salah satu tulisanku saja

Dakwah Sayap Kanan
Oleh: Zacky Khairul Umam

Banyak orang mengutuk kekerasan 1 Juni di Monas, Jakarta. Atas nama apa pun, kekerasan dilarang. Apalagi atas nama agama dan Tuhan yang disembah. Demikian halnya, doktrin amar makruf nahi munkar (memerintah yang baik dan melarang yang buruk) tidak serta-merta digunakan sebagai kilah untuk berbuat sesuatu yang merusak dan merugikan orang lain. Kekerasan yang dianggap sebagai “iman paling kuat” (dan “iman yang lemah” itu adalah diam) salah kaprah sejak dari niat dan pemikirannya. Apa pun dalihnya, kekerasan merupakan tindakan kriminal.

Namun, ada polemik yang beredar di masyarakat. Kemudian ada sebagian orang atau pihak yang tidak prihatin dengan korban kekerasan, justru malah berpaling secara simpatik kepada pelaku kekerasan. Ternyata isu Ahmadiyah, yang dibawa dalam aksi damai Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) itu, yang menyulut sumbu “emosi keberagamaan”. Para pelaku kekerasan menyebutnya sebagai “provokasi”, sementara mereka sendiri hendak merebut massa umat Islam yang tidak sama keyakinannya dengan Ahmadiyah. Lalu tindakan kekerasan yang dilakukan untuk membela akidah Islam dianggap benar. Pertanyaannya, apakah benar sesuatu yang bertujuan baik tapi dilaksanakan dengan tindakan yang tidak baik?

Nah, para pelaku kekerasan itu juga mendapat dukungan yang melimpah dari beberapa tokoh, partai politik, dan lembaga keagamaan. Belakangan, pentolan Front Pembela Islam (FPI), yang sedang menjalani proses hukum, dikunjungi dan dibela oleh banyak tokoh keagamaan dan politik nasional. Di sisi lain, simpati terus membubung bersamaan dengan maraknya “demo tandingan” anti-Ahmadiyah hingga beleid pemerintah, yakni surat keputusan bersama (SKB), keluar sebagai barter dengan kelompok kekerasan. Munarman secara heroik menyerahkan diri setelah SKB keluar, seolah-olah dia kartu truf atas sikap pemerintah itu, yang sebelumnya hilang entah ke mana.

Rentetan peristiwa tersebut memberi ruang yang cukup luas bagi kelompok radikal yang sebetulnya secuil jumlahnya. Hanya, mereka bersuara sangat vokal dan pintar untuk menggugah emosi keagamaan. Kendati mereka tetap menjalani proses hukum, kehadirannya cukup terasa di hati umat Islam yang, terutama, anti terhadap ajaran-ajaran Ahmadiyah. Di sela-sela simpati atas mereka, datanglah para tokoh politik dan keagamaan yang memanfaatkan isu ini sebagai umpan untuk meraih dukungan suara di masa mendatang. Untuk meraih massa, tokoh-tokoh yang memberi dukungan dan bantuan advokasi hukum itu tidak seratus persen demi membela akidah agamanya. Bagi pihak ini, yang ada adalah kepentingan untuk memulai mencari celah baru dalam merebut massa. Pihak tersebut berupaya mendulang emas dan mencuri kesempatan di atas tindak kekerasan yang sebetulnya cacat niatnya dan inkonsitusional.

Politik dakwah
Jika diperhatikan, dakwah yang menjadi tren belakangan ini dibungkus dengan penyederhanaan masalah agama. Untuk menjadi penganut agama yang baik, umat yang patuh tidak membutuhkan kesadaran yang tinggi dan penalaran yang berliku-liku. Cukup dengan praktis melaksanakan ritual, membela agama, sekaligus menggunakan simbol-simbol berbau agama, otomatis akan dianggap saleh. Termasuk, misalnya, memilih partai yang berafiliasi dengan simbol keagamaan. Dakwah semacam ini terus menguat dengan munculnya pemeriahan yang berbunga-bunga atas “syariahisasi”.

Bangunan dakwah mereka didirikan dengan upaya meraih massa. Penyederhanaan terjadi dalam praktek keagamaan, yaitu meraih surga dan menghindari neraka, sekaligus tetap bahagia di dunia dan akhirat. Karena itu, metode yang berkembang ialah jauh dari intelektualisasi yang membutuhkan nalar dan jam terbang pemahaman yang tinggi. Aktor-aktor intelektual dakwah semacam ini bergerak dengan mengerucutkan permasalahan dan doktrin-doktrin agama menjadi nilai yang sangat praktis dilakukan, memberikan manfaat, dan menyebarkan efek plasebo yang menyuntikkan imajinasi kebenaran dan kejahatan dalam diri mereka. Secara sederhana mereka, misalnya, menyuntikkan pemahaman “membela agama dan menolak kejahatan”–baca: membela Islam dan mengutuk kekafiran–untuk digunakan sebagai pemantik bagi eksistensi kelompoknya. Di sini, Islam digunakan sebagai simbol dalam cara dakwah mereka. Padahal, siapa yang tahu Islam sebagai ajaran Tuhan berpihak kepada mereka? Mereka hanya berpikir bahwa mereka bagian dari “jihadis” dan tentara Tuhan, karena itu, wajar mendirikan gerakan paramiliter beserta susunan komando yang ada. Kekerasan bahkan bisa dibenarkan.

Dalam pengaruh suntikan ini, massa digiring ke arah “kebenaran” dan pemihakan terhadap radikalisme dan fundamentalisme. Metode penyederhanaan dakwah merupakan cara yang ampuh untuk menggaet massa demi penyebarluasan ajaran-ajaran Islam praktis, menggugah simpati dan emosi, sekaligus bisa menggerakkan dorongan atau motif politik. Kini, penyederhanaan itu bahkan telah mencapai akar rumput persoalan, yakni berusaha meyakinkan masyarakat untuk membangun masyarakat yang bersih, ekonomi yang adil, sekaligus sejahtera. Karena itu, banyak tokoh dan lembaga yang memanfaatkan isu seputar kejadian Monas itu sebagai umpan yang baik untuk mendapatkan partisipan. Kapitalisasi dan politisasi rentan mengikat hal ini dan umat banyak yang tidak menyadarinya sebagai manuver dan manipulasi.

Nah, pemerintah, yang setengah hati ingin bersikap moderat dengan keluarnya SKB, ternyata jatuh pada sikap yang medioker. Bagaimana? Bukannya mendapat berkah dukungan, pemerintah juga akan kebingungan menghadapi tuntutan konstitusional dan hasutan massa. Sementara kelompok Islam tertentu sedang membangun kekuatan massa melalui metode dakwah yang ampuh, pemerintah masih berpikir pada simpul ideologis Islam yang sebetulnya gagap untuk meraih simpatisan. Rakyat butuh kenyamanan, perlindungan, dan kesejahteraan, sekaligus ketegasan. Di sini, pemerintah (Yudhoyono-Kalla) kalah memetakan kekuatan. Kelompok Islam politik semakin besar. Fokus pemerintah memperbaiki kesejahteraan pun tak kunjung membaik. Jelas sudah bahwa ayat-ayat keyakinan lebih penting bagi pemerintah ketimbang ayat-ayat konstitusi.

Zacky Khairul Umam
Penulis, tinggal di Jakarta

URL Source: http://www.korantempo.com/korantempo/2008/06/13/Opini/krn,20080613,51.id.ht
http://www.unisosdem.org/article_detail.php?aid=10286&coid=1&caid=34&gid=2




    Tinggalkan Balasan

    Please log in using one of these methods to post your comment:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: