Politik dan Mortalitas Ekologi

Oleh Zacky Khairul Umam

Bebasnya Adelin Lis dari jerat pembalakan liar ialah preseden buruk penegakan hukum. Ironisnya, kini sang buronan sedang dikejar-kejar dengan jerat pencucian uang. Mata publik terbelalak keheranan. Kesinergisan para aparat penegak hukum sedang diuji: kompakkah mereka menangani kasus yang bukan saja merusak lingkungan, tetapi sangat merugikan masyarakat luas?

Kadang dunia politik dan hukum tak bisa ditebak secara linear. Hari ini mendengungkan keadilan, besoknya meneriakkan kepicikan. Siang ini penuh dengan keberanian, di waktu malam sarat dengan keculasan. Nasib orang bisa dipertahankan dengan citra yang baik, dalam nalar politik dan hukum Hobbesian, asalkan dunia “di balik bawah meja” menyelesaikan segalanya. Para kritikus yang jeli bilang, UUD (ujung-ujungnya duit) menjadi konstitusi yang dipatuhi karena bertaburan dengan menyan-menyan metarialistik yang melenakan.

Dalam konteks ini, apakah komitmen politik lingkungan (green politics) yang sudah sering dilemparkan ke muka publik memiliki keampuhan politik dan hukum? Sesungguhnya, yang bisa dijadikan jaminan hanya satu: integritas moral dan kredibilitas profesional. Jadi, komitmen penegakkan politik lingkungan sejajar dengan seberapa jauh kekuatan moralitas ditegakkan. Dalam ekologi, moralitas juga mengacu pada bagaimana manusia melihat persoalan lingkungan sebagai krisis eksistensial yang kembali pada dirinya. Pertanyaan yang layak: masihkah sadar dalam lubuk moral kala menyaksikan kerusakan lingkungan yang mengancam kehidupan esok, dan bahkan berimbas jangka panjang? Yang rugi, jelas, manusia itu sendiri. Siapa yang tidak menyadari hal ini logikanya menjadi tidak waras.

“Green wash” dan “ecocide”

“Kewarasan” bagi para penjahat lingkungan terletak ada bagaimana memperoleh sebanyak mungkin manfaat dari alam dengan tanpa mempertimbangkan daya dukung, kelestarian, dan keadaan sosial-budayanya. Yang ada di pikirannya bagaimana supaya “uang” berkuasa atas “ruang”. Kondisi ini memosisikan alam sebagai titik yang periferal, subordinat, di bawah kendali “keakuan” ( cogito) yang terlalu mendambakan manusia sebagai penakluk. Keakuan manusia ini membikin dirinya menjadi diktator atas objek. Objek alam demikian dianggap tak berdaya, karena manusia merupakan pusat segalanya yang berhak mengatur sesuai dengan rasio murni. Bahkan dengan hantam krama.

Penundukkan atas alam merupakan warisan paling kentara dari mekanisme industrialisasi dengan semangat eksploitatif. Kegagalan modernitas tertumpu pada titik ini. Yakni, tiadanya rem pengetahuan dan kesadaran yang mencekal setiap kebengisan atas eksploitasi alam. Tapi kenapa, kejadian yang seharusnya bisa ditekan sejak lama ini masih merajalela? Di saat negara-negara maju yang sadar lingkungan, hitunglah Norwegia atau Jerman, di tengah keterpacuan untuk menyelamatkan bumi dari global warming, politik negara berkembang seperti Indonesia masih infantil dalam menyikapi lingkungan.

Politik gagal menekan laju holocaust terhadap lingkungan. Sistem birokratis dan tatanan hukumnya masih gagap melihat kejahatan terbesar abad ke-21: green wash. Keinfantilan itu lebih luas merupakan sikap serba medioker para politisi di belantara hutan rimba politik. Bahkan keadaan yang tak arif ekologis ini sebenarnya jika dilihat kadar ketakberadabannya lebih seram dari hutan rimba sekalipun. Jika benar-benar tidak diambil tindakan luar biasa, telos keadaban ekologis tak pernah hadir.

Kondisi ecocide atau pembunuhan ekologis merupakan kematian dari kebestarian manusia untuk kelestarian lingkungan. Dan dalam sistem operasionalnya, ecocide melibatkan jejaring subjek yang terlibat di dalamnya, seperti para pebinis domestik atau global beserta kepentingan kapitalismenya, aparat penegak hukum dan dunia politik, serta para “pembajak kecil” dari masyarakat yang dibayar dan dipelihara. Sehingga memutus mata rantai ecocide tak pernah bisa dilakukan melalui satu subjek saja, seperti memburu para taipan yang membalak hutan secara liar. Persoalannya memang menjadi kompleks. Sistem pembalakan liar tidak bisa dihilangkan dengan menghukum pelaku otaknya, sementara mentalitas masyarakatnya masih belum berubah. Lebih parah lagi, para penegak hukumnya belum tersadarkan. Dari akar hingga rantingnya, atau dari hulu hingga hilir jejaring ecocide harus diperhatikan.

Demokrasi bumi

Politik lingkungan akhirnya tak bisa dianggap sepele. Ia membutuhkan ketegasan dalam membikin regulasi hingga pelaksanaan di lapangan. Sudah saatnya politik lingkungan tidak dianggap sebagai komoditas menjelang pemilu saja, yang terkesan sebagai jualan tak penting. Bahkan kalau perlu kehadiran parpol lingkungan ( green party) menjadi keharusan, jika tidak dengan merevitalisasi parpol yang ada untuk giat dan tekun mengurusi kerusakan lingkungan sebagai krisis nasional. Tekad sebuah parpol, dengan kewajiban “setiap kader menanam sebuah pohon”, perlu diikuti dan tak cuman politik gincu saja.

Sepertinya, makna demokrasi kita mesti diperluas, dari sekadar interaksi politik antarmanusia menjadi kesadaran interpersonal kemanusiaan dengan semesta lingkungan. Inilah proliferasi demokrasi yang ditanam filsuf-feminis Vandana Shiva dengan earth democracy (demokrasi bumi). Bilik-bilik suara dan mandat dalam demokrasi juga diarahkan untuk menjadi advokasi politik emansipatoris terhadap isu-isu ekologis. Kampanye tak sekadar imagologi dan demagogi, tapi bagaimana caranya menjadi praksis yang memedulikan lingkungan. Kitalah yang akan menjadi moyang di kemudian hari tentang bagaimana memperlakukan nasib bumi ini. Cukuplah destruksi politik yang maskulin atas lingkungan diakhiri, karena, dalam pikiran Shiva, memperlakukan bumi sejatinya melalui akhlak yang feminin, yang penuh welas asih. Di sinilah saya menekankan: the ecology is political.

Seputar Indonesia Sore, 23 Nopember 2007


  1. aal

    tambah produktif aja. selamat.
    aku seolah kehabisan amunisi untuk menulis. pinjami aku semangatmu. nanti aku bayar bila sudah kembali modal…




Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: