Bubarkan saja kelompok kekerasan itu

Gerakan simbolik itu bernama Fron Pembela Islam (FPI). Mereka mengaku suara Islam; meneggakan yang makruf dan mencegah yang munkar. Lahir dari ruang kekuasaan yang seharusnya mengayomi tetapi kerap kali menyerang: aparat negara. Mereka seolah dilindungi, padahal jelas-jelas nyata menjadi ayat penentang kebangsaan.

Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan, senyampang dengan Peringatan Hari Pancasila 1 Juni, gagal memberikan petisi kepada pemerintah: “Bela kemajemukan!” Segerombolan massa dengan syahwat setan hadir membubarkan massa, memukuli beberapa aktivis, dan tidak tahu malu menenteng Tuhan dalam tangan mereka, serta menyuarakan takbir.

Polisi datang telat, dengan dalih mengatasi demonstrasi menolak kenaikan BBM di Istana. Kalau pun tak telat, Polisi sudah ketahuan tajinya: bakal tak berani menindak FPI. Hukum kita ompong. Kewargaan diijak, dan kita sekali lagi menyaksikan vandalisme yang tak berdasar, bagi kemanusiaan kita dan traktat kewargaan kita, yang semestinya menjunjung kemajemukan dan keberadaban. Bukan kebiadaban, Saudara!


  1. KEPADA YTH:
    DETASEMEN 88

    Telah ada indikasi kelompok teroris Yaitu Bernama
    FPI atau disebut dengan FRONT PEMBELA ISLAM
    Mohon segera diproses menurut hukum.

  2. armyla

    hmm…menarik sekali…mari kita bahas hal ini dengan kepala dingin…
    saya tertgerak mencari nama anda di internet karena tulisan anda pada koran tempo tanggal 13 Juni 2008.
    anda mengatakan ..”cukup dengan praktis melaksanakan ritual, membela agama, sekaligus menggunakan simbol2 berbau agama, otomatis akan dianggap saleh..”. pertanyaannya adalah kelompok mana yg anda anggap dengan kriteria seperti itu?apakah dengan “cara-cara” seperti yg anda ungkapkan td bisa muncul sebuah ekstrimis? saya rasa tidak….justru pemahaman yg mendalam (baik itu yg benar ataupun yang salah) yg dibutuhkan untuk menjadi keras atau ekstrim…saya rasa yg anda maksud adalah rata2 pnduduk muslim indonesia yg lbh tepatnya Islam KTP.
    jelas sekali terlihat ketakutan anda akan kebangkita yang namanya Syariah…
    apa sih yg anda takutkan padahal anda sendiri, (mungkin) adalah seorang muslim? apakah kekuasaan anda akan berkurang?
    keinginan anda untuk membubarkan FPI tidak ada bedanya dgn keinginan FPI tuk membubarkan Ahmadiyah (laknatullah)..hanya beda tujuan saja…
    setuju sekali saya jika banyak org mengharamkan namanya kekerasan.saya juga menyayangkan kejadian monas itu.
    tp knpa ketika itu dilakukan oleh FPI masyarakat semerta2 mghujat mereka…pdhl blm lama sblm kejadian itu mahasiswa yg demo BBM jg melakukan kekerasan trhadap polisi,mengganggu ketertiban umum…knpa mereka tdk di demo krna mlakukan kekerasan…?dan masih banyak yg melakukan kekerasa serupa….!!!!
    anda tahu dimana markas FPI?klo blm tahu, saya kasi tau nih…di sebelah Gereja Bethel Pethamburan…dan masih bnyak gereja lainnya disana….kenyataannya,mereka dapat hidup secara berdampingan dgn damai..tdk prnah ada complain dr masing2 pihak. ini yg namanya kebebasan beragama…klo ahmadiyah itu soal lain..itu penodaan agama…bagaimanapun caranya harus ditumpas sampai habis….saya takut malah anda (dan Gus Dur sang Dajjal) yg akan dituduh sebagai pemecah belah umat islam di indonesia…
    kesimpulannya….bubarkan ahmadiyah dulu….br damai akan datang…

  3. zackyku

    Mba irma yang baik,

    apakah dengan “kepala dingin” harus menggunakan sebutan-sebutan yang tidak pantas seperti “Dajjal”? Apakah ini sesuai dengan yang diajarkan dalam etika Islam?

    lebih baik mungkin Anda pahami kembali intisari tulisan saya dengan teliti, kritis, dan analitik. kita boleh berbeda, seperti FPI bertetanggaan dengan gereja. tapi jangan sampai termakan oleh hasutan-hasutan yang tidak jelas, seperti pengeroyokan FPI atas Papernas dan sebuah patung di Jawa.

    syariahisasi bukan berarti anti-syariah. syariah yang benar membawa pada kemaslahatan umat, seperti dipikirkan oleh ulama mujaddid al-Syatibi.

    nah, hal utama yang ingin saya sorot di tulisan tersebut sebetulnya “siapa yang memanfaatkan momentum untuk memperlebar pengaruh dirinya”? coba deh lihat dengan pasti. anda mungkin setuju dengan “hukum syariah” (tapi saya menduga amat sempit pengertiannya), tapi sadarkah di sana sarat dengan kapitalisasi dan politisasi? siapa yang bisa menjamin banyaknya tokoh pembela syariahisasi murni karena panggilan agama dan kebaikan?

    kadangkala, atau bahkan mungkin sering, justru banyak yang menunggangi kelompok itu sebagai hasrat menyalurkan oportunisme dan avonturisme.

    khudz al-hikmah walaw min lisan al-akhar!

    wassalam, salam kenal.




Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: