Archive for the ‘unek-unek yang menggumpal’ Category

tak ada yang istimewa. tempat itu biasa. “berserakan” buku, untuk dijual, bukan untuk dipajang. tapi, bisa dibaca oleh siapa saja yang merasa diri sudah bersetubuh di dalamnya. 

tempat duduknya pun bisa dihitung dengan jari. sekadar untuk kopi darat saja, bisa kurang menumpang orang-orang. paling, hanya sepuluh orang muat. selebihnya duduk tak beralas di atas ubin-ubin klasik. saking banyaknya, bahkan, bisa sampai keluar; meski hanya berdiri dan memisahkan diri–karena ngobrol dengan tema lain.  Lanjut Baca »

tengah bulan ini, aku dapat juara 2 honda writing fever competition, untuk kategori umum. lumayan. seorang cerpenis handal dari kelapa dua, depok yang ada di daftar sahabat blog ini, bilang, “la kok bisa si nulis tentang honda, apanya yang ditulis?” hehehe. aku si ya senyum simpul aja.

ceritanya begini. tema untuk kategori umum adalah “honda sebagai sahabat hidup anda”. tema yang sangat umum dan menjebak banyak partisipan lomba. kompetisi ini terakhir menerima karya tulis sebelum tanggal 29 februari (tahun ini, tahun kabisat kan?). maksimal 10 halaman a4.

sebetulnya aku sudah tahu lomba ini sejak pertama kali diiklankan di kompas, setengah bulan sebelum pengiriman akhir. tapi, aku pusing, apa yang harus ditulis. ah, ta usah dipikirin akhirnya. ndilalah, jare wong jawa, atawa tiba-tiba hari kamis itu, aku melihat tanggal: 28 februari. wah telat dong lombanya. kan sebelum tanggal 29, berarti sehari sebelumnya. kira-kira ini siang hari. berpikir bahwa waktu cuma sedikit, sangat mustahil untuk tidak menang. paling-paling, ya nothing to lose aja lah.

sore harinya, kusempatkan ke internet meng-google tentang honda, eh yang keluar tentang info produk dan keunggulan. untuk tema yang ingin kuikuti nggak ada. tapi ya aku lumayan mendapat secuil data buat tambah-tambah.

waktupun tiba sampai ufuk kemerah-merahan, berarti waktu maghrib datang kan? iya. aku belum sempat mau menulis apa. baru setelah matahari benar-benar tenggelam, alias waktu isya datang, aku mulai menulis. kuingat sebuah buku di wal tahun 2003 yang kubeli dengan penulis terkenal, sang futuris, John Naisbitt. buku itu berjudul “hi-tech hi-touch” yang berisi tentang teknologi masa depan yang memahami manusia.

ya sudah, aku memutuskan judulnya mesti ada hi-tech hi-touch nya. seketika itu aku menulis judul (biasanya aku memulai menulis judul lebih dahulu, ketimbang isinya): “refleksi 36 tahun, menuju revolusi high tech-high touch”. 36 tahun adalah produksi honda di indonesia, dan kebetulan menandai 20 juta produk honda, yaitu honda supra x 125 injection. kurang lebih selama 2 jam setengah aku menulis sekitar 9 halaman. kayaknya lancar-lancar saja. karena aku tidak memusingkan honda itu apa, jenisnya bagaimana, dan  keunggulan teknologinya bla-bla-bla. ini yang ditanyakan orang? kok bisa biasa nulis humaniora, ko nulis honda, apanya?

hehehe. kebetulan yang aku tulis, tidak berat-berat amat. aku menulis tentang kredibilitas dan modal sosial sebagai faktor kepercayaan masyarakat terhadap suatu korporasi. salah satu poin yang aku utarakan, dan sering aku sampaikan dalam beberapa kesempatan menulis, ialah kesadaran pasca-konsumeristik: bahwa orang memilihsuatu produk kini tak hanya menilai gaya hidupnya saja. utamanya kelas menengah ke atas, memilih karena ramah lingkungan dan efisien, sedangkan menengah ke bawah karena irit. ini istilah yang aku namakan, entah sudah ada atau belum yang menyebutnya secra eskplisit, sebagai “kesadaran pasca-konsumeristik”.

poin kedua yang kutulis ialah tentang tantangan honda ke depan. pertama, kedermawanan dan kepedulian sosial. aku sedikit menyinggung sidoarjo. kedua, kepedulian ekologis. tantangan euro 2 untuk reduksi karbondioksida. di situ, terus terang aku menulis, “saya tidak memahami dengan baik keunggulan honda dari segi mekanik-teknikal tentang bahwa ia ramah lingkungan, karena bukan bagian dari bidang disiplin keilmuan saya”. ngeles sedikit lah. (sekaligus juga, apologetik). ketiga, tantangan etika berkendaraan. mampukah honda ikut mengurangi kecelakaan lalu lintas.

poin ketiga dan pamungkas adalah palu godam esaiku dengan tajuk: revolusi high tech-high touch. di sini aku bilang, teknologi bukannya dibikin untuk menyusahkan manusia, justru sebaliknya. ketika manusia tidak memahami fungsi teknologi, ia yang menjadi robot. ini ada kaitannya dengan apa yang kutulis tentang pasca-konsumeristik tadi. dikaitkan lagi, misalnya, bahwa dengan memeiliki sepeda motor lalu nyawa manusia menjadi sia-sia. untuk itu dibutuhkan perekayaan teknologi yang tidak saja canggih dalam beragam hal, tetapi juga mampu mengenali sisi kemanusiaan. bahasa fikihnya: hifzhun-nas/an-nafs (menjaga jiwa).

klimaks tulisan kumenulis: “perusahaan yang baik kudu menuruti kaidah (kayak usuhul fikih?) green company, green product, green people, green process. makna “green” di sini tak berarti ramah ekologis saja, melainkan juga sebuah kepastian untuk kenyamanan, keselamatan, dan kedamaian. honda jangan berharap dulu ia sudah menjadi bagian terpenting sebagai sahabat atau mitra masyarakat.  karena, ada satu hal yang masih menjadi tuntutan, yaitu ‘green process’. bahwa ‘green’ adalah suatu ‘process’ yang tak pernah mengenal kata final. selamat bermitra dengan sahabat anda: masyarakat!”

ya itu jusrus pamungkas yang aku keluarkan. karena pengiriman bisa melalui upload diinternet, aku kirim langsung. waktu itu pukul (kurang lebih) 23.00. ini masih tanggal 28 lo, berarti ada waktu kan. tadinya aku takut website yang dimaksud untuk upload sudah ditutup, ternyata masih fungsional. aku kirim, sssssssssssssssssssst. attachment data sudah diunduh. biarlah, dalam hatiku terbetik, aku bikin sekejap dan kukirim menjelang deadline, biar ada yang menentukan.

keajaiban muncul. aku menjadi salah satu nominator dari kategori umum. dan pada puncak penyerahan, aku mendapat juara 2, juara 1 nya sang pangreh praja setengah baya dari madiun yang sedang melejit, dan juara 3 nya sang dosen nyentrik dari ugm yang luar bisa “konyol” itu.

kira-kira sudah banyak kompetisi serupa aku menangkan, 3/4 nya aku juara 1. dan yang bernasib serupa, alias dibikin sks (sistem kebut sekejap) tapi menang dan juara 1, lainnya yaitu lomba perpajakan (aku ambil sisi against corruption), jantung (aku lihat dari sisi filantropisnya), dan kearsipan (aku ambil sisi “bangsawan pikiran” dan keilmuannya).

paulo coelho sudah bilang: jika engkau berharap, alam semesta akan turut membantumu. kira-kira apa yang ditulis yohanes surya sebagai “mestakung” atau “semesta mendukung”. dalam spiritualitas, kita memaklumi adanya “the truth coincidence”. agama-agama mungkin memahaminya sebagai doa yang terkabulkan, nggak emsti doa yang keras-keras kita ucapkan, bisa pula angan-angan yang kita impikan.

yah itulah hikmah kehidupan, banyak hal yang bisa dipetik dan kita pelajari. untuk kita yang masih kurang banyak hal, masih ada waktu untuk berharap lagi. o ya, aku kutipkan ungkapan saichio honda, sang penemu, dalam karya tulis itu: “jika engkau gagal, maka bangkitlah dengan mimpi. mimpikanlah mimpi yang baru.”

aku berharap, esok ada asa yang terus aku benamkan dalam jiwa, sedalam mungkin!

Gaza

to be continued …

menulis di blog memang butuh konsistensi. kalau tidak, ya ketinggalan. sama seperti koran, harusnya blog terus diperbarui. atau bahkan setiap ada perkembangan terbaru kita menulis, mengutip, atau sekadar menyapa blog kita, minimal untuk diri kita, syukur-syukur untuk yang lain. setiap detik sudah menjadi momen perubahan, dalam dunia maya.

syukurlah ada wahana untuk menyambung ide-ide kita untuk disalurkan ke khalayak maya yang mahaluas. seluas jagat dunia ini, di setiap pojok di mana pun orang bisa menikmati apa yang kita tulis di internet.

ah, sudahlah. yang terpenting, tidak pernah bosan untuk terus berusaha dan berupaya. yang berhenti menjejak ikhtiar, berarti memutus asa untuk usaha. mungkin, inilah no pain no gain. bahkan, niat menjadi penting. para pakar motivasi mengatakan “gagal merencanakan, berarti merencanakan kegagalan”. kemarin tahun baru sudah lewat, baik hijriah maupun masehi. belum kalau kita tambahkan dengan khazanah almanak lainnya. setiap masa semakin menjadi berarti. menyia-nyiakannya menusuk manusia pada ketidakmartabatan. karena hal itu tidak arif. itulah mengapa aku, mungkin juga Anda, pernah menyesali waktu yang terlewat. manusiawi memang. tapi jangan berlama-lama pada keterlenaan. mari kita bangkit.

agama mengajarkan kita bergerak, karena diam itu mati bukan? apalagi sebentar lagi aku diwisuda. tepatnya, tanggal 2 februari mendatang. wisuda: tradisi mengesahkan sang terpelajar. tapi, bagiku ini hanya bersifat sementara saja. seorang yang diwisuda secara hakiki sebetulnya ia yang terbebas dari segala kekangan, kapan pun, meski kita masih menempel status mahasiswa. jadi, wisuda bukan soal apakah engkau lulus suatu mata kuliah dengan baik dan indeks prestasi akademik yang gemilang, bukan pula soal apakah engkau memperoleh banyak sks, bukan pula soal apakah engkau memperoleh selembar ijasah yang dinanti-nantikan untuk mendapatkan pekerjaan dan/atau kebanggan. Bukan! wisuda, harusnya, memiliki etos keilmuan yang tinggi untuk menjunjung integritas intelektual dan moralitas profesional. lebih jauh lagi, apa yang sering diungkapkan seorang profesor dari universitas ternama di Yogyakarta: “mesu budhi” alias “asketisme intelektual”. persis ini yang hilang dari jiwa kita sebagai mahasiswa, apalagi engkau yang telah diwisuda. kalau berpikir hal ini, menjadi berat beban setelah diwisuda. selain berpikir tentang diri, juga yang lain menghampari kita. untuk berbakti, sebaik mungkin.

gaudeamus igitur, yuvenesdum sumus! yuk, kita bergembira, selagi masih belia!

karena, kalau sudah “tua”, pikun pun membuat lara diri kita. yaitu, tua semangat yang membikin kita menuju penuaan dini. na’udzu billah min dzalik.

Untuk Prof. Dr. der. soz.  Gumilar Rusliwa Somantri: buktikan bahwa UI mampu berjaya. Juga, pesan (alm.) Prof. Dr. Fuad Hassan: di almamater ini, panji-panji kesenian akan berkibar! yakin deh, mahasiswa kering karena terlalu matematis, sedangkan di sisi lain ia tidak mengindahkan laku estetis.





Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.