Kartun Nabi yang Tak Berkesudahan

Di media Jyllend-Posten, Denmark, 12 kartun Nabi Muhammad pernah membuat geger, di seantero dunia. Di mana-mana, di negara-negara Muslim, gerah. Termasuk, tentu saja, Indonesia. Saya yakin, tak cuma yang beriman paling konservatif saja yang marah. Juga hingga kelompok liberal, minimal ikut berkomentar. Para ahli semiotika, juga pakar komunikasi massa, menilainya sebagai “tanda-tanda” berperang yang mengatasnamakan “kebebasan” untuk menindih “toleransi”. 

Benny Hoed, pakar semiotika Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, juga kritis. Komik bertajuk Muhammad dan sekelibat kehidupannya tak menonjolkan kesucian, malah penghinaan. Bahkanpun, misalnya dilukis dengan indah dan menunjukkan karya sosok yang agung, pasti banyak protes. Apalagi jika dengan semangat penodaan agama. Akan lain akibatnya. 

Kalau berkepanjangan, efeknya akan panjang. Tak sekadar menyaingi cerita Ki Panji Kusmin era dulu, atau survei yang menempatkan Soeharto yang lebih populer ketimbang Muhammad. Yakin. Ini menjadi nila bagi upaya toleransi, penyemaian kehidupan yang damai. Betul,cyber crimes belum diperiksa di negeri ini. 

Selebihnya, sang pembuat komik tak mengerti dialog dan komunikasi massa yang baik. Ia penyulut kemarahan saja. Apalagi masyarakat kita masih berpikir dan berlaku religius. 

Sepanjang jaman, umat Muslim tak pernah mengijinkan Muhammad, Nabi Besar itu, untuk divisualisasikan. Demistifikasi tokoh, meskipun ia Nabi. Bukan untuk maksud estetika seni, tetapi memang selalu dikekang dengan berbagai alasan. Karena itu, karya-karya kaligrafi maupun Arabesque jarang mengidentikkan dengan personifikasi seseorang, termasuk Nabi. Yang ada, bentukbentuk pemandangan alam atau binatang yang ditutup dengan goretan-goretan kaligrafi ayat-ayat suci, hadis, atau hikmah kearifan. 

Sudahlah, jangan terulang, dan masyarakat perlu dewasa. Sang pembuat onar perlu mendingan membuat komik baik seperti karya Tezuka yang menggambarkan Buddha. Ops… cuma hanya sahabat dan tabiin atau “hagiografi” alias cerita tentang orang-orang suci dalam Islam, juga tokoh dan cendekiawan, yang perlu terus didorong untuk divisualisasikan, apalagi dibuat film gaya Hollywood. 

Barat sendiri maju mendalami the islamic art historty, rasa-rasanya umat Muslim Indonesia ketinggalan. Jangan hanya marah. Tentang Nabi boleh beremosi. Tentang seni, jangan mematoknya dalam pagar-pagar “anti-pornografi-pornoaksi”. Karena seni bukan melulu birahi, tetapi anugerah Ilahi. Mungkin yang berpikir ngeres saja yang berpandangan sempit seperti ini. 

Terserahlah, damai.




    Tinggalkan Balasan

    Please log in using one of these methods to post your comment:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: