Timur Tengah, Demokrasi atau Pluralisme?

Akhir-akhir ini di salah satu harian terbesar di Timur Tengah, Al-Syarq al-Awsath (16 November) sedang ramai polemik yang dipicu oleh publikasi artikel Thomas L. Friedman di harian itu dengan tajuk “Timur Tengah: Mengganti Demokrasi dengan Menyebarkan Pluralisme”. Dalam analisis Friedman, masyarakat Islam di Timur Tengah lebih membutuhkan pluralisme tinimbang demokrasi. Bahwa pluralisme, dan bukan demokrasi, sangat dibutuhkan untuk menegakkan basis kehidupan masyarakat yang majemuk. Krisis Timur Tengah tidak bisa dibiarkan begitu saja dengan pemaksaan demokrasi yang dilakukan Amerika dan negara Barat pendukungnya.

Apa yang dikritik Friedman bukanlah sesuatu yang baru dalam diskursus politik kontemporer di Timur Tengah saat ini. Yang baru justru otokritik kebijakan dalam negeri Amerika. Friedman, yang pendapatnya sering menjelaskan kesetujuannya dengan George W. Bush perihal reformasi demokrasi di Timur Tengah, kemudian ikut pula melakukan kritik, meski tidak sekeras Noam Chomsky, Francis Fukuyama, atau Amartya Sen, terhadap tabiat politik pre-emptive yang destruktif itu. Friedman ikut menyadari bahwa misi Amerika di Timur Tengah, dengan menengarai skala keberhasilan di Irak dan Afganistan, mengalami masa senjakala yang semakin tua. Proyek politik Amerika untuk membangun pluralisme ke arah demokrasi telah jelas-jelas gagal.

Friedman ingin agar misi utama di Timur Tengah tinggal satu: pluralisme. Pemaksaan demokrasi sebagai tatanan sosial-politik tidak usah diwujudkan lagi. Justru inilah yang mengundang banyak tanya dari para pengamat di berbagai negara: bagaimana mungkin menyajikan paket pluralisme tanpa agenda demokrasi? Mungkinkah? Barangkali, keterkaitan mempersoalkan demokrasi dan pluralisme memang sesuatu yang tidak bisa dipisahkan dan bersifat inheren. Maka, benar apa yang dipertanyakan itu, karena pluralisme sesungguhnya merupakan nilai intrinsik dalam mengembangkan budaya demokratis.

Namun, mari kita lihat dulu kemungkinan budaya Arab di Timur Tengah sendiri untuk menjawab agenda demokratisasi atau hanya “pluralisme” menurut Friedman. Persoalan utama yang menyebabkan macetnya proyek demokratisasi ialah berkuasanya rezim diktator yang menguasai hampir setiap negara di kawasan itu, baik yang berbentuk kerajaan maupun republik. Rezim Saddam di Irak dan Taliban di Afganistan sudah ditumbangkan Amerika, tapi menyisakan persoalan karena pemerintahan yang dibentuk lebih dianggap sebagai boneka yang tidak mampu mengatasi friksi politik internal, selain adanya intervensi asing dalam konflik internal yang dibiarkan Amerika, sebagaimana terjadi di Irak. Rakyat Irak memang ada yang bersyukur rezim Saddam tumbang, tapi mereka tidak pernah berpikir bahwa nasib hari ini, di bawah ketiak Amerika, akan lebih baik dari kondisi kemarin.

Bagi Iran, persoalan menjawab tantangan demokratisasi dilihat sebagai hegemoni Amerika yang terlalu dibuat-buat. Dengan mengatasnamakan demokrasi, Barat menekan Iran agar mengurangi kekuatan nuklirnya dan tunduk pada kemauan mereka. Ahmadinejad kukuh meneruskan program nuklirnya. Apalagi setelah Badan Energi Atom Internasional tidak menemukan bukti senjata nuklir, Ahmadinejad pun menuntut Barat meminta maaf. Iran melihat bahwa “proyek demokrasi” hanya merupakan alat untuk menekan kekuatan penyeimbang yang selama ini lebih dominan dikuasai Israel di Timur Tengah. Iran menyadari bahwa tidak mudah menerima demokrasi kalau kenyataannya kepentingan geopolitik Timur Tengah hanya dimainkan secara tidak adil. Dalam hal ini, Iran didukung Suriah.

Kalau mau optimistis, sebetulnya bisa menyebut dua negara, yakni Mesir dan Libanon. Meski pemerintahan Mesir masih diktator, kondisi masyarakatnya begitu plural dan meniscayakan prototipe pluralisme bagi Timur Tengah. Sayangnya, kondisi negara ini tidak sekuat pada era 1950-an hingga pertengahan 1960-an, terutama di bawah pengaruh nasionalisme-Nasserisme. Sementara itu, dengan komposisi masyarakat majemuk di Libanon, dalam kadar tertentu itu merupakan bentuk yang ideal untuk membangun pluralisme. Kenyataannya, negara yang dulu sempat dijuluki “Swiss-nya Timur Tengah” itu terjebak dalam sekam api perang saudara dan perseteruan dengan Israel. Apalagi kini krisis politik Libanon masih kisruh. Lagi pula, dalam perjalanannya, meski masyarakatnya relatif pluralis, politik Libanon tidak demokratis.

Selebihnya, negara-negara lain di Timur Tengah lebih bersikap konformistik terhadap Amerika dan Barat, jika malah bukan sebuah pion mereka seperti ditampilkan rezim Arab Saudi. Belum lagi jika kita tambahkan dengan militerisme di Pakistan. Yang pasti, mengembangkan demokrasi atau pluralisme saja dalam kawasan Timur Tengah secara umum masih merupakan mimpi di siang bolong. Negara Barat menginginkan stabilitas dan demokrasi, memerangi terorisme, dan mengembangkan pluralisme di Timur Tengah, tapi mereka tidak melihat tabiat tiap negara di kawasan tersebut, dan justru memakai pendekatan represif. Bahkan, kalaupun mereka satu bangsa Arab yang besar, dalam prakteknya tidak mencerminkan sebuah persatuan khas Pan-Arabisme klasik, tapi lebih bersifat friksional. Kesepakatan tidak tertulis bangsa Arab terkini pada dasarnya agree in disagree.

Absennya pluralisme, atas perbedaan pemikiran dan norma-norma di Timur Tengah, yang dalam tesis Friedman tidak menunjukkan perubahan demokratis, adalah problem negara-negara non-Barat. Tapi, anehnya, untuk membandingkan keberhasilan peradaban demokratis, Friedman lebih menunjuk India sebagai contoh yang berhasil, dan bukannya Indonesia yang lebih dekat dengan masalah keagamaannya. Mungkin karena secara geopolitik, peradaban muslim Indo-Melayu masih dianggap pinggiran, sehingga belum menjadi wakil yang memadai, walaupun dengan prestasi yang membanggakan: budaya demokratis.

Di sisi lain, Friedman tidak menganalisis lebih jauh bahwa pada dasarnya demokrasi bukan sebuah sistem praktis untuk setiap negara dengan resep yang sama, yang hal ini terlihat dari tradisi Kontinental dan Anglo-Saxon. Bahkan kini Nicholas Syarkozi ingin agar Prancis lebih menyerupai demokrasi Amerika. Maksudnya, pengembangan demokrasi lebih dekat dengan kecenderungan yang nisbi atau sesuatu yang to come dan tertunda sebagaimana diungkap filsuf Derrida. Ketidakmampuan melihat tabiat dan kondisi Timur Tengah-lah yang menyebabkan kegagalan misi Amerika. Pada dasarnya masyarakat Timur Tengah menolak proyek peradaban yang prestisius menuju demokrasi, dan kebebasan bukan karena nilai-nilai itu bertentangan, melainkan lebih disebabkan oleh perbuatan Amerika yang permisif. Pada prinsipnya, masyarakat Arab tidak lebih heterofobia dibandingkan dengan Amerika.

Krisis di Timur Tengah kini lebih dari sekadar “polemik kebudayaan” yang ramai diperdebatkan di Kuwait pada 1974. Jika polemik kebudayaan merupakan respons internal terhadap krisis Arab akibat kekalahan dari Israel dalam Perang Enam Hari 1967 yang menuntut pembaruan tradisi warisan budaya dan masih menyisakan problem hingga kini, pemaksaan demokrasi saat ini oleh negara Barat merupakan persoalan lagi yang lebih kompleks. Amerika (dan Barat) selama ini melihat representasi Timur Tengah dengan militansi kelompok Hizbullah, Hamas, atau secara luas pada Al-Ikhwan al-Muslimun yang rejeksionis terhadap pluralisme dan demokrasi. Padahal, menurut penyair-filsuf Arab terkenal Adonis (2006), persoalan yang lebih luas dalam masyarakat Arab ialah ketidakmengertian pada makna kebebasan (freedom) yang lebih dari sekadar kebebasan berpendapat dan berekspresi. Kebebasan merupakan wahana pembebasan kebudayaan. Karena itu, memaksakan demokrasi dan/atau pluralisme di Timur Tengah bukanlah solusi selagi krisis mentalitas Arab pasca-1967 belum bisa diatasi secara komprehensif.

Zacky KU, Koran Tempo, 20 November 2007




    Tinggalkan Balasan

    Please log in using one of these methods to post your comment:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: