiah untuk 1 dolar AS. Hampir semua orang berhemat. Bagaimana dengan bisnis lukisan? Yang terjadi malah seperti anomali: harga lukisan tetap booming, semakin meledak lengkap dengan patgulipat harga.

Masalahnya adalah banyak bank swasta yang mengoleksi lukisan pada masa itu,  menjual koleksinya dengan harga murah. Bukan karena benar-benar murah, melainkan karena harga aslinya sudah dibukukan lebih rendah. Lukisan-lukisan murah itu belakangan dimiliki sebagian oleh direktur atau pemilik bank, sebagian yang lain dibeli para kroni mereka dan sebagainya.

Tanpa Kritik

Itulah pemain baru itu, yang sebagian besar adalah tipikal investor pemburu rente. Mereka melompat ke investasi lukisan, yang keuntungannya tak bisa digambar di atas kertas. Maka ketika pasar uang dan pasar saham bergejolak hebat, pasar lukisan dari perupa Indonesia justru naik daun. Di balai lelang Christie’s dan Sothbey’s –keduanya di Hong Kong—  karya para perupa membubung, ke langit anta beranta. Juga hingga 10 tahun sesudahnya ketika krisis ekonomi di Amerika Serikat mengiris pasar saham di banyak negara, pasar lukisan dari perupa Indonesia bergeming pada harganya yang aduhai.

Puncaknya terjadi pada 6 Oktober 2008  ketika The Man From Bantul (The Final Round) karya I Nyoman Masriadi laku seharga 7,8 juta dolar Hong Kong atau sekitar 10 miliar rupiah dalam lelang  Sotheby’s. Itu terjadi tiga pekan setelah Lehman Brothers Holdings Inc. bangkrut dan seluruh dunia mulai tertular resesi ekonomi.  Berukuran 2,5 m x 4,35 meter kanvas itu laku 5 kali lipat dari harga taksiran tertinggi 1,5 juta dolar Hong Kong. Dua hari sebelumnya itu, Sorry Hero, Saya Lupa juga karya Masriadi terjual 4,8 juta dolar Hong Kong (6 miliar rupiah). Berbeda dengan The Man From Bantul yang dibuat 2000; Sorry Hero, Saya Lupa bisa dibilang baru kering, karena  dibuat Masriadi tahun 2008. 

Dan ini yang kemudian terjadi: perkembangan seni rupa nasional tidak disertai dengan pesatnya wacana maupun kritik seni rupa. Ketika karya Masriadi terjual  10 miliar rupiah misalnya tidak timbul wacana yang membahas karyanya itu. Pembicaraan yang berkembang hanya mengenai jumlah uang yang besar tapi tak menyoal nilai intrinsik dari karya Masriadi. Masyarakat tidak pernah tercerahkan sejauh mana estetika kulminatif The Man from Bantul sehingga lukisan yang menggambarkan sosok tiga manusia berkulit hitam sedang beradu jotos di atas ring itu— pantas menduduki posisi puncak secara nilai finansial.

Di kalangan yang bertekun terhadap lukisan, keadaan semacam itu tentu menggelisahkan. Sebagai sebuah sistem, menurut Edwin Rahardjo, pasar seni rupa seharusnya memiliki  sejumlah perangkat: seniman, kolektor, kurator, galeri dan museum. Tapi di Indonesia semuanya berjalan sendiri-sendiri. “Pelik ini, ibarat benang dengan delapan ujung yang semua ditarik,” kata pemilik Edwin Galery itu.

Hasilnya mudah ditebak,  perkembangan pasar seni rupa tidak sejalan dengan kemajuan apresiasi masyarakat secara luas terhadap kesenian. Seni rupa hanya menjadi persoalan elitis, hanya milik kaum berduit yang sebetulnya juga tidak terlalu paham menghargai kesenian. Edwin mencontohkan keadaan di Eropa yang memiliki sejumlah museum besar.

“Ongkos Sekolah”

Di sana kata dia semua seniman ingin tampil di museum besar. Untuk bisa tampil di museum besar itu mereka harus terlebih dulu berpameran di museum-museum yang lebih kecil. Dan untuk bisa masuk ke museum kecil kalau tidak pernah berpameran di galeri-galeri besar. Semua tahapan tadi kata Edwin, tak hanya harus dipahami oleh seniman, melainkan juga oleh masyarakat pecinta seni karena sebuah karya seni yang bagus lahir dari proses, bukan instans. “Tidak bisa nama besar datang dengan sendirinya.”

Hal lain yang merisaukan, tidak adanya penghargaan bergengsi untuk seni rupa seperti Philip Morris Art Award. Padahal ajang penghargaan, bisa memacu seniman untuk mendapat tempat bergengsi. “Kalau sekarang, semuanya berkreasi untuk berjualan. Jadi masyarakat sudah tidak tahu lagi mana lukisan yang bagus, mana yang lama dan yang baru. Pondasinya sudah tidak jelas,” kata Inda Citra Ninda Noerhadi, yang pemilik Galeri Cemara 6.

Tak kalah pentingnya menurut Inda adalah abainya pemerintah dalam praktik seni rupa, terutama mobilisasi karya ke luar negeri lewat balai lelang. Padahal ada UU Benda Cagar Budaya Bergerak yang mengatur perlindungan terhadap artefak kebudayaan, salah satunya lukisan. “Banyak lukisan yang harusnya dilindungi. Sekarang semuanya bisa dijual lewat balai lelang. Di satu sisi kita bangga pelukis kita diminati di luar negeri tapi di sisi lain ada yang terambil dari kita,” kata Inda.

Maka kata Amir Sidharta dengan gelembung booming harga yang terlihat  sudah mulai pecah, semua pihak mestinya bisa menarik pelajaran. Bila banyak investor lukisan yang merugi, Amir berharap  hal itu bisa  dianggap sebagai “ongkos sekolah”. Setidaknya untuk pembelajaran agar  menjadi kolektor yang apreasiatif. “Saya tidak senang jika ada lukisan di beli dari saya dengan harga tinggi tapi selalu bolak-balik dijual. Saya akan bangga kalau lukisan yang mereka beli dari saya dipajang di rumah mereka,” kata Amir, pemilik Sidharta Auctionerr.  N Alfred Ginting/Rangga Prakoso/Teguh Nugroho/Ezra Sihite

 

 




    Tinggalkan Balasan

    Please log in using one of these methods to post your comment:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: