Al-Nahda dan Gerakan Islam

Zacky Khairul Umam

  • Penulis, tinggal di Jakarta Karena beberapa kali letupan kekerasan di Nusantara terjadi atas nama Islam, saat ini kita perlu menelaah kembali jati diri gerakan Islam. Khususnya gerakan Islam radikal yang merongrong tubuh masyarakat. Apakah benar mereka mewakili kebangkitan Islam?

    Kekhawatiran beberapa pakar mengenai “globalisasi Timur Tengah” dewasa ini patut diperhatikan, yakni transmisi ideologi radikal yang menyelimuti aksi keberagamaan dan menjadi tren yang menjamur. Dalam pengertian gerakan ini, segala sesuatu yang terkait dengan perjuangan membela kebebasan, hak asasi manusia, dan demokrasi tidak mendapat tempat dalam Islam dan mesti ditentang, karena lebih merupakan wakil kekafiran Barat.

    Mondialisasi Islamisme
    Terlepas dari perlawanan terhadap hegemon Amerika, Revolusi Islam Iran tahun 1979 merupakan penggalan sejarah besar yang menggairahkan kembali semangat kebangkitan Islam. Kudeta Mekkah oleh kelompok radikal yang terjadi beberapa tahun sebelum revolusi hanya salah satu akar yang ikut mempengaruhi. Pasca-1979, terjadi pembakuan yang dipaksakan untuk memaknai Islam sebagai ideologi tandingan dan kekuatan politik alternatif.

    Tak hanya di dunia Arab, efek penyebaran Islamisme model ini merebak hingga ke Indonesia. Mulai 1980-an, gairah Islamisme menyemai bibit-bibit yang menyerupai jejaring sel-sel hidup mikroskopik, dan kemudian membentuk organisme yang lebih besar dewasa ini. Dimulai dengan slogan “lautan jilbab” hingga “syariat Islam”, “khilafah”, dan seterusnya. Di sisi lain, gerbong pembaruan Islam menempati ruang yang semakin diminati. Setelah reformasi, seolah kutub-kutub kelompok Islam terbuka lebar dan memberikan kesempatan yang sama besarnya bagi setiap orang dan kelompok.

    Kini, tak lagi terhitung bibit itu yang tumbuh subur. Jaringan radikalisme Timur Tengah tentu saja masih berpengaruh. Dalam beragam bentuknya, mulai digemborkan kebangkitan Islam baru. Tapi masih berangan menikmati buah yang manis, sementara mereka tidak memiliki akar-akar yang kukuh: tradisi Islam. Kenapa? Hal ini perlu digali secara genealogis dalam khazanah keislaman.

    Al-Shahwa dan tajdîd
    Referensi kebangkitan Islam dewasa ini merujuk pada pengertian al-shahwa al-Islamiyya (revivalisme Islam) di dunia Arab. Dalam khazanah peradaban Islam, terma al-shahwa sendiri adalah relatif baru dan merupakan bentuk obyek yang pasif yang terjadi setelah dipengaruhi. Merekalah yang banyak menyebut diri sebagai “atas nama Islam” dan amat vokal, dan kemudian banyak disorot dunia Barat sebagai representasi hingga menjadi bahan dari tesis “benturan antarperadaban”.

    Filsuf muslim Maroko, Mohammed Abed Al-Jabiri, menyelisik lebih kritis bahwa pemahaman dalam Islam tak pernah mengenal kata al-shahwa (kebangkitan), karena ia cenderung merupakan serapan asing. Yang ada dalam kamus Islam adalah terminologi tajdîd (pembaruan). Tajdîd memiliki dimensi evaluatif terhadap tradisi (masa lalu) sekaligus berusaha untuk menemui yang lain (masa depan), di dalam ego realitas (saat ini). Tajdîd itulah subyek aktif yang harus dikembangkan, karena ia aktivitas yang mempengaruhi. Al-shahwa bagaimanapun tidak mempunyai dimensi pemikiran (shahwa fikriyya), karena sering berbuntut kejumudan, sementara yang tepat adalah pembaruan pemikiran (tajdîd al-fikr). Maka makna kebangkitan sejatinya mesti diletakkan dalam konteks pembaruan ini (lih. Al-Jabiri, Wijha Nazhar, 1994).

    Tajdîd mengacu pada hadis Nabi, “Setiap pengujung seratus tahun, sesungguhnya Allah mengutus pembaharu dalam persoalan agama kepada umatnya.” Dan memang benar bahwa Islam tak memisahkan urusan agama dan dunia, tapi reformasi keagamaan harus dikaitkan sekaligus dengan yang bersifat duniawi. Pembaruan keagamaan dalam waktu bersamaan juga sebuah upaya sekularisasi, sofistikasi urusan dunia. Hukum sejarah tentang perubahan zaman dan waktu menjadi dasar bagi pembaruan itu. Yang pasti, tujuan utamanya adalah kemaslahatan publik.

    Karenanya, Al-Jabiri mengkritik sebagian penafsiran klasik terhadap tajdîd sebagai kasr al-bid’a atau deformasi hal yang heretik. Bidah dalam Islam tidak selamanya berkonotasi buruk, melainkan harus dilihat pula yang baik. Kebangkitan revivalistik yang berupaya menyerang ke-bidah-an tanpa mengenali dulu faktor tradisi, dengan demikian, bersifat ahistoris. Tajdîd merupakan kerja aktif yang baik untuk îjâd al-hulûl al-‘amaliyya limâ yathruhuhu ‘alaynâ ‘ashranâ min qadhâyâ lam ya’rifhâ mâdhînâ, yakni menemukan solusi-solusi praktis untuk menjawab kekinian yang tidak ditemui pada zaman klasik.

    Inspirasi al-Nahda
    Gema kebangkitan model revivalisme suatu saat akan menemui titik jenuh, disebabkan oleh ketercerabutan tradisi sekaligus ketidakpekaan terhadap situasi kebudayaan. Yang perlu dikembangkan dalam cakrawala gerakan Islam adalah mencari inspirasi tajdîd yang melahirkan al-nahda al-islamiyya (renaisans Islam). Dunia Arab pernah berhasil menjejak kebangkitan era al-Nahda pada 1798-1939 yang melahirkan bianglala pemikiran, setelah lama tertidur (Albert Hourani, 1962), tapi kemudian mulai terperosok kembali dalam kesengitan politik hingga muncul semangat kebangkitan revivalistik.

    Agar gerakan Islam tak mandek dan bahkan tersungkur, ia tidak perlu diarahkan ke ketakberadaban yang menghalalkan kekerasan dan vigilantisme yang barbar. Sebaliknya, ia perlu dibawa ke jalan pendidikan, emansipasi, pembebasan, dan pencerahan. Ia juga perlu diarahkan dari ‘ashr takfîr (era pengkafiran) menuju ‘ashr al-tafkîr (era pemikiran). Syahdan, setelah tertidur sangat lama, Ashabul Kahfi tidak hanya “bangkit” (shahwa) untuk mengikuti jalan hidup, tapi pertama kali mereka membutuhkan pembaruan (tajdîd) akal mereka, sehingga bisa melihat kehidupan baru yang lebih sejati. Inikah kisah Quranik yang tidak diperhatikan?

    http://www.korantempo.com/korantempo/cetak/2008/09/25/Opini/krn.20080925.143419.id.html




    1. Tinggalkan Balasan

      Please log in using one of these methods to post your comment:

      Logo WordPress.com

      You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

      Gambar Twitter

      You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

      Foto Facebook

      You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

      Foto Google+

      You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

      Connecting to %s



    %d blogger menyukai ini: