Intel Melayu di Villa Marheeze

 

Koran Jakarta 

11 Januari 2009

 

 

Buku ini menyebut Roeslan Abdulgani sebagai intel Belanda.

 ruslan abdulganiSuatu hari di bulan Desember 1955, ketegangan tampak di kubu delegasi Indonesia yang dipimpin Menteri Luar Negeri (Menlu) Anak Agung Gde Agung. Sebaliknya, delegasi Belanda yang dipimpin Menlu Joseph Luns,  terlihat rileks. Itulah suasana perundingan Indonesia-Belanda tentang masalah Irian Barat (kini Papua) yang dilangsungkan di Maison de la Presse, Geneva, Swiss. “Luns bahkan terkesan melecehkan delegasi Indonesia,’’ ungkap Anak Agung Gde Agung seperti dituturkan sejarawan Belanda, Dr Drooglever dalam bukunya An Act of Free Chioce.

 Belakangan terungkap, rasa percaya diri para delegasi Belanda dalam perundingan itu muncul  karena mereka telah lebih dulu mengantongi beberapa informasi penting tentang rencana yang akan disampaikan para delegasi Indonesia. Pemasoknya adalah badan intelijen Belanda alias BID yang berhasil membaca semua telegram antara delegasi Indonesia di Geneva dan pemerintah di Jakarta.

 Tentu saja yang diuntungkan adalah pihak Belanda, karena dengan begitu Luns bersama kelompoknya mengetahui betul kelemahan delegasi Indonesia yang diutus oleh pemerintah di bawah kabinet Burhanuddin Harahap yang masa itu sedang goyah posisinya. Mereka tahu bahwa keputusan apa pun yang akan diambil dalam perundingan itu tidak akan begitu mengikat dalam suasana politik Indonesia yang berubah-ubah. Perundingan itu akhirnya memang gagal total dan sangat merugikan Indonesia.

 Menjadi pertanyaan kemudian, dari mana BVD mendapat semua informasi tentang para delegasi Indonesia dan materi yang akan disampaikan dalam perundingan? Dalam Villa Maarheeze (1998) yang ditulis oleh dua sejarawan Belanda, Bob de Graaff dan Cees Wiebers terungkap keterlibatan tokoh dari Indonesia, yang dalam buku itu disebut bernama Roeslan Abdulgani. Buku ini ditulis berdasarkan penelusuran dokumen yang diperoleh kedua penulis langsung dari BVD dan judul Villa Marheeze dikutip dari nama tempat perawatan orang sakit jiwa di Belanda. Setelah PD II,  tempat itu kemudian  dijadikan sebagai pusat interlijen Belanda, BVD. Mirip dengan nama Kalibata yang identik untuk menyebut tempat kantor BIN, Badan Intelijen Negara itu.

 Pada buku setebal 535 halaman ini,  de Graaff dan Wiebers menulis Roeslan sebagai “sumber yang amat dipercaya” yang digunakan spion jagoan dalam operasi Virgil, yaitu Letnan Intel J Bakker. Di luar Roeslan masih ada dua tokoh lain dari pejabat Indonesia, yang ditandai dengan inisial Q dan  Mr X dan di digambarkan sebagai  sosok militer yang memunyai peran besar  menumpas PKI.  Mengapa nama keduanya tidak disebut terang seperti nama Roeslan?

 Dalam bukut itu de Graaff mengaku ada dua alasan. Selain karena   pemerintah Belanda tidak memberikan izin untuk menuliskannya dan itu berbeda dengan  Roeslan, de Graaff juga mendapat anacaman jika tetap menulis  terang dua nama petinggi militer Indonesia itu.  “Mungkin karena Roeslan pejabat diplomatik sehingga biasa terbuka pada siapa saja sementara dua tokoh lainnya adalah militer,” kata Otto Pratama, Database Manager Imparsial, yang berencana menerjemahkan buku ini.

 Tentu saja kata Otto, kedua tokoh misterius itu bukan militer asal militer, tapi orang penting yang jika namanya disebutkan, bisa jadi akan mengguncang  Indonesia, dan bisa menimbulkan ketidaknyamanan bagi Belanda. Keduanya, X dan Q kata Otto  pasti merupakan tokoh kunci yang mengetahui peta kekuatan dan seluk beluk komunis di Indonesia. Benarkah seperti itu?

 Mantan Pangkopkamtib Sudomo, yang kala itu menjabat sebagai salah satu panglima operasi pembebasan Irian Barat, menyebut Mr X  adalah seorang wartawan Belanda dari kantor berita Belanda ANP. Bukan pejabat Indonesia yang disamarkan. “Dia dekat dengan Roeslan Abdulgani. Jadi ada tiga aktor di buku ini. Yaitu Bakker, Mr X si wartawan, dan Roeslan Abdulgani,’’ kata Sudomo.

 Meskipun demikian  kata Sudomo, Roeslan tak bisa dianggap sebagai pengkhianat. Ucapan-ucapan Roeslan  memang seolah berpihak ke Belanda. Tapi “Roeslan  punya maksud tertentu. Yaitu untuk mengetahui lebih banyak lagi tentang siasat Belanda. Dengan mau bekerjasama dengan Belanda dia juga harus memberikan informasi ke mereka. Tapi, bukan berarti dia intel Belanda,” kata Sudomo.

 Cokelat dan Majalah

Nama Roeslan memang paling banyak disebut dalam Villa Maarheeze. Roeslan saat itu menjabat Sekjen Kementerian Luar Negeri memang yang paling mengetahui alur telegram antara delegasi Indonesia dan pemerintah pusat di Jakarta. Saat wawancara de Graaf dan Wiebers dengan Luns di tahun 1972, Luns mengakui delegasi Belanda memang telah mengetahui isi telegram rahasia yang dikirim oleh delegasi RI melalui seorang informan Indonesia.  Kedua penulis juga mengaku melihat langsung dokumen pemerintah Belanda yang menulis secara terang bahwa sumber informasi utama dari Bakker adalah Roeslan.

 Bakker sendiri memang tak pernah menjelaskan secara detil, tapi de Graaf dan Wiebers berani memastikan bahwa orang Indonesia yang dimaksud dalam dokumen  adalah Roeslan. Alasannya Roeslan dan Bakker sudah menjalin hubungan sejak agresi militer Belanda II,  1948. Menurut Bakker, Roeslan jelas-jelas pro Belanda.

 Tahun 1956, Roeslan mengatakan pada seorang wartawan Belanda, WL Brugsma bahwa secara pribadi dia tidak bisa menerima konfrontasi politik terhadap Belanda. “Slogan usir Belanda memang kedengarannya bagus, namun istri saya selalu mengeluh karena dia sulit mendapatkan batangan cokelat dan tidak bisa membaca majalah wanita Libelle dan Margriet,” begitu Roeslan bercerita.

 Di Villa Marheeze juga diungkapkan,  Roeslan adalah sosok yang mengumpulkan kekayaan dengan cara yang melanggar hukum. Salah satu motivasinya menjadi agen rahasia pemerintahan Belanda, kemungkinan besar juga disebabkan oleh dua hal di atas: keterikatan budaya dan kebutuhan pribadinya. ”Lucu juga ya persoalan kultural dijadikan alasan,” kata Otto. 

 Belum ada komentar langsung dari pihak keluarga Roeslan menyangkut soal ini. Retnowati de Knaaf putri Roeslan, menurut pegawainya, sedang ke luar negeri. Melalui seorang stafnya bernama Luthfi Ikhwani, Retnowati menyampaikan,  pihak keluarga tidak mau menanggapi skandal tersebut.

 Sejarawan dari Universitas Indonesia, Rusdhy Hoesein menuturkan, memang tak mudah mengurai spionase. Dunia itu sulit dibuktikan apabila tidak ada bukti yang valid.  “Ini sama seperti halnya yang terjadi pada kasus Adam Malik, tidak ada bukti kuat yang menyatakan bahwa dia adalah mata-mata CIA. Untuk kasus Roeslan pun saya tidak percaya 100 percaya,” kata Rusdhy.

 Rusdhy mengatakan tidak penting mengungkap apakah seseorang adalah mata-mata pada masa kolonialisme dulu, atau tidak. Karena yang lebih penting, pada akhirnya Indonesia berhasil merebut Irian Barat meskipun melalui proses diplomasi yang panjang, termasuk keterlibatan sejumlah tokoh dalam intelijen asing. N adiyanto/ezra sihite/rizky amelia/selocahyo/kristian ginting

 

 

 




    Tinggalkan Balasan

    Please log in using one of these methods to post your comment:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: