Sebuah gang di seberang kober

tak ada yang istimewa. tempat itu biasa. “berserakan” buku, untuk dijual, bukan untuk dipajang. tapi, bisa dibaca oleh siapa saja yang merasa diri sudah bersetubuh di dalamnya. 

tempat duduknya pun bisa dihitung dengan jari. sekadar untuk kopi darat saja, bisa kurang menumpang orang-orang. paling, hanya sepuluh orang muat. selebihnya duduk tak beralas di atas ubin-ubin klasik. saking banyaknya, bahkan, bisa sampai keluar; meski hanya berdiri dan memisahkan diri–karena ngobrol dengan tema lain. 

pemiliknya satu. “pembantunya” banyak, maksudnya teman-teman sendiri. orang jawa yang pada dasarnya suka hal-hal mistik, spiritualitas, khususnya tasawuf. rajin solat, juga bersamadi, konon. matanya merah menyala menyerukan keberanian, sepertinya, padahal lebih karena faktor bilologis. ia pendiri himpunan mata merah indonesia. bukan komunis, bukan nasionalis, dan bukan pula sosialis. ya, hanya merah saja, hampir kejinggaan, hingga orang memandangnya sebagai ufuk. menjelang magrib, begitulah suasananya. ia memang tumbuh besar dengan pengalaman penuh tantangan: merah menganga menantang hijau. orde baru, kala itu tahun 1997 atau kurang lebih, tak tahu cikal bakal orang ini. juga, spionase tak tahu jejaknya yang “membahayakan”.

sebagai pemilik, ia diangkat rektor di tempat ini. rektor yang tidak formal. pemimpin informal menghimpun segala orang: mulai mahasiswa, doktor, hingga profesor. tempatnya semua berbagi sebagai guru, dosen, teman, dan lawan berdebat. diskusikah? sesekali, debat lebih sering. titik temu sulit ketemu, karena memang sulit untuk sengaja difokuskan titiknya. berjalan terus saja. yang penting melahirkan wacana, kritis, dan terus berikhtiar untuk tujuan yang lebih baik, dengan bahasa kerennya disebut “kerja kemanusiaan dan peradaban”. tradisi literer yang juga diasah, banyak penulis, pengarang, dan sastrawan. seolah semuanya tersalurkan, meski hanya sekumpulan orang-orang produktif tertentu, yang bahasanya mengalir, bahkan meliuk-liuk, dibuat terbuai dengan dialek melayu klasik yang entah kita tak tahu.

tempat itu tidak unik, tidak juga spesial. biasa saja. komposisi yang mengisinya, siapa saja, kebanyakan yang menekuni ilmu-ilmu lettres dan humaines. karena itu, tak heran, bau filsafat dan sastra kuat. ini perhimpunan yang perlu dihidupkan terus. wajar jika patah tumbuh hilang berganti, naik turun, fluktuasi, kuantitasnya, kualitasnya. 

tetapi, mungkin isinya luar biasa. menjanjikan yang berubah, yang politis. paling tidak penilaianku saja. usaha dan waktu yang bisa membuktikannya. 

jalan masuk tempat itu sempit. mobil-mobil orang yang arogan masuk hingga menyesakkan jalan pedestrian yang memang cuma dua meter itu. mobil sialan. jalan di mana ribuan orang tiap hari melewatinya, untuk bekerja, untuk menuju jalan, menuju kampus UI yang rindang, atau hanya sekadar membeli sesuatu termasuk ratusan dvd-dvd bajakan yang “original” (sejak kapan, bajakan disebut sebagai original?–mungkin kualitas gambar visualnya). 

tempat ini dinamakan sesuai dengan nama rektornya, ditambahkan penunjuk di belakangnya: “cak tarno institute”. tempat berakhir pekan yang tidak bisa terlupakan. saban minggu, pasti aku menyambanginya, walau hanya bermodalkan kaki saja. bukan nalar. karena, kalau nalar siap, aku siap untuk buat paper dan berdiskusi. hehehe.🙂




    Tinggalkan Balasan

    Please log in using one of these methods to post your comment:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: