Mimpi

Jacques 

 

Selalu banyak niat dan harapan di minggu pertama tahun baru. Harus, memang. Karena tidak ada yang bisa mengelak dari mimpi.

Namun, mimpi tak selalu identik dengan bunga tidur. Mimpi bukan berarti berangan di dunia berantah sana. Entah kenapa, mimpi menjadi peyoratif di benak kesadaran orang. Mimpi kali ye! Itu ungkapan sinis yang amat merendahkan. Mimpi kerap diyakini sebagai ketakhadiran yang selalu dikhayalkan.

Mimpi tidak hadir dalam tidur saja. Ia bisa berada di mana-mana, setiap saat dalam kehidupan manusia. Percaya atau tidak, orang yang maju mempunyai mimpi. Begitupun, bangsa yang memiliki peradaban tinggi pada awalnya adalah mimpi. Kosakata “mimpi” dalam kamus kita, barangkali belum mengenal luas pengertian yang baik tersebut.

Bangsa Amerika Serikat punya mimpi, American dream. Mereka tidak sedang bermain-main dengan proyek kebangsaannya. Semboyan E pluribus unum, “dari keragaman menjadi satu,” semacam Bhinneka Tunggal Ika-nya Indonesia, dipatri dalam kehidupan. Mimpi itu tidak dikubur di dalam pusara, tetapi diwujudkan.

Terlepas dari kontroversi ramalan benturan antarperadaban, mendiang Samuel Huntington menelisik adanya “syahadat bangsa Amerika” sebagai komitmen bersama untuk mewujudkan impian. Itu termaktub dalam bukunya berjudul Who Are We? (2004), bahwa American creed itu penting sebagai niat sekaligus harapan. Persis seperti ikrar keimanan, mereka bergerak dengan pernyataan misi untuk menjemput kemajuan.

Kini, nilai-nilai politik tradisional yang meniscayakan white anglo saxon protestan, WASP, yang betul-betul “melembaga” di Amerika menemui titik jenuhnya dengan mendobrak kekolotan. Perubahan menjelang: Obama menang. Mimpi-mimpi persamaan dan keadilan seperti pernah dikumandangkan oleh Malcomm X atau Martin Luther King Jr datang sungguhan. Karena itu, tidak ada yang tidak mungkin. Obama yang tidak mungkin itu kini menjadi mungkin. Pada mulanya adalah mimpi yang terus dihadirkan.

Mimpi yang luar biasa pasti melabrak dominasi yang nyaman. Mereka yang merasa nyaman lumrahnya menuding yang ganjil sebagai aneh, apalagi kalau sampai ingin merombak bangunan kenyamanan itu. Mimpi lebih tepat sebagai titik-titik garis dalam geometri garis yang tidak berujung. Tidak ada mimpi yang selesai sekali jadi. Sekali mimpi yang satu diperoleh dengan peluh dan keringat, akan menyusul impian yang lain.

Maka, penting untuk terus menyesuaikan diri dengan perubahan zaman. Semacam daya aggiornamento yang perlu disetubuhkan dalam kejumudan supaya mau berjuang untuk kebaruan: ini pengertian moderen yang asli. Bukan sebuah mimpi kalau masih berlari di tempat. Mimpi membutuhkan trajektori beserta bangunan sumber daya yang spartan.

Apakah bangsa Indonesia punya mimpi? Mungkin semacam “Indonesia pasti bisa?” Sayangnya, ketimbang sebagai daya pendorong, hal itu masih sebatas slogan dan jualan di pasar politik, terutama saat pemilu datang. Kalau memang punya impian, silang sengkarut politik elit seharusnya tidak menyisihkan kemaslahatan. Kalau ingin melihat impian kosong, kita boleh bertaruh, sepanjang 2009 ke depan, rakyat hanya akan disuguhi janji “zaman millenarian”, dipaksa untuk percaya bahwa kemakmuran akan datang dengan segera. Ratu adil akan datang!

Bangsa yang besar mestinya tidak memiliki impian kerdil. Impian tetap kudu diwujudkan, meskipun harus memilih perubahan di antara pilihan yang tidak sempurna, minus malum. Tidak bermimpi sama dengan tidak bervisi dan, karena itu, bukan tipikal kebijaksanaan. Mimpi ialah bagian dari ikhtiar untuk meneroka sesuatu yang baru, tak terduga, sekalipun dianggap sebagai hal mustahil.

Seperti kami, Koran Jakarta yang kini hadir tujuh kali seminggu khusus dipersembahkan untuk Anda; dengan niat dan harapan tentang sesuatu yang terus berubah. Bermimpi di siang bolong kali ye? Tidak! Ini baru menjelang fajar bung! 

 

Koran Jakarta (4 Januari 2009)




    Tinggalkan Balasan

    Please log in using one of these methods to post your comment:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: