Kebangkitan Pemuda; Kami ke Kita

Geliat kepemimpinan pemuda makin menggema dalam perpolitikan hari ini. Tak saja sebagai ekses dari pengaruh Obama dengan gaung “perubahan” dalam konteks global, tetapi lebih dari itu merupakan tuntutan internal yang lahir dari proses berkesinambungan selama reformasi berlangsung di Indonesia. Kebutuhan untuk menyediakan ruang yang lebar bagi tokoh muda lebih disebabkan mendesaknya siklus kepemimpinan nasional.

Faktor pemicu utama yang memunculkan gairah baru bagi kepemimpinan pemuda untuk tampil di garda terdepan ialah regenerasi. Dalam demokrasi kita, hal ini sulit mendapat perhatian dari elite politik karena kecenderungan miopik pada kepemimpinan itu sendiri. Periode awal reformasi, yang mestinya menjadi periode penting untuk peralihan generasi, belum begitu dihiraukan. Tokoh lama amat mendominasi dalam peran kepartaian, keorganisasian, dan kelembagaan.

Atas tekanan yang makin luas, kini kaum muda mendapat peran yang cukup signifikan. Beberapa partai politik dan lembaga think-tank menjadi tempat yang sudah nyaman dalam menyuarakan perubahan kaum muda. Yang tua menyadari bahwa pemuda perlu diberi tempat aktualisasi yang baik. Mereka makin menyadari tentang nasib demokrasi dan peralihan kekuasaan.

Biarlah semua elemen pemuda, dari berbagai identitas dan afiliasi, memperoleh akses pada peran publik dalam berbagai partai, lembaga, dan organisasi masyarakat. Pada semua pilar, khususnya political society dan civil society, perlu makin digiatkan peran kepemudaan yang akan mewarisi kepemimpinan nasional sekarang.

Memberi kesempatan kepada pemuda-kita menyepakatinya sebagai “semangat ideologis” dan “spirit biologis” yang maksimal harus disetujui hingga 40-an tahun-tak cuma sekadar perpindahan jasmani saja. Yang terpenting ialah transformasi. Kaum muda harus menjadi stimulus bagi perubahan hingga memengaruhi tubuh masyarakat. Posisi pemuda bukan sebagai penerus keajekan dari generasi sebelumnya, sehingga ia tidaklah berfaedah sebatas perpanjangan tangan saja. Pemuda sedang disoroti sebagai the avant-garde bangsa yang tidak menemui “penuaan dini”.

Karena itu, keterlibatan pemuda dalam siklus kepemimpinan yang niscaya terjadi perlu ditekankan melalui partisipasi politik dalam arti yang luas mengenai kekuasaan. Dengan sumber daya yang segar disertai inisiatif, kreativitas, daya juang, jaringan, dan kemampuan untuk berpikir dan bertindak visioner, partisipasi adalah gerak aktif yang perlu dimainkan tokoh muda saat ini.

Pemuda harus memengaruhi yang lain untuk berbuat sesuatu yang lebih baik tentang cita-cita reformasi dan demokrasi yang terus dinamis. Partisipasi menempatkan subjek kepemudaan sebagai agen sosial yang menghendaki kolektivitas, bukan ber-dasarkan kepentingan soliter. Kesadaran untuk mencerna hal ini memerlukan penghayatan akan jati diri pemuda yang jelas-jelas enggan bersekutu dengan kemunafikan dan keculasan.

Prospek kepemimpinan pemuda itu saat ini terus berjalan dalam trayek yang menguntungkan. Tinggal bagaimana partisipasinya dimanfaatkan seoptimal mungkin demi aspirasi yang luhur atas penyelesaian masalah-masalah konkret. Tantangan kepemudaan sekarang jelas berbeda dari zaman Soekarno, Hatta, Tan Malaka, Sjahrir, dan pendiri bangsa lainnya.

Kemerdekaan yang dinikmati dengan perayaan seratus tahun kebangkitan nasional dan delapan puluh tahun semangat pemuda memerlukan upaya cemerlang agar pemuda tidak bermegah dengan romantisme heroik yang terlalu melangit. Figur kepemudaan memerlukan wadah yang baik untuk terjun langsung ke akar masalah, apa pun kontribusinya.

Pemuda hendaknya jangan hanya bisa berkoar mempropagandakan perubahan, tetapi harus ada action konkret bagaimana memperbaiki keadaan. Saat ini dibutuhkan “penjarakan diri” dari politik elitisme yang me-landa kepemudaan. Ia perlu membumikan visi politiknya dalam tindakan yang makin mengerucut ke rakyat. Fenomena makin meluasnya peran kaum profesional dan ahli tertentu dalam jabatan-jabatan publik maupun politis sesuai dengan bidangnya pertanda yang positif sebagai “spesialisasi peran” untuk mewujudkan konkretisasi. Ini perlu disyukuri sebagai arah yang benar agar kekuasaan diiringi dengan perwujudan meritokrasi, yakni pemerintahan yang disertai dengan prestasi nyata.

Hanya saja, harus ada asumsi yang menguji kredibilitas dan integritas dari kondisi tersebut. Bahwa spesialisasi profesional kaum muda penting adalah benar, tetapi tidak berarti lepas dari ujian kebangsaan. Kacamata keindonesiaan tetap harus disuntikkan dalam nadi mereka. Kebangsaan harus diletakkan jauh di atas kepentingan sesaat dan golongan.

Karena itu, sesama aktivis pemuda perlu saling mengisi. Baik kaum profesional, politisi murni, peneliti, aktivis, maupun pemimpin-pemimpin muda lainnya harus saling berbagi dalam wadah yang berbeda, asalkan masih dalam cita-cita keindonesiaan yang satu, yakni melesapkan “kekamian” menuju “kekitaan”.

Titik temu seperti itu penting. Isu yang kini berkembang masih melanggengkan perjuangan sebagian kelompok untuk memutlakkan sektarianisme berbasis agama dan eksklusivisme. Otonomi daerah ternyata juga menjadi desentralisasi lokal yang amat sempit yang menyebabkan sentimen kedaerahan. Oleh karena itu, penting menebalkan keindonesiaan kita di atas peran kepemudaan masing-masing. Semua memiliki andil untuk merawat semesta kemajemukan, selain konkret menjamah permaslahan publik yang beragam.

Jadi, partisipasi politik, profesionalitas untuk meritokrasi, dan semangat perubahan mesti diletakkan dalam ruang publik kebersamaan yang melintas batas melebihi kepentingan sesaat. Di sini harus diingat peringatan Hatta yang mengutip tokoh sosialis Prancis, Charles Fourier, Nous voulons btir un monde oy tout le monde soit hereux: “Kami hendak membangun satu dunia yang di dalamnya setiap orang hidup bahagia.” Inilah beberapa renungan untuk generasi masa mendatang yang lebih baik! ***

 

Tulisan ini pernah dipublikasikan di Suara Karya persis pada 80 tahun Sumpah Pemuda. Tulisan yang bagus ada di buku “The Basic Togetherness” karya (alm) Prof. Fuad Hassan. 

 




    Tinggalkan Balasan

    Please log in using one of these methods to post your comment:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: