Mbah, Jangan Jual Museum Kami!

Hakulyakin, andaikala dibuat sebuah survei penelitian tentang seberapa besar minat dan animo masyarakat Indonesia untuk mengunjungi museum-museum di setiap daerah masing-masing, secuil harapan untuk hasil yang memuaskan. Kenyataan ini kita hadapi dalam keseharian. Miris memang. Jangankan masyarakat umum, kaum intelektual, akademisi, para mahasiswa dan siswa pun jarang yang mempunyai keinginan besar untuk, minimal, menengok museum. Yang kita perhatikan selalu budayawan atau peneliti yang berkepentingan saja, selain para wisatawan. Tentang para mahasiswa dan siswa yang berziarah ke museum kebanyakan mau karena dipaksa dan terpaksa oleh tugas ilmiah, dan peran dosen atau pendidik amat dominan di sini.

Kecilnya minat mengunjungi museum menyebabkan perhatian pada tempat pemulasaraan budaya ini menjadi minim. Kunjungan karena terpaksa menjadi rutinitas. Museum hanya penuh saban tahun oleh suatu kebiasaan rutin itu. Entah karena tugas ilmiah, rekreasi akhir tahun, atau hanya karena memenuhi festival budaya pada perayaan hari besar atau momen spesial tertentu. Di Jakarta pun demikian, bentangan museum yang menyimpan artefak dan perjalanan sejarah kebanyakan hanya diminati karena faktor rutinitas itu. Saksikan saja sendiri di Museum Fatahillah, Museum Gajah, Museum Bahari, dan seterusnya. Ibukota sebagai parameter dalam mencerap nilai-nilai budaya nasional amat kurang memperhatikan pembangunan ini. Jika perhatian kurang, bagaimana mau membangun sebuah pusat kebudayaan dan peradaban bangsa? Bangsa yang tak tekun memilin keluhuran budaya sebagai kebanggaan, tak pernah mampu untuk menunjukkan identitas dirinya.

Keganjilan lain terjadi. Minggu lalu (20 November), kepala Museum Radya Pustaka, Solo Jawa Tengah, KRH Darmodipuro yang telah berusia 69 tahun ditahan gara-gara kasus pemalsuan dan pencurian koleksi museum yang dipimpinnya. Lima buah arca batu buatan abad IV-IX telah dijual ke pihak lain dengan harga hingga ratusan juta rupiah. Beberapa hari berikutnya, arca-arca tersebut ditemukan dari seorang pengusaha Jakarta, yang mengklaim bahwa benda bersejarah tersebut dibeli dari lelang luar negeri dan atas dasar kecintaan terhadap nusantara. Kasus seperti ini bukan kasus yang sekali terjadi. Bisa jadi, ada banyak kasus lain yang tak terungkap karena rapinya persekongkolan antara pemulasara museum, pihak aparat keamanan, para pialang, dan para bisnisman barang antik itu sendiri. Peristiwa di Museum Radya Pustaka tersebut harusnya menjadi preseden tentang rawannya artefak kebudayaan yang mudah raib, karena bernilai jual sangat mahal.

Jaminankah, tertangkapnya sang kepala museum yang blunder akibat ulahnya, hal itu tak akan terulang dengan kasus-kasus lain? Tidak selalu demikian. Kemungkinan berulangnya kejadian tersebut tetap saja terbuka, selagi kesempatan ada. Menghukum perbuatan kriminal kepada seseorang tidak akan pernah menyelesaikan akar masalah. Yaitu, penghargaan terhadap aspek sejarah dan budaya. Selagi tabiat bangsa ini masih belum berubah dalam hal penghargaan atas kebudayaan, tidak akan menjadi jaminan bahwa sebuah museum atau jejak-jejak peradaban masa lalu akan terus terawat. Bahkan mungkin bisa hilang dari memori masyarakat. Karena minim informasi misalnya. Atau ketiadaan akses yang mencukupi untuk memasuki wilayah ‘cagar budaya’ ini. Miskin informasi boleh jadi yang utama. Lebih fakir lagi kala keterbatasan akses masyarakat untuk melangkah memasukinya dipagari oleh ketentuan-ketentuan yang terlalu birokratis. Lebih sengsara lagi, pemandangan yang tidak enak dinikmati karena saking kunonya sebuah museum, hingga penuh dengan debu yang bergulung-gulung dan penuh dengan habitat makhluk-makhluk tertentu.

Intisari terbengkalainya sebuah museum bukan berada di luar diri kita, yaitu kesediaan kita untuk menghargai kebudayaan kita sendiri; kesediaan kita untuk menjejak moyang kita dulu. Atau apa yang saya sebut dengan ‘politik handarbeni’. Suatu bangsa yang tidak memasang sauh kehidupannya pada dirinya sendiri, berarti ia tidak merasa memiliki. Gampang contohnya, nilai-nilai tradisi yang tidak dikembangkan berarti kita tidak mampu mengupayakan memilikinya lagi. Atau lagu-lagu daerah, seperti Rasa Sayange, alat musik tradisional seperti angklung, atau pakaian tradisional yang adiluhung seperti batik. Kenapa rasa kepemilikian itu baru terbentuk saat bangsa lain mengklaimnya? Begitu telatkah kita bangun pagi hingga barang-barang yang kita simpan dalam wisma kita raib begitu saja akibat keteledoran kita? Ini kita artikan sebagai ketakarifan kultural. Kalau kearifan kultural berarti segala upaya untuk memberikan jangkar pada hulu hingga hilir kebudayaan kita sendiri, sementara ketakarifan merupakan sebaliknya. Kearifan model ini bukan berarti sebuah ‘eksklusi’ atau penyangkalan universalitas nilai-nilai, melainkan sebuah ketahanan budaya terkait dengan cara pandang kita atas diri kita sendiri: tentang budaya, masa kini, masa lalu, hingga proyeksi masa mendatangnya.

Ketakarifan seperti ini lebih jauh merupakan penyangkalan diri ‘self-denial’. Suatu patologi yang wajar kala terjadi kebencian terhadap yang lain alias heterofob, tetapi menjadi sangat tidak wajar jika kita benci pada diri kita sendiri, autofobia, pada budaya kita sendiri. Hatta berani menjualnya ke pihak lain, entah asing maupun domestik. Benda-benda bersejarah memang sebuah komoditas yang layak diambil keuntungannya selagi wajar dipergunakan untuk melestarikannya. Sebaliknya, ia bukan barang sembarangan yang bisa dilempar keluar dari tempat persemayamannya. Ia merupakan barang yang dilindungi kecerlangan lokal dan hukum nasional.

Menilik kembali fungsi museum, kita sadar bahwa kita bangsa yang tertinggal. Kita sangat takzim saat peneliti atau ilmuwan asing begitu bangga melihat sebuah artefak budaya, hingga dirawat, terlebih lagi dikuak unsur-unsur pengetahuan arkeologis-historis di dalamnya. Orang asing begitu setia menekuni secara telaten saat meneliti sebuah peninggalan sejarah dan budaya. Kecintaan terhadap kemanusiaan dan pengetahuan membawa pada kearifan kultural yang luar biasa. Fakta kemajuan bangsa didukung oleh kepeduliannya pada aspek ini sudah tidak dimungkiri lagi. Di manapun, di negara maju di dunia ini, penghargaan atas aspek budaya amat tinggi, pemulasaraan atas museum-museum terawat dengan baik dan indah, serta masyarakatnya gemar berkunjung ke dalamnya. Bahkan tak sekadar sebuah rekreasi. Bahkan sebuah apresiasi.

Robohnya ‘museum kami’ merupakan tinanda petaka. Tahap pertama, sang penjaga museum lalai akan tugasnya, jadilah ia pagar makan tanaman. Tahap petaka yang lebih besar ialah hilangnya martabat warisan sejarah dan kebudayaan dari lubuk kesadaran kita. Maka jika tak ingin terjadi sebuah krisis identitas kebangsaan, sadarlah bahwa kita kehilangan kepekaan untuk meraut pangkal kepedulian kita yang semakin menumpul. Cukuplah museum menjadi penegur kita, barang kali ini saja, untuk selamanya. Bangunkan ia menjadi sebuah ruang peradaban tempat kita merenung, menelaah, dan menggelontorkan spirit perubahan nasib. Di sana tempat berlabuh kearifan kultural kita hingga: langgeng di hati, lestari di bumi.

Media Indonesia, 29 November 2007


  1. aal

    Ky, kok lama gak diupdate lg? Update dong, biar aku betah berkunjung di blogmu, he2. Eh Awid enak ya, di Armsterdam sana. km kpn nyusul? Hi2… Good Luck!




Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: