jangan terlalu matematis

menulis di blog memang butuh konsistensi. kalau tidak, ya ketinggalan. sama seperti koran, harusnya blog terus diperbarui. atau bahkan setiap ada perkembangan terbaru kita menulis, mengutip, atau sekadar menyapa blog kita, minimal untuk diri kita, syukur-syukur untuk yang lain. setiap detik sudah menjadi momen perubahan, dalam dunia maya.

syukurlah ada wahana untuk menyambung ide-ide kita untuk disalurkan ke khalayak maya yang mahaluas. seluas jagat dunia ini, di setiap pojok di mana pun orang bisa menikmati apa yang kita tulis di internet.

ah, sudahlah. yang terpenting, tidak pernah bosan untuk terus berusaha dan berupaya. yang berhenti menjejak ikhtiar, berarti memutus asa untuk usaha. mungkin, inilah no pain no gain. bahkan, niat menjadi penting. para pakar motivasi mengatakan “gagal merencanakan, berarti merencanakan kegagalan”. kemarin tahun baru sudah lewat, baik hijriah maupun masehi. belum kalau kita tambahkan dengan khazanah almanak lainnya. setiap masa semakin menjadi berarti. menyia-nyiakannya menusuk manusia pada ketidakmartabatan. karena hal itu tidak arif. itulah mengapa aku, mungkin juga Anda, pernah menyesali waktu yang terlewat. manusiawi memang. tapi jangan berlama-lama pada keterlenaan. mari kita bangkit.

agama mengajarkan kita bergerak, karena diam itu mati bukan? apalagi sebentar lagi aku diwisuda. tepatnya, tanggal 2 februari mendatang. wisuda: tradisi mengesahkan sang terpelajar. tapi, bagiku ini hanya bersifat sementara saja. seorang yang diwisuda secara hakiki sebetulnya ia yang terbebas dari segala kekangan, kapan pun, meski kita masih menempel status mahasiswa. jadi, wisuda bukan soal apakah engkau lulus suatu mata kuliah dengan baik dan indeks prestasi akademik yang gemilang, bukan pula soal apakah engkau memperoleh banyak sks, bukan pula soal apakah engkau memperoleh selembar ijasah yang dinanti-nantikan untuk mendapatkan pekerjaan dan/atau kebanggan. Bukan! wisuda, harusnya, memiliki etos keilmuan yang tinggi untuk menjunjung integritas intelektual dan moralitas profesional. lebih jauh lagi, apa yang sering diungkapkan seorang profesor dari universitas ternama di Yogyakarta: “mesu budhi” alias “asketisme intelektual”. persis ini yang hilang dari jiwa kita sebagai mahasiswa, apalagi engkau yang telah diwisuda. kalau berpikir hal ini, menjadi berat beban setelah diwisuda. selain berpikir tentang diri, juga yang lain menghampari kita. untuk berbakti, sebaik mungkin.

gaudeamus igitur, yuvenesdum sumus! yuk, kita bergembira, selagi masih belia!

karena, kalau sudah “tua”, pikun pun membuat lara diri kita. yaitu, tua semangat yang membikin kita menuju penuaan dini. na’udzu billah min dzalik.

Untuk Prof. Dr. der. soz.  Gumilar Rusliwa Somantri: buktikan bahwa UI mampu berjaya. Juga, pesan (alm.) Prof. Dr. Fuad Hassan: di almamater ini, panji-panji kesenian akan berkibar! yakin deh, mahasiswa kering karena terlalu matematis, sedangkan di sisi lain ia tidak mengindahkan laku estetis.




    Tinggalkan Balasan

    Please log in using one of these methods to post your comment:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: