Kampung Tani Pasir Mukti

KORAN JAKARTA, 25 Januari 2009


pasir-muktiJika ingin tahu rasanya membajak sawah, menanam padi, menjaring ikan, menggiring bebek dan sebagainya.

Kebun Wisata Pasir Mukti di Citeureup, Bogor, Jawa Barat menawarkan paket wisata pertanian. Cocok untuk siswa sekolah dan juga kegiatan gathering karyawan.

Reza Fatullah terlihat asyik melubangi tanah. Kaki dan tangan siswa kelas 9 SMP Islam PB Sudirman, Cijantung, Jakarta Timur itu belepotan lumpur. Meskipun terik mentari begitu menyengat, dia bergeming dan tekun melubangi tanah sedalam 50 cm. Hari itu, Reza belajar membuat lubang biopori, lubang resapan sisa air hujan yang diisi kompos dan sisa tanaman. Tapi bukan di sekolah, melainkan di Kebun Wisata Pasir Mukti, Cietereup, Bogor.

Di tempat itu, Reza dan teman-temannya dari sekolah yang sama,  yang semuanya berjumlah  31 murid— tak hanya berwisata tapi juga belajar mengenai lingkungan. Dan membuat lubang biopori merupakan salah satu program edukasi pertanian yang diperkenalkan lokasi wisata itu. Sebelumnya, Reza dan kawan-kawan juga telah mengunjungi kebun Anggrek dan belajar tentang hidroponik, budidaya tanam tanpa tanah. Secara harafiah hidroponik adalah bekerja dengan air. “Capek, tapi menyenangkan,’’ kata Reza.

Menelusuri kawasan wisata seluas 15 hektar ini memang melelahkan. Sesuai namanya, kawasan ini memang berupa hamparan sawah luas yang hijau. Pengunjung dapat menikmati indahnya panorama alam pedesaan dan bukit kapur. Udaranya juga sejuk, meskipun lokasi ini hanya berada 150 meter di atas permukaan laut. Pepohonan nan hijau dan rindang cocok dijadikan tempat liburan untuk melepas penat sehari-hari. Apalagi ditingkah suara gemiricik air sungai Cileungsi.

“Setiap akhir pekan, pengunjungnya sangat banyak. Biasanya rombongan. Rata-rata mungkin ratusan,” kata Feby Ginting, Business Development Kebun Wisata Pasir Mukti.

Ide awal tentang kebun wisata ini adalah gagasan pemiliknya, Lily Turangan. Awalnya Lily hobi berkebun, dan menanam banyak pohon di pekarangan rumahnya. Karena pekarangan rumahnya kemudian semakin banyak dipenuhi tanaman, Lily memutuskan mencari lokasi yang lebih luas. Citeureup menjadi pilihan Lily. Dia membeli beberapa hektar tanah. Hobinya berlanjut, juga pekarangannya menjadi lebih luas dibandingkan dengan pekarangan rumahnya di Jakarta.

Belakangan karena ongkos perawatannya mulai dirasa mahal, Lily memutuskan membuka kebunnya untuk wisata. Persiapan yang dilakukan pun cukup panjang, sekitar 2,5 tahun. Sekitar 2003 awal, kebun itu dibuka untuk umum dengan konsep wisata agro:  Mendidik dan menghibur pengunjung dengan pengetahuan pertanian. Menanam bunga, menangkap belut, membajak sawah sambil bermain lumpur, menanam padi, memancing,  dan sebagainya. Hampir semuanya khas pedesaaan.

Kampung Pelangi

Di kejauhan terlihat rumah-rumah petani. Itulah Kampung Pelangi, yang penuh dengan  aneka hewan piaraan; burung, unggas (bebek Manila), kambing dan sebagainya. Anak-anak bisa menjaring atau menyerok ikan di kampung ini.  Atau melihat domba yang memiliki empat tanduk. “Pengunjung paling suka melihat domba ini. Mereka penasaran apakah itu hanya mitos atau kenyataan,” kata Umar, Kepala Pemandu wisata Kebun Wisata Pasir Mukti.

Tak terlalu sulit mencapai Pasir Mukti dari Jakarta. Aksesnya jalan tol Jagorawi. Begitu keluar dari pintu tol Cibinong-Citereup, papan petunjuk arah ke lokasi Pasir Mukti mudah dijumpai. Jaraknya tak cukup jauh, sekitar 15-20 menit dari pintu tol Cibinong itu. Namanya juga bisnis, untuk masuk ke tempat wisata ini setiap orang dipungut ongkos 12.500 rupiah. Ini ongkos minimal karena masih ada ongkos ekstra bagi mereka yang ingin mendapatkan tambahan fasilitas, misalnya menyewa tenda, makan dan sebagainya.

Kalau tak mau repot, pengelola Pasir Mukti menyediakan harga paket untuk pengunjung. Ongkos termurah 45 ribu rupiah dan pengunjung akan mendapatkan tenda, terpal, dan makan siang. Kalau bermaksud menginap, tersedia fasilitas penginapan seharga 300 ribu per orang. “Target  kami memang mengenalkan  wisata pertanian kepada masyarakat kota,” kata Feby.

Tak terlalu banyak memang, orang yang tahu dan kemudian berkunjung ke Pasir Mukti. Feby menuturkan setiap bulan  rata-rata hanya 10 ribu orang. Lokasi  Citeureup yang identik sebagai daerah industri, termasuk yang menyebabkan wisata kebun itu tak banyak dikenal orang. Setidaknya begitu kata Feby. Pihaknya, karena itu mencoba mulai mengenalkan buah Lemong Cui. “Kami ingin seperti kawasan Batu, Malang yang dikenal karena apelnya. Jadi kelak Citeureup dikenal karena Lemong Cuinya,” kata Feby. N kristian ginting/adiyanto

 

 




    Tinggalkan Balasan

    Please log in using one of these methods to post your comment:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s



Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: