Agenda dan Trayek Islam Politik

Jika memperhitungkan jumlah penduduk, partisipan, dan praktek politik, Indonesia disorot sebagai “laboratorium” Islam politik dan demokratisasi. Perlu dipertegas, Indonesia adalah laboratorium demokrasi muslim terbesar di dunia. Apakah trayek masa depan Islam politik Indonesia mempunyai arah yang jelas?

Pertanyaan itu tidak sekadar ingin meneguhkan suatu identitas dan praktik bernama political Islam menjelang agenda lima tahunan, selebihnya merupakan refleksi jangka panjang bagi kedirian dan eksistensi Islam di Nusantara.

Referensi utama Islam politik jelas mengacu pada kuantitas dan kadang kala menafikan kualitas. Berkata tentang kuantitas, tentu saja angka-angka partisipan muslim sangat menggiurkan.

Sebab itu, partai sekuler pun tidak ingin memisahkan diri dari fakta ini. Partai sekuler berupaya pula untuk mendirikan sayap berbasis dan beridentitas keislaman, seperti badan-badan kerohanian dan baitul muslimin. Itu hal yang lumrah.

Partai sekuler mempunyai sifat melentur yang lebih baik selama ini untuk merebut kantong-kantong massa yang jelas. Program yang ditawarkan konkret dan mampu mencium aroma kebutuhan masyarakat level bawah, terlepas dari apakah itu komoditas politik atau bukan. Kelenturan membuat sayap-sayap politik melebar dengan udara yang luas, dan kapan saja melesat. Kemampuan “sifat melentur” itu yang sulit dimiliki Islam politik, khususnya yang selama ini bersimbol dan mengusung agama sebagai asasnya. Teorema (dalil) yang muncul adalah “Islam politik bersifat eksklusif, kecuali ada bukti terbalik”. Tabiat dasarnya memang eksklusif, entah dilihat sebagai kekhasan, identitas, maupun sebagai bentuk dakwah politik.

Sarjana Barat model Bernard Lewis, Samuel Huntington atau Daniel Pipes sering memukul rata fenomena Islam politik sehingga seolah-olah ada hukum esensialisme di sana bahwa tidak ada yang berubah dalam agenda Islam politik. Tesis itu mentah karena subjek utamanya terletak di wilayah Timur Tengah atau Mediterania sebagai eksperimen utama, dan generalisasi lumrah terjadi.

Walaupun begitu, hal yang vital diwujudkan adalah bukti bahwa terdapat “kecuali ada fakta terbalik” di Indonesia, khususnya. Ada asumsi bahwa umat muslim adalah warga terbesar di deretan archipelago ini sehingga mempunyai tanggung jawab yang besar untuk masa depan bangsa. Sebagai salah satu subjek penting, Islam politik adalah aset, dan jangan sampai menjadi petaka dan beban sejarah yang akut.

Memecah Kebekuan

Dengan porsi sejarah yang mesti dilihat dengan baik, jargon Cak Nur, “Islam, yes; partai Islam, no!” di awal 1970-an harus dilihat sebagai kritik konstruktif. Itu sebagai penegas sebetulnya, bukan pengharaman terhadap partai politik dengan asas Islam. Yang ingin dicapai dari jargon itu adalah devaluasi radikal atas kecenderungan berislam yang dilihat dari partisipasi dan afiliasi politiknya. Simbol Islam tidak selamanya menjamin kebajikan (virtue) politik yang utama. Relevansi yang lestari dari tekanan besar atas Islam politik itu adalah upaya mengembalikan wahana politik sebagai bangunan untuk kemaslahatan publik tanpa memiliki kecenderungan untuk memutlakkan keyakinan teologis dalam praktek politik yang serbanisbi.

Kewajiban untuk membesarkan Islam politik kini tidak lagi untuk “memompa ban kempes” karena tekanan represif dari rezim otoriter. Karena ruang sudah terbuka dengan kebebasan, upaya saat ini merupakan pelebaran wings of movement dengan manajemen strategis yang visioner, terukur, dan konkret.

Agenda yang terus diperbarui bukan terletak pada memperbesar the symbolic atau yang serbaberbau simbol dengan embel-embel eksklusif, melainkan dengan memperteguh komitmen publik yang lebih luas, yakni melalui pertimbangan bahwa maxim teologis tidak bisa mengabsolutkan praktek kewarganegaraan.

Ujian nasional bagi Islam politik adalah perubahan menuju kelenturan yang lebih baik. Ketertutupan sudah tidak laku lagi bagi masa depan demokratisasi, apalagi jika yang diperjuangkan terlalu absurd dan utopis.

Sikap beberapa partai politik (Islam) yang berusaha mengubah paradigma partai menuju partai inklusif atau pluralis bersifat imperatif pada dirinya. Syariah berbunga-bunga yang diperjuangkan tidak bakal menemui persinggungan dengan psikologi masyarakat tanpa berusaha melepaskan baju yang terlalu sempit untuk tujuan yang lebih mulia, yaitu politik (Islam) sebagai politik (Islam) adalah terbuka.

Di situ ada ruang kosong politik yang sejatinya diisi gaya dan aksi yang memberdayakan, bukan memerdaya melalui ilusi-ilusi yang serbananti (afterlife politic). Perlu diingat, kejenuhan masyarakat dengan Islam politik tertumpu pada janji-janji mesianik tanpa disertai penjemputan solusi yang riil.

Untuk memuluskan perubahan, “objektivikasi”, “sekulerisasi”, “pribumisasi” atau “relativisasi” Islam politik menemui konteksnya. Islam politik tidak boleh kalah sekulernya dengan identitas selainnya; dengan anggapan bahwa “sekuler” dijernihkan sebagai visi dan aksi yang sangat mementingkan kesejahteraan duniawi. Ukurannya sangat pragmatis, yakni menyentuh kebutuhan masyarakat yang nyata, perbaikan taraf kehidupan, dan membangun etos.

Peluang antara partai Islam dan partai sekuler sama besarnya, tidak diukur dengan klaim primordial, hanya saja paham grandeur (kebesaran) kerap menjebak Islam politik pada tudung berlindung yang salah pakai.

Padahal, ia masih terlalu sempit untuk berbuat lebih leluasa. Kebekuan itu perlu dipecahkan dengan menganggap sebaliknya: berangkat dari identitas politik yang terbatas untuk mencapai tujuan yang lebih tidak terbatas. Kelenturan, keterbukaan, dan konkretisasi menjadi kata kuncinya.

Hal itu karena ukuran kebangsaan dan kewarganegaraan selalu dilihat dari kemaslahatan publik. Islam politik ditimbang dalam neraca kebajikan tersebut. Apakah dalam prakteknya berpihak sebagai proponent (pendukung) atau opponent (oposisi) pemerintahan yang sedang bekerja, kerja perilaku politik masyarakat adalah melihat konkret tidaknya program dan aksi yang ditawarkan.

Partisipasi memiliki ketergantungan dengan emansipasi perjuangan. Selebihnya adalah kontribusi Islam politik demi keberadaban dan kesanggrahan, justru dalam keberbedaan. Di sini, bahasa politik Islam cenderung akan semakin bergeser ke arah “moderat” dan “demokrat” yang seperti diungkap Gilles Kepel, “tidak harus berkiblat ke (kepentingan) Amerika”, mesti dengan formulanya sendiri. Jika arah ini benar dan makin menguat, inilah ladang jihad di Indonesia sesungguhnya! Wallahualam

Peluang antara partai Islam dan partai sekuler sama besarnya, tidak diukur dengan klaim primordial, hanya saja paham grandeur (kebesaran) kerap menjebak Islam politik pada tudung berlindung yang salah pakai.

Padahal, ia masih terlalu sempit untuk berbuat lebih leluasa. Kebekuan itu perlu dipecahkan dengan menganggap sebaliknya: berangkat dari identitas politik yang terbatas untuk mencapai tujuan yang lebih tidak terbatas. Kelenturan, keterbukaan, dan konkretisasi menjadi kata kuncinya.

Hal itu karena ukuran kebangsaan dan kewarganegaraan selalu dilihat dari kemaslahatan publik. Islam politik ditimbang dalam neraca kebajikan tersebut. Apakah dalam prakteknya berpihak sebagai proponent (pendukung) atau opponent (oposisi) pemerintahan yang sedang bekerja, kerja perilaku politik masyarakat adalah melihat konkret tidaknya program dan aksi yang ditawarkan.

Partisipasi memiliki ketergantungan dengan emansipasi perjuangan. Selebihnya adalah kontribusi Islam politik demi keberadaban dan kesanggrahan, justru dalam keberbedaan. Di sini, bahasa politik Islam cenderung akan semakin bergeser ke arah “moderat” dan “demokrat” yang seperti diungkap Gilles Kepel, “tidak harus berkiblat ke (kepentingan) Amerika”, mesti dengan formulanya sendiri. Jika arah ini benar dan makin menguat, inilah ladang jihad di Indonesia sesungguhnya! Wallahualam (MI, 25/7/08)




    Tinggalkan Balasan

    Please log in using one of these methods to post your comment:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: