Resolusi Perubahan Tahun Masehi dan Hijriah

Jum’at, 11 Januari 2008 07:28 WIB (Media Indonesia)
Ditulis oleh : Zacky Khairul Umam, Pengamat sosial-politik, tinggal di Jakarta

Momentum tahun baru 2007 Masehi dan 1429 Hijriah kali ini berdekatan sekali. Perhitungan kedua tahun tentu saja berbeda. Tradisi Masehi menggunakan perhitungan matahari, sedangkan hijriah menggunakan perhitungan bulan. Keduanya juga awalnya mewakili sistem sosial-politik yang berbeda. Jika Masehi merupakan perhitungan yang ditetapkan kekuasaan Romawi yang kristiani, hijriah dideklarasikan oleh kekuasaan khalifah Umar bin Khatthab yang islami.

Bagi bangsa Indonesia, keduanya sudah sangat melekat kuat dalam kehidupan sehari-hari. Hanya, tradisi Masehi kini dianggap sebagai perhitungan masa yang sekuler. Asal-muasal perwujudannya tidak terkait atau bahkan dilupakan begitu saja, termasuk oleh kaum muslim. Di sisi lain, tradisi hijriah melekat erat karena umat muslim Indonesia ialah mayoritas. Hari-hari besar keagamaan Islam ditentukan melalui perhitungan tahun ini. Cuma, tradisi hijriah seolah menjadi khas Islam saja. Hal itu tidak terlepas dari konteks sosial-politik peradaban yang saat ini berjaya yakni Barat. Sekularisasi telah membuat tradisi agama, termasuk perhitungan tahun, membias menjadi sesuatu yang bisa diterima sebagai gejala umum. Terlebih dengan imperialisasi dan globalisasi Barat, tradisi Masehi mengalami objektivikasi yang bisa diterima sebagai titi mangsa. Mungkin itu saja yang membedakan Masehi lebih mendunia melintas batas identitas yang beragam ketimbang hijriah.

Bagi bangsa kita dan juga bangsa lain, fakta bahwa perayaan tahun baru Masehi lebih meriah tidak bisa disangkal. Saya kira, umat muslim pun menikmatinya, bahkan lazimnya perayaan hijriah tidak demikian. Akan tetapi, benang merah yang ingin saya ulur ialah saat ini kita hidup di era yang kosmopolit. Siapa pun tidak bisa mengelak dari kecenderungan itu. Kedua perhitungan tahun tersebut adalah contoh konkret yang mengakrabi kehidupan kita. Belum lagi kalau kita tambahkan dengan perhitungan lain, seperti Imlek dan Jawa. Tradisi perhitungan masa bukan saja terkait bahwa kita menghargai waktu sesuai dengan metodenya masing-masing, melainkan juga tentang apresiasi yang mendalam pada identitas yang majemuk. Karena itu, kita mesti menyukurinya sebagai sebuah berkah yang membuat diri kita bermakna, baik tentang masa maupun tentang kedalaman manusia.

Apa titik temu yang ingin kita capai? Ternyata, terdapat pelajaran yang penting mengenai pengertian kedua tradisi Masehi dan hijriah. Baik ‘Masehi’ maupun ‘hijriah’ identik dengan perubahan. Secara etimologis, jika kita mengacu pada bahasa Arab, ‘Masehi’ selain merupakan adjektiva dari al-Masih atau kristiani, mengandung pengertian ‘mesiah’ yakni yang dinantikan dan penyelamat. Sementara itu, hijriah ialah adjektiva dari hijrah yang merupakan peristiwa besar yang menentukan kemajuan peradaban muslim yakni migrasi dari Mekah ke Yatsrib atau Madinah. Hijrah tidak saja bermakna fisikal atau migrasi, tetapi juga memiliki makna yang mengacu pada pengertian transformasi, reformasi, dan perpindahan.

Khusus mengenai peristiwa hijrah yang fenomenal itu, deklarasi Nabi Muhammad mengubah Yatsrib ke Madinah al-Nabi ialah deklarasi yang transformatif. Dulu Cak Nur sering menjelaskan hal itu dengan baik sebagai pembentukan masyarakat madani. Madinah merupakan kota, polis, oikumene yang mempunyai akar kata yang derivasinya identik dengan hadlarah atau tamaddunyang berarti peradaban. Di sinilah kemudian lahir Piagam Madinah yang menaungi pluralisme di antara keragaman penduduk Madinah saat itu. Itulah deklarasi kemerdekaan yang menjunjung tinggi hak asasi manusia dan peradaban yang multikultural. Dari konteks tersebut, maksud Umar bin Khatthab menetapkan tahun hijriah sangat tepat.

Jadi, antara mesiah dan transformasi memiliki arus yang sama untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik. Menelusuri keyakinan Kristen dan Islam sebagai dua cabang dari tiga agama semitik atau Abrahamik semakin memperjelas titik temu teologis. Baik Yahudi, Kristen, ataupun Islam sama-sama menjadi agama apokaliptik yang memercayai hari akhir dan munculnya mahdi, mesiah, juru penyelamat, pertolongan, dan keselamatan akhir. Bahkan, iman apokaliptik menjadi rukun yang sangat inheren. Maka wajar apabila dalam perkembangan sejarah agama semitik, kepercayaan ini memunculkan harapan yang besar akan kebenaran dan keselamatan melalui beragam spekulasi teologis yang melahirkan banyak mazhab atau sekte.

Hanya saja, aspek mistik yang negatif dari teologi apokaliptik ini harus dikritik. Baik dalam wujudnya yang berupa kultisme maupun fundamentalisme. Kultisme, yang mengultuskan imam atau pemimpin sekte agama beserta ajarannya yang ketat dan disiplin, memercayai perubahan secara semu. Belakangan ini, beberapa sekte agama yang lahir dari agama Islam dan Kristen sempat muncul di Indonesia. Untung saja, hal itu belum mengambil bentuknya yang menyebar kematian seperti terjadi di Jepang atau Amerika. Adapun fundamentalisme menawarkan kesemuan dengan memaksakan kemutlakan dalam beragama sebagai sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar, kalau perlu menggunakan kekerasan. Fenomena yang terakhir ini sudah mulai berkembang biak dewasa ini.

Sisi apokaliptik yang mengarahkan praksis yang sebetulnya menjual ilusi tersebut harus dipikirkan ulang demi kelangsungan kebaikan dan ajaran agama yang humanis. Umat manusia memang tidak bisa terhindar dari cara beragama yang membutuhkan utopia apokaliptik dengan menunggu kehadiran sang ratu adil sebagai mesiah, tetapi perwujudan itu harus dihindari yang dekat dengan delusi sejarah, destruksi, dan menyakiti diri sendiri untuk sesuatu yang belum tentu benar, seperti ekstremnya dalam bentuk teror atau bom bunuh diri yang dianggap jihad. Dalam tradisi Masehi, setiap 1.000 tahun, satu milenium, dianggap akan ada perubahan yang diyakini akan datang sang juru selamat. Dalam Islam, setiap 100 tahun dianggap akan datang pembaru agama yang meluruskan kebenaran. Bahkan jika ditambahkan dengan Yahudi, mereka selalu menantikan juru selamat datang dengan berusaha merebut tanah yang dijanjikan di Yerusalem sehingga tidak acuh lagi dengan rencana saat ini untuk menghancurkan al-Quds menjadi ‘kuil ketiga’ yang dipercaya akan memunculkan mahdi menjelang hari akhir.

Kepercayaan itu mesti dibangun kembali ke arah ajaran yang lebih bermutu dan transformatif. Bayangkanlah, apabila setiap diri umat beragama terlena oleh penantian sang mahdi, fungsi manusia sebagai khalifah di bumi tiada dan hanya bersandar pada sesuatu yang berada di luar dirinya. Tujuan-tujuan pembangunan peradaban akhirnya berupa tindakan-tindakan yang anakronis, menyalahi sejarah itu sendiri dan tidak realistis. Oleh karena itu, yang berperan sebagai penyelamat adalah diri sendiri, bukan yang lain. Setiap diri adalah mesiah-mesiah yang mampu mengubah dunia ini dengan kreatif.

Selain itu, Allah mengajarkan manusia untuk menjadi juru damai di muka bumi. Karena itu, tidak dibenarkan mewujudkan perubahan demi agama, sedangkan mengelak kebersamaan dengan umat yang lain. Kebersamaan adalah fitrah kemajemukan. Untuk mewujudkan amal yang sesuai dengan spirit kemajuan, entah dari tradisi Masehi ataupun hijriah, yang diperlukan ialah titik temu, bukan titik tengkar. Kebutuhan mencapai titik temu sudah menjadi imperatif teologis. Jika setiap diri adalah makhluk Tuhan yang Mahakreatif, alasan apa untuk menolak bersikap humanis? Selamat tahun baru Masehi dan hijriah, kasih dan rahmat untuk semua.

 

http://www.mediaindo.co.id/berita.asp?id=155094




    Tinggalkan Balasan

    Please log in using one of these methods to post your comment:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: