Neraca Kewargaan Islam Politik

“Islam politik” sebagai terminologi, misalnya oleh John L. Esposito atau Oliver Roy, dikaitkan dengan fenomena gerakan atau identitas kelompok muslim yang menyerukan syariat Islam, dan dalam kadar tertentu bersifat radikal. Teorema yang muncul adalah, Islam politik bersifat fundamentalistik, meski tidak selalu bersifat radikal, yakni dengan menggunakan kekerasan. Wujudnya bisa berupa partai politik atau gerakan politik yang mendorong perwujudan sistem politik dengan penerapan syariat Islam secara formal.

Titik kunci utama memahami gerakan ini jelas, yakni upaya berkiprah melalui politik dengan asumsi bahwa hak berpolitik merupakan hak setiap orang. Dan wujud partai politik adalah yang paling memungkinkan untuk mencapai aksesibilitas publik yang dapat diterima luas. Karena itu, dalam karakteristik yang khas, partai politik Islam adalah Islam politik itu sendiri, meski dengan kadar perjuangan dan metode yang berbeda-beda. Khususnya, partai politik yang dengan gamblang mengaspirasikan kepentingan kelompok Islam kendati dengan kemasan yang terlihat melunak. Sebagai hak, ekspresi berpolitik ini menjadi lahan yang luas dan akan menjadi subur karena demokrasi menyediakan kebebasan sekaligus tidak memberangus sesuatu sebagai larangan, asalkan tidak terbukti merugikan bangsa.

Prinsip dasar yang melandasi Islam politik berangkat dari pemahaman bahwa al-Islam huwa al-hall (Islam adalah segala solusi) dengan pemahaman yang cenderung puritan. Islam sekaligus agama dan negara atau politik. Islam telah mengatur kehidupan politik secara paripurna. Dengan demikian, konsep di luar Islam sejatinya tidak sesuai. Maka, konsep-konsep seperti demokrasi, hak asasi manusia, apalagi sekularisasi, rentan sekali ditolak. Atau, segala sesuatu dari Barat tidak mendapat tempat dalam Islam dan umatnya. Meski, secara prinsipiil, Islam politik berteguh untuk menyingkirkan konsep-konsep Barat itu, pada gilirannya terjadi kompromi dengan menganggap demokrasi sebagai sarana sementara untuk mencapai ultimate goal berupa penerapan politik Islam yang integral, yang lazimnya merupakan konsep politik abad pertengahan yang mengagungkan teokrasi dan kekhilafahan.

Di beberapa negeri Islam atau muslim, juga di Indonesia, kompromi menjadi sarana yang paling baik untuk ikut berkiprah ketimbang terus berkonfrontasi dengan memaksakan kehendak. Kebimbangan menimbang demokrasi menjadi hal yang diterima begitu saja dengan mengesampingkan kontroversi yang pelik. Mereka yakin bahwa dengan ikut serta dalam kontestasi politik, mereka mendapatkan simpati dan dukungan publik. Di sinilah terjadi metamorfosis Islam politik. Tadinya, Islam politik bersifat rejeksionis dan kini mulai mempertimbangkan strategi yang dapat menghasilkan suara banyak. Lihat misalnya gerakan Al-Ikhwan al-Muslimun yang banyak berubah bentuk di setiap negara. Ketimbang Hizbut Tahrir yang tidak mempunyai kecakapan strategi massa, metamorfosis Al-Ikhwan berusaha secara lunak mengikuti mekanisme demokrasi melalui partai politik yang elegan. Mereka mempunyai tahapan-tahapan formasi politik yang berjenjang, sejak dari kompromi dan akomodasionis hingga ke tujuan akhir berupa pembentukan negara Islam.

Fenomena yang menarik tentu saja terjadi di Indonesia. Indonesia memiliki iklim yang lebih bebas dan damai daripada negara-negara muslim lainnya. Bahkan, “surga kebebasan” untuk kelompok Islam. Beberapa gerakan Islam politik yang dilarang di negeri asalnya, tumbuh subur di Indonesia dengan wujud yang sama atau sama sekali berbeda dengan cangkang baru. Gesekan memang sering terjadi, namun tidak sampai menemui persinggungan sosial-politik yang akut. Kompromi sering dilakukan daripada terus-menerus mengkritik dan membuat aksi yang merugikan. Partai politik bahkan sangat cocok untuk mendapatkan tempat. Dengan kemasan yang sejuk dan pengelolaan program yang layak jual, toh dapat menjadi salah satu keberhasilan Islam politik untuk menggaet massa. Kenyataan ini tidak akan pernah disia-siakan, dan ke depan trik serta manuver menjadi niscaya demi merebut psikologi massa, betapapun harus menerjemahkan bahasa politik yang eksklusif ke program yang memberdayakan.

Di satu sisi, patut disyukuri bahwa tawaran Islam politik di Indonesia semakin konkret, obyektif, dan mampu menyediakan alternatif. Di sisi lain, harus dilihat pula neraca politiknya, terutama untuk melihat trayek masa depan Islam politik itu sendiri. Karena apa? Wujud berubahnya Islam politik dengan bahasa-bahasa yang lebih halus, menggunakan obyektivikasi, kecenderungan berkata pluralis dan masyarakat madani, serta juga terkesan demokratis sejatinya harus diubah dalam paradigma dan konsep politik Islam yang ada di kepala dan diyakini dalam hati mereka. Jadi, jangan seolah-olah semakin terbuka, padahal itu bagian dari hipokrisi yang tidak hendak diungkap. Ukuran demokratis tentu saja gampang dihitung secara kuantitatif daripada harus mengukur secara kualitatif. Dalam konteks itu, kita juga menemukan bahwa demokrasi tidak boleh ditunggangi untuk tujuan-tujuan yang mematikan demokrasi itu sendiri. Artinya, ada kesediaan untuk memahami demokrasi yang paling baik untuk mengelola kemajemukan dan kemungkinan-kemungkinan politik.

Islam politik jangan hanya mengucapkan demokrasi yang manis di bibir. Ia patut pula merasakan kehadirannya. Ini adalah ujian yang paling sulit karena pahit dengan doktrin-doktrin yang telah menyatu padu. Dengan catatan bahwa apa pun pandangan Islam politik menjadi hak masing-masing. Hanya, di ranah publik tidak berlaku pemutlakan. Ia membutuhkan kesadaran untuk menisbikan diri sendiri dan kelompoknya. Relativisme internal dalam diri Islam politik ditimbang dari sejauh mana ia mampu memahami dan mempraktekkan perkembangan politik modern; sesuatu yang mudah diterima oleh Islam moderat dan progresif.

Timbangan utamanya adalah reformulasi politik. Kini, konsep warga dan kewargaan (muwathin) adalah terminologi yang relatif baru dalam kamus politik Islam. Dalam kewargaan ini, setiap jengkal langkah seseorang diperhatikan melalui demarkasi hukum positif dan ruang publik yang cenderung membaur. Ini sangat berbeda dengan produk politik abad pertengahan yang masih melihat “negara damai” versus “negara perang” atau “Islam” versus “kafir” dengan kacamata teologis. Kewargaan menghendaki ruang bersama di mana setiap orang memiliki hak yang sama. Kewargaan jelas erat sekali dengan maksud syariat yang menginginkan kemaslahatan publik, tanpa harus mengendalikan sistem dengan kerangka formalistik.

Konsep ummah yang dulu dielaborasi oleh Ibn Khaldun tampak cocok dengan kewargaan sebagai identitas kebangsaan yang memiliki tingkat keadaban yang tinggi. Hemat saya, di Indonesia perwujudan model ummah seperti ini sangat mungkin diupayakan. Dengan mayoritas penduduk, kaum muslim memiliki tanggung jawab dan determinasi yang tinggi untuk menyokong dan membangunnya. Ini sungguh ujian bagi Islam politik. Kegagapan memahami kewargaan adalah kegagalan Islam politik. Kegagalan terbesar Islam politik yakni terlalu condong dan terseret ke arah kekuasaan semata. Sementara kewargaan sebagai high politics tidak berpaku pada partai politik (Islam) saja, ia memiliki spektrum ruang yang sangat lebar. Islam politik–seperti gerakan partai politik–mampu melahirkan politikus, tapi jarang menghasilkan negarawan dan pengabdi politik kemanusiaan. Dalam kekuasaan hari ini, misi rahmatan lil-‘alamin terlalu agung diemban Islam politik. Beda Islam politik dengan kelompok perebut kekuasaan adalah beda cangkangnya saja.

Jikapun perlu dihitung secara kuantitatif, seperti survei belakangan, partai-partai sekuler lebih diminati ketimbang partai-partai Islam. Namun, catatan untuk Islam politik adalah bahwa kompromi demokrasi terlalu sempit jika tujuannya hanya lima tahunan. Kewargaan terlalu mahal jika ditukar dengan ajang perebutan kekuasaan, apalagi dengan klaim keagamaan! (KORAN TEMPO,  22/7/08)




    Tinggalkan Balasan

    Please log in using one of these methods to post your comment:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: