Sejarah Islam, Nisbi!

Ketika buku ini pertama kali diterbitkan Departemen Agama, pada awal tahun 2008 lalu kehadirannya menjadi geger. Isi di dalamnya memang mengoyak keyakinan mayoritas umat muslim pada kemutlakan dan kesucian sejarah Islam. Menuai kontroversi yang tidak kurang serunya.

Lazimnya, tiap kali ada wacana yang dilempar ke publik dan menggoncang ‘kepercayaan’ selama ini, selalu ada pertentangan. Alhamdulillah, ada yang mengkritiknya—sebagaimana Farag Fouda juga pengkritik sejarah—dengan lugas dan argumentatif. Tragisnya, ada pula yang mencemooh buku ini sebagai ‘buta sejarah’, merusak sendi-sendi kesakralan, dan kurang bermutu. Bahkan, dengan nada tulisan yang emosional dan menggurui ada yang tergesa-gesa menudingnya sefarajfudabagai buku yang destruktif, meskipun tanpa merujuk pada sumber primernya dan hanya mengumpulkan serakan fakta mentah, karena sarat berbau prasangka.

Untungnya, di Indonesia, perdebatan buku ini tak sebesar dan seekstrem seperti pengalaman penulisnya di Mesir 14 tahun yang lalu. Farag Fouda yang dikenal sebagai pemikir, penggiat hak asasi manusia, dan komentator sosial, ditembak mati di Madinah al-Nasr, Kairo. Seorang anaknya dan beberapa orang lain terluka parah dalam insiden yang sama. Ia dibunuh oleh dua penyerang bertopeng dari kelompok Jamaa Islamiyya. Sebelumnya, sekelompok ulama dari Al-Azhar memfatwakan bahwa Fouda, berdasarkan tulisan dan pikirannya, telah menghujat agama dan karenanya keluar dari Islam. Ia adalah musuh Islam dan halal darahnya. Dengan demikian, berarti boleh dibunuh. Saat itu, Fouda ada di urutan pertama dari daftar nama-nama orang yang ‘memusuhi’ Islam. Tragis.

Inilah bahaya fatwa konservatif yang memurtadkan seseorang. Kejadian seperti ini hendaknya tidak berlaku di Indonesia, karena fatwa kerap menggerakkan orang untuk berbuat kekerasan, dan jika sampai perlu, bisa saja menghalalkan darah. Tetapi, publik harus waspada dengan propaganda para pengkritik yang tidak sehat dalam melontarkan kritiknya, dan membuhulkan emosi kemarahan minus akal sehat. Dialog yang bersahabat perlu digalakan kembali.

Tidak mutlak

Buku Fouda ini penting ditelaah. Ternyata, ada warta yang hilang dalam lembaran-lembaran sejarah Islam yang sampai kepada kebanyakan umat Islam tanpa penjelasan yang menyeluruh. Fouda menyusun fakta-fakta sejarah yang bersumber dari sumber primer dengan asumsi bahwa ada yang hilang dari pengetahuan hari ini tentang pergantian kekuasaan, kebengisan, ketakberadaban, penyimpangan, dan perselisihan yang sudah nyaris dilenyapkan dari kesadaran umat Islam. Benar-benar, ada kebenaran yang hilang. Fouda menapakkan diri pada landasan bahwa umat Islam mesti jujur pada keimanannya sendiri, bukan pada kebutaan yang selama ini terpaksa ditutup-tutupi, dan cenderung akan menyakiti.

Periode salaf al-salih, terutama zaman para sahabat Nabi dan al-Khulafa’ al-Rasyidun, yang selalu disebut dan diulang-ulang sebagai zaman keemasan yang dirindukan, hanya dinilai Fouda sebagai zaman biasa saja. Alih-alih gemilang, justru banyak jejak yang memalukan. Selain Abu Bakar al-Shidiq, tiga khalifah lainnya wafat karena pembunuhan politik yang terjadi di tengah percekcokan, perselisihan, dan perang saudara di kalangan pegikut-pengikut Nabi yang, menurut riwayat, telah dijamin akan masuk surga.

Khalifah Usman bin Affan, tewas dibunuh dan jenazahnya tidak diperlakukan dengan hormat. Tiga hari, jasadnya terlantar. Jasadnya dimakamkan di hari ketiga setelah ia wafat yang sangat tidak lazim bagi umat Islam yang selalu mengantar jenazah ke pemakaman selekas mungkin. Sebagian umat Muslim tak mau menyembayangkannya. Bahkan, ada yang melempari, meludahi, dan mematahkan salah satu persendian mayat Usman. Ia tidak diperkenankan dikubur di pemakaman Muslim, sehingga harus dimakamkan di kuburan Yahudi (Hisy Kaukab). Pembunuhnya bebas berkeliaran. Penggantinya, Ali bin Abi Thalib, tak kuasa menahan apalagi menghukum mereka. Fouda menegaskan, kemarahan apa yang berada di balik perilaku Sahabat Nabi ini? Dengan usia yang renta ketika meninggal, menantu Nabi,assabiqunal awwalin, kenapa hal ini bisa terjadi?

Fouda menjungkirbalikan glorifikasi atas kehalifahan sebagai unit politik umat Islam, yang melandasi keinginan sebagian kelompok Islam untuk menegakkan kembali kekhalifahan. Ia menunjukkan fakta-fakta yang dilupakan perspektif romantisisme terhadap khilafah. Nyatanya, banyak khalifah, dari Dinasti Umayah maupun Abbasiyah yang berperilaku brengsek, brutal, dan biadab—tidak pantas ditiru sebagai pemimpin politik. Pendiri Abbasiyah, yang dijuluki “Si Penjagal”, mengundang 90 anggota keluarga Umayah untuk makan malam dan menyiksa sebelum membunuh mereka. Kebiasaan para khalifah yang buruk dan hedonis, seperti gemar minum minuman keras, main perempuan (khususnya pergundikan), dan berperilaku seksual menyimpang (khalifah Al-Watsiq dan Al-Amin), adalah beberapa contoh yang dikemukakan Fouda dari sejarah panjang kekhalifahan.

Juga ada fakta tentang penindasan ulama dan penggunaan ulama untuk membenarkan kekuasaan yang korup. Yazid bin Abdul Malik, khalifah kesembilan dinasti Umayah yang gemar mengumbar nafsu, puluhan ulama mengeluarkan fatwa yang mengatakan ia tidak akan diadili di hari kiamat dan tidak akan diazab. Sebagian ulama lain, seperti Hazan al-Bashri dan Washil bin Atha, takluk dikooptasi khalifah. Khalifah memang diartikan semaunya. Jauh sebelum Machiavelli, salah satu khalifah Abbasiyah, al-Manshur mewariskan kaidah politik: “Lakukan apapun, tempuh jalan manapun, bersekutulah dengan musuhnya musuhmu, demi mencapai tujuanmu dan menang atas musuhmu.” Artinya, ia benar-benar telah melupakan Islam, bergeming dari hukum-hukum al-Quran, masa bodoh dengan Sunnah, dan menjauhkan diri sedapat mungkin dari teladan para al-Khulafa’ al-Rasyidun. Ia hanya mengingat dirinya sebagai “penguasa Tuhan di muka bumi”, “bayangan Tuhan yang menggantung antara Diri dan hamba-Nya. Ia mendasarkan kekuasaannya atas klaim hak Bani Abbas terhadap khalifah, bukan berdasarkan hak rakyat untuk memilih. Klaim kekuasaan bangsa Quraisy—baik Umayah dan Abbasiyah—bukan sebagai representasi kebenaran berdasarkan hadis Nabi, tetapi sebagai kecenderungan sejarah yang biasa saja, dan tidak perlu diagung-agungkan.

Liyan

Pelajaran penting dari Fouda, bagaimanapun, sejarah adalah sejarah. Tidak ada sakralisasi sejarah. Ini sesuatu yang lumrah yang bisa berlaku di mana saja, bahkan di kalangan umat Islam sendiri. Meski dengan catatan, bahwa peristiwa saling membunuh dalam sejarah Islam tidak mengganggu kesucian Islam itu sendiri.

Dengan menelisik perspektif “yang lain” dalam sejarah panjang kekhalifahan itu, Fouda menawarkan sudut pandang lain untuk melihat pengalaman sejarah Islam. Ini menjadi analisis yang menarik, terutama aspek keberimbangan dalam mengolah data-data yang telanjur selama ini dikemukakan. Metode seperti yang ditulis Fouda amat penting untuk menelisik sejauh mana ‘kebenaran’ sejarah Islam dipertahankan; sama seperti sejarah kelam G 30 S/PKI di negeri ini. Kebenaran perlu dikuak, justru bukan dengan terus meromantisasinya dalam lindungan moral idealistik, tetapi dengan berani menampilkan sisi apa adanya. Kalau perlu, bukan saja dari perspektif sang khalifah atau pusat kekuasaan yang menentukan penulisan sejarah, melainkan juga dari sisi-sisi subaltern, pinggiran, dan mereka yang ditindas yang perlu diangkat. Kesadaran sejarah umat Muslim, diakui atau tidak, harus terus dijejali oleh kenyataan pahit yang ada dalam ingatan romantiknya, untuk lebih menerima bahwa siapa pun adalah nisbi.

Mungkin perspektif seperti Fouda ini terus menggoncang keyakinan, mengoyak kesadaran, dan merobek kesucian, tetapi umat Muslim perlu jujur untuk memahami sejarah Islam secara lebih autentik, obyektif, dan komprehensif—seperti ditegaskan Buya Syafii Ma’arif. Karena itu, tidak usah geram menerima dan menelaah secara kritis pula kehadiran buku ini. Buku seperti ini tidak akan merusak akidah dan keyakinan umat Islam, sejatinya, jika mampu menerima dengan lapang dada, menggunakan akal sehat, dan berani untuk berbuat yang lebih baik. Artinya, masa keemasan dalam sejarah tetap sebuah hal yang relatif, dan bisa diukur sesuai dengan timbangan yang pas. Di pengujung tulisannya, Fouda mengatakan, “Islam tidak akan terpengaruh oleh pandangan orang-orang yang berpikiran sempit atau akan terpinggirkan oleh kelompok-kelompok kaku dan jumud di dalamnya.” Jika Anda merasa marah terkoyak, dan cenderung emosional, Anda tidak siap merubah peradaban Islam yang sejatinya toleran dan maju. Ini jelas buku yang layak dibaca!

Buku: Kebenaran yang Hilang; Sisi Kelam Praktik Politik dan Kekuasaan dalam Sejarah Kaum Muslim/Al-Haqiqah al-Ghaibah/Farag Fouda/Novriantoni/Paramadina&Dian Rakyat/Revisi, 2008/218 halaman



  1. wyd

    resensinya bagus bikin penasaran mau baca




Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: