Arsip untuk November, 2008

Mati ketawa ala sufi

Judul: Renung dan Canda Pelawak Bersorban | Penulis: Nugroho Suksmanto | Penerbit: Koekoesan, Depok | Cetakan: Pertama, Februari 2008 | Tebal: x+126 halaman |
sufi-exercise”Makna lebih penting daripada fakta. Hakikat lebih bermakna dari syariat…Tuhan yang lahir dalam kenyataan, orang menyebutnya medium (perantara) dan kalau dikeramatkan menjadi berhala.” (Suksmanto, 2008: 9)

SIAPA bilang sufi, sang mistikus itu, suka menyendiri? Kalaupun sufi sedang menyendiri, bukan karena ia penyepi yang hendak mengasingkan diri (‘uzlah), tapi karena ia sedang mengarang kelakar untuk diceritakan ke orang lain. Emangnya enak ngomong agama tanpa ketawa-ketiwi. Sufi juga manusia, gitu lho! Lanjut Baca »

tak ada yang istimewa. tempat itu biasa. “berserakan” buku, untuk dijual, bukan untuk dipajang. tapi, bisa dibaca oleh siapa saja yang merasa diri sudah bersetubuh di dalamnya. 

tempat duduknya pun bisa dihitung dengan jari. sekadar untuk kopi darat saja, bisa kurang menumpang orang-orang. paling, hanya sepuluh orang muat. selebihnya duduk tak beralas di atas ubin-ubin klasik. saking banyaknya, bahkan, bisa sampai keluar; meski hanya berdiri dan memisahkan diri–karena ngobrol dengan tema lain.  Lanjut Baca »

Teori Ijtihad Farag Fouda

oleh Novriantoni

Alumnus Al-Azhar, Kairo 

 

Tapi itulah yang menurut Fouda selalu terjadi, sehingga Islam bisa selalu relevan untuk masa yang terus berubah. Fouda menyadari bahwa ijtihad memang tidak mutlak, tapi ia harus tetap dimungkinkan dan pintunya harus senantiasa dibuka lebar-lebar. Ijtihad selalu diperlukan agar tidak terjadi penyimpangan yang terlalu ekstrem antara ideal Islam dengan faktual Islam, dan agar tidak terjadi kemandekan dalam masyarakat.

Lanjut Baca »

Ketika buku ini pertama kali diterbitkan Departemen Agama, pada awal tahun 2008 lalu kehadirannya menjadi geger. Isi di dalamnya memang mengoyak keyakinan mayoritas umat muslim pada kemutlakan dan kesucian sejarah Islam. Menuai kontroversi yang tidak kurang serunya. Lanjut Baca »

Jika memperhitungkan jumlah penduduk, partisipan, dan praktek politik, Indonesia disorot sebagai “laboratorium” Islam politik dan demokratisasi. Perlu dipertegas, Indonesia adalah laboratorium demokrasi muslim terbesar di dunia. Apakah trayek masa depan Islam politik Indonesia mempunyai arah yang jelas?

Pertanyaan itu tidak sekadar ingin meneguhkan suatu identitas dan praktik bernama political Islam menjelang agenda lima tahunan, selebihnya merupakan refleksi jangka panjang bagi kedirian dan eksistensi Islam di Nusantara. Lanjut Baca »