Kartun Nabi, Membangun Dialog

Problem visualisasi Nabi Muhammad SAW yang sarat prasangka negatif-peyoratif di media Denmark, Jyllands-Posten, dan sejumlah media Barat secara bersamaan, sesungguhnya bukan saja efek lanjutan dari prasangka orientalisme klasik. Kalau dibaca secara cermat, prasangka Barat terhadap Islam sesungguhnya merupakan genealogi pola pikir (style of thought) yang diwarisi kajian para orientalis yang kurang objektif.

Stigma Islam sebagai agama kekerasan, teror, anti-HAM, anti-demokrasi, pemasungan perempuan, dan seterusnya, menjadi afirmatif ketika mendapat momentum pasca-peristiwa 11 September dan realitas kebanyakan dunia Islam yang dipimpin oleh kekuasaan otoriter. Cara pandang Barat atas Islam yang penuh deskripsi peyoratif merupakan generalisasi yang salah kaprah, sekaligus kegagalan memahami peradaban Islam secara holistik.

Masyarakat Barat masih terkungkung pada persepsi negatif itu, meskipun di sisi lain, komunikasi Barat dan Islam berjalan secara intens dan intim melalui kajian yang lebih objektif dan ilmiah. Seperti dapat dilihat dalam karya Marshall GS Hodgson, Karen Armstrong, John L Esposito, Annemarie Schimmel, William C Chittick, dan seterusnya. Akan tetapi, pemahaman yang mewakili Islam ini belum membias dalam ruang publik Barat secara umum.

Fakta banyaknya aksi yang tidak adil terhadap umat Muslim di negara-negara Barat tidak lain bermula dari akar masalah persepsi yang timpang itu. Diskriminasi sosial yang kerap kali menimpa sebagian umat Muslim di dunia Barat ialah akibat korelasi pemahaman yang masih menyimpan trauma bahwa Islam mengajarkan kekerasan, ketidakadilan, dan sebagainya. Dalam kacamata Barat –minus orientalis objektif– Islam erat kaitannya dengan model agama yang mendidik terorisme dan kekerasan.

Munculnya tesis orientalis semacam Bernard Lewis yang melihat sisi buruk Islam politik atau Samuel Huntington dengan tesis benturan antarperadaban, lahir dari genealogi prasangka Barat yang memiliki kuasa kepentingan atas dunia Islam. Di sinilah kritik Edward Said kembali relevan mengenai orientalisme (1978), bahwa orientalisme merupakan corak berpikir yang membuat distingsi epistemologis antara nomenklatur Timur dan Barat. Timur dipandang sebagai ‘yang lain’ dan akhirnya menjadi klaim kebenaran untuk menyusun beragam teori, epik, deskripsi politik, dan sebagainya.

Orientalisme, papar Said, akhirnya menjadi proyek historis-materialis sebagai jenis pengetahuan Barat yang mempunyai tujuan mendominasi, merestrukturisasi, dan mendatangkan kekuasaan atas Timur (baca: Islam). Dengan memahami orientalisme sebagai sebuah wacana, kita dapat memahami tumbuh suburnya berbagai disiplin sistematis dengan apa kebudayaan Barat mampu mengatur, bahkan memproduksi Timur secara politis, sosiologis-antropologis, militer, ideologis, saintifik, dan imajinatif pasca-aufklarung.

Clash of Civilizations?
Persepsi, paradigma, penafsiran, serta corak pemikiran Barat atas Islam yang kurang sedap itu jelas harus didekonstruksi. Hakikatnya, kegagalan Barat yang memicingkan sebelah mata dalam memandang Islam, sejatinya merupakan kegagalan proses dialog. Akibat kesalahan dialog tersebut, akhirnya menyimpan syak-wasangka yang berlebihan dan menggeneralisasi realitas umat Islam.

Hemat saya, memahami Barat sebagai inferior sebagaimana diungkap oleh Ibnu Hamad (Republika, 11/2) –dalam menganalisis kerangka visualisasi kartun Nabi– kurang tepat. Barat pada dasarnya merasa dirinya sebagai peradaban superior yang menguasai jagad ilmu pengetahuan dan teknologi (baca: wacana), sehingga merasa perlu untuk menjadi ‘guru’ peradaban bagi negeri lain.

Hal itu akan jelas ketika memakai kerangka Edward Said yang meminjam gagasan Foucault, bahwa Barat menciptakan (superioritas) wacana untuk melakukan proses dominasi dan penguasaan atas Timur, termasuk dalam era post-kolonial sekarang ini. Yang terjadi sebetulnya ialah fobia Barat atas Islam yang berkembang secara potensial menjadi peradaban alternatif di masa mendatang.

Faktanya, perkembangan Islam memang sangat pesat dibandingkan yang lain, terutama melihat alam demokrasi di Indonesia, dan bahkan Muslim di Amerika. Fobia inilah yang menjadikan (kekuasaan) Barat merasa skizofrenik atas Islam, kemudian lahirlah berbagai skenario menjadikan Islam (dan Cina) sebagai musuh pasca-tumbangnya rezim komunis Uni Soviet. Di sinilah superioitas Barat mendapat penegasan ketika Huntington mengeluarkan tesis clash of civilizations.

Pada tataran yang amat diametral, terjadi proses pemahaman yang kurang simpatik mengenai Barat dari sebagian umat Muslim sendiri. Lahirnya modernitas Barat dengan segala konsekuensinya kerap masih dihadapi secara konservatif oleh umat Muslim yang berpandangan fundamentalis –di samping Barat memang telah melancarkan trauma umat Muslim akibat kolonialisme klasik.

Cara-cara kekerasan dalam menghadapi hegemoni Barat, seperti tampak pada demonstrasi radikal di beberapa negeri Muslim dalam menanggapi kartun Nabi, justru menjadi legitimasi bagi gagapnya sebagian umat Muslim yang kehilangan kearifan peradaban. Ketegasan yang arif dan tanpa kekerasan amat sulit ditemui. Yang terjadi justru tindakan-tindakan radikal, yang malah menambah yakin Barat atas persepsi Islam yang radikal.

Kedua sisi yang diametral ini, antara fobia Barat dan ketidakarifan sebagian umat Muslim, merupakan penyebab kegagalan dialog komunikatif dalam memahami eksistensi peradaban dalam era global saat ini. Inilah yang disinyalir Andre Moller, sejarawan agama-agama terkemuka. Dia menyebut fenomena kartun Nabi sebagai ketidakberadaban, bukan benturan peradaban (JP, 12/2).

Dan hemat saya, kesalahpahaman persepsi maupun corak pemikiran antara Barat dan umat Islam berakar dari kagagalan dialog eksistensial dan tumbuhnya prasangka yang berlebihan. Alhasil, melahirkan generasi fundamentalisme agama yang akut. Sehingga menjadi tepat bahwa yang terjadi sesungguhnya ialah fenomena benturan fundamentalisme, sebagaimana tesis pemikir kiri, Tariq Ali, dalam bukunya The Clash of Fundamentalism: Crusades, Jihads, and Modernity (2003).

Oksidentalisme
Kecenderungan inferior umat Muslim dan kegalauan epistemologi dalam memandang modernitas (Barat) mesti didobrak melalui kesadaran untuk menerima teologi sebagai sebuah panduan praktis bagi kehidupan modern saat ini, bukan melulu kembali pada retrospeksi zaman masa lalu. Umat Muslim Indonesia, khususnya, harus mampu keluar dari tirani epistemologi kuno, menuju pemahaman keagamaan yang mampu mencapai kemodernan dan kedisinian secara kontekstual seperti sering diungkap Nurcholish Madjid.

Maka benar tesis Hasan Hanafi (2000) yang lumayan memberikan pengantar atas studi Oksidentalisme (’ilm al-istighrab), yakni kesadaran umat Islam untuk memandang Barat sebagai objek kajian baru, sekaligus mengajari Barat bahwa Timur bisa menunjukkan Barat kepada relnya: bagaimana menempatkan dirinya di tengah-tengah dunia global. Akan tetapi, oksidentalisme bukan lawan orientalisme, melainkan sebuah hubungan dialektis yang saling mengisi dan melakukan kritik antara yang satu terhadap yang lain, sehingga terhindar dari relasi hegemonik dan dominatif dari dunia Barat atas dunia Timur.

Dan akhirnya, oksidentalisme turut andil dalam membangun peradaban Tanah Air kita melalui transformasi lintas-kebudayaan melalui pluralisme dan multikulturalisme konstruktif. Di sinilah kerangka rekonstruksi dialog Islam dan Barat mesti diletakkan.

Sumber: Republika Online, 15 Februari 2006

Zacky K.U. (tulisan lama)


  1. arifrahmanlubis

    Assalamualaikum Wr wb

    Mengundang teman2 semua untuk berdiskusi ke blog saya ….

    dan sama2 berjuang merealisasikan agenda tindak nyata MEMERANGI blog penista Nabi Muhammad SAW




Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: