Industri Warisan Budaya

(Media Indonesia, 25 Oktober 2007) 

Bangsa kita sulit menjadi ‘tuan’ di rumah sendiri. Sadar atau tidak sadar, kita bukan lagi ‘pemilik’ dan ‘penentu’ bagi nasib bangsa ke depan jika rasa handarbeni atau kepemilikian atas sumber daya alam dan kultur hilang perlahan-lahan. Rasanya, saking kayanya potensi segala sumber daya di negeri ini, segalanya dibiarkan begitu saja hingga tidak ada kepekaan untuk merasa kehilangan. Padahal, setelah kecolongan atas sumber daya dalam negeri, kita baru geger dan kehilangan.

Itu kita rasakan sekarang kala lagu lokal Maluku, Rasa Sayange, digunakan Malaysia untuk mempromosikan pariwisatanya. Sudah bertubi masalah Indonesia dengan negeri serumpun Malaysia, ditambah lagi dengan sikap sepihak Malaysia yang sangat tidak mengindahkan hubungan ‘bertetanggaan’ yang baik. ‘Encik maunya apa?’, kata tajuk sebuah media yang menuntut jawab dengan tegas. Sikap marah sungguh tidak bijak, dan lebih tidak arif lagi jika lagi-lagi bangsa kita jatuh pada kubangan yang sama. Ujung-ujungnya, kita menjadi pandir andaikan harta karun milik kita sendiri terus-menerus diambil tetangga justru di saat kita melek dan sadar.

Bukan kali ini saja, memang, potensi sumber daya bangsa kita tidak mampu memberikan manfaat bagi keberlangsungan hidup. Lebih-lebih terkait dengan sumber daya kultural. Sebagaimana kita kecolongan Rasa Sayange, kita terkecoh pula dengan klaim sepihak Malaysia atas penguasaan produksi batik, atau Jepang dengan teknologi pembuatan tempe yang canggih. Entah apa lagi ke depan kita kebingungan melihat mozaik kebudayaan yang amat luhur sifatnya digondol menjadi milik bangsa lain.

Dengan menyadari bahwa kekayaan budaya kita sangat melimpah-ruah, sudah menjadi kemestian untuk menjaga, merawat, dan memanfaatkannya sebaik mungkin. Dengan berjuta-juta potensi unik dan otentik dari warisan budaya bangsa, tak saja ikut memeriahkan kemajemukan bangsa, tetapi juga memberikan manfaat materiil yang kasat mata. Baik warisan budaya yang tampak nyata (tangible) seperti artefak budaya, benda-benda bersejarah, dan sederet karya peradaban bangsa lainnya, maupun yang tidak tampak (intangible) seperti lagu daerah, kesenian membatik, wayang dan semesta penciptaan budaya lainnya, menjadi sesuatu yang sangat berharga dan tak ternilai harganya.

Sejauh mana kita menghargai nilai-nilai, tradisi, beserta tatanan semesta simbolik di dalamnya menunjukkan kepribadian kita dalam mewujudkan ketahanan nasional di bidang budaya. Ketahanan budaya menjadi rapuh jika setiap unsur kebudayaan yang sudah menjadi warisan ataupun yang sedang dan akan berlangsung tidak dilindungi dengan politik kebudayaan yang mencukupi. Politik kebudayaan amat kering jika tidak disirami oleh penanaman kembali spirit kebudayaan bangsa pada setiap generasi yang, hemat saya, tercakup dalam visi besar nation character building.

Ekonomi kreatif

Salah satu jalan keluar untuk membangun kecintaan kita pada warisan budaya ialah melalui pendekatan industri budaya. Industri budaya merupakan tren pengembangan potensi warisan budaya dari hulu hingga hilirnya, pemulasaraan jenis-jenisnya, dan sebisa mungkin dipoles melalui inovasi tingkat tinggi, agar memberikan hasil. Tujuan besarnya terletak pada upaya adiluhung untuk mengangkat karakter kebudayaan bangsa. Hal ini berdimensi jangka panjang. Sementara tujuan praktisnya ikut menyumbang devisa pada negara: untuk matra kesejahteraan masyarakat.

Pada Pekan Produk Budaya Nasional pertengahan Juli lalu di Jakarta, atau Pekan Batik Internasional awal September di Pekalongan, pemerintah sendiri sebetulnya sudah menyadari pentingnya pengembangan industri warisan budaya sebagai salah satu perwujudan ekonomi kreatif yang beraset tinggi. Selama ini niat baik untuk menjunjung warisan budaya tidak cukup hanya dengan kemauan pemerintah saja. Pengembangan yang lebih maju membutuhkan pembangunan sumber daya manusia yang juga mumpuni untuk merancang strategi yang baik, selain juga investasi dan infrastruktur yang memadai. Karenanya, pemerintah saja akan kewalahan. Sektor swasta dan jejaring masyarakat sipil sebaik mungkin ikut dilibatkan secara menyeluruh.

Industri warisan budaya bangsa tidak boleh dipandang sebelah mata. Sebagai bagian dari sektor ekonomi kreatif, industri jenis ini menjadi aset tak terbatas yang sampai kapan pun tidak akan pernah lekang oleh zaman, dengan catatan bahwa proses kreasi dan inovasi terus diberdayakan. Sekadar dimaklumi saja, kekayaan budaya Singapura dibandingkan dengan Indonesia seperti bintang kecil dibandingkan dengan jagat raya, tetapi malah masih unggul Singapura. Dengan mengandalkan ‘impor’ produk warisan budaya, industri budaya Singapura berhasil menyumbang devisa 3-4 miliar US dolar. Padahal pengembangannya baru pada tahun 2005. Rata-rata negara maju mampu menjalankan industri seperti ini hingga 30 persen, sementara Indonesia baru menyumbang PDB sekitar 1,9 persen saja. Hasil yang dicapai Indonesia baru berkisar hingga 2 miliar US dolar saja, padahal warisan budaya kita amat melimpah ruah. Hambatan yang tampak nyata biasanya terletak pada kemampuan SDM, permodalan, pengemasan, dan pemasaran. Kualitas kita dalam mengelola aset tak ternilai tersebut memang masih amatiran.

Untuk pengembangan ke depan, sebetulnya kita tidak usah terlalu takut kecolongan dengan bangsa lain atas warisan budaya kita sendiri. Selama ini kita terkecoh dengan, misalnya, penguasaan perbatikan oleh Malaysia, paten tempe oleh Jepang, dan mungkin entah apa lagi nanti seperti klaim atas lagu Rasa Sayange. Sebab, sangat sulit untuk mematenkan warisan budaya yang tidak termaktub jelas siapa moyang penciptanya dan kapan waktu pasti penciptaan pertama kalinya. Bahwa telah terjadi penguasaan sepihak, itu hanya klaim belaka. Paten tetap saja tidak bisa didaku atas warisan budaya tersebut. Yang bisa dipatenkan, sesuai dengan standar internasional, ialah teknologi atau cara penciptaan yang mutakhir atas sebuah warisan budaya, seperti teknologi mekanik pembuatan tempe atau batik cap yang canggih. Selagi secara sosio-historis masih menjadi tradisi bangsa kita, meskipun sulit menentukan founding fathers/mothers dan waktunya, tetap saja secara kolektif masih menjadi milik kebudayaan Indonesia. Lalu, kenapa harus takut ketinggalan? Dengan Malaysia, misalnya, kualitas batik tulis yang sangat indah dan luhur itu tidak bisa disepadankan dengan produksi massal batik cap, meski dengan teknologi canggih. Nah, yang perlu dikhawatirkan bagaimana supaya para pengrajin batik, misalnya, tidak diboyong ke luar negeri dengan iming-iming yang menggiurkan, sementara kita semakin kehilangan potensi besar.

Peradaban keempat

Upaya yang baik mengawali pengembangan industri warisan budaya secara masif ialah melalui ‘edifikasi’ (bildung) budaya. Yakni, politik pencitraan dan pengidentifikasian pada warisan budaya sebagai kepemilikan bersama: politik handarbeni. Hal ini bermaksud untuk mengembalikan warisan budaya kita sebagai citra kolektif, entah melalui sosialisasi atau pendidikan dalam pengertian yang luas, guna menghasilkan kesadaran bersama. Sampai titik poin ini, hal yang harus diwaspadai ialah bagaimana supaya pengembangan industri warisan budaya tidak jatuh pada komodifikasi yang sempit, meminggirkan aspek kebudayaan dengan reifikasi yang melulu materialistik, atau serba tergerus oleh logika kapitalisme lanjut yang mendukung permodalan dan kedangkalan citra saja. Aspek negatif ini memang tidak bisa dihindari, tetapi bagaimana caranya supaya industri warisan budaya dikembangkan dengan dukungan ‘edifikasi’ yang menebarkan spirit bagi mekarnya kebudayaan.

Pemanfaatan warisan budaya di masa mendatang akan menjadi tren yang sama besarnya dengan isu-isu lingkungan hidup. Kini sudah digemborkan bahwa basis warisan budaya dan lingkungan merupakan gelombang peradaban keempat, setelah basis informasi dan pikiran dalam gelombang ketiga, basis industrialisasi dalam gelombang kedua, dan basis agraris dalam gelombang pertama. Mengingat amat pentingnya prospek masa depan warisan budaya, strategi pengembangannya tidak boleh dianggap sepele. Merubah cara berpikir yang radikal merupakan fundamen, selebihnya bagaimana menyiasati agar di era persaingan globalisasi kita menjadi ‘tuan’ di negeri sendiri. Bukan sebaliknya.  




    Tinggalkan Balasan

    Please log in using one of these methods to post your comment:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: