Manajemen Bangsa di Mata Wiloto

Judul buku                  : Behind Indonesia’s Headlines;  Mengungkap Cerita di Balik Berita (50 Kasus Asli Indonesia)

Penulis                       : Christovita Wiloto

Penerbit                     : PowerPr Publishing

Cetakan                     : I, 2008

Tebal                          : lvii +265 halaman

Harga                         : 99.000 rupiah

 

 

Kita harus pintar membedakan fakta dan asumsi. Indonesia adalah bangsa yang besar merupakan fakta. Potensi sumber daya manusia dan alam negeri ini amat besar, secara kuantitatif benar. Tetapi, bahwa kita adalah bangsa yang meranjak sukses dengan pertumbuhan ekonomi yang lumayan stabil, harus diuji lagi. Juga, kita menjalani demokratisasi dengan baik, tetapi benarkah kualitas kepemimpinan nasional sudah mampu mendorong dan menggerakan kemajuan?

Satu dekade setelah reformasi, visi keindonesiaan belum jelas terukur. Arah ke mana melangkah dan apa yang akan dikerjakan terlalu buyar. Fokus pembangunan belum menemui titik terang. Muara masalahnya terletak pada kepemimpinan yang sangat kronis. Dengan balutan mentalitas elite yang tidak kredibel dan mewarisi “bosisme” di hadapan rakyat, negara diarahkan dengan ketaksadaran pada fungsi the political yakni kebaikan umum. Visi politik berorientasi pendek. Jalan terang keluar dari krisis demi krisis masih sulit ditemui. Inilah negara dengan pengelolaan berdasarkan management by crisis.

Hingga, tiap hari headline berita disuguhkan dengan keprihatinan atas kondisi buruk, baik di media lokal Indonesia maupun di level internasional. Masalah rakyat Indonesia diberitakan terus dengan laju informasi yang mewartakan silang sengkarut tak berujung. Di mata dunia, dengan beberapa kali ledakan bencana, kekerasan, dan terorisme, citra Indonesia dipersepsikan sebagai negara yang tidak aman. Dalam bahasan jurnalisme, bad news kemudian menjadi good news yang memproduksi citraan. Jika gigabita informasi yang tersampai di luar negeri seperti ini terus, tentu menjadi buruk.

Nah, pakar manajemen, Christov, menganalisis pelbagai hikmah di balik berita-berita yang selama ini beredar, dengan sorotan terhadap 50 kasus yang terjadi. Kasus yang disajikan nothing special, tetapi di dalamnya ditelaah kembali untuk menangkap fenomena yang menarik. Baik tema politik, ekonomi, pendidikan, entertainment, dan sebagainya, disarikan dalam perspektif yang tajam dengan pendakatan public relations discourse. Buku ini krisis sebagai masalah dan didedah dengan nalar yang simpatik, konstruktif, dan solutif. Tesis yang dapat disimpulkan ialah: krisis terus berkembang ruwet karena manajemen stratejik yang salah!

Itu menarik. Pendekatan ini berbeda dengan analisis wacana model pengamat politik atau ahli ekonomi yang melibatkan kontestasi dan pertarungan menuju 2009. Manajemen stratejik menawarkan cara alternatif untuk menghadapi masalah dalam kepemimpinan nasional. Salah satu modal utama untuk membangun keindonesiaan yang kokoh ialah social capital. Meski tak tegas merujuk pada “kapital sosial” itu—terma ilmu sosial yang sedang ngetrend—yang dikembangkan Putnam, Fukuyama, dan ilmuwan lainnya, penulis mengajak untuk memperhatikan faktor kepercayaan dan kredibilitas publik dalam jejaring kekuasaan (politik, ekonomi, budaya, dll). Penulis memprihatinkan perihal no trust society, low law enforcement, dan law safety society serta menawarkan komunikasi membangun trust, persis sama seperti dentuman Fukuyama tentang pentingnya high trust society.

Kebijakan menaikkan harga BBM, turunnya popularitas, di sisi lain ada kasus pembunuhan Munir melalui arsenik dengan dikontraskan oleh ancaman lain, misalnya, merupakan bukti “kemampuan komunikasi yang rendah” yang tak mau berdialog dan berunding tentang kemaslahatan yang lebih besar. Ini kebijakan atau sikap elite tertentu yang tidak pro-publik. Dalam kondisi pemerintah, public relations hanya dibangun untuk memperbesar reputasi yang semu, sementara mengenyampingkan trust yang menjadi energi positif. Dengan simbolisasi fenomena Tukul Arwana, ia lebih menawarkan “manajemen ekspektasi” yang tinggi dengan keterusterangan ketimbang dengan “manajemen reputasi” pemerintah yang berkualitas rendah. Di atas semuanya, buku ini menginspirasikan untuk memikirkan kembali logic of the game dari fungsi politik untuk melayani, dialog, dan memberdayakan rakyatt sebagai subyek.  

Meski masih berupa artikel pendek dan beberapa hal menimbulkan taksa, seperti persetujuan penulis terhadap hukuman mati untuk koruptor dan teroris dengan tanpa mempertimbangkan hak asasi dan bioetik, kekurangan buku ini ditutupi oleh pembahasan yang kritis, bernas, dan ringan dengan tawaran prestisius: manajemen stratejik. Mungkinkah nalar ini mampu dicerna elite pemimpin kita?   

dimuat di Koran Jakarta bulan November 




    Tinggalkan Balasan

    Please log in using one of these methods to post your comment:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: